(Bab 34)

Di antara ketidaksebandingan dua perkara terdapat sesuatu yang menyenangkan hati, hanya jika dalam usaha untuk melaraskannya kita tanamkan rasa ikhlas di hati. Seperti ketika kita mau difoto, tersenyumlah 🙂

Pecahan lima puluh ribu di dalam dompet saya yang melengkapi bilangan Rp. 68.000,- sebagai sisa uang kebutuhan bulan ini diterimanya dengan mimik wajah lempeng. Saya bisa mengerti. Ia mungkin sudah capai dan malu berterimakasih ria karena sering meminjam uang pada saya. Dan saya pun tidak ingin mempedulikan apakah dia mengucapkan itu atau tidak. Saya hanya merasa kasihan saja.

Ia baru melangsungkan pernikahan tepat seminggu yang lalu. Dan malam tadi ia baru datang ke sini lagi, tempat kost kami. Subuhnya ia sudah harus pergi lagi ke tempat istrinya di luar kabupaten, setelah beberapa hari sebelumnya ia menyambangi mertuanya di luar kota. Mobilitasnya yang demikian, saya bisa mengerti, begitu menguras isi kantongnya. Karena saya tahu betul ia seperti apa keadaannya.

Sebelumnya, saya pun sudah mengatakan kalau saya sedang tidak punya uang sebesar apa yang hendak ia pinjam. Ia lantas mencoba keberuntungan ke kamar sebelah. Sayang, nihil. Ia kembali lagi ke kamar di mana saya sedang bermalas-malasan di atas kasur, dan mengulangi permintaannya. Seketika, saya mengeluarkan hasil tarikan nafas tanpa ia ketahui dan bersegera mengambil dompet. Tak lama, kertas biru yang konon katanya berharga itu saya beripinjamkan padanya. Ia pun berlalu dan mengucapkan salam.

Tiba-tiba, saya ingin tersenyum. Betapa menantangnya saya ini. Sisa hari dalam bulan ini adalah sembilan hari sebelum saya mendapatkan gaji. Dan selama itu saya harus bertarung dengan berbekal uang sejumlah Rp. 68.000,- yang kini tersisa menjadi 18 ribu rupiah, dengan banyak kebutuhan.

Saya jadi teringat sesuatu. Selama hidup bersama indekos, kekurangsediaannya untuk mendengarkan apa yang ingin saya ceritakan tidak sebanding dengan kesediaan saya untuk mendengarkan apa yang ingin diceritakannya. Ia pun tak jarang suka memotong pembicaraan yang tengah saya lakukan setelah sebelumnya saya duduk manis sambil tersenyum dan memasang dua telinga rebing ini untuk menyimak pembicaraannya sebagai laku menghormati. Saya bahkan selalu merespon isi cerita yang dikisahkannya. Maka, siapa yang berbahagia dan siapa yang tak berbahagia dalam hubungan seperti itu?

Saya begitu khawatir. Keadaan demikian bak tanah gembur dalam hati ini yang menumbuhsuburkan sayur kekesalan yang bisa dikonsumsi oleh setan untuk merusak persaudaraan kami. Demi menjaga keharmonisan, saya dan kawan pernah menasihatinya tentang sikap yang tidak kami senangi darinya tersebut. Tapi teguran pun hanyalah teguran, sampai saya dan kawan merasa capai.

Andai subuh tadi saya menuruti nafsu, saya yang selalu kesal kepadanya tidak sudi meminjamkan uang untuknya di saat-saat kekurangan seperti ini. Serunya, saya sudah mendaftarkan diri sebagai oposan setan. Bertengkarlah saya dengan diri sendiri. Saya bertengkar dengan setan yang bertamengkan bisikan berbalut nada-nada indah. Bisikan yang berjenis syair. Di dalamnya menggambarkan kekenyangan saya selama sembilan hari ke depan dengan sisa uang bulan ini. Dan sebagai oposannya, saya bertamengkan keyakinan. Di lapis pertahanannya terpahat betul potongan ucapan Rasulullah SAW: “…barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengalahkan serangan dahsyat setan; secepat ambilan kertas biru—yang konon katanya berharga itu—oleh tangan kanan kawan saya. Saya pun bergembira dan bersorak-sorai pada setan, “Hai setan! Beras boleh jadi tinggal beberapa butir lagi, tapi air sumur masih banyak bergenang untuk membuat saya tetap hidup sampai awal bulan nanti!” 😀

—————————————–

Bandung, 22 Juli 2011, saat saya alpa bahwa kenikmatan anomalistik itu lebih menyenangkan ketimbang berkeluh-kesah ria.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s