(Bab 9)

Saat Nana-chan dibawa berlari guna kabur oleh adik tirinya setelah mengalami adrenalin yang cukup tinggi lantaran merangsek masuk ke dalam teritorial oranglain tanpa permisi, di jalan desa itu ia melepaskan genggamannya. Adiknya yang terlalu cepat dalam memacu langkah kedua kakinya, barang 4-5 meteran di depan Nana-chan, ia menengok ke belakang dan mendapati kakak tirinya tersebut sedang terjongkok lunglai. Lemah bukan karena jantungnya dipicu hebat dalam pelarian itu, melainkan dibuat lemah oleh perasaan yang sekonyong-konyong datang menghampiri pikirannya. Ia mengetahui benar bahwa sesuatu yang baru saja dilakoninya bersama adik tirinya yang pantang menyerah dalam menampakkan keceriaan itu menyimpan sesuatu yang bisa menghidupkan dirinya yang selama ini rapuh. Dan aku kembali menemukan suatu detil hidup dalam adegan dorama itu. Sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hariku sering terlewatkan begitu saja. Mengertilah aku seketika bagaimana perasaan pemain utama dalam film tersebut. Di tengah puasa yang sedang kujalani, tenggorokanku lagi-lagi dibuat menyesak akut diseret emosi.

Seorang kawan di sampingku memperhatikan pula apa yang sedang kutonton. Ia yang sama-sama denganku menonton drama itu tiba-tiba mentertawakanku. Benar ia dalam kesehariannya suka membanyol, tapi bukan berarti dia tidak bisa ikut terseret oleh suatu emosi yang diametral dengan karakternya. Toh aku pernah melihatnya bersedih juga satu waktu. Ia mengolok-olokku karena disangkanya ikut menangis, padahal tidak ada kucuran air mata sama sekali dari kelopak mataku barang sebutir pun. Barangkali ia hanya memperhatikan bagaimana mimik mukaku yang teramat serius menyimak isi drama itu. Tiba-tiba ia berujar, “Ah, mana bisa aku ikutan sedih karena film itu!? Ngga ngerti sama sekali bahasanya!

***

Aku pernah membaca beberapa riwayat para Sahabat Nabi SAW yang tak jarang mengucurkan air mata lantaran memahami wahyu yang sedang dibacakan. Mereka begitu terseret emosi tatkala benar-benar mengetahui isi wahyu itu lewat bahasanya. Ya, lewat bahasanya. Karena aku juga bisa mendengarkan dan bahkan membaca wahyu yang sekarang sudah dikodifikasi dengan terjemahannya. Tapi jarang kemudian untuk diri ini merasa sesak lantaran isi wahyu tersebut, sekalipun terjemahannya dibaca pula.

Seorang kawan pernah begitu merasa kesal pada orang-orang yang tidak menakuti azab Allah. Padahal dalam al-Quran sangat jelas tertera ancaman itu. Apa yang bisa mendorongnya untuk merasa kesal tentu saja tidak dimiliki oleh orang-orang yang dikesalinya. Padahal mereka sama-sama bisa membaca arti dari ancaman yang dicanangkan Allah dalam bahasa ‘Arab itu. Seperti halnya saat aku ikut terseret emosi drama yang sedang kutonton sedang ia tidak. Aku bisa memahami makna yang dikandung drama dari negeri Sakura tersebut karena bisa menyimak bahasa yang dipakai di dalamnya, sementara kawanku tidak.

Aku berkeinginan untuk  menanam iman sampai pada paluh. Di dasar palung jiwa. Aku begitu menyenangi ayat-ayat azab yang dijanjikan Allah di hari kelak untuk orang-orang yang ingkar kepada-Nya. Agar aku bisa mengikatkan diri pada aturan main-Nya di dunia ini, pikirku. Dan itu bisa kudapat jika aku bisa menguasai dan memahami bahasa yang digunakan dalam revelasi agung itu. Beberapa kali kawanku yang menguasai nahwu dan sharaf yang digunakan untuk menggali inti dari sebuah kata dalam bahasa ‘Arab menekankan kepastian-kepastian yang Allah tentukan dan menggemakan keniscayaan apa-apa yang Allah janjikan. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya!

Dan sebagai seorang Muslim, bukankah sudah seharusnya kita mempelajari bahasa ‘Arab agar segala sesuatu yang saat ini tersembunyi dari ayat-ayat agung al-Quran dapat kita pahami benar-benar? Supaya terkuak! Dan rasakanlah iman yang menancap dalam di hatimu karenanya!

——————————————————————————————————————————————————————–

*Aduh, nyeri!

(Ini yang saya katakan karena sudah menakol diri sendiri dengan membuat tulisan di atas.

Kadang, kita perlu dikerasi untuk bisa melakukan sesuatu. Dan nampaknya saya lebih senang jika saya yang melakukan kekerasannya :D)

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s