(Bab 45) – Novel Anak Autistik

Pada suatu pertemuan, saya ditanya seorang rekan perihal buku. Katanya, apakah saya menyusun buku. Tidak, saya bilang. Melalui jawaban tersebut saya memastikan bahwa buku dan novel itu berbeda.

Bagi saya, dan juga pemaknaan atas maksud pertanyaan rekan saya tersebut, buku adalah suatu wadah sejumlah pengetahuan yang terkadang sudah tersistematiskan. Sementara novel, meski pun di dalamnya ada saja sejumput ilmu pengetahuan, tapi selalu disampaikan dengan gaya penuturan yang berbeda. Paramasastra dalam novel lebih santai dibanding tata bahasa dalam sebuah buku yang kadung saya vonis baku. Tapi ya apa manfaatnya mendengarkan saya? Bentuk novel itu jelas-jelas buku.

Saya lantas bercerita tentang nasib naskah novel saya yang entah sudah keberapa kali mendapat penolakan dari sejumlah penerbit. Demi mendengar keantusiasan saya dalam menceritakan konten naskah novel itu, seorang rekan yang lain menyodorkan sebuah kartu nama.

Seorang direktur sebuah grup penerbitan, rupanya.

Ada saat di mana kita akan mendapatkan secercah harapan.

Saat sekeliling begitu gelap, titik terang sekecil lubang jarum pun tak menjadi masalah.

Yang justru menjadi masalah adalah ketika kita congkak mengabaikan titik terang sebesar lubang jarum tersebut.

Optimisme memang tak mudah hadir.

Sebab ia sungkan pada jiwa-jiwa yang sedikit pun tak mau berbaik sangka.

Saya lantas melaksanakan saran si pemberi kartu nama. Saya bercerita panjang lebar kepada ia yang direkomendasikan, lewat e-mail. Tak dinyana, keesokan harinya saya langsung mendapatkan respon yang cukup hangat. Dan, tak lama setelah itu, bawahannya mengontak saya untuk membicarakan naskah yang saya kirim sebelumnya via atasannya.

Seperti derita, senang bisa datang kapan saja.

Ia akan lebih membuncah ketika sebelumnya kita berpasrah diri setelah payah berusaha.

Puncak telah kita dapati setelah lelah menanjaki.

Tapi roda terus berputar.

Siapa terjamin selamanya akan merasakan nikmat dalam rihat yang disangka?

Anak perusahaan pemilik kartu nama itu menerima naskah novel saya. Katanya menarik. Menurutnya, baru kali ini ada novel lokal yang mengangkat tema seperti apa yang saya tawarkan. Titik yang tadi kelihatannya seperti lubang jarum, ternyata membuka sebuah jalan yang lebih lebar. Saya senang bukan kepalang.

Kita diberi tahu bahwa kesenangan itu adalah saat berada di atas.

Kesedihan adalah di bawah.

Siapa mencetus siapa mengiyakan, kita alpa.

Sejak awal, saya (harus) merasa percaya diri. Menulis sebuah novel dengan mengangkat tema seputar dunia anak berkebutuhan khusus adalah hal baru. Setidaknya, iya, buat saya yang alpa dan sedikit pun tidak pernah mengetahui pada waktu kapan di kota mana ada sebuah novel tentang anak berkebutuhan khusus terbit. Satu-satunya yang saya ketahui hanyalah One Child-nya Torey Hayden, dari luar sana.

Bukan hanya itu yang membuat saya merasa (harus) percaya diri. Di dalam tema tersebut, saya membawa sependirian konsepsi sebuah pengetahuan yang diametral dengan sederet pengetahuan yang sudah lumrah dipahami masyarakat kebanyakan. Terlebih bagi mereka yang menjadi praktisi atau akademisi di dunia pendidikan khusus. Saya menjadi seorang yang mengacungkan tangan untuk melakukan interupsi saat ketentuan-ketentuan dalam bidang pendidikan berjalan begitu saja. Ada bagian-bagian yang mendasari beberapa ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan yang saya gugat.

Dengan dibimbing oleh seorang editor lulusan Psikologi, saya benar-benar merasa harus percaya diri. Sebelum karya saya dilempar ke khalayak ramai, sebagian konten naskah novel saya harus dicermati sang editor tersebut. Isi Bab III yang memuat pertentangan antara pemikiran saya dengan dasar-dasar disiplin ilmu psikologi, harus berkonfrontir dengannya. Tapi isi bukan tanggung jawabnya. Ia hanya mengurusi tata bahasanya saja.

Suatu hasil yang dicitakan memang butuh sebuah pengorbanan. Pun naskah ini. Instruksi editor di minggu kedua saat itu adalah untuk kesekian kalinya di mana saya mengedit ulang paramasastra naskah ini dari halaman 1 sampai 235.

Ada sensasi yang menggembirakan saat berpayah-payah untuk sesuatu.

Saat menyusun skripsi di senyapnya tengah malam.

Saat mencari kebenaran di bawah kolong langit dan ingar-bingarnya kehidupan.

Saat berkhalwat denganNya di pagi buta.

Saat menunggu fajar tanpa berpejam.

Entah bagaimana penerbit ini menyeleksi naskah novel saya sehingga bisa diterima. Yang saya terka adalah dengan mempelajari konten naskah tersebut terlebih dahulu. Syahdan, entah bagaimana yang muncul di benak saya ini benar-benarmencuat saat di minggu keempat masa editing, pihak penerbit merasa keberatan dengan konten naskah novel saya. Katanya, seperti karya ilmiah saja naskah saya ini. Saya duga, hanya karena isi dari Bab III yang memuat pertentangan konsepsi antar pemikiran (Islam dan Psikologi), dan Bab VII sebagai anotasi saya terhadap paradigma pendidikan inklusif.

Mau bagaimana lagi? Sudah berdarah-darah saya membahasakannya seperti ketika saya berbincang dalam keseharian dengan bahasan yang sama. Tapi bukan itu yang menjadi persoalan buat penerbit. Jadi, mau apa dikata kalau penerbit memutus ditengah jalan? Tadinya saya kira konten naskah ini sudah dipelajari. Saya tidak ingin berkhianat dengan melempar jauh-jauh sesuatu yang mendasari penulisan novel ini. Penjelasan panjang lebar yang pernah saya tulis sebagai pengantar dalam e-mail kepada sang direktur utama sepertinya tidak begitu dipahami. Bahkan terhadap artikel “Dicari, Guru yang Penulis” yang beliau tulis di website pribadinya, saya mengangkat alis. Harapan-harapan beliau di artikel tersebut menjadi tidak saya mengerti.

Ah, siapa saya ini sampai berharap penerbit itu mau menerima naskah saya apa adanya ini? Tak ada yang kenal siapa Aemte Mite atau Agus Munawar Tamim itu.

Dikecewakan itu seperti dibawa terbang ke atas awan lalu dijatuhkan ke muka bumi. Setelah itu kita berkeluh ria. Padahal sebenarnya kita itu baru dipantulkan ke muka bumi setinggi angkatan tangan mereka yang menjatuhkan kita. Melesat ke atas langit setelah dipantulkan bukan tidak mungkin. Nyatanya kita memang berat. Kenapa? Tampaknya karena berkeluh itulah penyebabnya.

 

Stay cool. Roda selalu berputar.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s