Opsi Diri

Menghadapi 15 anak berkebutuhan khusus beragam kelainan dalam satu kelas oleh seorang diri itu bukanlah hal biasa. Sangat tidak biasa. Tapi itu yang benar-benar terjadi di dalam perjalanan hidup saya menjadi seorang guru. Berdiri di depan seorang bocah tunanetra, tiga anak tunarungu, dua anak tunadaksa, lima anak tunagrahita, seorang tua beruban usia 40-an dan dua remaja yang ketiga-tiganya mengalami mental retarded, dan seorang low vision, memang menantang. Itu sudah menjadi pilihan saya sejak pertama kali memilih bidang ini.

***

Dulu, semasa masih kuliah, saya pernah menjadi seorang guru pembimbing khusus untuk seorang anak yang terdiagnosa sebagai slow learner di sebuah sekolah inklusif. Berinteraksi dengan anak slow learner tersebut adalah pengalaman pertama saya berhubungan langsung dengan anak berkebutuhan khusus di lapangan. Kesulitannya dalam mengikuti setiap pembelajaran menjadi sesuatu yang harus saya carikan pemecahannya. Dari berbagai macam teknik konseling, memberikan asistensi pembelajaran, sampai terapi tak kompromi, saya jalani. Dari mulai dialog dan membimbing penuh kesabaran, sampai adu otot menahan agresivitasnya, saya lakoni. Hingga akhirnya penantian saya berakhir ketika melihatnya takluk dan bisa mengikuti pembelajaran di kelas meski masih menggapai-gapai.

Selepas lulus, saya kembali menjadi seorang guru pembimbing khusus. Pada kesempatan kedua itu saya dihadapkan pada seorang anak bongsor dengan spektrum autisme yang mudah tantrum. Selama menjadi guru pembimbing khususnya, saya tidak pernah berhasil melakukan bimbingan konseling terhadapnya. Tingkat kadar autismenya cukup tinggi, sehingga daya nalarnya hanya sedikit saja bisa digunakan. Itu pun tidak semudah yang dapat kita perkirakan. Karena setiap hari, dan hampir setiap saat, amarahnya selalu meletup-letup tak keruan. Setiap motif perangainya dominan didasari oleh insting semata, di mana naluri-nalurinya tidak tersaring oleh pemikiran yang bisa menimbang benar atau salah. Suasana hatinya labil. Sangat tidak stabil. Tertawa-tawa sendiri, atau bahkan sekonyong-konyong menangis dan menjerit, adalah hal yang lazim saya dapati dalam membimbingnya.

Barangkali banyak orang di luaran sana melihat saya begitu mau-maunya hidup bersama dengan anak yang terlihat sangat bermasalah. Pada titik yang paling ekstrem, mungkin mereka mengatakan anak autistik tersebut gila karena tidak sebiasa mereka adanya. Tapi sungguh dia juga manusia. Hanya saja dengan keadaan yang memang tak biasa. Bukan berarti kita harus mengabaikan dia dan jutaan anak lainnya yang seperti ia di luar sana. Justru dengan keberadaan mereka yang memiliki kebutuhan khusus, peran kita hidup di dunia benar-benar menjadi sangat penting. Gula akan sangat diperlukan jika kita ingin membuat teh manis, bukan? Jika tak berharap mereka ada karena keterbatasannya yang tidak bisa kita terima, maka ikut andillah. Buat mereka menjadi seperti kita. Meski pun pada kenyataannya tidak mungkin bisa. Sebab Tuhan sengaja mencucurkan rahmatNya pada sebuah hal bernama keberagaman. Tidak hanya suku bangsa, bahasa, dan warna kulit saja perbedaan itu Tuhan ciptakan. Tapi melalui keunikan setiap individu juga. Itulah mereka, anak-anak berkebutuhan khusus.

Mari kita belajar menerima keberadaan mereka, dan jangan sekali pun mendengarkan omongan orang yang memandang dengan sebelah mata lagi sinis. Saya selalu melakukannya. Melakukan pembelajaran bersama anak dengan spektrum autisme yang mudah tantrum di luar lingkungan sekolah, di tengah-tengah masyarakat, selalu saya nikmati dan tidak peduli pada sinisan orang. Yang mesti kita perhatikan adalah fokus pada pengembangan diri mereka. Karena mereka juga mempunyai potensi seperti halnya kita.

Namun, setiap kasus dari anak berkebutuhan khusus itu berbeda. Meski pun sama-sama terdiagnosis sebagai anak autistik, teknik pembelajarannya tidak akan pernah bisa digeneralisasi. Saya sendiri, mengingat karakteristik anak didik yang tidak pernah kerasan belajar di dalam kelas, selalu melakukan pembelajaran di luar. Lingkungan di luar sekolah yang bersifat natural lebih saya sukai. Sebisa mungkin tidak dimodifikasi, kecuali pada lingkungan kecil saat hendak memberikan suatu treatment. Dalam kondisi lingkungan yang natural, saya hanya perlu membimbing dan mengarahkan sikap serta tindakannya. Sesekali pemberian hukuman atas sikapnya yang membandel memang sangat diperlukan. Tapi hal tersebut lantas diseimbangkan dengan pemberian pujian saat dia manut dan berhasil berperilaku baik.

Saat itu, di sekolah tempat saya menjadi guru pembimbing khusus anak autistik, terdapat dua anak autistik lainnya. Antara anak didik saya dengan anak autistik yang lainnya, keunikan individualnya sangat berbeda, kecuali pada sekelumit ciri-ciri umum dari anak autistik yang lazim. Asyik dengan dunianya sendiri, senang mengepak-ngepakkan tangannya, berloncat-loncat, moody, dan perkara-perkara umum lainnya yang menjadi kekhasan perilaku dari mereka. Selain dua anak autistik tersebut, di sekolah saya juga terdapat seorang anak down syndrome, dua anak ADHD, dan seorang bocah delay speech. Keberagaman yang muncul dari keunikan setiap individu dan kebutuhan khusus mereka dalam satu lingkungan sekolah yang inklusif, tentu menciptakan suasana dan nuansa yang tidak mudah saya lupakan begitu saja sampai kini.

Meski pun sekolahnya berlabel inklusi, yang namanya hambatan atau rintangan, selalu saja ada. Entah itu dari lingkungan eksternal, atau bahkan dari lingkungan internal pihak sekolah itu sendiri. Namun begitu, betapa pun keadaannya demikian kompleks sehingga pembelajaran yang ideal tak mudah dicapai, kami selaku guru pembimbing khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus merasakan sesuatu yang teramat berharga dan sangat kami syukuri. Sesuatu yang bisa jadi tidak akan pernah kami dapatkan jika saja kami tidak memilih menjadi guru buat anak-anak yang spesial. Yang kami syukuri dari apa yang kami anggap berharga tersebut adalah sesuatu yang bernama rahmat dalam perbedaan. Betapa tidak, hampir setiap hari, kami sebagai guru pembimbing khusus beserta anak didik kami masing-masing benar-benar merasakan indahnya hidup tanpa diskriminasi bersama sebagian masyarakat di lingkungan sekitar. Ya, setiap kali istirahat, kami dan anak-anak didik selalu berkumpul bersama di sebuah warung di depan sekolah. Di sana, sang pemilik warung yang merupakan warga asli setempat selalu berkumpul bersama beberapa kerabatnya. Tak lupa juga ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya yang sedang bersekolah sering ikut bergumul dengan mereka. Kami, para guru pembimbing khusus, bersama anak-anak didik selalu merasa senang bisa ikut melibatkan diri di dalam lingkungan tersebut pada waktu jam istirahat.

Pada kesempatan itu, banyak dari mereka yang kerap menanyakan perihal keadaan anak-anak didik kami yang jelas terlihat tidak sebiasa anak-anak mereka sendiri. Dari satu jawaban kami atas pertanyaan mereka, muncul lagi pertanyaan baru seputar anak berkebutuhan khusus. Mereka tampak begitu antusias. Sedikit pun tidak ada rasa antipati terhadap keberadaan anak-anak didik kami. Meski pun terkadang keadaan anak-anak didik kami tak selazim biasa mereka dapati, di mana untuk anak didik kami seusia remaja saja masih kurang bisa memperhatikan kebersihan diri. Dari mulai membuang sampah bekas makanan secara sembarangan, sampai menyeka ingus yang tak pernah bersih dan menjadikannya berkerak-kerak menjelaga di sekitaran hidungnya, tak sekali pun membuat mereka menyingkir menjauhi kami. Yang justru terjadi adalah mereka ikut andil dalam memberikan pendidikan tak langsung kepada anak-anak didik kami. Seperti ketika anak didik saya hendak membuang sampah sembarangan, mereka dengan sigap langsung memberi arahan untuk membuang sampah secara benar pada tempatnya.

Keadaan demikian, tentu saja sangat menyenangkan. Bisa membaurkan anak-anak didik kami yang mempunyai kebutuhan khusus dengan para warga sekitar sekolah yang begitu terbuka menerima kehadiran mereka, adalah suatu karunia Tuhan di mana rahmatNya benar-benar kami rasakan. Mereka tidak lantas menjadi pihak yang menghambat kemungkinan melesatnya potensi kemampuan dari setiap anak berkebutuhan khusus. Karena secara tidak langsung mereka juga ikut membantu dalam keseharian anak berkebutuhan khusus, terutama di lingkungan sekolah yang meniscayakan suatu aktivitas bernama sosialisasi (interaksi dengan lingkungan). Bagaimana pun juga, idealitas pembelajaran (apalagi pendidikan untuk semua atau pendidikan inklusif) akan dapat tercapai dengan mudah jika negara (Pemerintah), sekolah, orangtua dan masyarakat bersinergi dalam menyelenggarakan praktik pendidikannya. Negara melalui regulasi, sekolah dengan aplikasi, serta orangtua dan masyarakat secara keseluruhan ikut membantu jalannya proses pendidikan tersebut; tidak hanya sebatas monitoring belaka.

Jika sampai seperti itu, peran guru pembimbing khusus pun sedikit menjadi lebih mudah, karena selain di sekolah, proses pendidikan yang mesti dilakukan di luar pun menjadi sangat terbantu dengan adanya dukungan dari masyarakat yang membuka diri menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus. Arahan atau bimbingan dari guru pembimbing khusus dalam memfokuskan diri terhadap perkembangan potensi yang dimiliki anak didik tentu akan sangat mudah dilakukan.

Tapi sayang, perjalanan saya menjadi guru pembimbing khusus di sekolah inklusi tersebut terhenti di tengah jalan. Sebabnya sempat ada intrik yang menimpa saya dari sebuah lembaga independen yang mencoba masuk mengatur anak-anak didik kami yang kenyataannya sama sekali tidak teratur. Program treatment yang masih dalam proses, dan juga program lanjutan yang saya yakini bisa memberikan kontribusi demi perkembangan anak didik saya otomatis menjadi terhenti dan tidak pernah ada tindak lanjutnya. Sangat disayangkan memang. Tapi jika mengingat-ingat peristiwa itu, saya tidak harap mengiba. Yang saya tahu, perjalanan saya menjadi seorang guru nyata-nyata mendapat ujian. Meski pun pada akhirnya saya sempat memutuskan untuk berhenti bekerja di suatu tempat, di mana pun itu, yang bernama sekolah.

***

Kini, setelah sempat absen mengajar selama dua tahun, saya kembali menjejak di lapangan. Saya mengajar di sebuah SLB di kampung halaman di Cianjur. Ketiadaan guru di sekolah yang baru dirintis ini membuat saya memilih ikut andil menjadi bagian dari perjalanan hidup lima belas anak berkebutuhan khusus yang masuk ke sana. Bersama mereka, sedapat mungkin saya harus bisa menjadi seorang guru yang memahat kemampuan-kemampuan dasar sebagai bekal kehidupan mereka. Karena secara akademik, belum ada satu pun dari mereka, yang sudah mampu menulis, membaca, dan berhitung. Padahal usia mereka sudah mulai masuk remaja!

Saya mafhum. Kondisi per individu dari mereka sangatlah tidak biasa. Terlebih lagi sebagian dari mereka terlambat menerima pendidikan. Tempat tinggal mereka yang terbilang dusun, jauh dari kota, dan infrastruktur yang belum memadai, membuat mereka menjadi seperti teralienasi. Mereka tergerus pembangunan yang tak merata. Terlebih karena keadaan mereka sebagai kaum yang marjinal. Tapi biar pun demikian, mereka masihlah tetap anak-anak yang penuh semangat. Sekolah yang lumayan jauh pun tak masalah mereka datangi. Tak pernah sedikit pun saya mendengar dari orangtuanya, anak-anak yang mengeluh. Bersyukur pula mereka terbantu dengan adanya mobil jemputan abonemen, sehingga jarak yang jauh semakin tidak memberangus semangat mereka. Saya pun bersyukur, bisa menjadi satu-satunya guru yang pernah mereka temui yang mengajar dengan penuh candaan. Setiap harinya kelas mereka rasakan penuh tawa. Terbahak-bahaknya mereka menandakan penerimaan hatinya buat saya. Saya pun menyambutnya dengan senang hati. Meski terkadang, pada satu titik, saya selalu merasa tidak puas. Di tengah keterbatasan yang benar-benar membatasi ini saya tidak pernah bisa memberikan pendidikan kepada mereka secara layak dan baik. Memiliki lima belas anak didik yang menyandang kebutuhan khusus dan beragam kelainan dalam satu kelas membuat saya selalu miris. Setiap kelas bubar, saya kerap bertanya balik, adakah kelimabelas anak berkebutuhan khusus itu sudah terberi pengajaran yang layak dari saya? Bagaimana tidak, saya hidup di tengah lima belas anak yang kebutuhan dan kemampuannya beragam. Ketika saya mengutarakan materi secara oral, si gadis tunarungu menjadi terdiam tak bisa mengikuti. Saya tahu, pengalaman saya hidup di tengah-tengah kaum tunarungu adalah berkomunikasi dengan berkata-kata dengan tidak mengikuti standar EYD. Asal kata dasarnya terucap, kaum tunarungu bisa memahaminya. Atas dasar pengalaman tersebut, saat saya mencoba teknik mengajar dengan berkata-kata tanpa mengikuti ketentuan EYD, bisakah anak-anak yang lain mengerti akan ucapan saya? Tidak. Keadaan tersebut sering saya hadapi dan membuat saya dilema: harus dengan cara apa?

Pada akhirnya, saya mencoba untuk memberikan tugas menulis secara serempak kepada mereka dari awal. Cara tersebut cukup ampuh untuk menghentikan kegaduhan mereka menjadi anteng. Setelah itu, selagi mengerjakan tugas tersebut, saya mendatangi mereka untuk memberikan asistensi secara personal dan memberikan pengajaran menurut kebutuhannya. Satu persatu saya mendatangi mereka di bangkunya masing-masing. Pengajaran untuk setiap anaknya bertahap. Meski dalam satu hari saya hanya bisa mengajarkan satu huruf, dan keesokan harinya sebagian dari mereka ada yang lupa, tak menjadi soal buat saya. Memang rasa kesal dan geregetan karena sudah capai-capai mengajari tapi mereka sulit untuk bisa mengerti, kerap muncul di ubun-ubun ini. Akan tetapi dari keadaan mereka, saya belajar paham. Saya memafhumi interaksi yang tak biasa ini. Ribuan hari yang pernah saya lalui bersama anak-anak berkebutuhan khusus mestinya membuat saya semakin terlatih. Senyuman tak boleh sekali pun sirna dari raut muka kita, betapa pun sikap mereka kerap membuat kita gigit jari. Bukankah kita sendiri yang telah memilih jalan ini? Jalan di mana sepanjang haluannya ada anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan kita? Jika kita mengharap mereka mampu seideal kita, bukankah kita juga harus bisa menjadi guru pembimbing seideal yang mereka harapkan? Kita dipertemukan Tuhan untuk menjadi sesuatu yang komplementer. Seperti cahaya yang tidak akan dikatakan terang jika tidak ada gelap. Siapa pun kita harus mengerti itu.

Saya tidak mau melihat sekolah-sekolah unggulan yang mampu mengangkat anak-anak berkebutuhan khusus pada puncak prestasi. Kita berdiri dan bermain di tanah lapang yang sama sekali berbeda. Biarlah kami berdiri dan bermain dengan cara kami, sesuai dengan keadaan kami sendiri. Maka akan kami biarkan kalian berdiri dan bermain dengan cara kalian sendiri. Tak usah menjadi suatu kompetisi, karena kita bukan sedang bertanding. Kita hidup di dunia tentu dengan paket kehidupan yang berbeda.

Saya sungguh tidak berharap banyak dan memaksakan kehendak pada mereka. Selangkah demi selangkah, kami mencoba maju ke depan. Tidak perlu melihat ke samping, sebab perjalanan ini menuju ke depan.

***

Suatu hari, secara tidak sengaja saya mendengar Meida, anak yang mengalami low vision, bernyanyi. Amboi, rupanya suaranya cukup potensial. Dan pada saat SMK yang berdiri di bawah yayasan yang sama dengan SLB ini akan menyelenggarakan acara perpisahan, kepala sekolah meminta penampilan kreasi seni dari anak-anak SLB. Awalnya saya ragu. Hendak menyuguhkan apa dari anak-anak didik saya. Tapi karena saya tahu bahwa ada seseorang dari mereka yang cukup potensial, maka saya kebut persiapannya. Tak lebih dari dua minggu kami mencoba berjibaku berlatih pada sela-sela waktu dua jam belajar yang tersedia setiap harinya. Selain akan mempersiapkan Meida menyanyi, saya juga menggaet si bocah tunanetra (Candra) untuk bisa tampil berpuisi. Tantangannya adalah Meida belum bisa mengikuti ketukan nada dan Candra belum bisa membacakan sajak secara santai dan penuh penjiwaan.

Saya adalah tipikal orang yang menuntut kesempurnaan. Orang-orang menyebutnya prefeksionis. Segala bayangan tentang konsepsi suatu kegiatan yang ingin saya lakukan, maka akan sangat berhasil manakala seluruh prasyarat yang diminta benar-benar tersedia. Tapi saya harus tahu diri. Saya tidak pernah berjodoh di tempat yang sedemikian bisa menyediakan segala prasyarat yang saya kehendaki. Saya selalu berjodoh di tempat yang apa adanya. Saya sadar diri. Barangkali ini cara Tuhan mengutarakan ketidaksukaanNya pada sifat saya yang perfeksionis: selalu menuntut kesempurnaan dengan usaha yang hampir nihil jika keadaan kurang mendukung. Bersyukur akhirnya saya mengerti. Dalam keterbatasan sebuah lingkungan, di mana pun, kapan pun, apa pun, dan bagaimana pun lingkungan tersebut berwujud, saya harus berusaha. Sebelum menuntut apa yang kita minta, kita harus menuntut diri sendiri untuk mengenyahkan egosentrisme dengan kepal dan langkah pertama. Di sini saya benar-benar merasakan cinta: ketika belajar mengesampingkan egosentrisme demi mereka; harapan: saat apa yang saya lakukan adalah untuk anak-anak didik sendiri; dan keterbatasan; minimnya sarana fisik bagi pelatihan untuk mereka yang notabene memiliki keterbatasan secara hakiki.

Namun alhamdulillah, dua minggu penuh cemas itu terbayar ketika melihat aksi panggung mereka. Meida berani tampil menyanyi meski pada beberapa bagian suaranya masih lari karena gugup. Saya memaklumi, karena bagaimana pun juga itu adalah pengalaman pertamanya berkreasi seni di depan khalayak ramai. Begitu pun dengan Candra. Dadanya berdebar saat membacakan sajak:

Berburu ke padang datar, dapat rusa berbelang kaki

Berguru kepala ajar, ibarat bunga kembang tak jadi

Dialah pemberi paling setia, tiap akar ilmu miliknya

Pelita dan lampu segala, untuk manusia sebelum jadi dewasa

Dialah ibu dialah bapak, juga sahabat

Alur kesetiaan mengalirkan nasihat

Pemimpin yang ditauliahkan segala umat

Seribu tahun katanya menjadi hikmat

Jika hari ini seorang perdana menteri berkuasa

Jika hari ini seorang raja menaiki tahta

Jika hari ini seorang presiden sebuah negara

Jika hari ini seorang ulama yang mulia

Jika hari ini seorang peguam menang bicara

Jika hari ini seorang penulis terkemuka

Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa, sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa, dengan lembut sabarnya mengajar tulis baca

Di mana-mana dia berdiri, di muka muridnya

Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota

Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu

Dia adalah guru mewakili seribu buku

Semakin terpencil duduknya di ceruk desa, semakin berarti tugasnya kepada negara

Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, Guruku

Budi yang diapungkan, didulangi ilmu

Panggilan keramat “Cikgu”, kekal terpahat

Menjadi kenangan ke akhir hayat[*]

 

yang membuat hati saya bergetar.

Tuhan, pada jalan yang telah saya pilih ini, bukankah Engkau sudah menaruh satu paket cinta dan harapan di tengah-tengah saya dan anak-anak itu?

Cianjur, 27 Juli 2013


[*] Sajak “Guru Oh Guru” – Usman Awang, 1979.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s