#1

[#1] KESAN PERTAMA

(Perjumpaan mengantarkan kita pada sebuah perkenalan. Sebelum itu terjadi, kita benar-benar jauh dari kenyataan)

Saat saya menahan tubuhnya, tangan kami saling beradu. Berjatuhanlah roncean manik-manik pada gelangnya. Kontan kemarahannya bertambah-tambah. Energi simpanannya menyeruak memancing energi simpanan saya. Tak tanggung-tanggung, dia langsung memukuli punggung saya. Belum lagi tendangan kakinya pada betis dan paha ini. Badannya yang tegap besar sangat menunjang semua serangan yang dilakukannya. Saya kesakitan, tapi harus tetap bertahan.

Huaaaaaa, gelangnya rusak! Rusak! Sudah tidak bagus! Ganti yang baru! Ganti!” teriaknya dalam tangisan.

Seisi kelas berpaling melihat ke arah kami.

Di minggu kedua ini, tadi, secara tiba-tiba dia hendak pergi keluar kelas. Posisi duduk kami di banjar kedua ini memberikan keleluasaan baginya untuk meninggalkan bangku. Jika saja kami mendapat tempat duduk di banjar pertama atau keempat, saya bisa menempatkannya merapat pada dinding kelas, dan saya duduk di mana satu-satunya jalan keluar baginya adalah harus melewati saya terlebih dahulu. Dia terstimulasi oleh temannya yang pura-pura ingin buang air ke belakang. Nyatanya, dia hanya ingin keluar kelas demi bisa melihat-lihat beragam mainan yang dijual di luar ketimbang harus belajar di dalam kelas. Saya kaget mendapatinya hendak pergi keluar kelas begitu saja pada jam belajar. Belum pernah saya mengalami kejadian seperti ini ketika mengajar anak-anak berkebutuhan khusus lainnya sebelum ini.

Huaaaaaa, ganti! Gelangnya ingin ganti!”

Keras sekali teriakannya. Hampir-hampir memekakkan telinga ini di ukuran 85 dB. Saya harus bisa membuatnya tenang dulu. Tapi dorongannya begitu kuat. Saya semakin terdorong senti demi senti. Sesekali saya ubah posisi dengan menarik tangannya dari belakang. Semua saya lakukan agar dia tidak lekas keluar kelas.

Saya hampir tidak mempedulikan guru kelas dan puluhan siswa lainnya yang sedang memperhatikan kami. Yang ada di dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya agar anak didik saya ini tidak pergi keluar kelas.

Dia kemudian menjatuhkan dirinya ke atas lantai kelas. Dia melanjutkan pemberontakannya sambil berselonjor, sementara saya masih memegangi kedua tangannya erat-erat. Kali ini kakinya menghantam kaki bangku yang ada di sekitarnya. Otomatis siswa-siswa yang lainnya terganggu karena mejanya ditendang-tendang anak didik saya ini. Reflek saya tahan kakinya dengan menggunakan kaki saya. Saya menyeret kakinya dengan cara meregangkan otot-otot selangkangannya sampai dia tidak bisa menggunakan kaki yang satunya lagi untuk menghantam meja. Dia menangis. Keras sekali. Saya baru mengetahui kalau anak sebesar dirinya bisa menangis dengan keras hanya karena keinginannya ditahan-tahan seperti ini.

Jidan, anak didik saya ini, tak henti memberontak.

“Mau keluar, Pak Mite, mau keluar!” teriaknya sambil menangis.

“Jidan,” bisik saya, “ini kan lagi belajar di dalam kelas. Masa mau keluar sih? Kan belum waktunya istirahat?”

Dia tetap meronta dengan sisa tenaganya. Sayang, sisa tenaga saya tidak sebanyak sisa tenaganya. Badan ini terasa panas lantaran gerah. Keringat tak henti-hentinya keluar lewat pori-pori kulit. Kepala pun sudah mulai terasa pening karena perut belum terisi sama sekali meski dengan segelas air sejak tadi pagi. Siapa yang menyangka kekuatan berontaknya sehebat ini?

“Jidan, Jidan boleh main keluar kalau sudah belajar di dalam kelas. Makanya belajar dulu. Yuk, sebentar saja kok!” rayu saya.

“Mau keluar!” pintanya tegas terus-terusan sambil menangis.

Bu Siti, Wali Kelas 6 yang Jidan menjadi muridnya ini, hanya bisa melihat kami tanpa bisa melakukan apa-apa. Saya bisa memakluminya. Bu Siti mungkin merasa bahwa dirinya tidak memiliki keterampilan tentang bagaimana cara menghadapi anak autistik yang sedang dalam keadaan tantrum hebat ini. Saya bisa menduganya seperti itu karena membaca raut wajahnya yang jika diverbalkan akan berbunyi, “Saya ingin sekali membantu, tapi bisa apa saya ini?

Saya bisa paham. Meski pun Bu Siti sudah berpengalaman dengan anak autistik lainnya sejak dua tahun yang lalu, tapi baru kali ini beliau mendapati anak autistik seperti Jidan. Anak autistik yang ketika tantrum mengganggu sekitarnya dengan kekuatan fisik.

Rifki, anak autistik lainnya yang juga berada di kelas enam ini, sudah dua tahun berada dalam pembelajaran Bu Siti sejak kelas empat. Selama itu, Rifki tidak pernah mengalami tantrum yang berarti kecuali hanya sekadar menangis keras-keras saja kalau moodnya sedang buruk. Jika sudah begitu biasanya Bu Siti langsung mendekati Rifki dan mencoba untuk menenangkannya. Beliau melakukan persuasi seperti apa yang dilakukan oleh Pak Nawi, guru pembimbing khusus Rifki. Adapun jika Rifki tiba-tiba pergi ke depan kelas dan menuliskan sesuatu yang sering dibeokannya pada papan tulis, Bu Siti langsung menyuruhnya untuk duduk kembali di bangkunya. Dan Rifki selalu menurut setelah sebelumnya membeokan perintah Bu Siti kepadanya. Tapi kasus Jidan ini lain sekaligus baru bagi Bu Siti. Begitu pun buat saya.

Lama sekali saya merayu Jidan supaya tidak keluar kelas sebelum pelajaran selesai. Tapi hal itu sungguh mengganggu kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung di dalam kelas ini. Saya benar-benar kewalahan. Pak Nawi yang sudah berpengalaman pun sudah tidak mampu lagi membujuk Jidan untuk tetap berada di dalam kelas.

“Sudah, Pak Mite, bawa keluar saja dulu,” sarannya.

Saya yang semakin merasa tidak enak karena telah menahan Jidan sampai membuatnya tantrum hebat seperti ini di dalam kelas, akhirnya melepaskan kekangan. Tangisan Jidan mereda sedikit demi sedikit sambil meracau tak nyambung. Jidan lantas menghalau tangan saya. Dia segera bangkit. Tanpa membersihkan celananya terlebih dahulu dia langsung berlari menuju luar kelas. Saya menghela nafas sambil melihat melepasnya.

Sebelum mengejarnya, saya meminta maaf kepada Bu Siti atas kegaduhan yang terjadi karena telah membuyarkan konsentrasinya selagi mengajar. Setelah itu saya segera menyusul Jidan yang sudah terlebih dulu meninggalkan ruangan kelas menuju tempat jajanan. Sambil melihat punggungnya dari belakang, saya bergumam: seperti inikah anak autistik itu? []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s