Sujud Tenang

Seperti gejala sleep paralysis yang semakin membuai kelelahan badan saya kala tertidur, akhir tahun semakin mendekati sementara saya masih berkurusetra dengan kusutan benang pikiran. Keadaan mental saya tampaknya masih labil di hadapan orang-orang tenang yang berbicara tentang sesuatu hal dan berantakannya buku-buku yang tak sekali pun sempat saya tamatkan kecuali beberapa eksemplar saja. Kelabilan tersebut sungguh pun tidak mengusik pendirian saya akan satu hal: saya menolak pada instruktif setiap omongan yang keluar dari celah bibir paman dan bibi serta mereka yang bercericit bising tentang masa depan dengan mimik tak tenang yang menyeret saya untuk tidak keluar dari garis yang mereka bentangkan. Kelabilan itu hanya membuat saya merasa berada di antara pagi yang menarik gorden gulitanya malam dengan mentari bersinar terang di depan langit biru yang berjingkrak ria dan pagi yang seperti enggan menyibak tirai malam dengan mentari dipaksa sembunyi di bawah langit yang lebam. Tapi saya pun tahu. Terhadap keduanya saya merasa tidak masalah. Itu sudah teratur dari sananya. Saya tidak mempunyai pilihan kecuali atas pikiran dan mental jiwa saya untuk menghadapinya. Karena betapa pun cerahnya setiap pagi yang saya dapati, apalah artinya jika jiwa saya begitu rapuh sehingga dengan mudah dan tanpa rasa malu saya menjerit kesakitan, “Hidup itu terlalu keras, wahai!” Pun dengan pagi yang kelam, jika pikiran dan mental jiwa saya terpatri kuat karena tetap melawan dan tak kenal lelah, saya bisa dengan bangga berkata, “Hidup itu tidak keras karena hidup saya tidak lemah!”

Saya tahu, bagaimana saya bisa melafalkan hitungan dari satu sampai sepuluh dan membalikucapkannya dari sepuluh sampai satu dengan benar jika saya mengucapkannya dengan tidak tenang dan bergegas. Saya mesti tahu itu. Karenanya, betapa pun di luar kepala ini suara-suara sumbang teramat bising mengalun, saya harus bisa untuk tetap tenang dan fokus pada cita yang bisa mengusutkan pita kaset mereka. Dan di akhir, saya pun tidak akan peduli jika mereka merasa malu karena saya bangga memiliki keyakinan yang sampai saat ini tidak tergoyahkan meski godaan datang membadai seperti tuanya usia mereka dan percaya akan terjadi. Saya percaya, mata kepala mereka terlalu picing dibanding mata keyakinan saya ini.

Jika Sisifus yang terkutuk itu mengulang mengumpulkan batu yang menghujan dari atas bukit dan memanggulnya kembali ke atas bukit dan bergulir jatuh lagi, karena mata kepala mereka picing, akan kubalikkan bukit itu sehingga batu-batu itu akan berada di puncak dengan mudahnya dan dengan kuasaNya Yang Aneh dan Tidak Masuk Akal itu akan sembuhlah kesia-siaan yang mereka anggap menjadi penyakit di kepala saya ini.

Saya tahu, merangkai itu semua haruslah dengan ketenangan. Sudah jauh-jauh hari barisan setan bertekad akan terus menggoda dengan segala sikap manusia yang terburu-buru. Seperti halnya malam tadi, saat saya mengambil baju kurung istri saya dan tak sengaja menggulirkannya memanjang sehingga saya harus melipatrapikannya kembali. Saya tahu bahwa saya bukanlah tidak bisa melipat baju, tapi hanya tidak pandai saja. Dengan keburu-buruan, saya bisa melipatkan baju kurung istri saya itu kembali. Tapi tak rapi. Melihatnya teronggok seperti itu, saya sadar akan satu hal: begitulah jika kita tidak serius merapikan apa yang semestinya dirapikan. Saya ambil lagi baju kurung tersebut dan mencoba melipatrapikannya kembali dengan ketenangan, dan rapilah dia. Maka begitu jugalah hidup ini. Apa pun dengan jiwa yang tenang dan serius, selesailah urusan kita dan kusutlah pita kaset mereka yang menggoda dan menyumbangi backsound jalan hidup kita.

Yaa ayyatuHannafsul muthmainnah, irji’ii ilaa rabbiKi raadliyatammardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii…

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s