Killing Psychological Theories

Tulisan ini dianotasi di sini.

Kelipatan dekade sudah mewajarkan semakin buramnya lembaran demi lembaran di dalamnya. Covernya, lumayanlah, masih cukup terjaga lantaran plastik pembungkus membungkus meski sudah lusuh. Di samping sudah semakin menua, buku psikologi perkembangan keluaran tahun 80-an awal tersebut pada kenyataannya masihlah memiliki sesuatu yang bisa kita bilang “eternal”. Bukan masalah fisiknya. Apatah artinya jika api kita nyalakan di setiap lembarannya. Yang kumaksudkan adalah isinya. Kandungannya. Serangkaian materi yang, barangkali, sampai sekarang masih menjadi jabang disiplin ilmu psikologi.

            Tiga buah teori psikologi perkembangan menjabar di dalamnya sebagai sesuatu yang berhasil menarik minatku untuk kemudian lebih kucermati. Sebab preformasionis, predeterministik, dan tabula rasa benar-benar dikonfrontir oleh alam pikiranku yang setiap sudut ruangnya kini telah dipenuhi oleh dogma ketauhidan. Sebagai seorang yang beriman, tentu lebih kupilih apa yang telah diberitakan oleh dogma ketauhidan, daripada harus mengakui benar salah satu, atau bahkan menggilakan diri dengan mengambil ketiga teori psikologi perkembangan tersebut sekaligus.

            Setiap anak terlahir fitrah. Siapa yang berani membantah diktum Rasul SAW tersebut? Jika ada, maka ia kafir. Seharusnya kita tidak perlu lagi bergaya-gayaan, berkeren-kerenan, atau petantang-petenteng mencoba, yang sama sekali tak akan pernah membuahkan hasil membanggakan kecuali semakin hina, berusaha merekonstruksi ucapan Sang Rasul tersebut dengan tafsir dangkal yang manut pada hawa nafsu. Jemawa ikut pendapat sekte preformasionis yang menyatakan bahwa setiap dari kita sejak dilahirkan sudah membawa dosa orangtua sebagai sesuatu yang inheren; memilih pendapat sebaliknya dari predeterministik yang menyatakan bahwa kita sebenarnya dilahirkan murni dengan kebaikan yang pada perjalanannya mesti berhadapan dengan buruknya lingkungan; atau bahkan lebih memilih untuk sok menengahi ala tabula rasa dengan berkata bahwa ketika dilahirkan kita semua adalah netral bak selembar kertas putih yang kosong, adalah sama hinanya antara pilihan yang satu dengan yang lainnya. Ucapan seperti yang keluar dari mulut Rousseau atau Lock tidak akan pernah mempunyai nilai sedikit pun di depan gigantiknya kata-kata Muhammad SAW.

            Sebagian besar dari kita tentu sulit untuk menerima kenyataan bahwa dosa yang dilakukan oleh orangtua kita merembes masuk pada ari-ari kita sebagai nutrisi pertama sejak di alam rahim. Sebagian lainnya mungkin lebih menerima pendapat bahwa keburukan yang ada pada setiap diri kita adalah salah lingkungan yang tidak becus untuk sekadar mengakomodir. Dan barangkali sebagian dari kita akan lebih memilih untuk bersikap so-called bijaksana dengan mengatakan bahwa setiap jiwa manusia itu pada awalnya adalah kosong: menjadi baik atau buruk adalah karena pengalaman hidup dengan lingkungan.

            In fact, pendapat ketigalah yang lebih banyak memenuhi ruang prinsip sebagian dari kita. Sekilas tak ada yang salah, memang, dengan pernyataan menjadi baik atau buruk adalah karena pengalaman hidup dengan lingkungan. Tapi kita tidak sedang membicarakan prasasti empirisme tentang sebuah perjalanan hidup tersebut. Kita berbicara tentang perkara yang lebih esensial dari itu: bagaimana keadaan kita pada kali pertama ada, baik sebelum atau sesudah ruh ditiupkan.

            Para pencetus ketiga teori psikologi perkembangan yang ada melahirkan pendapatnya tidak lebih dari sekadar pengamatan belaka atas manusia. Untuk dianggap berhasil dalam (berpendapat) menentukan hakikat sesuatu –keadaan jiwa manusia sejak awal– jelas mereka berkesimpulan tanpa didampingi oleh suatu referensi yang paling rasional dari referensi terasional sangkaan mereka. Akibatnya, pendapat yang dikeluarkan cukup serampangan. Bahkan pada titik ekstrim bisa kita katakan sebagai konklusi yang sangat edan.

            Entah referensi macam apa yang mereka gunakan. Kecuali preformasionis yang berkesesuaian dengan doktrin salah satu aliran Kristen, kedua teori sisanya seolah berdiri di atas referensi yang paling para pencetusnya jagokan dan agung-agungkan: akal. Mereka luput. Mereka tidak beriman –dengan benar– terhadap Sesuatu yang ada sebelum manusia dilahirkan. Padahal dari keimanan itu kita bisa memperoleh referensi yang paling sahih untuk menentukan titik utama persoalan ini.

            Sebagai orang yang beriman, seharusnya kita tidak lantas menjadi pandir mencari-cari esensialitas suatu perkara dengan keluar dari halaman risalah yang datang dari langit untuk kita. Menceburkan diri ke dalam samudra filsafat yang tak bertepi; menjilati setiap dahak para pemikir kafir; menyangrai ingus yang keluar dari serat-serat otaknya; atau bahkan melulurkan ekskresi produk duburnya agar kita sekeblinger mereka dalam berargumen. Kita mempunyai manual book tersendiri, yang membantu kita dalam menghukumi sejumlah fakta kehidupan yang dinamis.

            Di “tempat tertinggi”, cerita tentang kefitrahan setiap jiwa manusia telah dikisahkan.

            Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (al-A’raf [7]: 172)

            Kefitrahan setiap jiwa anak manusia telah hadir sebagai sesuatu yang mutlak lengkap dengan standarisasi yang juga mutlak: Esanya Tuhan dengan segala undang-undangNya. Sebab itu, seiring dengan Tuhan beralasan memfitrahkan jiwa setiap anak Adam, selaku manusia kita sama potensialnya untuk menjadi baik atau jahat.

            Mau kita percaya atas kabar kefitrahan jiwa tersebut? Mestinya kita tahu diri. Kita sudah tidak berdaya lagi untuk sekadar membantah. Seberlari kencang sejauh apa pun dan berteriak dengan lantang,

            “Aku tidak pernah tahu jiwaku telah membenarkanNya! Faktanya sekarang adalah bahwa sedikit pun aku tidak mengakui kejadian itu!”

kita tidak pernah akan lepas dari rantaian kata-kata orang yang banyak manusia ingkari:

            “Setiap anak yang terlahir adalah dalam keadaan fitrah. Maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)

            Dari sini juga, seharusnya, kita sudah tahu tentang sesuatu; tentang pengajaran setiap anak manusia demi pencapaian apa yang dicitakannya dalam hidup ini. Jika standar kebaikan dalam predeterministik mengambang, lantas kita beralih pada kekosongan jiwa ala tabula rasa yang ternyata tidak pernah valid juga, maka hanya dengan pengajaran kalimat yang baik (kalimah thayyibah) dari Islamlah satu-satunya pengajaran, pendidikan dan pembinaan yang cocok untuk setiap diri anak Adam di dunia ini tanpa kecuali. Bukan yang lain.

            Tidak perlulah kita memberantakkan diri, hanya dengan alasan yang sama sekali tidak keren: mencari jati diri, dengan sesuatu yang selama ini dianggap bisa mengantarkan manusia pada pengenalan diri sekaligus menancapkan eksistensinya di dunia ini, semisal filsafat atau semacamnya. Pun aplikasi pendidikan pada anak-anak kita, dengan modul-modul pengajaran biasa yang kadang kala banyak ketidaksesuaiannya dengan tuntunan Islam. Cukup hanya dengan mengajarkan kalimat yang baik (kalimah thayyibah) dan modul dari Islam saja, anak-anak kita akan “utuh” hidup di dunia ini untuk kemudian menyambut kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Begitu juga dengan kita. Sebab, kefitrahan setiap anak manusia sedari lahir hanya akan kompatibel dengan kalimah thayyibah yang ditafsiri Ibnu ‘Abbas sebagai kalimat ketauhidan: Laa ilaaha illa Allah. Tidak dengan yang lain.

            Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit? Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itudalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat dengan apa yang dikehendakiNya. (Ibrahim [14]: 24-27)

            Bagaimana? Teori-teori dari psikologi perkembangan itu sudah seharusnya bersimpuh dan menjadi remah-remah di hadapan digdayanya dogma ketauhidan, bukan? Manusia tidak terlahir dengan keburukan, kebaikan yang mengambang, atau kenetralitasan jiwa. Setiap anak manusia hanya terlahir dalam keadaan fitrah; suci. Kita, sudah dari sananya, mengakui bahwa Tuhan itu adalah satu: Allah. Lantas, kita masih mau ingkar? []

 

Advertisements

9 thoughts on “Killing Psychological Theories

    1. Oh, halo Nona Meyra! Lama tak bersua. Btw, masa masih gak ngeh sih? Orang lain ada yg ngeh kok. Ding dong! Ada apakah ini sebenarnya? Apa orang itu yg pura2 ngeh ya?

      Well, nikmati dulu sajalah. Lain kesempatan, kalau ada waktu dan keinginan kita bahas. Ok? 🙂

  1. saya rasa yang merusak konsentrasi saya ketika membaca ini adalah : back sound this site..(saat mmbaca ini rasanya pengen kabur krn lagunya)
    ada back soundnya ya?
    intinya ttg teori psikologi yg saat ini ssedang brkembang bukan? knp sy lelet sekali memahaminya? apa mmng trlalu lama sy tak mengasah otak sy dg orang2 yg kemampuan bhsanya cukup tinggi(hueks!)?

  2. Bukannya kecenderungan bawaan (bc: fitrah) manusia itu pada kebenaran-keindahan-kebahagiaan? Tapi, konstruksi sosial dapat memengaruhi arah fitrah yang lurus itu ke jalan yang bengkok?
    Jadi, salah gug c ngatain kalo ‘manusia itu pada dasarnya baik tapi lingkungan membuatnya jahat’?
    Tapi, sy gak sependapat bhw manusia sejak lahir membawa pengetahuan ttg kebenaran-keindahan-kebahagiaan yg bersifat innate, spt teori Kant. Sejak lahir manusia itu (bisa dikatakan) polos. (Lihat 16:78).
    Tinggal bgmn agar kita bisa tetap berada di Jalan Lurus sesuai fitrah; gunakan ‘aql (dlm Quran, ya’qilun adlh fungsi qalb) utk menyibak berbagai delusi konstruksi sosial, gunakan kehendak utk mmilih taslim. Shg tdk ada alasan utk bkta:

    ‘(S)esungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami adalah keturunan yg (datang) stlh mereka. (…) (7:173)’

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s