Pelataran Rumah = Pusara Ekskresi Pikiran

...nanti kita yang (merasa) bernyawa akan mendiami tempat macam ini loh 🙂

Saat pertama kali kita terbebas dari kungkungan rahim ibu kita, pernahkah kita berpikir bahwa, entah kapan, kita akan kembali tidak bernyawa? Jika Tuhan memberi kesempatan kita hidup, tentu kita akan mempunyai riwayat terlebih dahulu sebelum kita meninggalkan alam yang oksigennya bisa kita nikmati. Paling tidak, dalam riwayat hidup itu, kita bisa menorehkan sejarah dalam basahan tinta darah kita untuk orang lain ketahui: meninggalkan kesan bagi yang kita tinggalkan.

Setiap yang berjiwa pasti mati.

Aforisma itu termaktub dalam sebuah kitab suci yang sejak kecil kubaca.

Aku bukan Tuhan yang bisa memberi segala sesuatu sebuah nyawa agar bisa hidup memberikan kesan. Aku hanya seorang biasa yang sedang belajar untuk menciptakan satu kata, dua kata, tiga kata; satu frasa, dua frasa, tiga frasa; sebaris kalimat, dua baris kalimat, tiga baris kalimat; satu paragraf, dua paragraf, tiga paragraf; satu halaman, dua halaman, tiga halaman; satu bab, dua bab, tiga bab, sampai kelipatan lainnya, pada media apa saja yang bisa kunodai dengan tinta ataupun medium lainnya agar bisa meragai hasil ekskresi pikiranku. Pada secarik kertas; di atas sehelai kain; pada permukaan kulit; pada sebongkah kayu; pada sebidang tanah; di dinding kamar; di bangku bis ekonomi; dan berbagai tempat lainnya, kutorehkan ulahku.

Hasil ekskresi pikiranku yang berbentuk tulisan itu ‘bernyawa’. Saat kata-kata itu dapat dibaca orang (atau setidaknya olehku), maka ia, tulisan tersebut, sejatinya memberikan kesan bahwa ia pernah hidup karena dibaca. Ia dibaca oleh orang yang merasa tercuri perhatiannya oleh kemunculan dirinya yang dirasa tiba-tiba. Jika orang itu malas, maka ia hanya sebatas diindera oleh indera penglihatan orang yang merasa diusik perhatiannya saja. Sebaliknya, jika kemunculannya sudah diindera oleh orang yang mempunyai kuriositi tinggi, ia akan memberikan kesan yang cukup. Maka, sampailah produk pikiranku itu dikatakan ‘bernyawa’; dan akulah penciptanya yang telah memberinya kesempatan untuk ‘hidup’ diindera orang hingga berkesan.

Setiap yang berjiwa pasti mati.

Aforisma itu termaktub dalam sebuah kitab suci yang sejak kecil kubaca.

Setelah dewasa seperti sekarang ini, aku baru tahu bahwa segala sesuatu yang bisa diindera itu adalah terbatas. Ia akan dilahirkan, diekskresikan dari pikiran Penciptanya, untuk kemudian dimatikan-Nya kembali. Sebelum dimatikan-Nya, mereka akan memberikan kesan pada makhluk-makhluk-Nya yang lain. Lama kesannya tergantung pada kondisi yang menyertainya, yang ditentukan oleh Penciptanya.

Dan, ah, ekskresi pikiranku pun seperti itu. Ia kususun, lalu menjadi berkesan sesuai dengan jatah hidupnya, lalu basi: menjadi bangkai! Orang-orang barangkali dikesaninya, tapi bagaimanapun ia akan mati!

Jika manusia dimatikan-Nya dalam timbunan tanah, maka lain halnya dengan hasil ekskresi pikiranku yang satu ini. Aku menyediakan lahan sebagai pusaranya, hanya, di Pelataran Rumah-ku yang sederhana ini.

—————————————————–

[14 Mei 2010, tengah malam, di kamar kost-ku yg mulai beranjak menjadi kotor karena sedang belajar hidup]

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s