(Bab 19, [IV])

Itu kenapa bajunya sobek?” tanyaku pada Najwa yang kali ini datang dengan memakai congsam (pakaian China).

Ih, bukan sobek, Aa. Ini mah emang modelnya gini,” belanya.

Mendengar pembelaannya, aku tersenyum geli. Aku tahu bahwa bagian lengan dekat pundak congsam yang sedang dikenakan Najwa itu bukan sobek. Aku hanya melakukan prolog untuk kemudian memberitahunya bahwa pakaian semacam itu tidak layak dipakai oleh seorang perempuan.

Kali ini Najwa datang dengan dua temannya yang lain. Karena unit yang tersedia di warnet ini sedang penuh dipakai, mereka mendekati meja operator di mana aku sedang duduk membaca.

Merasa kesempatan datang mendekat, aku langsung mengajukan pertanyaan lagi pada mereka.

Kenapa kalian pake pakaian seperti itu? Itu kan aurat,“ tanyaku sambil menunjuk lengan mereka.

Ditanya seperti itu, mereka cengengesan.

Pakaian perempuan kan harusnya nutup seluruh bagian tubuh,” jelasku sambil menarik lengan jaket yang sedang kupasang sesiku. Kulanjutkan lagi, “Yang boleh kelihatan dari perempuan itu cuma tangan dan muka.

Tak dinyana mereka mampu membalikkan perkataanku. Cerdas juga rupanya mereka. Sayang, cerdasnya salah tempat. Bagaimana tidak, mereka membantah dengan membela, “Itu Aa tangannya kelihatan. Aurat juga kan?

Tertawa aku mendengar celotehan mereka. Aku memang menyingsingkan lengan jaketku, sementara kepalaku sengaja kututup dengan tudung. Dikiranya aku perempuan, barangkali, dengan lantunan suaraku yang kadang-kadang terdengar kecil. Hahaha. Aku jadi teringat tukang nasi kuning di dekat kostanku yang mengatakan kalau aku rupawan saat kepala ini kupasangi tudung jaket waktu membeli masakannya. Mirip orang Pakistan, katanya (masya Allah, sy laki-laki, Bu). Pret ah :p

Laki-laki mah ngga apa-apa tangannya kelihatan, da bukan aurat,” jelasku. “Laki-laki itu auratnya dari pusar sampai lutut aja.

Tambah cengengesan saja mereka mendengarnya.

Kutanya, “Siapa guru ngajinya?

Tanteku!” jawab Najwa.

Kalau aku mah di masjid al-Hidayah yang di bawah.” ujar kedua teman Najwa.

***

Aku mendesah. Aku kembali diingatkan oleh peristiwa yang baru saja kualami. Bahwa aku adalah seorang pendidik. Seorang yang akan bertanggungjawab penuh atas kehidupan anak-anak yang dititipkan orangtuanya di sekolah di bawah tanganku. Adalah menjadi tugas besarku saat ini, ketika aku sering mendecak prihatin di sekolah saat melihat situasi yang sangat tidak kondusif bagi perkembangan para peserta didik yang dihasilkan dari sebuah sistem yang berjalan di sekolah, untuk menyusun rincian pendidikan Islami yang bukan sekadar nama melainkan bersifat ideologis.

Aku sungguh ingin berguna bagi agama ini, dari sudut di mana aku bertugas mencetak generasi penegak kalimat tauhid di muka bumi ini sejak dini. Tak ada kekuatan dariMu, ya Allah.

——————————————————————————————————————————————————————-

Negla Tengah, Rabu 16 Februari 2011

 

Advertisements

2 thoughts on “(Bab 19, [IV])

    1. Bukan. Najwa itu tokoh fiktif. Tapi jadi mitos di daerah sy ini karena kecantikannya meskipun dia masih mungil.

      Ya iyalah, dia asli. Dia anak kecil yg waktu itu sering datang ke warnet yang sy jaga. Imut orangnya. Cantik. Giginya keropos. Jumlah rambutnya, sy tidak tahu.

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s