Medel

Koreksi jika saya salah mengartikan bahwa dombret itu adalah seorang pelacur. Ya, katakan saja begitu. Sebab, guru Fisika SMA saya, Bu Yayah, berkata demikian –ehm, kurang lebih seperi itulah– ketika menghentikan tawa canda nan riang beberapa kawan saya dalam menceritakan pengalaman studi turnya waktu berada di dalam bus dan berkaraoke dengan menyenandungkan lagu Goyang Dombret.

Cekakak-cekikik kawan-kawan saya menjadi terhenti saat Bu Yayah yang alim itu menegur. Katanya, kenapa harus senang dengan menyanyikan lagu dangdut tersebut. Padahal menurutnya, dombret itu adalah sebutan bagi mereka yang suka melacurkan tubuhnya saat bergoyang di hadapan laki-laki hidung belang, di Indramayu.

Entahlah, saya tidak begitu tahu dari mana istilah itu berasal. Yang pasti, dari dulu saya tidak menyukai lagu dangdut umbaran semacam penyanyi dan liriknya itu.

***

Dalam salah satu program lawak unggulan, saya menemukan candaan salah seorang pelawak kepada lawan mainnya yang berhidung tak mancung dengan mengatakan “pesek”. Memang, bunyi kata itu terdengar seperti kentut mesin, sebab LSI telah memberikan sensor atasnya. Sesaat setelah itu, saya tahu, rupanya LSI mencoba untuk melindungi penonton dari kata-kata yang dianggapnya kurang mengandung etika. Barangkali mereka takut kalau-kalau sampai ada anak-anak yang ikut menggunakan kata yang disensor itu dalam kehidupan sehari-harinya. Atau hanya sekadar mencegah seseorang berlaku mengejek seperti pelawak tersebut. Entahlah.

Sesuatu yang bertolak belakang terlihat kemudian, saat pelawak lainnya menyanyikan lagu Goyang Dombret. Saya berpendapat, itu seharusnya kena sensor juga!

Tapi berhubung negeri ini medel, kita tidak usah heran. Sebab heran itu pantasnya hanya untuk satu hal yang menonjol atau anomali di tengah-tengah kebiasaan-kebiasaan yang sudah mewajar.

Untuk sekarang, bukankah kita lebih sering melihat di TV, rokok lebih kena sensor daripada paha dan belahan dada? Ucapan (bunyi dalam bahasa Inggris) shit, bastard, son of bitch, fuck, dalam film-film luar terdengar seperti kentut mesin LSI daripada menghilangkan terjemahan “sialan”, “bedebah”, “anak haram”, “tiiiiiiiiiittttt” yang dipakai sebagai subtitle-nya?

Ah, medel, memang.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Medel

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s