Pencitraan

Pada sebuah perjalanan, di sebuah angkot di Kota Sukabumi, saya mengambil tempat duduk tepat di belakang sopir. Di samping kirinya, duduk dengan manis seorang ibu yang cukup berumur berkerudung cokelat. Di bagian belakang, termasuk saya, ada tiga orang ibu-ibu bersama anak-anaknya.

Sepanjang perjalanan, saya mendengarkan pembicaraan sopir dengan ibu-ibu yang duduk di sampingnya tersebut. Mulanya, saya mengesankan sang si sopir adalah seorang berandalan. Entah bagaimana saya menilainya. Atas jeans yang sobek-sobek dan di bagian lututnya yang bolong, saya menjatuhkan vonis. Tapi saya tidak terima juga disebut sebagai seorang berandalan saat dulu saya sering memakai jeans yang sobek-sobek. Selama memakainya, saya juga tidak pernah sekali pun berbahasa kasar untuk sepantaran jika sedang berbicara dengan mereka yang lebih tua umurnya. Si sopir ini lain. Dia menggunakan bahasa yang pantas ditujukan hanya kepada yang sepantaran saat berbicara dengan ibu-ibu berkerudung cokelat tersebut.

Saat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan sana membuat mobil yang kami tumpangi menjadi kagok ketika hendak menyalip angkot yang sedang menurunkan penumpang, si pengendaranya dengan lantang melaungkan umpatan.

“Monyet!”

Sia bapana monyet!”[1] umpat si sopir yang kemudian sempat-sempatnya menghentikan angkotnya untuk menantang kelahi si pengendara sepeda motor.

Turun siah anjing mun wani mah ka dieu!”[2]

Walah…

Kami, saya dan seluruh penumpang yang notabene ibu-ibu, dibuat sport jantung. Ibu-ibu yang duduk di samping sopir mengingatkan si sopir untuk berlaku tenang.

Kagok, Bu. Nu kitu mah kudu dikitukeun. Mun henteu manehna sok teu ngarasa salah.”[3]

Bener-bener nya, di jalan mah, mun teu kuat iman teh parasea we meureunan[4] ujar sang ibu mencoba merespon.

Atuh da teu ngeunah Bu, disebut monyet ku batur. Ku kolot sorangan mah di-‘ujang-ujang’, pek teh ku batur di-‘monyet-monyet’. Matakan tadi teh disebut we ‘bapana monyet’,”[5]

Muhun, ari kolot mah sakumaha keselna ge tara nyebut monyet ka anakna.”[6]

Ibu-ibu itu sudah terkesan tidak tahu harus merespon apa lagi. Untuk sekadar mengingatkan si sopir, saya yakin ibu itu sudah menganggap tidak akan mempan hanya dengan kata-kata nasihat. Saya pun demikian. Betapa kesalnya saya atas sikap ugal-ugalan si sopir. Saya yang tadi hendak mengingatkan si sopir, setelah melihat nasihat seorang ibu saja tidak diindahkan. Memang, alasannya seperti masuk akal, saat si sopir mengatakan dia tidak terima disebut monyet oleh orang lain. Kesan yang muncul kemudian adalah saya menganggapnya seperti seorang berandalan puritan. Tapi kesan itu tidak lama berdiri kokoh. Setelah kejadian di mana si sopir dengan sengaja menggoda dua orang perempuan muda di pinggir jalan[7], ada saat-saat di mana kemudian dengan secepat kuda, sebuah truk hampir membuat kecelakaan lalu lintas terjadi bersama mobil yang kami tumpangi.

Tahu apa yang diucapkan si sopir?

“Monyet!”

Walah, ucapan sebelumnya dalam obrolan dengan ibu-ibu itu hanya sebatas pencitraan saja rupanya. Dasar bajingan.


[1] Sunda: Elu bapaknya monyet!

[2] Sunda: Turun sini kalau lu berani, Doggy!

[3] Sunda: Kagok, Bu. Yang begitu memang harus dibegitukan. Kalau tidak, dirinya selalu merasa tidak bersalah.

[4] Sunda: Benar-benar ya, di jalan itu, kalau tidak kuat iman pasti berkelahi terus.

[5] Sunda: bagaimana tidak mengenakkan kalau disebut monyet sama orang lain. Sama orangtua sendiri saja disayang-sayang, ini malah disebut monyet sama orang lain. Makanya tadi saya balik sebut saja “bapaknya monyet”.

[6] Sunda: Iya, orangtua itu, mau sekesal apa pun sama anaknya tidak pernah sampai menyebut-nyebut anaknya sebagai monyet.

[7] Kejadian ini benar-benar memperlihatkan bahwa si sopir adalah berandalan tulen. Bajingan. Bagaimana tidak, saat ada dua orang perempuan muda hendak menyeberang, si sopir sempat-sempatnya menepikan angkotnya untuk sekadar berujar, “Hai cewek!”. Itu pun ketidaksopanannya sangat tidak sopan sekali karena sudah tidak mengindahkan seorang penumpang (ibu-ibu) dengan mendekatkan moncongnya ke pintu kiri depan di mana ibu-ibu itu duduk dengan tenang.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s