Fight for The Script I: Memaksakan Diri

Fiuh, akhirnya desain proposal untuk skripsi jadi juga. Padahal saya belum pengajuan judul. Huhuhu…

Ah, bukankah tak mengapa saya bikin proposal dulu berikut—kalau mau, dan ini harus mau—melakukan penelitian padahal belum mengajukan judul?

“Ngga apa2. Bagus itu!”, tanggapan salah seorang senior saat saya bertanya perihal apakah tidak apa2 melakukan penelitian padahal belum mengajukan judul.

Yah, rasanya memang tidak apa2 kalau saya bertindak demikian. Bahkan orang2 terpercaya—padahal tidak dekat—di lingkungan saya selalu memberitahu bahwa langkah jitu untuk mengerjakan skripsi itu adalah ‘kerjakan saja!’. Katanya jangan mikir yang lain2 dulu kalau mau mengerjakan skripsi. Maksudnya begitu ada terlintas suatu permasalahan lebih baik cepat segera menuangkannya ke dalam catatan. Jangan melihat keraguan di dalamnya, pokoknya kerjakan saja dulu sampai batas titik pra-bahan tersebut.

Benar saja, Jumat itu, saya memaksakan diri untuk pergi semedi di Perpus; menunggu dapat wangsit permasalahan untuk bahan skripsi. Namun sial nian siang itu, begitu saya sampai di Perpus, Perpusnya tutup! Tapi saya pikir itu karena waktu itu hari Jumat jadi wajar petugasnya agak telat datang membuka Perpus. Mungkin petugas2 Perpus wiridan dulu dengan khusu’nya sehabis jumatan; tak lupa juga berdoa kepada Tuhan agar hari itu Perpus jangan sampai didatangi mahasiswa yang sok cool macam saya.

Huhuhu, sayang seribu kali sayang, rupa2nya doa para petugas Perpus itu tidak dikabul oleh Tuhan. Lagipula untuk apa petugas2 Perpus itu berdoa supaya saya tidak datang ke tempat kerjanya coba? Saya kan punya niat baik mau hunting bahan buat skripsi. Tuhan tidak mungkin mengabulkan doa yang menghambat saya supaya tidak melakukan tindakan baik itu, Bung! Hehehe.

Sampai ruang skripsi saya langsung cari dua buah skripsi—yang dulu pernah saya interogasi—yang saya pikir bisa menstimulus otak jenius (aaamiin!) saya agar bisa mendesain jenis skripsi yang akan saya bikin. Shit, ada satu! Yang paling saya butuhkan waktu itu tidak ada. Ada yang menculiknya!

Karena dari awal judulnya juga sudah bilang ‘memaksakan diri’, saya tetap lanjut dengan skripsi satu itu. Ting!, sebagai bunyi tanda ide cemerlang muncul belum terdengar juga di sudut kanan atas kepala saya. Ada apa ini?, pikir saya. Kok saya belum dapat wangsit juga ya? Ugh, saya berpikir keras memikirkan kenapa ini bisa terjadi pada saya. Dan… ternyata ide cemerlang yang jika muncul selalu diiringi bunyi ting! itu belum muncul2 juga dikarenakan oleh ulah saya yang belum membaca skripsi yang ada di tangan saya itu! :p

Saya langsung memulai pekerjaan: memperhatikan skripsi itu dalam2. Sebaris-dua baris pada halaman kertas binder saya mulai terisi oleh coretan2 tangan saya yang mengarang bab I. Di tengah2 tindakan itu, saya memutuskan untuk mengontak salah seorang dosen. Menanyakan kepada beliau tentang judul yang baru saja saya dapatkan setelah terdengar bunyi ting! sebagai tanda ide cemerlang telah muncul itu. Ternyata judulnya tidak ada masalah, hanya saja kata beliau perlu disederhanakan lagi agar tidak rumit (Huh, itu sih bukan tidak ada masalah! :p).

Tapi akal saya waktu itu tidak mau mengerti, saya lanjut saja mengarang bab I itu. Daripada saya mencoba mengikuti saran dosen untuk menyederhanakannya lagi yang belum saya mengerti, dan sebelum karangan saya hancur lebur, saya teruskan saja karangan bab I saya itu. Dan hasilnya saya memang masih merasa judul itu tidak terlalu rumit (barangkali deng!). Mungkin dosen itu takut saya tidak sanggup mengerjakannya. Well, tunggu nanti saja deh. Toh ini juga masih belum paten. Saya langsung minta waktu untuk mengkonsultasikannya satu dua hari ke depan sama dosen itu.

Tuh kan?, hasil memaksakan diri ya seperti itu: proposal kasar sudah jadi meskipun belum pengajuan judul. Hehehe…

Dan sekarang (sebentar saya lihat jam dulu… :p) pukul 00:12 dini hari, proposal kasar itupun sudah jadi dalam bentuk file. Dan perlu kamu tahu juga, ini hasil ‘memaksakan diri’ dari jam sembilan malam tadi. Biarpun masih kasar, yang penting ‘kerjakan saja!’-nya sudah terlaksana dulu.

Hening (kompi dimatikan dulu karena teman saya menyalakan pompa air. Takut tidak kuat listriknya. Mau mandi dulu katanya [tengah malam gini?]. Jangan heran, dia mau berangkat ke Jakarta buat menghadiri Muktamar Ulama Nasional siangnya).

***

Pukul satu dini hari. Setelah teman saya itu beres mandi dan saya pun beres makan berikut shalat qiyamul lail tiga rakaat (eh, yang terakhir ini harusnya ngga perlu ditulis kali, nanti disangka riya lagi! Huhuhu)

Huaaahh, belum mengantuk euy! Tapi besok saya harus kerja lagi. Hm, lalu apa yang tengah saya pikirkan sekarang? Belum mengantuk iya, masih ingin buat tulisan ngacapruk iya, makan sudah (kira2 sejam yang lalu), apa lagi ya…?

Hhmmmm… Tampaknya kali ini pun saya harus ‘memaksakan diri’ untuk merebahkan diri. Menghancurkan kepenatan. Melepas lelah. Memejamkan mata. Mimpikan akhwat berwajah oriental (huss!). Ya, tampaknya dengan sangat berat hati (berat mata kali!) saya harus pergi menuju ranjang (apa!?, tinggal balik badan aja atau tinggal jatuhin aja tuh badan langsung menyentuh kasur [tipis lagi] lantai, ngomong ranjang2 segala! Nghayal!).

Hm, ‘bismika Allaahumma ahyaa wabismika aamuut’, aku datang…

[bandung,duapuluhsatujuliduaribusembilan,pukulsatulewatlimabelasdinihari,ditemanispacedyevest-nyadreamtheater]

Advertisements

2 thoughts on “Fight for The Script I: Memaksakan Diri

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s