Antar-mengantar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Naskah berikut yang akan saya publish secara moody dan berkala ini terselesaikan di akhir 2011, tepat setahun dari kali pertama saya menuliskan kata pertama di bab pertama. Sejak saat itu, saya mencoba untuk mengirimkan naskah ini ke sejumlah penerbit. Tentu saja dengan harapan agar bisa diterbitkan dan tersebar luas sejauh jangkauan penerbit. Tapi sampai saat ini, harapan itu selalu kandas di tengah jalan. Pernah suatu kali di tengah proses editing, kami (saya dan penerbit) memutuskan untuk berpisah; tidak bekerjasama lagi. Ada pula permintaan dari sebuah penerbit untuk bekerjasama karena tertarik dengan naskah ini. Tetapi belakangan penerbit tersebut menyarankan agar naskahnya tidak berupa novel, dan saya pun mencoba untuk menuruti kemauannya. Sayang, setelah itu tidak pernah bisa dihubungi lagi untuk pembicaraan lebih lanjut.

Dulu, selepas naskah ini terselesaikan, saya merasa begitu bangga. Niat awal yang hanya sebatas menuliskan cerita tak bersambung, nyatanya menyambung hingga menjadi sebuah novel. Kemudian saya merasa bahwa naskah ini akan dengan sangat mudah untuk diterima penerbit karena mengangkat tema yang tak biasa. Tapi nyatanya tidak seperti itu juga. Berkali-kali saya mendapat penolakan.

Beberapa rekan mengangkat saya dari rasa putus asa. Toh jalan tidak selalu lurus dan mulus. Seorang rekan yang menjadi penulis saja harus menunggu sampai naskah pertamanya naik cetak selama sembilan tahun. Diceritakan pula bahwa banyak dari penulis tersohor saat ini harus mengalami tahun-tahun di mana mental tertempa hebat karena karyanya banyak ditolak oleh penerbit.

Syahdan, saya terangkat. Tidak seharusnya saya yang baru mengalami secuil dari masa-masa penempaan, begitu deras mengeluh. Saya malu. Seiring dengan hinggapnya rasa itu pula, saya banyak melihat ke dalam. Betapa naskah ini, saya menyadari betul, tidak ada apa-apanya. Sehingga, apa yang bisa saya berikan untuk bisa disambut hangat oleh penerbit, berulang-ulang membuat kegaduhan retoris di benak ini. Bahwa nyatanya memang tidak ada.

Dan juga, label “penulis” yang sempat berharap tersemat pada diri ini, sekarang terasa begitu memuakkan untuk sekadar diharap. Saya berbalik tidak senang. Bukan lantaran naskah pertama saya gagal diangkat, tapi lebih kepada, untuk apa? Saya hanya tidak ingin menganggap dan dianggap apa-apa. Jika tidak begini, itu benar-benar akan menyebalkan buat saya yang benar-benar supermalas untuk belajar menulis 😀

Sudah, sudah. Skip.

Btw, kalau mau baca, saya senang sekali. Berharap dari sana akan banyak masukan ini itu demi perbaikan di penulisan yang entah kapan akan saya lakukan lagi. Setidaknya kita bisa banyak berbincang dan sharing 🙂

 

Salam,
Aemte Mite

 

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s