(Bab 44)

Bagi kita yang merasa takut akan sebuah peristiwa –yang akan datang– dalam jalan kehidupan, tahulah sesuatu, bahwasanya ketakutan itu sedang melawan keimanan dan hendak menyitir sejumlah prasangkamu: Akankah begitu?”, “Bagaimana ini?”, “Sebaiknya aku mundur saja.”, “Aku benar-benar tidak bisa!”, “Memang tidak seharusnya aku berlaku.”.

Laungan sitiran dari ketakutan yang menguatkan prasangkamu terasa begitu nyata. Padahal keimanan juga menyitir apa-yang-seharusnya-kamu-ucapkan-dalam-hati dan ialah yang paling nyata: “Tuhan bertindak sebagaimana dugaanku.”, “Ini akan bisa aku lewati!”, “Lakuku ini akan berbuah pahala!”, “Tidak akan ada yang sia-sia setelah ini!”.

Dan, bagaimana bisa seorang yang beriman kepada Allah, Raja dari segala apa yang ada di hadapan kita, bahkan untuk semungil entitas prasangka tak berdasar sekali pun, bisa kalah sebelum bertarung?

Ketakutan dan keimanan adalah perkara subtil yang dapat menjerumuskan kita untuk menjadi seorang pecundang atau pemenang. Jika kita dihadapkan pada sitiran ketakutan dan keimanan, hanya orang bodohlah yang kemudian mengejawantahkan prasangka-prasangka yang ada untuk bertiwikrama menjadi suatu legenda nyata dalam sebuah mite perjalanan hidupnya.

*Agus! Ka dieu siah urang pecut maneh!

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s