(Bab 41)

Ransel yang memuat barang mudah pecah itu kusimpan baik-baik pada sandaran sofa. Saat kutinggalkan sejenak ke belakang, tiba-tiba dia dengan santainya sudah mendudukinya. Geram memang, tapi senyum lebih indah. Baik-baik aku berkata mengambilnya, oh tanpa kata maaf meluncur begitu saja dari mulutnya. Engkau lebih tua dariku. Ilmumu pun begitu.

***

Saat ada yang tidak menghargai, selalu ingin rasanya balik untuk tidak menghargainya. Budaya vendetta semacam ini kesannya sudah mengakar karena gema adagium jika kita ingin dihormati maka hormatilah orang lain. Dan tampaknya jalaran akarnya sudah ikut membelit pada tumpuan kakiku ini. Dulu memang rasa-rasanya harus seperti itu; sekali tidak dihargai, untuk apa menghargai? Seperti orang bodoh saja. Tapi sekarang, aku merasa harus banyak menghormati orang lain, ketimbang merutuk atas sikapnya, atau apalah, selama mereka memang masih pantas untuk dihormati. Seperti kita menghargai atas kesepuhan dan keilmuan seseorang. Hanya saja, saat mereka hampir meniadalayakkan penghormatan orang lain atas dirinya, sebelum itu terjadi, mereka sudah merubuhkan dirinya sendiri di hadapan kita.

***

Engkau sudah merubuhkan dirimu sendiri di hadapanku. Tapi karena kesepuhan dan keilmuanmu, kehormatanmu terselamatkan. Kubilang, hati-hati saja, terlalu jarang melihat ke dalam akan membuatmu cepat terbunuh di luar.

Kibarkan bendera self-criticism jika masih ingin terjamin.

 

 

 

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s