The Next Sadum and Amurah

Jika saya tidak mendapatkan pengetahuan baru tentang tempat-tempat yang dimusnahkan karena penyimpangan seksualnya selain Sadum dan Amurah, mungkin bilangan Gegerkalong Girang di Bandung yang akan menjadi tempat ketiga yang luluh lantak diazab jika saya menyambut dengan mesra pedulian salah seorang rekan kerja pria di sebuah sekolah dasar ketika saya sedang dalam kondisi tidak fit.

“Kamu kenapa sih Bebz? Sakit ya?” begitu tanyanya sok peduli untuk pertama kalinya.

Saya lantas melihat wajahnya. Bibir merah euceuy[1] terpasang sebagai senyuman dengan latar belakang kulit mukanya yang lumayan putih tapi menyebalkan. Ya, teramat menyebalkan. Bagaimana tidak, dia bersikap menjijikkan begitu rupa pada saya yang sedang sakit.

Lain waktu, ketika saya sedang beristirahat di warung dan mengeluh karena badan terasa pegal-pegal, dia ikut menukas dengan berkata, “O kamu pegal-pegal, Bebz? Sini aku pijitin, mau?”

Merinding saya mendengar tawaran dalam sikap manjanya itu. Terlebih lagi setelah dia menambahkan tawarannya tersebut yang hampir-hampiran membuat bogem saya mendarat manis di wajahnya yang tidak manis sama sekali.

“Sini, beneran, biar aku pijitin. Malu ya di sini –sekolah– mah? Okelah, kalau begitu di kostan aja, mau? Biar aku telanjangi sekalian!” ucapnya dengan mata melotot dan bibir menggemas manja.

Gila! Sedikitpun saya tidak menganggapnya sedang bercanda. Gelagatnya sebelum ini sudah menunjukkan sedemikian rupa. Dia mungkin mengira bahwa saya menganggapnya hanya sekadar bercanda. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Saya hanya menampakkan sikap wajar di tengah-tengah rekan kerja yang lainnya.

Di balik sikap saya yang seolah menganggapnya bercanda, saya berspekulasi tentang sesuatu. Sejak saat dia mengirimi saya SMS berisi ungkapan cinta, saya sudah bertindak layaknya intel. Saya buka akun Facebooknya. Saya lihat-lihat album fotonya yang ternyata benar-benar membuat saya ingin muntah dan semaput. Gaya-gaya berfotonya sungguh menggelikan. Lebih tepatnya –maaf– menjijikkan!

Barangkali dia mengira saya akan tetap menganggapnya bercanda ketika ungkapan-ungkapan cintanya masih tetap saya abaikan dalam sikap wajar selama bergaul di tempat kerja bersamanya. Tapi sungguh saya sudah memahamkan diri tentang dia yang –saya lihat– sedang menggunakan sikap psikologi kebalikan tingkat tinggi. Candaan-candaannya selama ini, yang dipakai pula saat mengungkapkan rasa sukanya pada saya, menjadi sebuah lapisan kamuflase untuk menyembunyikan esensinya yang asli. Sebagai orang yang menyukai sikap psikologi kebalikan yang radikal, saya mengetahui betul itu.

Saya mengelus dada. Sebabnya, sudah beberapa kali saya adu argumen dengannya tentang masalah politik dari sudut pandang agama. Itulah yang membuat saya mengetahui bahwa dia berasal dari sebuah kelompok-yang-anggotanya-mestilah-tidak-ada-yang-seperti-dia.

Meskipun dia pernah berucap mencintai saya karena Allah, saya sama sekali tidak pernah menggubrisnya ketika beberapa kali dia mencuri-curi kesempatan menyentuh bagian-bagian tertentu dari tubuh saya dalam keriuhan.

Saya bahkan sempat bertanya-tanya tentang apa saja yang dipelajarinya dari kelompoknya tersebut. Ataukah mungkin disiplin ilmu psikologi yang diambilnya di perkuliahan sudah cukup membenamkan pengetahuan-pengetahuan transendental dari kitab suci, entahlah saya kurang tahu. Mengingat Freud begitu menokohi psikologi, mungkin memang benar di matanya, psikologi sudah cukup digdaya dan gigantik dalam membenarkan keanomaliannya ter(jijik)sebut dalam berhidup.

Atau barangkali dia mengikuti tiga prinsip Musdah Mulia sebagai tawaran pemikirannya untuk mengkaji ulang homoseksualitas, di mana maqashid syariah ala dirinya, relativitas fiqih, dan tafsir tematik dikedepankan? Tidakkah dia lebih mengambil pelajaran dari kisah diluluhlantakkannya negeri Sadum dan Amurah yang penduduknya berlaku menyimpang dalam hal seksualitas, untuk ini?

[11:74] Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoaljawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.

[11:75] Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.

[11:76] Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.

[11:77] Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.”

[11:78] Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”

[11:79] Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

[11:80] Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”

[11:81] Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”.

[11:82] Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

[11:83] Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

————————————–

Bandung, 12 Agustus 2011,

28 hari setelah saya menghadiri pernikahan sepasang teman dan mendapat kabar yang awalnya menyenangkan lantaran si pengantin wanita menyampaikan salam dari kerabatnya yang kelihatannya menyukai saya, dan ternyata akhirnya menyebalkan karena salam suka itu datang dari seorang laki-laki yang bernama Doni. Setelah itu saya mengira bahwa Sukabumi akan menjadi tempat keempat menyusul hilangnya Sadum dan Amurah, jika saya membalas salam si Doni. Haha.

Ini semua mengingatkan saya saja pada beberapa tahun ke belakang, ketika saya sedang membetulkan alas kaki dan didatangi seorang tua yang tersenyum manja lantas mengejar saya yang berlari kabur ke dalam masjid.


[1] Padanan Sunda untuk mengungkapkan kemerahan yang sangat atas warna merah.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s