Teu Jelas 1: Minat Pertama

Sebelum jatuh cinta pada dunia musik, saya sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada dunia olahraga. Sepak bola, tepatnya. Dalam mendapatkan cinta si bola, saya benar-benar ‘jatuh’. Kejadiannya sudah lama, sekitar… (hm, bahkan saya tidak bisa memastikannya, padahal sudah memakai kata ‘sekitar’) yang lalu.

Waktu itu, jelas, saya masih kecil. Tapi tidak ingusan. Seperti biasa, jika di kampung, kelompok bermain itu terbagi ke dalam dua kelompok: kelompok anak besar dan kelompok bocah. Saya masuk ke dalam kelompok bocah, karena umur saya dengan anggota kelompok anak besar itu terpaut sekitar 4 atau 5 tahun.

Saat itu masih ramai-ramainya permainan sepak bola di kampung. Setiap kali liburan, kompetisi sepak bola selalu saja diselenggarakan di lahan kosong persawahan yang tak jauh dari rumah saya. Tempat yang asalnya tandus dan kering itu mendadak basah (tapi tidak subur) oleh:

  1. Kucuran deras keringat para pemain bola;
  2. Penonton yang meludah;
  3. Penonton yang membeli jajanan sirup, lantas sirupnya tersebut dibuang karena menurutnya tidak enak. Kemudian ia memarahi tukang sirup yang telah melayaninya dengan cara mencampurkan pasir ke dalam sirup yang diminumnya itu. Setelah itu, karena merasa ketahuan oplosannya, tukang sirup itu kalap. Maka, demi menghindari keluhan si pelanggan yang waktu itu dia lihat sudah mau memanggil teman-temannya, si tukang sirup langsung mengambil “paneker” (haha!) dari dalam sakunya untuk kemudian membakar salah satu bendera sponsor yang tertancap di dekatnya. Blar! Kebakaran hebatlah di lahan kosong yang tandus itu lantaran si tukang sirup menyentuhkan bendera sponsor yang telah dibakarnya itu pada sampah-sampah kering yang ada di sana; pada kaos-kaos pemain bola, baik yang sedang bermain maupun yang masih duduk manis sebagai cadangan (tidak lupa juga wasit. Katanya sambil membakar wasit, “Wasit gobloooooooggg!” [sepertinya si tukang sirup itu maniak Persib]); pada tumbuhan padi yang sudah menguning; pada jerami; dan benda-benda lainnya yang menurutnya bisa dibakar. Kebetulan pada saat itu, seorang pemain bola cadangan yang grup sepakbolanya dibenci oleh si tukang sirup, yang kaos kesebelasannya hanya kena bakar tepat di black hole pantatnya, lari menuju telepon umum koin. Ia berniat melaporkan kejadian ini pada polisi dan pemadam kebakaran wilayah Cianjur. Sialnya, koin seratusan (yang jika tahun pembuatannya adalah 1991, dicari oleh banyak anak kecil yang menyangka pada koin tersebut ada unsur emasnya) yang ada di saku celananya yang sedang terbakar itu hilang. Bukan hilang, pikirnya. Tadi sebelum permainan bola di mulai, temannya yang membeli sirup nan dioplos oleh tukang sirup itu, meminjam recehan. Dan ia ingat kalau koin yang asalnya bakal dipakai untuk menelepon polisi dan pemadam kebakaran wilayah Cianjur itu ternyata dipinjam oleh temannya yang kini sedang terbakar hebat oleh api yang disulutkan si tukang sirup pengoplos sirup yang diminumnya. Dalam langkah cepatnya yang baru lima langkah, ia sadar bahwa percuma saja ia mendekati temannya yang sedang meraung-raung kepanasan karena dibakar si tukang sirup; ia tidak akan berhasil menagih koin seratusan yang telah dipinjamkannya. Tiba-tiba, ia ingat akan sesuatu yang sangat penting: POLISI ATAUPUN PEMADAM KEBAKARAN BISA DITELEPON DARI TELEPON UMUM TANPA DIA HARUS MEMASUKKAN KOIN SERATUSAN! BEBAS PULSA! BEBAS KOIN! FREE CHARGE! Ah, betapa tidak bisa berpikir cepatnya ia alias tidak bisa ber-sur’atul badihah pada saat-saat genting seperti itu. Padahal ia sudah berpikir keras, sampai otaknya dirasa panas. Ternyata api sudah menjalar menuju kepalanya! Rambutnya sedang mengeluarkan bau tak sedap akibat pembakaran yang dilakukan oleh si jago merah. Astaghfirullahal’adziim! Ia cepat-cepat melafalkan kalimat istighfar (lihatlah, saking tidak bisa sur’atul badihah, ia malah mengucapkan kalimat istigfhfar dalam kecelakaan ini; bukannya mengucapkan innalilLaahi wa inna ilaihi rooji’uun). (Beberapa kejadian tidak saya ceritakan) Tiba-tiba datanglah pemadam kebakaran dengan blanwir-nya, dan diguyurkanlah air dari selang panjang yang melilit mobil merah itu. Maka, basahlah lapang sepakbola itu;
  4. Penonton, pemain, dan tukang dagang yang pipis sembarangan;
  5. Anak kecil yang disuruh emaknya mengambil air dari sumur di luar rumahnya, yang melewati areal persawahan, dan kemudian menonton dulu pertandingan bola yang sedang berlangsung. Duduk manis ia di jalan setapak, di ujung barat lapangan. Tiba-tiba ada bola melayang menujunya. Jduk! dan Byuuurrr! adalah bunyi yang datang sesaat setelah si anak kecil itu tidak tahu harus bangkit dari duduk manisnya dan lari ke arah mana. Jidatnya mendadak benjol, sementara air sumur pesanan emaknya tumpah membasahi sekitarannya sampai menuju lapangan;
  6. Ingus anak-anak kecil yang dibawa bapaknya menonton bola karena ibunya sedang sibuk memasak;
  7. Tai kotok (tahi ayam) yang ikut mencair karena tersimbah keringat penonton; dan
  8. Bermacam-macam benda cair yang sangat tidak jelas lainnya.

Ya, saat itu sedang ramai-ramainya permainan sepak bola di kampung saya. Kelompok anak besar selalu bermain bola di lapang di tanah kosong areal persawahan itu. Saya mengikuti mereka untuk menonton pertandingan mereka. Menjadi cheerleaders-nyalah.

Kebetulan, yang menjadi kiper waktu itu tiba-tiba tidak ada. Saya lantas ditunjuk untuk menggantikannya menjaga gawang. Bermainlah saya, dengan demikian. Saya yang saat itu memakai celana jeans, mendadak terpeleset saat harus menangkap bola yang sedang menuju gawang saya. Gedebut! Jatuhlah saya di sana, pada saat itu. Kelompok anak besar yang melihat kejadian itu langsung sorak-sorai tepuk tangan melihat usaha saya (yang menurut mereka keren) dalam menangkap bola. Padahal saya benar-benar terpeleset! 😀

Sejak saat itu, saya selalu diajak untuk bermain bola oleh kelompok anak besar. Beberapa pertandingan pun, selanjutnya, saya ikuti. Seiring dengan itu, kelompok anak besar mulai membina kami, kelompok bocah untuk membuat sebuah klub sepak bola. Dalam perjalanan klub ini juga saya selalu mengamati permainan teman-teman saya yang lainnya. Hingga saya memutuskan untuk sedikit (apa, sedikit!?—ini kalau ada teman kecil saya yg baca tulisan ngasal ini :p) e-g-o-i-s-!

Jika sedang dalam pertandingan, saya tidak lagi selalu meng-over bola pada rekan-rekan saya. Ini saya lakukan karena saya tidak percaya pada yang lain. Entah kenapa saya suka mudah buruk sangka, saat itu, kalau saya membagi bola dengan yang lain. Inginnya saya bawa sendiri saja sampai menuju gawang lawan (meskipun saya jarang memasukkan bola :D).

Mungkin, di hati teman-teman saya yang lain, ada rasa kesal terhadap saya. “Ih, si Agus mah ngocek sorangan wae lamun maen bola teh!” (meureun eta oge, tapi gholabatu dzon-na gede! Haha!).

Sudah kejadian itu, saya tidak pernah diajak lagi untuk mengikuti pertandingan-pertandingan bola. Ngenes saya dibuatnya. Dengan terang-terangan mereka tidak mengajak saya jika ada pertandingan-pertandingan lagi. Tapi, yah, mau bagaimana lagi. Saya juga bercermin atas kelakuan saya. Mulai belajar dibawa santailah masalah itu…

…sampai tiba saatnya saya jatuh cinta pada dunia musik dan melupakan dunia olahraga yang menjadi favorit nomor satu sedunia itu. Di dunia yang baru ini, saya benar-benar dijatuhkan oleh sebuah kelompok musik lokal…

(Ah, saya benar-benar malas untuk melanjutkan ketidakjelasan saya saat ini! Sampai jumpa lagi pada sambungan cerita ini jika saya mood untuk ngabulatuk nulis deui nu teu jelas…)

Advertisements

One thought on “Teu Jelas 1: Minat Pertama

  1. Eh, siapa bilang gak jelas????
    Lucu kali ceritanya, huahuahuahuahua….
    Kirain apa, ternyata…hahahahaha…lucu ah!!!!

    Bikin lagi, Kang.

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s