Memorabilia In February 21st 2009

...my granpa's last site. May Allah gives you Jannah... Amin :')

(21 Februari 2010, pukul 18:00 WIB, saat di luar hujan turun lumayan deras)

Jatah waktu penyimpanan reminder di handphone telah habis; memaksa alat komunikasi tersebut mengeluarkan bunyi alarm.

Biasanya, setiap kali menuliskan reminder saya tidak akan lupa hingga bunyi alarmnya tidak membuat saya penasaran untuk mengetahuinya. Tapi kali ini lain. Saat alarm itu bunyi, saya dibuat penasaran; apa yang telah saya tulis sebelumnya di kalender HP? Saya lantas bangun dari tempat tidur dan meninggalkan majalah yang sedang saya baca untuk mengambil HP dan melihat isi reminder-nya.

Ada apa ini?

Saya tahu hujan sedang turun menderas di luar, tapi kenapa mata ini tidak terteduhi oleh atap kamar kostan sampai terasa basah oleh air hujan?

Bukan, bukan oleh hujan mata saya ini terasa basah, tapi oleh isi reminder itu.

***

(Sekitar 1997-1998, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar)

Hari itu saya pulang ke rumah dengan tangan dan kaki penuh luka. Tiba-tiba kakek datang menghampiri dan menanyakan keadaan saya. Kakek ingin mengetahui perihal kenapa sampai banyak bagian dari tangan dan kaki saya mengeluarkan darah.

Geubis tina sapedah, Pa. Nuju diajar naek sapedah. (Jatuh dari sepeda, Kek. Lagi belajar naik sepeda),” jelas saya.

Oh, emang bisa kitu? (Oh, memangnya bisa?),” responnya.

Pan nuju diajar, hehe (Kan lagi belajar, hehe),” jawab saya.

Hayang sapedah embung? Tapi kudu ngaji di imah (Mau sepeda tidak? Tapi harus ngaji di rumah),” tawarnya.

Hor, pan ngaos mah di masjid da atos tiasa (Eh, kan ngaji mah di mesjid, sudah bisa),”

Sejak saat itu kakek tidak pernah memberi tahu apa maksudnya menginginkan saya mengaji di rumah. Saya tidak mengerti waktu itu, sampai suatu hari saya dipanggil untuk mengaji padanya. Saya membawa al-Quran menuju ruangan khusus, tempat kakek membaca dan mempelajari kitab-kitabnya, di loteng dapur.

Yeuh sok baca! (Nih, baca!),” pintanya sambil menyodorkan kitab Safinah-Jurumiyah dan Sulam-Tijan.

Saya baru tahu, ternyata yang dimaksud ngaji di rumah itu adalah mempelajari kitab-kitab kuning kepadanya. Sebagai seorang bocah kecil yang duduk di kelas enam SD, waktu itu saya merasa tidak bisa menolak keinginan kakek yang lumayan galak karena pernah menampar kakak saya dan teman-temannya lantaran kedapatan main kartu di teras pinggir rumah kami. Jujur, pada akhirnya, dengan terpaksa saya ngaji kitab kuning dengan kakek.

Saya mulai berhadapan dengan tulisan Arab gundul yang tertera di dalam kitab kuning. Saya mulai belajar bahasa Arab secara tidak langsung, setiap kali mengaji kitab kuning. Saya mulai rutin mengkaji kitab-kitab kakek setiap subuh dan sore hari. Saya mulai melahap isi-isi dari sekian kitab yang kakek koleksi untuk dikaji. Saya mulai mendalami ilmu tauhid. Saya mulai mendalami ilmu-ilmu fiqih. Saya mulai mengerti seputar hukum Islam yang mengatur kegiatan bermuamalah. Saya mulai lebih mengerti tentang hukum Islam yang mengatur diri sendiri. Saya mulai rajin mengucapkan kata ‘oh’ setiap mendapat penjelasan suatu hukum secara gamblang oleh kakek. Saya mulai berisi. Saya mulai dikader oleh kakek untuk menjadi penerusnya setelah anak bungsunya dan kakak saya hengkang dari tempat saya mengaji pada kakek.

Di luar pada itu, saya ingat, setiap kali menonton TV saya selalu membesarkan volume TV saat iklan sepeda tayang. Semua itu saya lakukan supaya kakek yang setiap hari selalu duduk menelaah kitab-kitab di pelbetnya di ruang tengah rumah kami—barang empat meteran dari pinggir TV—bisa mendengarkan dan kemudian ingat kalau beliau pernah menjanjikan saya sepeda kalau saya ngaji padanya. Itu saya lakukan sampai pada pagi di suatu Jumat kakek mengajak saya pergi ke kota untuk membeli sepeda. Lumayan kaget mendengarnya, tapi campur senang. Saya lantas mandi kemudian dandan ala bocah SD kampungan yang lumrah mau pergi ke kota.

Hari setelah itu, masa-masa bermain saya banyak dihabiskan dengan main sepeda. Saya mulai sering bersepeda bersama teman-teman saya, dari satu komplek ke komplek yang lainnya. Saya mulai sering pergi ke mana-mana dengan sepeda. Saya mulai merasa bangga bisa bersepeda. Saya mulai menghabiskan perasaan senang saya terhadap sepeda. Dalam pada itu, tak lupa saya mencoba untuk rajin mengaji kitab kuning kepada kakek sebagai tanda rasa syukur.

Tapi dasar anak ‘nakal’, ke depan-depannya saya malah sering ‘memboloskan’ diri untuk mengaji kitab kuning. Setiap subuh, saya selalu menunggu-nunggu kesempatan kakek tertidur karena lama menunggu saya datang menemuinya. Setiap sore hari, ada saja alasan yang saya buat-buat untuk absen dari mengaji. Bagaimana tidak, selain rasa malas yang sedemikian rupa saya miliki, saat mengaji, kalau saya salah meng-i’rob-kan kata atau kalimat isi kitab kuning yang memang plontos itu, kakek suka lumayan membentak saya. Saya yang selalu membaca kitab kuning dengan stuttering kwalitet 2 tentu tambah jadi makin dipersalahkan. Keseringan saya suka kesulitan melafalkan kata yang dimulai oleh huruf vokal. Jenuh saya melewati hari-hari dengan keadaan seperti itu; mengaji semampu saya membaca kitab kuning yang bertuliskan Arab gundul (ada kalanya saya bisa membacanya, tapi sering susah mengucapkannya karena keadaan saya yang lumayan stuttering, jadilah saya dimarahi). Untuk meredam keinginan saya berhenti mengaji pada kakek, ibu selalu bilang kalau nanti sudah besar bakal menyesal karena tidak ngaji. Katanya juga, itu sebagai bekal hidup saya di masa yang akan datang.

(Medio 2001, awal saya sekolah SMA ke kota)

Saya yang memang menyangkal akhirnya berhenti juga mengaji pada kakek. Kecil rasa bersalah saya karena berani berhenti mengaji kitab kuning, sementara ilmu yang saya dapatkan belum mumpuni. Tidak ada penyesalan penuh saat saya mendiamkan sekian kitab-kitabnya yang diajarkan kepada saya. Saya melangkahkan kaki ke depan dengan meninggalkan kitab-kitabnya di belakang.

(Selepas SMA sampai sekarang)

Nyatanya memang benar apa yang selalu ibu katakan waktu itu, bahwa apa yang saya kaji waktu itu dengan kakek adalah untuk bekal hidup saya di masa depan; pada masa di mana saya merasa tidak cukup mempunyai bekal dalam berhidup, seperti sekarang ini. Dulu, pernah terbersit dalam pikiran ingin mengaji lagi pada kakek, tapi waktu itu kakek sudah sering sakit-sakitan. Efek dari terjatuhnya kakek lantaran disengat lebah dari pohon yang sedang dinaikinya saat itu mulai mengganas. Kakinya mulai tidak sekokoh dulu lagi untuk diandalkan saat berjalan. Sementara fisiknya mulai melemah. Cara berbicara kakek menjadi kurang dapat dimengerti. Tapi yang paling membuat saya terbesit adalah pada saat-saat mulai ada gejala akan lumpuh, kakek masih sering memaksakan pergi ke mesjid. Padahal jaraknya lumayan jauh. Mengharuskannya menyeberang jalan besar pula. Tergetar-getar kakek berjalan memakai tongkat dari rumah sampai mesjid. Syukurlah, kakek terkenal karena ketokohannya di mesjid jam’i yang selalu ditujunya itu. Sepanjang jalan ada saja yang membantunya, sementara saya tidak bisa membantu untuk memapahnya, selalu. Penyesalan karena berani memutuskan untuk berhenti mengaji padanya mulai memenuhi batin saya. Rasa yang selalu datang di akhir itu menyeruak dari palung hati menuju permukaan. Dan pada akhirnya selalu membuat genangan air yang menjadikan penglihatan saya kurang jelas, di mata.

***

(Dua bulan awal di tahun 2009)

Pertengahan Februari 2009, saat saya melaksanakan PLP di Kabupaten Garut, saya tertegun ketika mendapatkan SMS dari bibi saya. Isinya memberi kabar bahwa bapaknya yang menjadi kakek saya itu telah menutup usia. Jatah oksigennya telah habis. Tulisan di MegaServer Lauh al-Mahfudz yang mengangkat nama kakek sudah selesai pada halaman itu. Ruh kakek dibawa terbang oleh Izrail menuju alam baka. Aroma kepakan sayap Malak al-Maut itu menebarkan gas air mata pada sanak keluarga yang ditinggalkan; membuat kami menangis. Dengan gagahnya malak itu membawa kakek untuk dipersiapkan menuju alam keabadian; alam kekekalan; alam yang sungguh tidak terbatasi oleh waktu.

Saya tidak menangis di malam pertama saya mendapat kabar duka itu. Saya hanya merasa tidak percaya saja kalau kakek yang sudah bertahun-tahun menjadi lumpuh gara-gara stroke itu telah pergi. Meninggalkan nenek sendirian. Meninggalkan keenam anaknya yang tersisa. Meninggalkan kedelapan cucunya yang ada. Meninggalkan ratusan, bahkan ribuan muridnya. Meninggalkan mesjid jam’i kampung kami yang selalu diramaikannya.

Keesokan harinya, subuh-subuh saya diantar oleh sahabat saya yang asli Garut ke tempat bis yang mengarah ke Jakarta menunggu penumpang. Sahabat saya itu melepas saya dengan nasihat agar bisa tabah menghadapi ketentuan Allah yang sedang menimpa saya. Sepanjang perjalanan bibi saya menelepon untuk menanyakan sudah sampai mana kepulangan saya. Wajar, karena sebelumnya saya meminta pada keluarga agar jangan dulu menguburkan kakek sebelum saya tiba. Saya benar-benar ingin meminta maaf dulu padanya. Saya ingin memperdengarkan ucapan maaf yang belum sempat terucap karena saya berhenti ngaji padanya, di dekat indra pendengarannya. Saya ingin mencium keningnya sebagai tanda perpisahan. Saya ingin menangis dulu dengan memeluknya.

Dalam perjalanan di tol Padaleunyi, saya mendapat kepastian bahwa tak lama setelah bibi saya terakhir kali menanyakan sudah sampai mana keberadaan saya, kakek akan dikebumikan. Saya ingin melihat wajah kakek dulu untuk yang terakhir kalinya sebelum ditimbun tanah, tapi apa daya; saya masih jauh dalam perjalanan menuju rumah di Cianjur. Saya juga tidak mau jenazah kakek lama-lama ditahan untuk ditangguhkan penguburannya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Gemuruh kendaraan yang sedang saya tumpangi mulai mengkamuflasekan gemuruh yang ada di dalam dada saya, sampai di tujuan.

Sesampainya di rumah, rasa duka yang saya dapatkan malam sebelumnya semakin mendalam begitu saya benar-benar tidak mendapati lagi kakek tertidur di tempat biasanya. Saya langsung meruntuhkan diri di lantai rumah untuk menangisi kepergiannya. Terisak-isak saya di sana, dalam pangkuan ibu, dengan mendapat belaian dari tangan ibu. Saya sungguh tidak percaya kakek sudah tiada. Kakek benar-benar sudah dijemput terbang oleh Izrail; menuju alam sana.

Menggerunyamlah saya sambil bertelungkup di lantai.

Kakek,” gumam saya, “…kenapa saya tidak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya?

Kenapa saya tidak sempat meminta maaf padamu, Kek?

Kakek, saya benar-benar menyesal; kenapa dulu saya sampai berani menanti-nanti waktu di mana kakek tidak sempat mengajarkan saya semua kitab yang ada?

Kenapa dulu saya selalu merasa senang kalau tiba saatnya kesempatan kakek berhalangan untuk mengajarkan saya kitab kuning?

Kakek, sebegitu cepatkah kepergianmu? Saya tidak mampu melempar permintaan maaf dari kedalaman hati saya mengejar kepakan sayap Izrail yang tengah membawamu saat itu. Tidak ada pula kantor pos yang melayani pengiriman kartu ucapan minta maaf sampai alam kubur, di sini.

Slide yang diperankan oleh kakek saya semasa masih hidupnya mulai tampil melengkapi kesedihan diri. Mulai berputar tanpa diminta; tanpa diarahkan. Tayangan slide itu mulai membuat saya terisak-isak, sesegukan. Fokus pada proyeksi slide yang tengah berputar tanpa permisi itu, saya mulai sesak melihat gambar di mana kakek begitu menyayangi saya saat menjanjikan sepeda dengan syarat mengaji padanya;

melihat gambar di mana kakek mengajak saya main ke sawah untuk membersihkan balong;

melihat gambar di mana kakek mengajarkan saya ilmu-ilmu yang didapatnya dari sekian koleksi kitab-kitabnya;

melihat gambar di mana saya selalu dimarahi kakek setiap kali salah membaca tulisan Arab gundul dalam kitab kuning;

melihat gambar di mana kakek selalu rajin pergi ke mesjid pada lima waktu yang telah ditentukan;

melihat gambar di mana kakek selalu tegas mendidik anak cucunya (kakek selalu menendang putra bungsunya yang tertidur di tengah rumah setiap subuh untuk mengingatkan pergi ke mesjid);

melihat gambar di mana kakek mengajarkan fiqih dengan gaya banyolannya yang khas hingga membuat saya dan teman-teman sekelas tertawa lebar-lebar;

melihat gambar di mana kakek saya dihormati oleh semua warga kampung;

melihat gambar di mana kakek mengumpulkan semua anggota keluarganya untuk menceritakan kisah hidupnya dulu (bernostalgia dengan bercerita perjuangannya dulu dalam menyiarkan Islam hingga dipenjaranya beliau di Sukabumi);

melihat gambar di mana kakek melindungi saya dengan membayar denda pada petugas penyewaan komik yang datang ke rumah karena lama saya tidak mengembalikan buku komik yang dipinjam;

melihat gambar di mana saya selalu sembunyi-sembunyi menghindar dari kakek karena membawa gitar untuk dipelajari di rumah;

melihat gambar di mana kakek mulai sering sakit-sakitan;

melihat gambar di mana kakek selalu menyuruh saya membeli balsem, obat-obat pegal linu, dan obat asam urat ke warung depan rumah;

melihat gambar di mana kakek mulai setiap harinya hanya terduduk di atas pelbetnya (tapi kerajinannya membaca kitab-kitab koleksinya tak pernah pudar, bahkan pada saat-saat keadaannya mulai melemah seperti itu);

melihat gambar di mana kakek harus selalu makan makanan yang empuk yang disediakan nenek;

melihat gambar di mana kakek selalu menyeretkan diri pada lantai lantas menyisir dinding jika mau ke teras belakang rumah untuk melihat bocah-bocah kecil bermain di sana;

melihat gambar di mana kakek selalu tertawa dalam keadaan sakitnya saat ibu menceritakan kisah-kisahnya dahulu kepada para tetangga, di pelataran belakang rumah;

melihat gambar di mana kakek menangis saat cucunya yang paling kecil datang berkunjung ke rumah dan duduk di atas pangkuannya;

melihat gambar di mana kakek selalu dibantu oleh nenek dan bibi saat mau buang air;

melihat gambar di mana kakek tertawa saat gigi palsunya terpelanting ke depan (bahkan kakek masih kelihatan ceria di masa-masa susahnya seperti itu);

…dan melihat gambar-gambar lainnya dari slide itu sampai tangis saya pecah dalam pangkuan ibu, kemudian bibi dan paman saya mencoba menenangkan saya.

Setelah tangisan saya mulai mereda, dengan ditemani bapak saya ziarah ke pusara kakek. Berdoalah saya di sana; mendoakan kakek yang telah berada di alam kubur. Tanahnya masih merah. Penuh taburan bunga. Melihat namanya tertera pada papan nisan, saya mulai mencucurkan air mata lagi. Menahan sesak di dada, saya pegang nisannya. Berharap lewat pegangan itu terjadi spirit estapheting dari kakek kepada saya; tentang keteladanannya, tentang semangatnya dalam memakmurkan mesjid; tentang hausnya akan ilmu; tentang kasihsayangnya pada seluruh anggota keluarga; tentang sifat rajinnya dalam menelaah al-Quran sebagai bekal hidup…

***

Kini, ruangan khusus sebagai tempat kakek dulu selalu mengkaji kitab-kitabnya menjadi kamar tidur saya. Di dindingnya terpampang kaligrafi goresan tangan kakek tentang ketauhidan; Laa ilaaha illa Allah, Muhammad ar-RasuuluLlaah. Rekal tempat kitabnya selalu ditaruh saat dikaji tersimpan di kamar loteng ini. Kitab-kitabnya, dari mulai seri Ihya ‘Ulumiddin, Ushul Fiqih, Kifayatul Akhyar, Subulussalam, Bulughul Maram, sampai kamus al-Munawwir, tertata rapi pada rak buku. Sementara kitab-kitab tafsir, Riyadhusshalihin, dan yang lainnya ada di lemari ruang samping di bawah. Setiap kali pulang ke rumah, kitab-kitab itu selalu berdebu. Putra-putri dan cucu-cucunya tidak ada yang lantas membaca kitab-kitab itu. Saya sering sedih melihatnya. Maka saya mulai membuka-buka koleksi kitabnya. Satu per satu mulai saya bawa ke Bandung. Biar pada waktu luang saya gunakan untuk membaca kitab-kitab itu. Sampai pada satu hari saat saya buka-buka halaman awalnya, di sana tertulis salam pembukaan dalam tulisan Arab yang begitu bagus dan indah hasil goresan jemari kakek. Di bawah salam itu, tertera pesan kakek kepada anak-cucunya agar selalu membaca dan mengamalkan isi dari kitab-kitabnya; kakek benar-benar sangat mengharapkan aliran pahala dari setiap kalimat dan perbuatan anak-cucunya yang dibaca dan berdasarkan dari peninggalan kakek yang teramat berharga itu. Mengharu merah saya dibuatnya. Dan sekuat semampunya, saya bertekad untuk tidak memadamkan cahaya dari peninggalan kakek yang sangat berharga itu. Saya ingin menjadi keturunannya yang senantiasa mengaliri kakek pahala. Supaya alam kuburnya terang benderang. Tidak lantas menjadi gelap gulita karena tidak ada satupun yang menjaga cahaya yang terpancar dari pembacaan dan pengamalan kitab-kitabnya. Karena ada saya, cucunya yang kedua, yang ingin selalu membawa lari tongkat estafet keteladanan kakek sampai saya menyusulnya ke alam baka, dan anak saya kelak yang akan meneruskan perjuangan kami untuk selanjutnya.

Saya yang ingin mengambil alih kitab-kitab peninggalan kakek. Sementara tidak ada seorang pun di rumah yang memperhatikan barang berharga kakek tersebut, saya yang akan maju mengambilnya. Agar kakek tetap teraliri pahala di alam baka. Agar kakek tenang di lain dunia sana. Agar kakek tersenyum bangga karena ada satu dari sekian keturunannya yang tidak menyia-nyiakan apa yang selalu beliau raih semasa hidupnya.

Kakek

akan saya curi

akan saya hisap dalam-dalam

saripati megah yang diproduksi dari isi kitab-kitabmu

biar berdebu, benih-benih aliran pahala sudahlah ter-save frame as

sebagai lembaran-lembaran

dalam setiap perkataan

dan

dalam setiap perbuatan

keturunanmu ini

untuk kemudian di-paste

pada kelopak pusaramu

maka, hanya kepada Sesembahan seluruh manusialah

aku memohon kekuatan

untuk menyayangimu

***

(21 Februari 2010, mendekati kumandang adzan maghrib, saat hujan di luar semakin menderas)

Hujan tidak menyebabkan mata saya terasa basah.

Saya menekan tombol keluar dari LCD handphone yang menampung tulisan dari isi reminder tertanggal 21 Februari: My grandpa has gone…

Dan hujan pun terdengar semakin deras…

——————————————————–

Bandung, 3 Maret 2010

(Untuk kakek, Raden Ahmad Zainuddin, cucumu ini mengharapkan senyum darimu sebagaimana engkau mengharapkan aliran pahala di alam kubur sana karenaku…)

Advertisements

2 thoughts on “Memorabilia In February 21st 2009

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s