Kenapa Kita Mesti Mundur?

Dari awal saya sudah tahu bahwa nanti ketika acara digelar, saya dan ratusan orang lainnya akan menduduki tribun barat di stadion Si Jalak Harupat itu. Otomatis mentari pagi akan begitu jelas dan benderang saya dapati dari sebelah timur. Ia akan terbit mengisi hari dengan cahayanya yang hangat untuk kemudian menerik panas saat hari menjelang siang.

Ketika waktunya tiba pun saya sudah tidak berani untuk mengambil posisi paling atas di tribun barat yang memang teduh karena sinar mentari terhalang atap. Pengecut sekali rasanya saya jika harus demikian. Itu pun saya masih bisa bertekad seperti itu karena mentari pagi belum terasa menyengat. Begitu duduk, silaunya sudah mulai terdeteksi oleh mata, namun terasa hangat oleh tubuh. Selama acara belum dimulai, saya siasati terpaan sinar mentari pagi itu dengan setengah membelakangi.

Pagi itu, saya datang membawa tiga orang kontakan. Mereka menyandang ketunarunguan. Sekalipun mereka sudah saya sarankan memakai ABD, tetap saja kata-kata dari suara di luar tidak akan tertangkap jelas karena daya terima gelombang suara di telinganya memang rusak. Karenanya, di tribun barat itu, saya mengambil posisi duduk di bawah mereka, agar ketika saya berisyarat guna menerjemahkan isi pidato para pembicara bisa terlihat dengan jelas oleh mereka ketimbang saya duduk di sampingnya, meskipun saya memutar setengah badan. Sebelumnya, saya juga menyarankan mereka untuk membawa topi. Sayang, seorang dari mereka lupa membawanya. Maka, merasa tanggung jawab saya langsung meminjamkan topi untuknya. Dan, dengan tanpa ragu sinar mentari menerpa saya total. Dari sana saya harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya tekadkan untuk tidak berpindah duduk ke posisi yang teduh meski tribun masih belum padat, meski pada akhirnya topi saya dikembalikan karena kekecilan.

Menjelang siang, mentari seolah berganti nama menjadi matahari seiring dengan perubahan kualitatif kapasitas sinarnya. Dari hangat menyegarkan menjadi panas menyengat. Dengan begitu, banyak dari peserta tribun barat yang kemudian berpindah menuju bagian atas tribun yang teduh. Dari kejauhan sana pun MC sudah mengajak peserta agar tidak ada yang duduk tepat di bawah keteduhan, agar bagian tengah sampai bawah tribun yang sebagian besar terkena sinar matahari tidak lantas kopong melompong. Tapi ajakan tetaplah ajakan, sebesar apapun gema suaranya. Yang menjadi masalah adalah hati kita; menerima ajakan itu atau tidak. Jika ajakan itu adalah kebaikan, maka kebaikanlah untuk kita. Pun sebaliknya.

Dalam acara sebesar Konferensi Rajab 1432 H kemarin, saya yakin, ajakan tersebut adalah suatu kebaikan bagi kami yang mengaku sebagai pejuang Khilafah. Panas menyengat? Belum seberapa dibanding perjuangan saudara-saudara kita yang berlumuran darah. Saya yang duduk di bagian tengah pun merasa tergerak. Di bawah saya beberapa undakan duduk masih kosong. Tapi saya sudah berada dalam posisi terpaan sengat sinar matahari. Saya menunggu mereka yang berada di atas untuk turun dan menduduki bagian yang masih kosong. Nyatanya, tidak ada yang berani turun menduduki bagian yang terkena panas matahari kecuali segelintir peserta saja. Tiga orang tunarungu yang menjadi kontakan saya pun bertanya ingin mengetahui orang di panggung sana sedang berbicara apa. Saya bahasakan dengan bahasa isyarat bahwa itu adalah ajakan untuk menduduki bagian tribun bawah yang masih kosong. Saya pun mengajak mereka. Sayang mereka emoh dengan dalih bahwa tempat duduk mereka pun sudah panas. Setidaknya saya bisa mengerti. Dan saya pun menunggu banyak orang dari bagian atas untuk turun menduduki bagian yang kosong.

Selang beberapa saat dari ajakan MC kurang agitatif itu, tiba-tiba seorang tokoh dari Sumedang berinisiatif melakukan orasi di depan saya. Beliau mengajak para peserta yang masih duduk di atas di tempat yang teduh untuk bersemangat turun dan menggembirakan mereka dengan jaminan kifarat dosa atas panas matahari yang menerpa. Dari sana setidaknya bisa diukur keikhlasan kami yang mengaku sebagai pejuang Islam. Saya terusik. Hati saya tidak tenang. Apalagi setelah jiwa saya bergetar dan ingin menangis kala mendapati gumpalan awan yang membentuk lafaz “Allah” sebelumnya. Afirmasi bahwa Allah memang tak pernah luput menyaksikan kita.

Kadung atau pun tidak, saya sudah menjelaskan pada kontakan saya yang tunarungu itu bahwa semua yang hadir dalam acara akbar itu adalah mereka yang berjuang untuk Islam. Mereka adalah perindu Khilafah. Karena itu, untuk kedua kalinya saya mengajak mereka. Biar semangat, kata saya.

Tanpa dinyana, mereka pun mengiyakan. Turunlah kami menuju bagian bawah di mana sinar matahari terlihat sama teriknya. Tapi entah, di sana kami seolah merasakan terpaan sinar matahari dalam kapasitas yang lebih terik dari sebelumnya. Saya tetap memakai topi untuk sedikit menghalaunya, sementara mereka sudah mengkerudungkan jaketnya masing-masing demi menahan terik sinar matahari. Berbahasa isyarat untuk menerjemahkan isi pidato pun menjadi kurang kondusif karena mereka melihat gerak-gerik tangan saya hanya melalui celah jaketnya yang dipasang untuk melindungi diri dari terik panas matahari. Raut wajah mereka sudah bisa terbilang kepayahan. Saya sempatkan memberi tahu mereka bahwa kalau kita menolong agama Allah, kita akan ditolongNya. Tapi lama kelamaan saya bisa memahami mereka. Penjelasan saya untuk membuat mereka tetap bergeming dari tempat panas itu begitu abstrak untuk para tunarungu pahami. Saya pun tidak kuat melihat kepayahan mereka. Maka, setelah mendapatkan makalah, saya mempersilakan mereka untuk menduduki tempat yang teduh dengan syarat membaca makalah tersebut. Jika ada yang tidak dimengerti, saya meminta untuk ditanyai, tegas saya.

Setelah itu, saya tetap bertahan di tempat panas itu. Sesekali saya menghibur diri dengan perasaan betapa nikmatnya rasa ingin menangis kala melihat pasukan kavaleri menunggangi kudanya dengan membawa panji Islam. Kapan saat mereka benar-benar membawa panji itu untuk berperang?

Saya pun menghibur diri dengan ketidakseberapaan keadaan panas tersengat terik matahari dalam perjuangan ini. Sandal gunung dan singsingan jaket memberikan lahan kepada sinar matahari untuk menyentuh. Akibatnya, kaki dan lengan saya menggelenyar. Tapi saya tekadkan untuk bergeming. Saya harus malu jika sampai hengkang dari tempat panas yang belum seberapa itu.

Tapi sungguh godaan setan itu nyata. Tidak menumpangi terik sinar matahari, ia menelusup ke dalam hati. Dalam keadaan seriuh acara itu, saya mulai mempertanyakan mereka yang masih dengan santainya duduk tak beranjak di tempat yang teduh. Saya merasa kesal. Kenapa mereka harus berlaku pengecut demikian? Saya tahu bahwa di antara mereka ada orang tua yang sudah tidak kuat, dan untuk itu saya memakluminya. Sungguh dalam keadaan seperti itu, kebohongan hati tak terlihat. Sebab ia bersemayam dalam hati. Seperti gerutuan saya terhadap polah mereka yang emoh meninggalkan tempat teduh. (Dengan berbagai dalih) pemuda-pemuda (yang masih kuat) sungguh nyata masih berada di tempat teduh itu.

Saya belum terampil menata hati. Saya masih belum bisa untuk sekadar berucap, “Ah, untuk apa saya mengurusi mereka yang bergeming di tempat teduh itu? Itu pertanda pengecutnya mereka. Yang penting saya sudah memberi contoh pada mereka dan membuktikan pada ikrar keimanan saya sendiri bahwa saya bukan seorang pengecut dalam perjuangan ini.” Saya masih mempermasalahkan mereka dan tidak merasa sudi bergerak sendirian. Kenapa? Karena kita jama’ah!

Keluarlah saya dan berdiam di lantai dua luar tribun. Ternyata, banyak orang juga di luar. Di bawah sana, mereka sedang menikmati gelaran-gelaran para pedagang yang sengaja membuka lapaknya. Saya alihkan pandangan pada pintu masuk stadion tadi. Ah, rupanya memang sengaja dibuka meski dengan penjagaan. Untuk apa? Saya tidak mengerti.

Saya sungguh menyesali sikap yang saya ambil kemarin, di mana pada akhirnya, dengan gerutuan hati yang mengumpat pada mereka yang masih duduk di tempat yang teduh, saya memilih untuk hengkang keluar dan menikmati pemandangan sekitar stadion dari lantai dua dengan dalih untuk menyeimbangkan hati. Entah dengan panas terik matahari atau dengan umpatan gerutuan hati sok benar seperti apa yang saya alami, kita tidak seharusnya mundur dalam bentuk perjuangan sekecil apapun. Kenapa? Karena Allah akan mencintai kita yang berjuang sampai akhir meski keadaan kita kepayahan!

—————————-
Sering dengan perasaan masygul karena lingkungan sekitar, saya berkeinginan untuk mundur dari perjuangan meski tidak ada niat meninggalkan dakwah. Tapi jika mundur dilakukan terus-menerus, tidak akan lagi menutup kemungkinan bahwa sikap demikian adalah MENINGGALKAN AMANAH dan kita berdosa karenanya.
Ya Allah, ampunilah kami… Ampunilah kami… Ampunilah kami…

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s