(Bab 40)

Di kampung halamanku, ada seorang muda yang dari dulu dijadikan (menjadi?) imam masjid. Sampai ketika beliau memiliki seorang anak dan waktu itu usianya kira-kira 3 tahunan, setiap kali shalat berjamaah di masjid, anaknya itu selalu membikin kegaduhan. Entah itu dengan suaranya atau dengan polahnya yang berlari ke sana kemari.
Jujur, ada sebab-sebab tertentu dari dulu, sehingga aku tidak begitu menyukai sang imam masjid tersebut. Aku pun tidak ingin mengumbar pikiranku yang telah merekam jejaknya sejak saat ketidaksukaanku terbungkus kado dengan manis untuknya. Saat anaknya bergaduh ria di masjid ketika kami shalat berjamaah, aku pun bersegera membungkuskan rasa tidak sukaku untuknya dengan kertas kado yang lebih bagus dari yang telah kualamatkan pada bapaknya.
Tapi kita tahu, sejak ulat menggulung dirinya dalam kepompong demi bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah, dan bernga muncul dari bebusukan untuk menjadi seekor lalat, yang namanya perubahan adalah sesuatu yang niscaya di planet yang bernama Bumi ini. Pun dengan pemikiranku ini, ketika seseorang menceritakan kepadaku kisah pendidikan anak-anak generasi awal Islam di mana mereka sedari kecil dibawa pada suasana masjid, sampai Hasan dan Husen yang bermain-main di atas punggung Nabi SAW ketika sedang sujud dalam shalatnya, dibiarkan.
Aku pun kemudian tahu betul. Ketidaksukaan tidak pantas menjadi legitimasi kita untuk lantas berlaku tidak adil kepada mereka yang tidak kita sukai. Maka ketika lain waktu aku berjamaah dengan diimaminya, dan anaknya itu gaduh, aku tersenyum menyesal. Betapa bodohnya aku ini waktu itu, membuncahkan ketidaksukaanku kepadanya saat sesuatu yang berkaitan dengannya digerutu banyak orang. Aku ikut mencibir anaknya itu hanya karena tidak senang pada bapaknya. Padahal tidak seharusnya aku bersikap demikian, bukan?
Benar. Begitu banyak orang yang menggerutu atas ulah anaknya itu saat di masjid oleh sebab ketidaksukaan mereka pada bapaknya. Tapi aku tidak ingin lantas menjadi seorang yang tidak adil untuknya hanya gara-gara itu. Sebab aku tahu, membawa dan membiasakan anak dengan iklim masjid adalah sesuatu yang baik.
Tapi rupanya, pikiranku saat itu baru berupa kepompong dari seekor ulat dan bernga dari setumpuk bebusukan. Suatu waktu, anak sang imam ikut lagi ke masjid dengan membawa layang-layang. Saat iqamah ditegaskan, seorang bapak mengejar-ngejarnya dengan geram karena polahnya yang mengganggu. Sementara bapaknya yang hendak mengimami jamaah seolah tidak peduli akan hal itu. Saat itulah, kepompong robek dan bernga menjadi bersayap. Aku sadar, betapa aku sudah salah menempatkan suatu sikap. Alih-alih ingin taat pada perintahNya dengan tetap berlaku adil pada seseorang meski kita tidak menyukainya, rupanya memang mesti kuberi kado beliau itu. Biar ketidaksukaanku beriringan dengan pandangan banyak orang dalam jamaah ini yang terganggu oleh ulah anaknya itu. Sebab, jika aku membiarkannya, saat iklim pendidikan dulu dan sekarang senjang, tampaknya itu adalah perkara syar’i yang miskonteks.

Advertisements

2 thoughts on “(Bab 40)

  1. membenci tanpa alasan syar’i itu tdk diperbolehkan(untung saja).srrngkali mmbnci orang dg karakter ttntu, tp Allah toh tdk prnah mnyuruh hambaNya utk mmbnci dg cara sprti itu, trmasuk alsan nt mmbnci tuh imam 🙂

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s