#0

[#0] – PROLOG

 

Saya sebenarnya tidak ingin berkata begini, tapi, jika saja waktu itu saya tidak membaca artikel tentang disleksia di koran yang saya langgani, saya mungkin tidak akan pernah kuliah di PLB sehingga bisa mengenal kelainan diri ini yang cukup kesulitan mengucapkan kata-kata berawalan huruf vokal dan kelainan-kelainan lain yang, ternyata, dialami banyak orang juga di luar sana. Meski pada awalnya saya masuk kuliah hanya dengan berbekal kaidah daripada tidak. Karena pada saat itu, menginjak tahun kedua di mana angkatan saya sudah menjadi mahasiswa tingkat dua, saya harus bersegera untuk kuliah, di mana dan apa pun itu. Selama saya bisa menghindari bidang eksakta dan biologi, saya akan memasukinya. Namun, terjebaklah saya dalam mimpi buruk seumur hidup. Statistika, juga Anatomi, Fisiologi dan Genetika, sebagai salah dua dari mata kuliah yang tersedia di PLB, saya hadapi juga. Belum lagi sejumlah objek yang nantinya harus saya hadapi di lapangan: anak-anak berkebutuhan khusus!

Saya pernah merasakannya. Berhadapan dengan seorang anak berkebutuhan khusus memang tak (akan) biasa. Jika saya mengajarkan 1 + 1 kepada seorang anak biasa, mungkin butuh waktu sebentar sampai anak tersebut mengetahui bahwa jawabannya adalah 2. Beda halnya ketika saya mengajarkan materi yang sama pada seorang anak berkebutuhan khusus. Untuk bisa mengetahui jawabannya mungkin butuh puluhan kali lipat dari waktu biasa.

Sekarang, apa yang dulu sempat saya takutkan benar-benar terjadi. Selepas lulus kuliah, di lapangan, saya berhadapan dengan bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. Salah satunya adalah ketika saya menjadi seorang guru pembimbing khusus untuk kedua kalinya di sebuah sekolah inklusi di dekat kampus, untuk seorang anak autistik.

Menjadi guru pembimbing khusus seorang anak autistik di sekolah inklusi berarti, saya menjadi pendamping anak autistik tersebut saat belajar di dalam kelas di sekolah reguler (bukan SLB). Saya duduk bersamanya di bangku yang sama. Saya menjadi perantara informasi yang disampaikan guru kelas. Setiap materi yang diberikan guru kelas harus selalu saya sederhanakan untuk bisa dicerap anak autistik tersebut. Ya, lazimnya begitu. Tapi kenyataan di lapangan sangat kompleks. Ada banyak benturan idealitas. Saya termasuk salah satu di dalamnya. Hati kecil saya menolak untuk menuruti seperti itu. Berkutat di dalam kelas sangatlah menjemukan.

Dua tiga hari pertama di sekolah dalam membimbing seorang anak autistik terasa biasa. Seolah bisa mengikuti hal yang telah lazim, saya berkutat di dalam kelas dengan lancar. Guru kelas dan puluhan siswanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Rutinitas demikian berjalan dengan berbagai dinamikanya. Sudah menjadi rahasia umum jika selama kegiatan belajar mengajar di dalam kelas banyak siswa yang tak memperhatikan. Beragam cara mereka melakukannya: mengobrol dengan teman sebangku, saling melempar surat dalam gulungan kertas, memainkan mainan, dan cara-cara lainnya. Hal-hal semacam itulah yang kerap menarik perhatian anak didik saya yang hanya satu-satunya. Pecahlah konsentrasinya dalam belajar. Termasuk pada sikap pura-pura salah seorang siswa yang ingin buang air ke toilet, sehingga anak didik saya menyangka anak tersebut hendak main keluar. Anak didik saya ingin keluar kelas seperti temannya itu. Bedanya, fokus anak didik saya langsung pada lapik mainan yang sebelum masuk kelas sempat ia sambangi. Saya tidak bisa membiarkannya. Diberi tahu untuk tidak boleh keluar kelas selama belajar, dia tidak mendengarkan. Diajak untuk belajar lagi, dia tidak mau. Perhatiannya kadung terinterupsi oleh suasana kelas yang kacau. Setiap keinginannya mestilah terpenuhi. Dicoba dihalangi, dia tidak suka. Bukan kepalang, dia marah.

Novel ini ditulis sebagai wadah ekspresi saya akan pengalaman-pengalaman pertama dan nyata sejak menyadari bahwa mereka adalah tanggung jawab saya juga. Betapa pun akar permasalahan untuk menunjang idealitas pembelajaran mereka begitu sukar dibereskan, saya harus ikut memotong rumput-rumput liarnya juga. Meski di dalamnya terdapat konflik dan tragedi yang pada akhirnya membuat saya menjadi teralienasi, saya tidak harap mengiba. Biarlah duri-duri kecil itu menusuki kaki ini dalam melangkah. Sampai saat saya ditandangi Izrail, saya tidak mengharap apa-apa dari mereka. Cukup dari Tuhan saja. Tidak lebih.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s