#2

[#2] LAPANGAN

(Kesempatan itu datang tidak hanya satu kali. Sebab Tuhan memberi ganti pada kali lain. Isi bisa beda. Tapi pengalaman tetaplah sebuah perjalanan yang harus kita maknai)

Saya mendapat tawaran menjadi guru pembimbing khusus anak autistik di sekolah inklusi ini dari Ana, salah seorang rekan kuliah. Waktu itu kami sedang berada di kantor jurusan untuk keperluan mengurus skripsi yang tinggal finishing saja. Kami saling bertanya tentang bagaimana rencana ke depan nanti setelah diwisuda. Kebetulan Ana adalah orang Bandung asli. Jadi, saat saya tanya tentang rencananya ke depan, dia mengatakan masih akan tetap tinggal di Bandung. Dia memantapkan jawabannya dengan tekad untuk mengikuti tes calon pegawai negeri sipil.

Ana lantas balik bertanya tentang rencana saya ke depan, sambil menawarkan posisi guru pembimbing khusus untuk anak autistik yang baru akan masuk ke sekolah umum di dekat kampus, jika saya mau. Mengingat saya bukan orang Bandung, dia menyangka bahwa saya akan pulang ke kampung halaman di Cianjur dan mengabdi di sana. Tapi saya memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan sangkaannya. Saya memberitahunya tentang rencana saya untuk terbang ke ujung barat Indonesia. Ya, saya berniat untuk merantau dan mengabdi di Sabang. Tapi itu akan saya lakukan mulai tahun depan. Untuk mengisi kekosongan saya akan mencoba untuk tinggal di Bandung dulu sambil bekerja yang sistemnya kontrakan. Maka tawaran darinya pun masuk pertimbangan.

***

Niat untuk pergi ke Sabang sebenarnya tidak terlintas begitu saja di kepala. Sejak tahun pertama kuliah saya sudah berteman dengan salah seorang mahasiswa kelas karyawan sejurusan. Namanya Hakim. Kami mulai tinggal satu kontrakan pada tahun ketiganya. Dan di tahun ketiga itulah dia mulai bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupan masyarakat Aceh saat masih berstatus darurat militer; tentang pengalaman hidupnya di tengah desingan peluru yang dimuntahkan dari M-16 dan AK-47 milik TNI dan orang-orang GAM; tentang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh di penghujung tahun 2004; tentang kenyataan ladang-ladang ganja yang luas di sana; dan tentang banyak hal lainnya. Termasuk cerita tentang latar belakang kenapa dia kuliah di jurusan yang sama dengan saya. Dari semua cerita yang dikisahkannya itu, saya tertarik oleh cerita tentang latar belakang dirinya sampai kuliah di sini tersebut.

Dia datang ke Bandung disekolahkan oleh Pemda Sabang untuk mendalami dunia pendidikan luar biasa. Dia bercerita tentang keadaan anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di sana. Bahwa sebagian dari mereka yang sudah masanya menginjak sekolah lanjutan tingkat pertama, tidak bisa bersekolah. Hal tersebut terjadi karena belum adanya SMPLB di Sabang yang bisa menampung mereka untuk belajar. Sekolah untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka di Sabang hanya baru tingkat dasarnya saja. Itu pun dengan tenaga pengajar lulusan dari SGPLB. Malah sebagian yang lainnya adalah guru umum atau guru biasa yang sama sekali tidak memiliki keterampilan dalam memberikan pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pemerintah Sabang merasa bahwa hal tersebut tidak bisa dibiarkan. Maka, mereka mengirimkan salah satu putra daerahnya untuk menimba ilmu PLB di Bandung, yakni rekan saya ini.

Sebelum pergi dikuliahkan ke Bandung, dia sempat menjadi tenaga pengajar sekolah luar biasa di kampungnya tersebut. Dia mengajari anak-anak tunagrahita dan tunarungu. Semula dia tidak begitu mengerti tentang pendidikan. Sehari-harinya dia hanya menjadi nelayan lepas yang siap sewa. Mereka yang sedang berwisata ke Pulau Weh, bahkan sampai oknum tentara marinirlah yang sering menyewa dia untuk mendapatkan ikan di laut. Tapi sejak ayahnya meminta agar dia bisa mengajar di SLB yang dikepalai oleh sejawatnya, mau tidak mau dia terseret untuk memahami pendidikan. Bukan kepalang, dia langsung dihadapkan pada objek pendidikan yang sangat membutuhkan pembelajaran dan layanan pendidikan kebutuhan khusus: anak-anak penyandang disabilitas! Ia yang sudah kadung terjun ke dalam dunia pendidikan, saat itu disambut oleh gayung beasiswa yang turun dari pemerintah daerah. Bersekolahlah kemudian dia satu kampus bersama saya di jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Sebagai satu-satunya putra daerah yang disekolahkan, dia kemudian mendapat mandat dari pihak Pemda untuk mengajak tenaga PLB lainnya dari Bandung yang bersedia untuk mengabdi di sana. Sabang benar-benar kekurangan tenaga sarjana lulusan PLB. Maka, sejak saat dia mengutarakan semuanya itu, saya ditawari untuk ikut mengabdi di sana. Tak tanggung-tanggung, dia langsung menawari saya untuk menjadi kepala sekolah. Dia memetakan bahwa nanti saya akan diamanahi untuk mengurus SMPLB dan ia memimpin SDLB. Hal tersebut, menurutnya, sudah dibicarakan oleh ayahnya di sana dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang.

Bagi saya, itu adalah kesempatan besar. Ya, kesempatan besar untuk saya benar-benar menjadi praktisi pendidikan senyata-nyatanya. Karena itulah saya benar-benar haus pengalaman di lapangan yang justru minim saya dapatkan saat masih duduk di bangku kuliah. Maka, ketika Ana menawarkan kepada saya seorang anak autistik yang membutuhkan bimbingan karena masuk di sekolah umum dekat kampus itu, saya menerimanya. Selain untuk mengisi waktu selama rekan saya dari Aceh itu menamatkan kuliahnya, itu juga saya lakukan untuk menambah pengalaman tentang bagaimana cara menghadapi anak berkebutuhan khusus di lapangan. Sebagai persiapan pula ketika di tahun depan nanti saya mengajar di Sabang. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s