[Bab IV] Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kejelasan tentang status kewajiban shalat bagi anak tunarungu akan didapatkan melalui studi Delphi yang digunakan dalam penelitian ini. Jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh dua orang ahli fiqih sebagai subjek dalam studi Delphi ini kemudian dianalisis oleh peneliti. Dari hasil analisis tersebutlah peneliti selanjutnya menyimpulkan keterangan tentang status kewajiban shalat bagi anak tunarungu yang menjadi fokus penelitian utama dalam studi Delphi ini.

A.      Hasil Penelitian

1.    Data Hasil Wawancara

a.    Data Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Anak Tunarungu Melaksanakan Shalat

1)        Subjek NT

Pertanyaan pertama yang diberikan kepada NT adalah seputar jumlah shalat yang harus dilakukan dalam sehari semalam. NT menjawab dengan mengatakan bahwa shalat dalam sehari semalam itu dilakukan sebanyak lima kali shalat, dengan merinci shalat dzuhur sebanyak empat rakaat, shalat ashar empat rakaat, shalat maghrib tiga rakaat, shalat isya empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Kemudian ditanyakan kepadanya apa hukum shalat itu; NT menjawab bahwa shalat itu hukumnya adalah wajib dan berdosa jika meninggalkannya.

Selanjutnya peneliti bertanya perihal kenapa dirinya suka melaksanakan shalat; NT menjawab bahwa dirinya takut berdosa dan masuk neraka kalau tidak shalat. Selain itu NT memberi keterangan kenapa dia shalat juga adalah karena disuruh oleh guru juga. Begitu ditanya apakah ada kesulitan dalam pelaksanaan shalat, NT menjelaskan kalau dirinya kesulitan dalam membaca bacaannya, terutama bacaan tahiyyatnya. Tapi NT suka mengganti bacaan yang susah dengan bacaan yang mudah. Diakuinya juga bahwa menurut gurunya suka ada penghilangan dan penggantian huruf. Namun, untuk bacaan al-Fatihah dan beberapa surat pendek, NT mengaku hafal.

Ketika ditanya apakah orangtuanya mengajarkan shalat di rumah, NT memberi keterangan bahwa orangtuanya sibuk bekerja sehingga tidak sempat mengajarkan shalat kecuali sebatas menyuruh untuk melaksanakan shalat saja. Peneliti kemudian bertanya tentang pembelajaran shalat yang dilakukan oleh guru Agama di sekolah. NT memberikan keterangan bahwa di kelas, guru Agama memberikan materi tentang bacaan-bacaan shalat. Guru menyuruh untuk menghafal bacaan shalat. Kalau yang susah dan panjang, bisa diganti dulu dengan bacaan yang mudah. Setelah itu praktek shalat di mushala sekolah.

Terakhir, saat ditanya apakah teman-temannya suka mengajaknya untuk shalat, NT menegaskan bahwa selain guru yang menyuruh shalat pada waktu jam shalat tiba teman-temannya juga suka mengajaknya untuk melaksanakan shalat.

2)        Subjek RN (Teman Dekat)

Untuk mengkorek informasi seputar subjek dan mendapatkan kebenaran informasi yang diberikannya, peneliti mewawancarai temannya dekatnya, yakni RN.

Peneliti mengawali wawancara dengan menanyakan apakah dirinya suka mengajak subjek NT untuk melaksanakan shalat; RN menegaskan bahwa ia memang suka mengajak NT untuk shalat bersama-sama pada saat jam shalat tiba. Begitu juga sebaliknya, NT suka mengajaknya shalat. Kemudian saat ditanya tentang sikap NT dalam pelajaran Agama di kelas, RN memberi keterangan bahwa NT cukup aktif bertanya kepada guru. NT juga suka diskusi dengannya membahas materi yang telah diberikan oleh guru Agama. RN juga menceritakan bagaimana keseharian NT selama bergaul dengannya bahwa NT cukup ramah, baik, tidak nakal dan suka mengingatkan shalat kepadanya.

3)        Guru Agama

Banyak hal yang bisa menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi subjek anak tunarungu melaksanakan shalat. Dalam kaitannya dengan lingkungan sekolah, tempat subjek anak tunarungu tersebut berada, peneliti mencari tahu tentang ada tidaknya intervensi dari pihak sekolah/ guru Agama dalam masalah shalat kepada subjek anak tunarungu, dengan mewawancarai guru Agama subjek anak tunarungu yang bersangkutan.

Peneliti mengawali wawancara dengan memberikan pertanyaan tentang bagaimana pengajaran shalat kepada anak tunarungu yang dilakukan oleh guru Agama. Guru Agama memberikan keterangan bahwa pembelajaran shalat diberikan mulai dari tingkat SD kelas 4, 5, 6 sampai tingkat SMA. Memang secara kurikulum pembelajaran shalat hanya diberikan sampai tingkat SMP kelas 1 saja. Tapi mengingat mereka sebagai insan tunarungu, sampai tingkat SMA pun masih diberikan pembelajaran shalat.

Secara kurikulum, di tingkat SD materi-materi yang diberikan hanya berupa teori-teori seputar shalat seperti ketentuan-ketentuan atau rukun-rukun shalat dan lain semacamnya. Bacaan-bacaan shalat juga hanya diajarkan yang wajib-wajibnya saja, seperti niat dan surat al-Fatihah. Pembelajaran bacaan-bacaannya pun terkadang dilatinkan kalau para siswa belum bisa membaca bacaan Arab. Sementara tata cara pelaksanaan shalat baru diajarkan di tingkat SMP kelas 1.

Jika belum hafal bacaan shalat yang tergolong panjang seperti bacaan tahiyyat, para siswa diberikan pilihan untuk menggantinya dengan bacaan yang lebih pendek dan mudah baginya untuk dibaca seperti tasbih dan tahmid. Apalagi anak tunarungu suka tidak jelas melafalkan bacaan shalatnya. Suka ada penghilangan dan penggantian huruf juga. Jangankan yang panjang, yang pendek pun masih suka seperti itu. Tapi untuk bacaan shalawat dalam tahiyyat, ditekankan kepada siswa untuk menghafalnya kemudian dibaca dalam shalat seperti halnya pembacaan al-Fatihah yang mutlak harus dibaca sebagai bacaan yang wajib.

Guru Agama mengaku mempunyai prinsip bahwa yang terpenting dalam pembelajaran shalat bagi anak tunarungu adalah hafal terlebih dahulu bacaan-bacaan shalatnya. Hal tersebut menjadi dasar bagi diberikannya dispensasi bagi mereka untuk mengganti bacaan-bacaan yang dirasa sulit dan panjang dengan bacaan-bacaan yang mudah dan pendek seperti tasbih dan tahmid, sebelum mereka hafal. Dengan begitu, para siswa (anak tunarungu) terdorong untuk melaksanakan shalat walaupun awalnya merasa keberatan karena bacaannya yang susah.

Peneliti kemudian bertanya tentang ada tidaknya pengarahan dari pihak sekolah saat jam shalat tiba. Guru Agama memberikan keterangan bahwa pada saat jam shalat tiba, para guru selalu mengarahkan mereka untuk melaksanakan shalat di mushala sekolah. Inilah yang mendorong para siswa secara general untuk melaksanakan shalat di lingkungan sekolah. Memang masih banyak yang membandel ketika diarahkan untuk melaksanakan shalat, karenanya setiap hari Sabtu pihak sekolah selalu mengadakan pengayaan materi-materi seputar shalat. Kerjasama dengan para orangtua siswa pun dilakukan dengan cara memberikan semacam penyuluhan kepada para orangtua siswa tentang wajibnya shalat. Waktunya ketika ada kesempatan pembagian raport dan rapat orangtua.

Peneliti kemudian bertanya kepada Guru Agama tentang bagaimana keseharian subjek NT di sekolah. Guru Agama memberikan keterangan bahwa keseharian NT di lingkungan sekolah cukup bagus. NT sering pergi bersama teman-temannya untuk melaksanakan shalat saat waktu shalat tiba. Saat di kelas pun, NT mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan sering memperhatikan. Di samping itu NT juga terbilang aktif dengan sering bertanya seputar materi yang belum dia mengerti. Diskusi dengan teman-temannya pun sering dia lakukan untuk membahas materi yang baru saja disampaikan.

b.   Data Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Anak Tunarungu Meninggalkan Shalat

1)        Subjek CY

Peneliti mengawali wawancara kepada CY dengan memberikan pertanyaan tentang jumlah shalat yang harus dilaksanakan dalam sehari semalam; CY menjawab bahwa jumlah shalat yang harus dilaksanakan dalam sehari semalam adalah sebanyak tujuh kali shalat. Selanjutnya CY tidak dapat menjawab saat ditanya tentang hukum shalat.

CY memberikan keterangan, saat ditanya apakah orangtuanya mengajarkan shalat, bahwa dia tidak diajarkan shalat oleh orangtuanya karena mereka sibuk bekerja; hanya sebatas disuruh saja.

Saat ditanya tentang sikapnya yang meninggalkan shalat, padahal guru Agama-nya sudah mengajarkan shalat, CY memberi alasan karena belum hafal dan susah untuk membaca/ melafalkan bacaannya. CY juga memberi penjelasan bahwa teman-temannya pernah mengajaknya shalat. Akan tetapi CY tidak memenuhi ajakannya karena beralasan shalat itu susah bacaannya.

2)        Subjek FR (Teman Dekat)

Peneliti mengawali wawancara untuk mengkorek informasi tentang subjek CY kepada FR dengan memberikan pertanyaan tentang bagaimana keseharian CY di sekolah. FR memberikan keterangan bahwa dalam pelajaran Agama di kelas, CY suka tidak memperhatikan materi yang diberikan oleh guru. Menurutnya, CY sering terlihat asyik sendiri sementara guru sedang memberikan pemahaman tentang shalat. Bertanya masalah materi shalat yang diberikan pada saat pembelajaran pun CY tidak pernah.

Saat ditanya tentang pergaulan CY dengan teman-temannya, FR mengatakan bahwa CY tidak nakal. Tapi begitu waktu shalat tiba, CY sering mengobrol dengan teman-temannya yang lain sampai menghabiskan waktu shalat, padahal FR ataupun guru sudah mengajak dan menyuruhnya untuk melaksanakan shalat.

3)        Guru Agama

Dalam mencari salah satu faktor di lingkungan sekolah yang melatarbelakangi CY meninggalkan shalat, peneliti juga melakukan wawancara kepada guru Agama-nya, terkait dengan masalah ada tidaknya regulasi atau pengarahan dari pihak sekolah. Dari hasil wawancara, didapat keterangan bahwa meskipun ada pengarahan dari pihak sekolah kepada seluruh siswa untuk melaksanakan shalat pada saat jam shalat tiba, masih ada siswa, termasuk CY, yang membandel untuk tidak melaksanakan shalat. Menurut Guru Agama, mereka yang membandel saat disuruh shalat seringnya melakukan kegiatan mengobrol dengan sesamanya. Kalau disuruh, mereka selalu mengatakan sebentar, sebentar lagi; padahal kalau sudah mengobrol mereka suka menghabiskan waktu untuk shalat.

Saat peneliti bertanya tentang ada tidaknya sanksi yang diberikan kepada siswa yang tidak shalat, Guru Agama menjawab bahwa sekolah tidak menerapkan sistem pemberian sanksi kepada siswa yang tidak melaksanakan shalat. Sekolah hanya memberikan pendekatan yang bersifat persuasif.

Lebih lanjut, Guru Agama memberikan keterangan bahwa untuk menanamkan kesadaran kepada seluruh siswa akan pentingnya shalat, pihak sekolah mengadakan pengayaan materi tentang shalat setiap hari Sabtu. Hanya saja, CY suka tidak hadir mengikuti pengayaan.

Peneliti kemudian bertanya tentang keseharian CY di sekolah. Guru Agama memberikan keterangan bahwa saat pelajaran Agama di kelas, CY tidak aktif bertanya tentang materi yang diberikan; suka tidak memperhatikan; dan kemampuannya untuk mengikuti pelajaran pun kurang.

2.    Data Hasil Studi Delphi

Untuk menjawab pertanyaan terkait ada tidaknya keringanan (rukhshah) dalam pelaksanaan shalat bagi anak tunarungu, peneliti menyusun pertanyaan untuk dilayangkan kepada dua orang ahli fiqih yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti. Pertanyaan tersebut disusun berdasarkan teori seputar anak tunarungu dan kenyataan permasalahannya dalam berbahasa dan bicara di lapangan.

Adapun pertanyaan yang dilayangkan kepada dua orang ahli fiqih tersebut adalah sebagai berikut:

Anak tunarungu (tuli) adalah mereka yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran. Mereka tidak dapat mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya sendiri, dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar (ABD); dan hal tersebut menjadikan perkembangannya terhambat, mulai dari perkembangan intelegensi, sosial-emosi, serta bahasa dan bicaranya.

Pada umumnya, anak tunarungu memiliki intelegensi normal atau rata-rata. Akan tetapi karena perkembangan intelegensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, maka anak tunarungu akan menampakkan intelegensi yang rendah disebabkan oleh kesulitan memahami bahasa.

Dalam segi sosial dan emosi, ketunarunguan dapat mengakibatkan terasing dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat di mana ia hidup. Keadaan ini menghambat perkembangan kepribadian anak menuju kedewasaan.

Perkembangan bahasa dan bicara pada anak tunarungu sampai masa meraban, yaitu kegiatan alami pernafasan dan pita suara yang dimanifestasikan dengan mengeluarkan suara meracau, pada usia kurang lebih tiga bulan tidak mengalami hambatan. Setelah masa meraban perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu terhenti; otomatis organ bicaranya tidak pernah dipakai. Pada masa meniru anak tunarungu terbatas pada peniruan yang sifatnya visual, yaitu gerak dan isyarat. Seseorang bisa berbahasa karena ia meniru; dan peniruannya tersebut dilakukan melalui pendengaran. Oleh karena itu, anak tunarungu tidak bisa berbahasa (bicara) karena mereka tidak bisa mendengar; dan akhirnya bisu.

Perkembangan bicara selanjutnya pada anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif, walaupun perkembangannya tidak bisa sesempurna seperti orang yang mendengar (bukan tunarungu).

Yang perlu diperhatikan dari akibat ketunarunguan adalah hambatan dalam berkomunikasi. Kenyataan bahwa anak tunarungu tidak dapat mendengar membuatnya mengalami kesulitan untuk memahami bahasa yang diucapkan oleh orang lain; dan karena mereka tidak dapat mengerti bahasa secara lisan atau oral, maka mereka tidak dapat bicara (jika mereka tidak dilatih bicara).

Jika keadaannya sudah seperti itu, maka bagaimana ketika anak tunarungu melaksanakan shalat? Dalam masalah gerakan shalat, anak tunarungu tidak mengalami suatu hambatan apapun karena hal tersebut merupakan gerakan fisik yang bisa diindera oleh matanya untuk ditiru. Akan tetapi lain halnya dengan bacaan shalat yang harus dibacanya, karena hal tersebut berkaitan dengan pelafalan (bicara/ berbahasa) yang dilakukannya. Dengan keadaannya yang tidak bisa mendengar, yang mengakibatkannya tidak bisa memahami bahasa secara lisan atau oral untuk ditiru, maka kemampuan berbahasanya (bicara) menjadi terhambat (tidak sempurna). Jika demikian yang terjadi, bagaimana dengan bacaan anak tunarungu dalam shalat; apakah ada keringanan untuknya? Seperti apa?

1)        Subjek Ustadz SJ

Subjek penelitian ahli fiqih yang pertama adalah Ust. SJ, sebagai salah satu pengasuh website yang menampung pertanyaan-pertanyaan seputar hukum Islam, yaitu situs www.khilafah1924.com.

Adapun jawaban yang dikirimkan beliau melalui e-mail kepada peneliti adalah sebagai berikut:

Para ulama sepakat bahwa orang yang tidak dapat melafalkan bacaan al-Fatihah dengan baik dikarenakan cacat pada lidah, seperti celat/ cedal (Arab: al-altsagh), sholatnya tidak batal. Misalnya orang celat yang mengganti bunyi huruf “sin” pada kata “al-mustaqim” menjadi huruf “tsa`” sehingga dibaca “al-muts-taqim”. Atau yang mengganti bunyi huruf “ra`” pada kata “rabbil-‘alamin” menjadi huruf “ghain” sehingga dibaca “ghabbil-‘alamin.”

Orang yang lidahnya cacat yang bacaannya seperti itu, sah sholatnya selama dia tidak menyengaja berbuat seperti itu dan tidak mampu lagi memperbaiki bacaannya. (Ahmad Salim Mulhim, Faidhur Rahman fi Al-Ahkam Al-Fiqhiyah al-Khash bi Al-Qur`an, [Amman : Darun Nafa`is, 2001], hal. 204).

Berikut ini akan kami nukilkan pendapat berbagai mazhab dalam masalah ini, sebagaimana disebut dalam referensi tersebut di atas, yakni kitab Faidhur Rahman karya Ahmad Salim Mulhim, pada bab Hukmu Sholat al-‘Ajiz ‘an al-Qira`ah aw Laa Yahsunu Qira`atal Qur`an li ‘illatin fi Lisanihi (Bab Tentang Hukum Shalat Orang Yang Tidak Mampu Membaca atau Tidak Baik Membaca al-Qur`an Karena Suatu Penyakit pada Lidahnya), halaman 204-205.

Menurut Mazhab Hanafi:

“Pada dasarnya orang yang keadaannya seperti ini (lidahnya celat), hendaklah dia bermakmum kepada orang yang bacaannya baik, atau membaca dari al-Qur`an surat yang dapat dibacanya dengan baik yang selamat dari celatnya. Dan hendaklah dia berusaha memperbaiki ucapannya. Kalau dia tidak mendapati orang lain yang dapat dimakmumi, dan tidak mampu memperbaiki ucapannya, serta tidak mendapatkan satu surat dari al-Qur`an surat yang dapat dibacanya dengan baik yang selamat dari celatnya, maka sholatnya sah. Tapi kalau dia dimungkinkan bermakmum kepada orang lain namun tak dilakukannya, atau tidak memperbaiki ucapannya padahal dia masih mampu memperbaikinya, maka shalatnya tidak sah.” (Syarah Fathul Qadir, 1/327).

Menurut Mazhab Maliki:    

“Orang celat yang tidak dapat mengucapkan dengan baik sebagian huruf, misalnya yang mengganti bunyi huruf “ha`” [seperti dalam kata Muhammad] menjadi “ha`” [seperti dalam kata Huud] sehingga dia membaca “al-hamdu” menjadi “al-Hamdu”, atau yang mengganti bunyi huruf “ra`” menjadi “lam” sehingga dia membaca “rabbi” menjadi “labbi” dan yang semisalnya, atau orang ‘ajam (non Arab) yang tidak dapat membedakan bunyi huruf “zha`” [seperti dalam kata zhalimin] dengan huruf “dha`” [seperti dalam kata dhaalliin], atau yang tidak dapat membedakan bunyi “sin” dengan huruf “shad”; jika dia tidak menyengaja berbuat itu dan memang pengucapannya sudah menjadi tabiat (sukar diperbaiki), maka shalatnya sah. Sebab pengucapan seperti itu termasuk kekeliruan bacaan yang ringan (al-lahn al-khafiy) dan tidak membatalkan shalat, kecuali kalau itu dilakukan secara sengaja.” (Mawahibul Jalil, 2/100; Asy-Syarhu ash-Shaghir, 1/437).

Menurut Mazhab Syafi’i:

“Barangsiapa yang tidak dapat membaca dengan baik surat al-Fatihah secara keseluruhan, maka dia ummi, sama saja apakah dia menghapalnya ataukah menghilangkan satu huruf darinya, seperti orang yang tidak jelas bicaranya (Arab: al-art) yang meng-idgham-kan (menggabungkan) satu huruf dengan huruf lain yang bukan pada tempatnya, misalnya orang yang mengucapkan bunyi huruf “sin” pada kata “al-mustaqim” menjadi huruf “tsa`” sehingga dibaca “al-muts-taqim”; demikian pula orang celat (Arab: al-altsagh) yang mengganti huruf “ra`” dengan “ghain”, atau mengganti bunyi huruf “ha`” [seperti dalam kata Muhammad] menjadi “ha`” [seperti dalam kata Huud], atau mengganti huruf “dzal” dengan huruf “zay” sehingga membaca “alladziina” menjadi “allaziina” dan yang semisalnya, maka shalatnya sah untuk dirinya sendiri karena kelemahan dan ketidakmampuannya, dan dikarenakan dia berhak mengimami orang yang semisalnya maka tentu sah pula shalatnya untuk dirinya sendiri.” (Al-Majmu’, 4/269; Hasyiyah al-Baijuri, 1/204; Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah, 1/231; Hasyiyah al-Bujairimi, 1/306-309; Mughni al-Muhtaj, 1/248-239; as-Siraj al-Wahhab, hal. 69)

Menurut Mazhab Hambali :

Barangsiapa meninggalkan satu huruf dari huruf-huruf dalam surat al-Fatihah karena ketidakmampuannya, atau mengganti satu huruf dengan huruf lainnya, seperti orang celat (Arab: al-altsagh) yang mengganti huruf “ra`” menjadi “ghain”, dan juga orang yang tidak jelas bicaranya (Arab: al-art) yang meng-idgham-kan (menggabungkan) satu huruf dengan huruf lain, dan tidak mampu memperbaiki bacaanya, maka dia ummi. Shalatnya sah untuk dirinya sendiri, sebab dia boleh mengimami orang yang semisalnya, maka sah pula kalau dia shalat sendiri.” (Al-Mughni wa Asy-Syarhul Kabir, 2/31; Nailul Ma`arib, 1/177-179; Al-Muqni’, 1/208; Syarah Muntaha al-Iradat, 1/261; 1/188).

 

Dari pendapat empat mazhab di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yang lidahnya cacat seperti celat, sehingga dia tidak dapat melafalkan surat al-Fatihah dengan baik, sholatnya sah, selama dia tidak menyengaja berbuat itu dan sudah tidak mampu lagi memperbaiki bacaannya.

Menurut kami, hukum untuk orang yang lidahnya cacat ini dapat diterapkan juga untuk anak tunarungu yang tidak dapat mengucapkan surat al-Fatihah dengan baik. Maka shalat anak tunarungu yang demikian itu juga sah, selama pengucapannya yang tak sempurna itu bukan karena kesengajaan dan memang sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Kesamaan hukum untuk orang celat dengan anak tunarungu ini bukan didasarkan pada Qiyas, melainkan karena menerapkan nash-nash umum yang dapat diterapkan untuk berbagai kasus yang termasuk dalam keumumumannya. Jadi keumuman nash-nash ini berlaku pula anak tunarungu, sebagaimana berlaku untuk orang celat.

Dalam al-Qur`an dan as-Sunnah terdapat nash-nash umum yang menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membebani seorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, dan adanya permaafan bagi orang yang berbuat salah tanpa unsur kesengajaan. (Atha’ bin Khalil, Taisir al-Wushul ila Al-Ushul, hal. 49 dan 53)

Nash-nash umum tersebut misalnya firman Allah SWT:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS.  al-Baqarah [2]: 286).

Juga firman-Nya:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. at-Taghabun [64]: 16).

Juga sabda Rasulullah SAW:

“Jika aku perintahkan kamu suatu perkara, maka laksanakanlah itu menurut kesanggupanmu.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337); (Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm], 2000, hal. 213).

Imam Syaukani menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan tiga hal. Pertama, bahwa ada permaafan (al-‘afwu) untuk segala sesuatu yang berada di luar batas kesanggupan. Kedua, bahwa wajib hukumnya melakukan sesuatu yang diperintahkan syara’ dalam batas kesanggupan. Ketiga, bahwa kalau masih sanggup mengerjakan sebagian yang diperintahkan, bukan berarti boleh meninggalkan semua yang diperintahkan. (Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm], 2000, hal. 214).

Berdasarkan nash-nash umum ini, maka pelafalan al-Fatihah yang tidak sempurna oleh anak tunarungu dapatlah dimaafkan karena mengucapkan surat al-Fatihah secara sempurna jelas berada di luar batas-batas kesanggupannya.

Selain itu, terdapat nash umum yang menerangkan adanya permaafan (al-‘afwu) bagi orang yang berbuat salah tanpa unsur kesengajaan. Sabda Nabi SAW:

“Telah diangkat dari umatku (siksaan) karena tersalah (tidak sengaja), lupa, dan apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR. Ibnu Hibban).

Kesimpulannya, berdasarkan nash-nash umum di atas, maka sah shalatnya anak tunarungu dengan bacaan al-Fatihah yang tidak sempurna, selama ketidaksempurnaan pelafalan itu tidak disengaja dan sudah tidak dapat lagi diusahakan untuk diperbaiki. Wallahu a’lam.

2)        Subjek Ustadz AF

Subjek penelitian ahli fiqih yang kedua adalah Ust. AF, salah satu anggota Bahtsul Masail kelompok NU cabang Tegallega-Bandung, yang mengurusi masalah-masalah fiqih kontemporer.

Adapun jawaban yang dikirimkan beliau melalui e-mail kepada peneliti adalah sebagai berikut:

Dari sekian banyak pendapat para ulama ahli fiqih, saya mengambil pendapat madzhab Syafi’i. Karena untuk masalah ini, pendapat dari madzhab Syafi’i-lah yang paling banyak dipegang (paling kuat).

Syaikh Ibrahim al-Bajuri, salah satu pemuka dari madzhab Syafi’i mengatakan dalam kitabnya, Hasyiah ‘ala Fathil Qarib, bahwa orang yang tidak mampu membaca al-Fatihah dikarenakan tidak mampu menghafalnya, bodoh/ jahil (tidak ada yang membimbing dalam belajar membacanya), dan muallaf, maka ia boleh menggantinya dengan dzikir.

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin Abu ‘auf, ia berkata:

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yg bisa mencukupiku dari al-Qur’an, karena aku tidak bisa membaca.’ Maka beliau berkata: ‘Ucapkanlah subhanalloh walhamdulillah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar wa laa quwwata illa billaah…” (HR. Ibnu Khuzaimah, Daruquthni dan an-Nasai)

“Jika engkau berdiri untuk shalat maka berwudlulah sebagaimana Allah telah memerintahkanmu, kemudian ucapkanlah syahadat, lalu berdirilah, kemudian bertakbirlah. Apakah engkau memiliki hafalan Qur’an maka bacalah; dan jika tidak maka ucapkanlah tahmid, takbir, dan tahlil, kemudian rukulah…” (HR. Ibnu Khuzaimah)

            Kalaupun masih tidak bisa maka ia boleh diam, seukuran lamanya membaca al-Fatihah, itupun kalau keadaan sedang berjama’ah. Tapi kalau masih bisa diusahakan untuk mampu membaca al-Qur’an, maka ia harus berusaha untuk terus belajar. Karena yang namanya darurat dalam masalah fiqih adalah bahwa sesuatu hal itu sudah tidak ada jalan keluarnya atau sulit dicarikan jalan keluarnya.

Namun dalam masalah pengucapan al-Fatihah untuk tunarungu tidak masuk dalam sasaran pembahasan dalil-dalil diatas. Karena hal tersebut sudah masuk pada rukhshah atau keringanan. Salah satu penyebabnya antara lain adalah: anak tunarungu tidak bisa mengucapkan al-Fatihah bukan karena bodoh, atau tidak hafal, tetapi ia merupakan cacat bawaan sejak lahir atau setelah beranjak dewasa. Karena alasan “tidak hafal” atau “bodoh”, masih bisa diusahakan untuk dibimbing belajar, kecuali kalau ia memamg benar-benar tidak ada yang membimbing.

Rukhshah ini sendiri terbagi dua, yaitu rukhshah untuk mengerjakan suatu perbuatan dan rukhshah untuk meninggalkan suatu perbuatan. Pembagian ini didasarkan pada hukum yang mula-mula harus dikerjakan. Jika hukum itu pada mulanya berupa larangan, maka rukhshah-nya berupa dispensansi untuk mengerjakan larangan tersebut. Jika hukum mula itu berupa perintah, maka rukhshah-nya berupa dispensasi untuk melakukan sebisanya, bahkan bisa ditinggalkan kalau memang tidak bisa diusahakan lagi, karena hal tersebut juga bukan merupakan suatu kesengajaan.

Maka anak tunarungu dalam hal ini termasuk kepada rukhshah yang dispensasinya berupa melakukan bacaan al-Fatihah sebisanya.

Adapun dalil-dalil tentang adanya keringanan ini adalah:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. an-Nahl: 106)

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. al-Hajj: 78)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya seseorang tidak akan diperberat oleh agama ini, kecuali ia pasti akan mampu melaksanakannya. Oleh karena itu, ikutilah dengan benar-benar dan berusahalah mendekatinya.” (HR. an-Nasai, No. 4948, Juz 15, hal. 241)

“Telah diangkat dari umatku (siksaan) karena tersalah (tidak sengaja), lupa, dan apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR. Ibnu Hibban)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Dan juga kaidah fiqh yg berbunyi: “Al-masyaqqotu tajlibut taisir = kesukaran itu menarik kemudahan.”

B.       Analisis Data

1.    Analisis Data Lapangan

a.    Analisis Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Anak Tunarungu yang Melaksanakan Shalat

Dari hasil wawancara untuk mencari tahu faktor-faktor yang melatarbelakangi anak tunarungu melaksanakan shalat, dapat dianalisis bahwa faktor-faktor yang melatarbelakangi NT sebagai subjek anak tunarungu melaksanakan shalat adalah karena NT memiliki kesadaran akan penting/ wajibnya shalat. Hal ini tampak karena NT mempunyai pengetahuan seputar shalat, yang meliputi jumlah shalat yang dilaksanakan dalam sehari semalam; jumlah rakaat keseluruhannya; dan konsekuensi yang akan didapatkan jika meninggalkan kewajiban shalat tersebut. Selain itu, faktor yang melatarbelakanginya juga untuk melaksanakan shalat adalah adanya pengarahan dari guru saat jam shalat tiba. Begitu juga dengan pembelajaran shalat yang diberikan oleh guru agamanya, bahwa bagi siapa saja yang belum hafal bacaan shalat boleh menggantinya dengan yang mudah-mudah dulu, telah menjadi pendorong bagi NT untuk melaksanakan shalat.

Pengetahuan NT seputar shalat didapatkan dari hasil pemahamannya terhadap pembelajaran Agama yang diberikan di sekolah. Hal ini bisa terlihat dari keaktifannya dalam mengikuti pelajaran Agama; bahwa NT sering menanyakan materi yang belum dipahaminya kepada guru. NT juga suka berdiskusi dengan teman-temannya membahas materi yang telah diberikan oleh guru sebelumnya. Sebagai eksesnya, NT memiliki pengetahuan inti yang yang bisa mendorongnya untuk selalu melaksanakan shalat, yakni hukum shalat yang mengandung konsekuensi keburukan jika meninggalkannya. NT juga memaksakan untuk melaksanakan shalat meskipun kesulitan dalam membaca bacaannya karena mengetahui konsekuensi yang akan didapatkannya jika ia sampai meninggalkannya. Selain itu, kenapa NT memaksakan shalat juga karena guru Agama memberikan dispensasi untuk mengganti bacaan yang sulit atau panjang dengan bacaan yang mudah (tasbih dan tahmid).

Adapun hal lain yang melatarbelakangi NT untuk selalu melaksanakan shalat adalah adanya pengarahan dari pihak sekolah yang selalu menyuruh menyuruh setiap siswa untuk melaksanakan shalat saat jam shalat tiba. NT merasa takut kalau guru sampai memberikan sanksi jika ia tidak menurutinya untuk melaksanakan shalat. Karenanya, NT bersama teman-temannya yang lain selalu melaksanakan shalat.

b.   Analisis Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Anak Tunarungu yang Meninggalkan Shalat

Berbeda dengan NT, subjek anak tunarungu yang kedua, yakni CY, kurang begitu memiliki pengetahuan tentang shalat. CY memberikan jawaban yang salah bahwa shalat itu ada tujuh kali, saat ditanya berapa jumlah shalat yang harus dilakukan dalam sehari semalam. Bahkan CY tidak mengetahui apa hukum shalat itu.

Benarlah bahwa CY kurang memiliki pengetahuan tentang shalat yang mendorongnya untuk lalai terhadap kewajiban shalatnya; karena menurut guru agamanya, sisi kognitif atau kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di kelas lumayan kurang. Apalagi di kelas CY tidak aktif dan suka tidak memperhatikan guru saat memberikan pelajaran agama tentang shalat.

Kebanyakan siswa-siswa tunarungu yang membandel tidak melaksanakan shalat pada saat jam shalat, termasuk CY dalam konteks ini, adalah mengobrol dengan sesamanya sampai waktu shalat habis. Padahal guru sudah mengarahkan CY untuk melaksanakan shalat. Hanya saja pendekatan yang dilakukan oleh guru untuk mengarahkan siswa-siswa tunarungu, termasuk CY, masih dalam bentuk yang kurang mengikat, yakni persuasif. Dengan begitu, menjadi suatu hal yang bisa dikatakan wajar kalau masih banyak siswa yang membandel untuk meninggalkan shalat di lingkungan sekolah.

Keadaan yang demikian tidak ada sanksi dari pihak sekolahlah yang melatarbelakangi subjek CY tidak melaksanakan shalat di lingkungan sekolah; selain karena subjek CY sendiri tidak mempunyai pengetahuan seputar shalat, seperti konsekuensi yang akan didapatkan jika meninggalkannya, yang bisa mendorong seseorang untuk takut jika meninggalkan shalat.

Terlebih lagi kenyataannya, bahwa faktor utama yang melatarbelakangi subjek CY meninggalkan shalat adalah karena dia tidak hafal dan merasa kesulitan dalam membaca bacaan shalatnya. Dengan begitu, subjek CY sama sekali tidak akan terdorong untuk menghafal sampai dia bisa kalau pihak sekolah tidak memberikan sanksi yang tegas kepada siswa-siswa yang meninggalkan shalat.

2.    Analisis Data Studi Delphi

Jawaban yang diberikan oleh ahli fiqih atas kuesioner penelitian yang peneliti layangkan sebelumnya, baik dari subjek Ust. SJ maupun dari subjek Ust. AF, keduanya menekankan pada permasalahan anak tunarungu dalam pembacaan surat al-Fatihah sebagai bacaan yang wajib dibaca dalam shalat.

Kedua subjek ahli fiqih ini tidak membahas pelafalan bacaan shalat anak tunarungu untuk dilakukan di dalam hati saja, karena dalam ketentuan agama yang namanya pekerjaan (amalan) hati itu hanyalah niat saja, sementara bacaan shalat bukanlah tergolong niat (amalan hati). Karena itu rukhshah (keringanan) yang mungkin ada dalam shalatnya anak tunarungu adalah membaca bacaan shalat dalam kadar kemampuannya sebagai individu yang memiliki keterbatasan dalam berbahasa dan bicara.

a.    Subjek Ust. SJ

Ust. SJ menekankan bahwa anak tunarungu tetap wajib membaca surat al-Fatihah, tetapi dalam kadar kemampuannya. Artinya, meskipun keadaan anak tunarungu memiliki keterbatasan/ ketidaksempurnaan dalam membaca bacaan shalat, bacaan al-Fatihah tidak boleh ditinggalkan. Adapun dalam pelafalannya yang tidak sempurna, maka hal itu tidak sampai menjadikan shalatnya batal. Shalatnya tetap dipandang sah selama ketidaksempurnaan bacaannya itu tidak disengaja dan memang sudah tidak dapat diusahakan lagi untuk diperbaiki.

Beliau menukil keterangan dari empat madzhab besar yang menjadi bahan referensi salah satu kitab yang membahas tentang hukum shalat orang yang bacaan shalatnya tidak sempurna, yakni kitab Faidhur Rahman karya Ahmad Salim Mulhim, pada bab Tentang Hukum Shalat Orang yang Tidak Mampu Membaca atau Tidak Baik Membaca Al-Qur`An karena Suatu Penyakit pada Lidahnya. Keempat nukilan dari empat madzhab besar tersebut masing-masing memberikan keterangan bahwa:

1)   Madzhab Hanafi: bahwa orang yang tidak bagus bacaan shalatnya, hendaknya bermakmum kepada orang yang bacaan shalatnya baik, atau membaca bacaan yang lain dari al-Quran yang bisa dibacanya dengan baik. Di samping itu ia harus berusaha memperbaiki ucapannya. Kalau ternyata ia tidak mendapati orang yang bisa dimakmumi; tidak bisa memperbaiki ucapannya; dan tidak mendapati bacaan lain dari al-Quran yang mudah baginya untuk dibaca dengan baik, maka shalatnya sah. Akan tetapi kalau ia masih memungkinkan untuk bermakmum kepada orang lain, dan bisa melatih/ memperbaiki ucapannya; tetapi tidak ia lakukan, maka shalatnya tidak sah.

2)   Madzhab Maliki: bahwa orang yang dalam pelafalannya sering mengganti huruf (arab) aslinya; seperti mengganti huruf ‘ha’ kecil dengan membaca ‘ha’ besar, atau mengganti bunyi ‘ra’ dengan mengucapkan ‘la’, maka shalatnya tetap sah selama itu tidak disengaja karena sudah menjadi tabiatnya (sukar diperbaiki). Karena yang demikian itu termasuk kekeliruan bacaan yang ringan (al-lahn al-khafiy) dan tidak membatalkan shalat, kecuali kalau disengaja.

3)   Madzhab Syafi’i: bahwa orang yang tidak dapat membaca surat al-Fatihah dengan baik secara keseluruhan, seperti menghilangkan satu atau beberapa huruf dari surat al-Fatihah tersebut, maka shalatnya sah untuk dirinya sendiri karena kelemahan dan ketidakmampuannya, sebab dia termasuk kategori ummi (tidak bisa membaca).

4)   Madzhab Hambali: bahwa orang yang menghilangkan satu huruf; mengganti huruf dengan huruf lainnya; dan menggabungkan bunyi huruf tidak pada tempatnya dalam salah satu kata dari surat al-Fatihah, maka shalatnya tetap sah untuk dirinya sendiri karena dia termasuk ummi (tidak bisa membaca).

Berdasarkan penjelasan keempat madzhab besar tersebut, maka hukum shalat orang yang tidak baik bacaan shalatnya dapat diterapkan juga pada kasus anak tunarungu yang memiliki masalah dalam berbahasa dan bicara. Tetapi penentuan kesamaan hukum ini bukan didasarkan pada qiyas (analogi hukum atas motivasi yang sama), melainkan menerapkan nash-nash (dalil-dalil) umum yang dapat diterapkan pada berbagai kasus yang termasuk dalam keumumannya. Jadi keumuman dalil-dalil tersebut berlaku juga bagi anak tunarungu, sebagaimana berlaku juga bagi orang yang lidahnya celat. Dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS. al-Baqarah [2]: 286).

Kemudian dalil berikut, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (TQS. at-Taghabun [64]: 16)

Dalil yang terakhir, “Jika aku perintahkan kamu suatu perkara, maka laksanakanlah itu menurut kesanggupanmu.” (HR. Bukhari)

Ust. SJ mengetengahkan dalil yang terakhir, sebagai keterangan dari agama untuk memberikan keringanan pada keadaan yang dimiliki oleh anak tunarungu, karena Imam Syaukani telah menjelaskan tiga ketentuan utama dalam pelaksanaan ibadah di dalam hadits Bukhari tersebut. Pertama, bahwa ada permaafan (al-‘afwu) untuk segala sesuatu yang berada di luar batas kesanggupan. Kedua, bahwa wajib hukumnya melakukan sesuatu yang diperintahkan syara’ dalam batas kesanggupan. Ketiga, bahwa kalau masih sanggup mengerjakan sebagian yang diperintahkan, bukan berarti boleh meninggalkan semua yang diperintahkan.

b.   Subjek Ust. AF

Ust. AF menyimpulkan bahwa anak tunarungu bukan termasuk kepada golongan orang yang bodoh/ jahil dan orang yang tidak hafal bacaan al-Fatihah, yang dengan keadaan bodoh dan ketidakmampuan menghafalnya tesebut diperbolehkan untuk mengganti bacaan al-Fatihah dengan membaca tasbih dan tahmid. Anak tunarungu tidaklah demikian, melainkan memiliki kecacatan yang dialami sejak lahir atau sudah beranjak dewasa. Karena, seandainya anak tunarungu digolongkan kepada orang yang bodoh/ jahil atau orang yang tidak hafal al-Fatihah, hal itu masih bisa diusahakan untuk dibimbing belajar.

Keadaan anak tunarungu yang memiliki cacat bawaan sejak lahir, yang berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan bicaranya, sudah termasuk ke dalam pembahasan rukhshah (keringanan). Rukhshah itu sendiri terbagi ke dalam dua bagian, yakni: rukhshah untuk mengerjakan suatu perbuatan dan rukhshah untuk meninggalkan suatu perbuatan. Pembagian tersebut didasarkan pada hukum asal perbuatan yang harus dikerjakan. Jika hukum asalnya berupa larangan, maka rukhshah-nya adalah dispensasi untuk mengerjakan larangan tersebut. Sebaliknya, jika hukum asalnya berupa perintah, maka rukhshah-nya adalah dispensasi untuk mengerjakan sebisanya; bahkan bisa ditinggalkan kalau memang tidak bisa diusahakan lagi, karena hal tersebut juga bukan merupakan suatu kesengajaan.

Karena kewajiban shalat termasuk ke dalam kategori perintah dari Allah, maka dalam hal ini bagi anak tunarungu, dengan kemampuan berbahasa dan bicaranya yang tidak sempurna yang berpengaruh pada pembacaan/ pelafalan bacaan shalat yang tidak bagus, diberikan rukhshah berupa mengerjakan semampunya. Manifestasinya adalah membaca al-Fatihah walaupun tidak bagus atau tidak sempurna.

Adapun dalil-dalil untuk rukhshah (keringanan) tersebut, di antaranya: “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (TQS. al-Hajj [22]: 78); “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (TQS. al-Baqarah [2]: 185); “Sesungguhnya seseorang tidak akan diperberat oleh agama ini, kecuali ia pasti akan mampu melaksanakannya. Oleh karena itu, ikutilah dengan benar-benar dan berusahalah mendekatinya.” (HR. an-Nasai); “Telah diangkat dari umatku (siksaan) karena tersalah (tidak sengaja), lupa, dan apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR. Ibnu Hibban); “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS. al-Baqarah [2]: 286). Yang terakhir adalah kaidah fiqih yang berbunyi: “Al-masyaqqotu tajlibut taisir = kesukaran itu menarik kemudahan.

C.      Pembahasan

Berdasarkan hasil temuan dari studi Delphi yang dilakukan kepada dua orang ahli fiqih, pada kenyataannya pelafalan bacaan shalat yang tidak sempurna oleh anak tunarungu dalam shalatnya tidaklah sampai menjadikan shalatnya tersebut batal atau tidak sah/ tidak diterima. Pembahasannya berpijak pada pelafalan surat al-Fatihah sebagai bacaan yang wajib. Ketidaksempurnaan bacaan al-Fatihah ini telah dibahas oleh para imam madzhab dalam berbagai kitab yang dikarangnya. Di dalam kitab-kitab tersebut dijelaskan bahwa barangsiapa yang melafalkan dalam shalatnya surat al-Fatihah dengan tidak jelas, menghilangkan huruf, mengganti huruf dan atau bunyi huruf, maka hal tersebut menjadikan shalatnya tidak sah; kecuali dengan alasan yang memang tidak bisa dihindari lagi, seperti keadaan lidahnya yang celat/ cacat dan atau tergolong ummi (tidak bisa membaca). Jika pelafalan surat al-Fatihah yang tidak sempurna itu dikarenakan keadaan lidahnya yang celat dan hal tersebut sudah menjadi tabiatnya yang susah untuk diperbaiki lagi, maka shalatnya tetap sah. Akan tetapi, jika ia tidak berusaha untuk memperbaikinya, maka shalatnya tidak sah dikarenakan belum ada usaha maksimal dari dirinya. Selain itu, dianjurkan bagi orang yang tidak sempurna bacaan al-Fatihah-nya untuk bermakmum kepada orang yang baik bacaan al-Fatihah-nya. Seandainya ia tidak mendapati orang yang bacaan al-Fatihah-nya baik untuk dijadikan imam karena tidak bisa memperbaiki pelafalannya, maka shalatnya sah meskipun dengan keadaan pelafalan al-Fatihah yang tidak sempurna. Intinya, selama bacaan al-Fatihah-nya yang tidak sempurna itu bukan dikarenakan oleh kesengajaan yang dilakukannya dan sudah menjadi tabiatnya yang sulit untuk diperbaiki, maka shalatnya tetap sah.

Karena itu, ketidaksempurnaan bacaan shalat yang dilakukan oleh anak tunarungu tersebut sudah masuk ke dalam bahasan rukhshah (keringanan) dalam ibadah. Dengan kata lain, anak tunarungu tetap wajib melaksanakan shalat karena sudah ada ketentuan rukhshah untuknya. Berhubung bentuk rukhshah itu tergantung pada hukum asal perbuatannya, maka shalat yang hukum asalnya adalah wajib (perintah), bentuk rukhshah-nya yaitu melaksanakan semampunya.

Kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa ada dua kelompok anak tunarungu yang memiliki sikap yang berbeda terhadap kewajiban shalat. Kelompok yang satu melaksanakan shalat, diwakili oleh subjek NT; dan kelompok yang satunya lagi melalaikan/ meninggalkan shalat, diwakili oleh subjek CY. Banyak hal yang menjadi faktor yang melatarbelakangi kedua kelompok anak tunarungu ini melaksanakan dan meninggalkan shalat. Terkait dengan faktor-faktor yang melatarbelakangi subjek CY meninggalkan shalat, di antaranya adalah pendekatan yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam mengatur siswa yang abai terhadap pelaksanaan shalat pada saat jam shalat; tidak acuhnya subjek CY dalam mengikuti pembelajaran di kelas; dan kepasifan orangtuanya dalam menyuruhnya melaksanakan shalat. Akan tetapi, faktor yang paling terlihat mencolok pada subjek CY dalam meninggalkan shalat adalah alasannya yang merasa kesulitan dalam membaca bacaan shalatnya.

Sementara faktor yang melatarbelakangi subjek NT melaksanakan shalat adalah karena kesadaran pribadinya terhadap kewajiban shalat, yang ternyata didukung oleh sifat pembelajaran shalat yang diberikan oleh guru agamanya, yakni memberikan dispensasi untuk mengganti bacaan yang dirasa panjang dan susah dengan bacaan yang dianggap mudah. Selain itu juga dikarenakan oleh kepatuhan subjek NT terhadap pengarahan dari guru saat jam shalat tiba.

Selanjutnya, terkait dengan kenyataan di lapangan tersebut, bahwa ada sebagian anak tunarungu yang meninggalkan shalat hanya karena merasa kesulitan dalam membaca bacaannya, maka ketentuan agama yang telah dihasilkan dari studi Delphi dalam penelitian ini bisa diterapkan kepada mereka. Dengan kata lain, anak tunarungu yang meninggalkan kewajiban shalat dengan alasan keterbatasannya sebagai insan tunarungu menjadi berdosa karenanya. Sikap yang justru harus diambil oleh anak tunarungu ini adalah melaksanakan shalat sesuai dengan kadar kesanggupannya.

Tidak akan pernah diterima oleh Allah alasan apapun dari seorang hamba untuk meninggalkan suatu perbuatan yang telah diwajibkan/ diperintahkan kepadanya, hanya karena hamba tersebut memiliki keterbatasan untuk melaksanakannya. Karena syariat telah memberi keringanan untuk melaksanakan kewajiban/ perintah itu dalam batas kesanggupannya.

Di antara dalil yang menjadi dasar bagi diberikannya rukhshah tersebut adalah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS. al-Baqarah [2]: 286); “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (TQS. at-Taghabun [64]: 16); “Jika aku perintahkan kamu suatu perkara, maka laksanakanlah itu menurut kesanggupanmu.” (HR. Bukhari)

Adapun anak tunarungu yang melaksanakan shalat karena mengganti bacaan-bacaan shalat yang dirasa susah dengan bacaan-bacaan yang lebih mudah baginya, itu tidak menjadi masalah selama yang diganti itu bukan surat al-Fatihah. Artinya, anak tunarungu membaca surat ­al-Fatihah dengan tidak sempurna pun tidak masalah. Penghilangan dan penggantian huruf dan atau bunyi yang dilakukannya saat membaca al-Fatihah tidak menjadikan mereka berdosa hanya karena membaca al-Quran secara tidak benar. Karena yang menyebabkannya seperti itu adalah dampak dari ketunarunguan yang sudah menjadi tabiat keterbatasan mereka yang sulit dan bahkan tidak bisa diperbaiki lagi. Hal inilah yang telah dibahas melalui studi Delphi dalam penelitian ini.

Justru yang terpenting dari sikapnya tersebut adalah bahwa dirinya tetap melaksanakan shalat walaupun dengan keadaannya yang tunarungu. Karena sikap yang seperti itulah yang telah ditentukan oleh agama/ syara’ untuk diikuti oleh kalangan yang memiliki keterbatasan, termasuk anak tunarungu dalam konteks ini.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s