Bocah, Riwayatmu Kini…

Apa bedanya bocah dahulu dengan bocah sekarang? Saya sebagai bocah dahulu, dan (taruhlah) adik-adik kecil yang sering kita temui pada masa kini sebagai bocah sekarang. Kami sama-sama manusia. Punya mata, hidung, dan telinga. Bernafas pun dengan jantung yang memompa.

Ingusan?

Deuh, sorry ya! Alhamdulillah waktu saya masih kecil bersih tuh! Bocah sekarang? Ada saja lendir ijo yang menggelayut di atap gua hidungnya.

Baunya?

Deuh, sorry episode II ya! Syukur kepada Allah, waktu saya kecil harum selalu. Bocah sekarang? Masih sama dengan beberapa teman SD saya waktu dulu. Haha.

Ah, sudahlah. Kami sama-sama manusia. Yang berbeda, seintelan saya, hanyalah aksesnya pada sesuatu. Contohnya, dulu kalau saya mau jajan, ke warung itu lumayan jauh. Menghabiskan beberapa gumpal energi yang ada dalam tubuh saya. Kalau saya mau beli suatu karbohidrat di warung demi menjaga kelangsungan hidup saya, bisa-bisa saya pingsan terlebih dahulu di jalan mau ke warung. Kenapa? Ya itu tadi, beberapa gumpal energi dalam tubuh saya bisa habis karena jauhnya jarak warung dari rumah. Sekarang? Lihat saja. Saya pernah melihat seorang bocah yang begitu mau jajan, terus dia buka pintu rumahnya, langsung jumpa warung deh. Hebat nian perkembangan warung sekarang. Menjamur di mana-mana. Saya begitu heran dengan warung yang berdiri tepat di depan pintu rumah bocah yang mau jajan tadi. Begitu mudahnya dia kalau mau jajan tinggal buka pintu rumahnya saja.

Saya tanya, “Dek, itu warung punya siapa? Kok tepat di depan rumah kamu banget sih?”

“Itu warung mama saya,” begitu jawabnya.

Hangdeuw[1] (–“)

Begitulah perbedaan akses bocah dulu dengan bocah sekarang. Hehehe.

***

Tadi, di warnet yang saya jaga ini, seorang bocah laki-laki berumur sekira kelas satu SD, datang lagi dengan dua orang bocah perempuan temannya. Yang satu seumuran dengannya, yang satu lagi masih balita. Nastaghfirullah, bocah itu menulis sesuatu yang mengagetkan di kolom pencarian Google, tepat ketika saya melihat billing dari layar monitor di meja operator. Billing di sini memang bisa melihat apa yang sedang dibuka oleh klien. Saya benar-benar melihat rantaian huruf demi huruf yang sangat tidak pantas ditulis oleh bocah sekecil mereka. Berdebar jantung saya. Rasa kesal menyeruak ke permukaan. Nyatakah ini? Pikiran saya masih tidak percaya. Saya memperhatikannya sejenak. Dan benarlah dugaan saya; mereka tidak salah mengetik huruf-huruf itu, dengan ditambahnya satu kata lagi yang pada jenisnya begitu padu[2].

Saya bergegas meninggalkan meja operator menuju unit nomor enam di mana bocah-bocah itu sedang menyewa layanan internet di sini. Mereka menampakkan keterkejutan.

“Orang keren datang tiba-tiba! Orang keren datang tiba-tiba! Kami belum menyiapkan secarik kertas untuk dibubuhi tanda tanganmu, Kakak yang Keren!” begitu saya menduga verbalan raut wajah ketiga bocah itu. Ah, tapi sungguh tidak kompatibel antara kata-kata yang saya duga itu dengan raut wajah mereka. Mereka ketakutan, bukannya sumringah mendapati saya tiba-tiba berdiri di hadapannya.

Dongkol saya melihat mereka. Asli.

Duh, bocah, bocah…

Siapa yang mengajarimu? Kalian tahu itu dari siapa? Sekecil kalian sudah berani-beraninya mencari apa yang menjadi santapan pemuda-pemuda berengsek yang tak tahu moral.

Saya langsung jongkok, mensejajarkan diri dengan kepala mereka. Tatapan saya melihat tajam pada mata-mata polos mereka, sedang telunjuk tangan saya berusaha menggapai tombol back space pada keyboard untuk menghapus sebaris kata yang tidak pantas mereka tuliskan untuk digoogling itu.

“Kalian ini masih kecil. Kenapa berani-beraninya menulis sesuatu yang tidak pantas kalian tulis dan cari?” tanya saya miris pada mereka.

“Apa? Itu mah kerjaan Agung[3],” sanggah mereka. Padahal saya jelas-jelas tahu karena memonitor mereka dari meja operator.

Saya lantas mengajaknya untuk melihat apa yang sudah mereka tulis pada kolom browser.

“Terus, ini apa?” ajak saya pada mereka untuk melihat apa yang tertera dalam layar monitor, sekalian hendak menghapusnya.

Hangdeuw, cepat sekali mereka meneruskan awalan me- itu menjadi kata menggambar. Padahal tadi di layar monitor jelas-jelas saya lihat mereka menuliskan lima huruf vulgar itu. Sudah merasa keren saja saya ini mendatangi mereka dengan bergaya seperti tadi, eh kurang tepat juga akhirnya teguran saya ini karena kata yang mereka tuliskan cepat berganti. Kata-kata vulgar itu menjadi kata-kata yang sangat cocok sekali dituliskan oleh bocah-bocah seumuran mereka: “menggambar”.

Bocah, riwayatmu kini…


[1] Pelafalan kata seru “haduh” karena ikhfa safawi.

[2] Nama dua jenis alat kelamin dalam bahasa Sunda.

[3] Teman mereka yang sebelum saya mendatangi mereka datang ikut bergumul bersama mereka (Haha, pusing tidak baca kalimat ini? :p)

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s