Tanpa Sedebu Kosmetik

Di bus berhawa dingin yang telah memberangus peluh tubuhku yang sudah melengket, di bangku kedua dari belakang itu, seorang mahasiswi mendekati bangku kosong yang berada di sampingku. Dalam keadaan bus yang sudah penuh sesak itu, bangku kosong di sampingku tampaknya memberikan secercah harapan buat mahasiswi yang entah sudah menginjak tahun ke berapa itu.

“Kosong, Pak?” buru-buru dia menanyakan itu demi mendapat tempat duduk untuk melepas lelahnya.

Sungguh aku tidak akan merasa bermasalah seandainya sebelum menyanding di bangku itu dia tidak berbasa-basi terlebih dulu dengan bertanya seperti itu. Individualisme yang kini diemban banyak orang dalam sebuah perjalanan sudah mewajar dalam pikiranku.

Aku pun tidak akan lantas memerah padam seandainya dia, sebelum duduk, mengibas-ibaskan rambut panjangnya demi menarik perhatian seorang pemuda tampan sepertiku. Haha.

Skip. Benar, aku tidak akan merasa bermasalah dengan kedua kondisi yang mungkin terjadi itu. Yang membuatku merasa bermasalah dan harus berurusan dengannya adalah sebutan yang dia pakai untuk memanggilku. Itu saja.

Lain hari, saat aku membeli sekaleng cat di sebuah toko bangunan, seorang remaja yang melayaniku membawakan cat pesanan tersebut berujar dengan sopan menurut versinya, “Ini, Pak, catnya.”

Pun saat kemarin siang, ketika seorang remaja perempuan merasa gugup menghadapi ujian teori pembuatan SIM, dia lantas mencoba berbincang denganku. “Pertama bikin, Pak?”

Ya Allah, bukankah tidak akan pernah terjadi, suatu hari di mana aku sedang jalan sore-sore dengan istriku yang tengah mengandung, siapa pun yang merasa harus bertanya kepada kami akan berujar, “Wah, sudah mau punya cucu ya, Pak?”, dengan wajah tanpa senoktah dosa pun, kan? Aku tidak mau mengoles sedebu kosmetik pun pada wajahku ini demi membuat orang lain memanggilku kang, mas, atau aa.

Saya jadi teringat apa kata Pidi Baiq tentang hal tua. Sebenarnya kita tetap muda meski pun sudah mempunyai anak. Sebab merekalah, anak-anak kita, yang menjadikan kita sebagai orang-tua, padahal kita masih muda.

Awal Maret 2012, dengan geram.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s