Fight for The Script IV: BismiLlaah (Tunarungu Oh Tunarungu, Ke Mana Saya Menuju)

Siang itu, mereka menyalami saya, berpamitan.

Makin menambah saya untuk merenungkan kembali apa yang seharusnya saya renungkan saja, sebab sebelumnya ada perasaan tak bernama ketika melihat cara mereka berkomunikasi.

Hm, anak tunarungu.

———————————————————————————————————-

Sore itu, di suatu kajian UKM kampus, HP saya berbunyi. SMS dari kawan dekat, saya lihat. “Besok ada acara tidak? Saya disuruh Pak Dudi untuk mendampingi anak tunarungu di suatu acara di Daarut Tauhid. Saya tidak ada kawan, kamu bisa tidak?”, kira-kira isi SMS itu. Hm, sebenarnya saya masih harus menjadi guru pendamping untuk anak Slow Learner hari Sabtu besok itu. Saya yang sedang besar hasrat untuk mengejar pelajaran hidup langsung meminta izin kepada orangtua murid kalau besok pada hari acara anak tunarungu tersebut berlangsung saya tidak bisa ke sekolah. Pemikiran saya melanglang buana ke mana saja sejauh saya bertanggungjawab—dengan style tanggungjawab saya sendiri—terhadap anaknya yang menjadi murid saya, bahwa sepertinya anak itu sekali-kali memang harus ditinggal sendiri (tanpa didampingi oleh saya sebagai guru pendamping) untuk melatih dia supaya bisa mandiri sekaligus memberi sedikit pelajaran atas kelakuannya kalau sudah susah diatur di dalam kelas. Perihal seperti apa kelihatannya di luar, saya tidak mau ambil peduli, toh saya sendiri yang menjadi guru pendampingnya :p 🙂

Akhirnya, izin dari orangtua murid turun. Keesokan harinya saya langsung pergi ke acara yang disebut kawan saya di SMS kemarin itu, di komplek Daarut Tauhid. Ternyata acara itu adalah Pelatihan Guru dan Anak Berkebutuhan Khusus bagi Yayasan Nurasih Jakarta. Sebanyak kurang lebih 20-an guru berikut 20-an siswa ABK menjadi peserta pelatihan itu. Enam dari jumlah seluruh siswa ABK yang menjadi peserta pelatihan itu adalah tunarungu. Keadaan demikian membuat saya, malam sebelumnya, membuka-buka kembali kamus SIBI. Terang saja, seusai dari PLP di Garut lima bulan ke belakang saya makin banyak lupa akan beberapa kata isyarat karena tidak lagi dipraktekkan. Padahal keterampilan berisyarat itu seharusnya bisa tetap saya kuasai sebagai konsekuensi saya selaku mahasiswa PLB spesialisasi tunarungu. Apalagi kelak—sebentar lagi, amin—saya terjun ke lapangan untuk mengajar anak tunarungu. Memang, saya tidak terlalu menekankan penggunaan bahasa isyarat sebagai keterampilan bagi anak tunarungu—sebagai makhluk sosial—untuk berkomunikasi. Saya hanya melihat mereka tidak akan bisa seideal yang diharapkan oleh pihak yang terlalu menekankan komunikasi oral dengan dalih bahwa anak tunarungu mau tidak mau harus terjun ke dalam lingkungan masyarakat umum yang notabene tidak menguasai bahasa isyarat yang justru dijagokan oleh mereka. Saya hanya berpikir bahwa bahasa isyarat pun penting pada situasi tertentu. Mutlak harus tetap dilestarikan. Situasi yang saya hadapi waktu itu pun merupakan situasi yang saya anggap harus ada penggunaan bahasa isyarat secara mutlak.

***

Di saat-saat saya sedang lumayan pening memikirkan skripsi, saya seperti terhenyak oleh pengalaman di acara pelatihan guru dan ABK di Daarut Tauhid Training Center itu. Itu terjadi setelah saya banyak mengingat acara yang juga diikuti oleh anak tunarungu yang saya fasilitasi itu. Entah harus bagaimana saya mengutarakannya sesistemik mungkin kepada orang yang memang mau tahu. Yang saya rasakan hanya semacam penekanan bahwa saya (harus) ikut andil dalam dunia mereka—anak tunarungu. Slideslide prakuliah pun serasa berputar lagi. Pertanyaan-pertanyaan semisal bagaimana saya bisa kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa; bagaimana pula pada akhirnya saya bisa memilih spesialisasi tunarungu untuk diperdalami; atau bahkan flashback lagi menampilkan alasan saya kuliah, diputar ulang: memaksa saya untuk menjawab pertanyaan tentang sebuah tujuan jalan yang telah saya pilih itu.

Rasa-rasanya saya memang tidak begitu memperhatikan segala hal yang memang harus saya perhatikan sejak awal. Saya justru mulai belajar kehidupan ketika kuliah sudah lewat setengah jalan. Hm, bukankah tidak ada kata terlambat untuk belajar? Maka saya pun mulai belajar kehidupan apa adanya di tahun ke-24 saya luntang-lantung hidup di dunia ini. Masa bodoh dengan umur; saya hanya ingin memaknai hidup ini sebagaimana mestinya. Barangkali banyak pandangan sinis dari sekeliling yang tidak menyenangkan saya, tapi—lagi—masa bodoh; saya hanya ingin belajar dan belajar dalam kehidupan ini setelah memaknainya dengan akidah yang belakangan baru saya yakini sepenuh hati begitu komprehensifnya! :p

Kini, di akhir tahun kuliah saya ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri: apa benar saya siap menjadi praktisi bidang ketunarunguan? Seberapa matang persiapannya? Saya masih ingat betul, berapa banyak literatur tentang ketunarunguan yang saya miliki selama kuliah?, nihil!; seberapa dalam ilmu saya terkait ketunarunguan yang saya dapatkan selama ini?, dangkal!; semenguasai apa saya akan pembelajaran anak tunarungu?, tidak yakin!; dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan semacam itu di hadapan saya yang meminta saya untuk menjawabnya, sementara saya merasa tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu akibat ulah saya sendiri.

Nyatanya, saya menemukan jawabannya kini bukan dalam bentuk kata-kata. Siang itu, di hari terakhir acara pelatihan tersebut, ada sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan kepada selain diri saya sendiri. Dan rasanya itu merupakan anugerah Tuhan untuk saya terus belajar. Rasa-rasanya saya memang (harus) mencintai anak tunarungu; saya memang harus selalu melindungi anak tunarungu; saya memang harus selalu dekat dengan anak tunarungu; dan saya harus sekuat tenaga memberikan pembelajaran—hidup—yang baik bagi anak tunarungu. Artinya saya harus menjadi seorang yang berkompeten dalam bidang ketunarunguan. Ya!, pada akhirnya saya harus terjun menjadi praktisi bidang ketunarunguan. Saya harus mengajar anak-anak tunarungu! Lalu, ketika saya merasa telah hidup (lagi) sehidup-hidupnya karena tercerahkan oleh Islam, saya mencoba mengaitkannya dengan apa yang saya dapatkan kini tentang segala hal yang berkaitan dengan anak tunarungu.

Dulu, saya pernah bertanya-tanya tentang anak tunarungu: kenapa Tuhan menciptakan ketulian pada mereka? Harus seperti apa sejatinya mereka menyikapi ketuliannya—baik yang sedari lahir atau pun bukan? Menyalahkan Tuhan-kah? Menerima saja sebagaimana akalnya katakan bahwa ia memang tidak bisa apa-apa tanpa lebih dulu mengajukan pernyataan yang argumentatif? Harus bersikap fatalistik semata sajakah? Lalu, ketika mereka hidup sebagai tunarungu yang muslim dan harus membaca al-Quran, bagaimana mereka akan melakukannya? Bagaimana pula mereka akan membaca bacaan shalat ketika mereka mendirikan shalat? Ketika kita yang bisa mendengar saja lalai melaksanakan perintah Tuhan—seperti shalat—kita akan dapat hukuman dari Tuhan kelak di akhirat. Lalu bagaimana dengan mereka yang tunarungu ketika lalai dengan sengaja tidak melaksanakan shalat hanya karena mereka berdalih bahwa mereka tidak bisa membaca al-Quran sebagaimana kaum mendengar lantaran arus informasi (supaya bisa meniru bunyi bacaan al-Quran dengan segala tajwidnya) tidak bisa mereka cerna oleh sebab tidak bisa masuk dan tersimpan ke dalam memori audio mereka di otak melalui telinganya yang tidak mendengar? Pertanyaan-pertanyaan itu harus bisa saya jawab! Ditambah lagi dengan keadaan mereka di lapangan yang melenceng jauh dari keidealan hidup sebagai seorang muslim: anak tunarungu (wanita) sering diarahkan pada keterampilan menari dengan memakai pakaian yang topless sampai memperlihatkan auratnya; sebagian dari mereka ada yang melalaikan kewajiban agama dengan bersembunyi di balik ketunarunguannya; pemuda-pemudinya berpacaran dengan bebas, dsb.

Al-Quran menerangkan bahwa setiap manusia—utamanya seorang  muslim—terbebani dengan hukum Islam. Kemudian, kalau kita sebagai manusia—yang mendengar—bisa terbebani hukum Islam dan ketika meninggalkannya akan mendapatkan hukuman dari Tuhan di akhirat kelak, lalu bagaimana dengan mereka dengan segala keterbatasannya sehingga berat, atau barangkali tidak bisa, menyempurnakan kewajibannya dalam beragama? Saya merasa ini memang harus terpecahkan menurut Islam.

Taklif hukum Islam atas anak tunarungu: adakah rukhshah?

Pembebanan hukum Islam atas mereka yang tunarungu, apakah ada keringanannya atau tidak (tidak begitu terbebani seperti non-tunarungu)? Pertanyaan itu yang kini hadir di benak saya sebagai calon praktisi di bidang ketunarunguan. Saya pikir hal tersebut juga harus diketahui oleh para praktisi yang lain di bidang ketunarunguan, kalau memang belum tahu.

***

Tadinya, saya berencana menulis skripsi tentang pengelolaan kelas sebuah sekolah inklusi, tempat di mana saya bekerja kini. Pragmatis, barangkali—kalau tahu neumena di balik keputusan saya ini. Tapi setelah kejadian pada hari terakhir pelatihan guru dan ABK siang itu, saya ingin banting stir. Memutar haluan dari pembahasan di luar spesialisasi saya menuju lahan garapan saya di wilayah ketunarunguan, untuk skripsi. Ya, saya melihat wajah-wajah anak tunarungu dari Jakarta itu yang … ah, saya tidak bisa mengungkapkannya; saya tidak mampu  membahasakannya; saya tidak kuasa merangkainya untuk disampaikan kepada orang lain yang memang ingin tahu dalam bentuk kata-kata.

Saya yakin Islam bisa menjawab semua yang dipertanyakan dalam kehidupan ini. Ketika saya mempertanyakan permasalahan seputar keturunguan di atas pun, saya yakin Islam bisa memberikan jawaban yang tepat untuk itu. Karena Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia. Baik itu Muslim atau Nasrani; kaya atau miskin; berkulit hitam atau putih; dan bahkan TUNARUNGU ATAU PUN MENDENGAR!

Answer Lies Within

(Dream Theater)

Look around, where do you belong

Don’t be afraid, you’re not the only one

Don’t let a day go by

Don’t let it end

Don’t let a day go by in doubt

The answer lies within

Life is shorts, so learn from your mistakes

And stand behind the choices that you make

Face each day with both eyes open wide

And try to give, don’t keep it all inside

Don’t let a day go by

Don’t let it end

Don’t let a day go by in doubt

The answer lies within

You’ve got a future on your side

You’re gonna be fine now

I know whatever you decide

You’re gonna shine

Sebuah jawaban itu memang terletak begitu dalam…

***

[bandung,

duanovemberduaribusembilan,

pukuldelapanlewatempatpuluhempatmenit,-ditemanidenganlantunandreamtheater—answerlieswithin—yangsudahlamatidaksayadengar]

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s