1/12

Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, ketika saya berdiri di depan kelas di pagi yang cerah dua hari ke belakang, di depan satu,

dua,

tiga,

empat,

lima,

enam,

tujuh,

delapan,

sembilan,

sepuluh,

sebelas,

duabelas, anak berkebutuhan khusus dengan beragam keadaan. Di depan kiri saya, ada seorang anak yang organ bicara luarnya tak sempurna yang menempel pada hidung. Di sisi kanannya ada seorang bocah tunanetra. Di banjar sebelahnya, duduk dua gadis manis tunarungu. Di belakangnya, seorang cerebral palsy ringan duduk dengan manis. Di banjar sebelah kanan darinya, seorang tua beruban berusia sekitar 40an, juga mengikuti kelas ini. Di belakangnya duduk sepasang kakak beradik sebagai tunagrahita. Di banjar sebelah kirinya, duduk pula dua anak down syndrome. Tepat di belakangnya, seorang gadis dengan low vision duduk menunduk. Dan yang terakhir dan paling belakang, seorang remaja tunagrahita duduk tak bisa diam: selalu berisik dari awal masuk kelas dengan memeragakan dalang pewayangan.

Ah, sudah berapa tahun saya tidak menginjakkan kaki di SLB yang seharusnya menjadi tempat mendarat saya sehabis lulus?

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s