(Bab 26)

Dulu sebelum nama pena saya berubah, dan itu ada kaitannya dengan bulan, saya begitu tergila-gila dengan bulan. Sesuatu yang paling utama saya sukai adalah cahayanya. Cahaya bulan memang tidak seberapa dibanding dengan cahaya matahari yang setiap hari saya dapati. Tidak pula seterang lampu neon yang jika jujur ia akan terang terus. Tapi jika cahaya bulan sudah meranggas pada setiap sudut ruang gelap yang sedang saya nikmati, atau fokusnya jatuh pada setiap celah dedaunan yang rindang, atau menimpa setiap atap rumah ketika saya membisu ria menikmati kebisuan atap rumah, atau berpendar di tanah lapang, cahayanya begitu memberikan efek ekstase yang teramat tinggi bagi keresahan diri ini; dan saya benar-benar menyenanginya. Seketika itu, teranglah segala ilusori di sekeliling saya. Sehingga untuk menikmatinya, saya bisa berdiam diri selama mungkin.

Seperti ketika saya dapati purnama di tanah lapang kampus sepulang memberikan les, waktu itu. Saya mendongakkan kepala seorang diri pada kesunyian kampus di malam hari untuk memandangi bulan. Meresapi setiap jatuhan cahayanya pada wajah; mendalami tekstur bulan yang dibercaki serupa arsiran gambar seorang pelukis; dan merenungi kejadian langit dalam kubangan alam semesta.

Seperti grusak-grusuknya saya waktu berlari menuju balkon rumah karena melihat terang yang terselip dari genteng, kala itu. Lantas saya halangi bidang yang mendapat jatuhan sinarnya dengan tangan ini, sampai saya melihat kesenduan dari siluet tangan saya sendiri. Berlama-lamalah saya dalam kegilaan itu, seorang diri.

Atau seperti ketika saya telentang merebahkan tubuh yang ringkih ini di atap rumah, dan sejajar dengan titik bulan yang tergantung di atas sana. Dingin bidang yang saya timpa dengan punggung, berbalik marah merasuk menuju tulang belulang dalam tubuh yang pernah diserang bronhitis ini, dan tidak saya pedulikan itu. Semau kehendaklah saya berbaring di sana menikmati bulan.

Kapanpun, dalam kondisi apapun, selalu saya kejar benda yang menjadi satelit planet Bumi itu. Saya seperti diperbudak kegelisahan yang menuntut untuk disempurnakan kejadiannya. Tapi saya senang. Senang dengan perasaan semacam itu. Biar kadang kala saya tidak ingin seperti itu lagi. Biar acap saya merasa terbebani dengan itu semua, dan ingin lepas tanpa kepala harus terasa berat kembali.

 

Wisudalah saya malam tadi di kamar yang berantakan, saat supermoon hadir di langit, dan lulus dari beban yang selalu menuntut untuk diringankan. Saya tidak mau peduli lagi. Sebab saya harus tahu apa yang menjadi pembeda antara hal yang saya butuhkan dan hal yang saya inginkan.

Saat saya tersenyum, dan melepaskan seluruh beban yang ada di dalam jiwa dari sejumlah keinginan yang prematur, kemudian melihat segala apa yang tertangkap oleh mata, ternyata lempeng itu menyenangkan.

——————————————————————————————————————————————————————–

Mengenang terang bulan yang kepadanya tak pernah saya ucapkan selamat tinggal.

-20032011-

Advertisements

2 thoughts on “(Bab 26)

  1. Apa yang Anda harapkan dari tulisan ini? Di saat orang lain emoh untuk sekadar membaca tulisan semodel ini, Anda berani sekali membacanya. Maka, jika Anda bingung karenanya, itu di luar tanggungjawab saya. Toh Mbak Zulia saja bisa mengerti kok dengan memberikan sy testimoni waktu itu :p

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s