#3

[#3] KESENJANGAN TEORI

(Sesuatu yang kita tanggungjawabi, maka pelajarilah ia dari akarnya sehingga kita benar-benar bisa mempertanggungjawabkannya dengan tidak main-main. Dan semua berawal dari kita mesti memikirkannya dengan serius agar mendalam dan cemerlang)

Sepulang sekolah, saya mulai menghempaskan tubuh di atas kasur di rumah kontrakan. Rasa capai dan lelah yang hinggap pada tubuh ini begitu kentara. Jalanan pulang dari sekolah sampai kontrakan ini begitu menanjak. Apalagi panas matahari sangat menerik di musim kemarau ini. Muka dan tangan sampai menggelenyar mendapatkan sengatannya. Ditambah lagi dengan keadaan di sekolah dengan anak didik saya. Mengingatnya, saya mulai memikirkan sesuatu.

Tidak heran kalau saya baru mengetahui bahwa anak autistik itu pada kenyataannya seperti kejadian tadi di sekolah. Sebab, selama kuliah saya tidak pernah terjun ke lapangan meski untuk sekadar melakukan tugas kuliah dengan mengobservasi anak autistik. Pertama, karena di perkuliahan saya masuk spesialisasi pendidikan anak tunarungu. Kedua, karena memang tidak ada spesialisasi pendidikan anak autistik. Sepanjang ada tugas perkuliahan yang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan selain anak tunarungu adalah dengan anak learning disability, down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, dan tunanetra saja. Bisa dikatakan bahwa saya mengenal anak autistik itu adalah sekarang ini, di lapangan, ketika saya sudah lulus kuliah dan mencari pengalaman nyata.

Dulu waktu kuliah memang pernah ada materi anak autistik. Tapi itu pun hanya secuil saja. Bahkan, pengetahuan seputar anak autistik yang tersangkut di otak saya sekarang ini tidak ada sama sekali kecuali sedikit saja tentang ciri-ciri umumnya. Bahwa anak autistik itu senang pada dunianya sendiri, sedikit perhatiannya, tidak bisa melakukan komunikasi secara resiprokal, dan tidak bisa melakukan kontak mata. Ah, barangkali waktu kuliah dulu saya memang selalu mengincar tempat duduk yang paling belakang sehingga ilmu-ilmu yang dosen lemparkan tidak mampu saya tangkap.

Memang benar bahwa ciri-ciri tersebut sedikitnya ada pada Jidan. Tapi ini tentu berbeda dengan apa yang banyak tercantum di dalam buku-buku perkuliahan. Saya melihat dan merasakan adanya kesenjangan antara teori yang ada di dalam buku dengan kenyataan di lapangan, biar pun hanya sedikit. Kenyataan bahwa terkadang Jidan bisa melakukan komunikasi secara resiprokal, sudah diametral dengan ciri-ciri anak autistik yang selama ini saya dengar dan seolah-olah menjadi standar baku. Atau Jidan itu sendiri bukan termasuk anak autistik? Lalu, kalau begitu Jidan itu termasuk anak berkebutuhan khusus kategori apa? Kalau bukan autisme, apa Jidan terkategori PDD-NOS belaka? Hm, mungkin iya. Saya lebih menyetujuinya. Tapi menurut orangtuanya, dan tentu saja mereka menurut ahli yang melakukan diagnosis, Jidan dikatakan sebagai anak dengan autisme.

***

Sudah sejak saat masih kuliah saya sering mendengar bahwa teori yang didapatkan di bangku kuliah itu senjang dengan kenyataan di lapangan. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa ilmu yang sebenarnya itu akan kita dapatkan ketika terjun di lapangan. Lalu kuliah menjadi semacam rutinitas yang tak cukup berharga di satu sisi. Sedang di sisi lainnya kita menjadi terlatih dalam menyusun karya ilmiah semacam makalah. Bagaimana dan seperti apa itu membuat karya ilmiah dengan segala referensinya, kita menjadi tahu. Karena di kalangan manusia-manusia yang terdidik, manusia-manusia yang ikut andil dalam proses pembangunan sebuah peradaban, hal tersebut menjadi sebuah keniscayaan. Ketika kita memiliki sebuah konsep yang melengkapi bangunan sebuah peradaban, maka konsep itu akan lebih baik jika dibuat secara akademis atau ilmiah.

Tapi sayang, dalam pendidikan terdapat kesalahan besar yang secara implisit berdampak pada proses pendidikan yang dijalankan. Entah itu dalam tataran teoritis atau pun praksis, semuanya tersimbah. Kesalahan besar tersebut ada pada bagaimana ilmu-ilmu yang kemudian digeneralisir menjadi sesuatu yang ilmiah itu dilahirkan. Serangkaian ilmu-ilmu pendidikan lahir dari metode berpikir yang tidak tepat dalam melahirkan sesuatu yang ilmiah.

Kerancuan pandangan tentang ide-ide yang dihasilkan melalui metode rasional dan teori-teori ilmiah yang dihasilkan oleh metode ilmiah terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik awam mau pun terpelajar. Berdasarkan asumsi dan anggapan yang rancu ini banyak orang menganggap psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu. Dan ide-ide yang dihasilkannya mereka anggap sebagai pemikiran ilmiah. Sebab menurut mereka, ilmu-ilmu itu dibangun berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap anak dalam kondisi dan umur yang berbeda, atau dilakukan terhadap berbagai kelompok masyarakat dalam situasi dan kondisi yang saling berbeda. Pengamatan yang dilakukan secara berulang kali itulah yang mereka namakan sebagai “eksperimen ilmiah”.

Seperti yang pernah saya dengar tentang seksualitas anak autistik yang katanya lebih cepat muncul dibanding anak normal lainnya. Jika hal tersebut dikatakan sebagai pemikiran ilmiah karena didapatkan atau dihasilkan dari sebuah penelitian dengan metode ilmiahnya terhadap beberapa anak autistik, maka patut dipertanyakan. Bagaimana mungkin penelitian yang menggunakan metode ilmiah itu bisa diterapkan pada manusia yang justru berbeda dengan materi-materi yang bisa diindra lainnya yang tunduk pada eksperimen? Manusia terlalu banyak variabelnya jika harus tunduk pada suatu eksperimen atau percobaan. Perkara pengamatan yang dilakukan berulang-ulang dalam penelitian itu pun, menurut saya, tidak lebih dari sekadar pengamatan belaka, dan tidak layak disebut sebagai suatu tahapan dalam metode ilmiah dalam suatu penelitian. Itu karena yang namanya metode ilmiah adalah suatu cara pengkajian terhadap objek-objek material yang dapat diindra untuk diketahui realitas atau sifatnya melalui jalan percobaan. Setelah itu diamati dan dikomparasikan antara keadaannya yang alami dengan keadaannya yang sudah diberi perlakuan buatan, untuk kemudian ditarik kesimpulannya di akhir pengamatan. Sementara perkara seksualitas anak autistik? Ia terlalu abstrak dan tidak layak dikategorikan sebagai fakta atau objek yang mempunyai wujud fisik seperti benda atau objek-objek material lainnya sehingga bisa dilaboratoriumkan. Karena pada umumnya, dan ini menjadi suatu etape yang harus dilakukan, metode ilmiah itu melakukan percobaan atas benda atau objek-objek material yang sedang diteliti dengan memberi perlakuan buatan untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas atau sifatnya. Sebelum memulai penelitian dengan menggunakan metode ilmiah pun kita diharuskan untuk mengabaikan terlebih dahulu segala opini atau pendapat tentang objek material yang hendak diteliti. Setelah itu baru bisa dilakukan percobaan atas objek material tersebut dengan memberi perlakuan buatan untuk kemudian diamati. Pengamatan tersebut diikuti dengan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya dirumuskan kesimpulan berdasarkan premis-premis ilmiah yang didapat.

Kesimpulan dari suatu eksperimen tersebut merupakan suatu kesimpulan ilmiah yang secara alamiah tunduk pada penelitian dan penelaahan. Kesimpulan tersebut akan tetap merupakan kesimpulan yang ilmiah selama tidak ada penelitian lain yang membuktikan kekeliruannya dalam salah satu aspeknya. Karena meski pun suatu kesimpulan yang dihasilkan seorang peneliti berdasarkan metode ilmiah disebut sebagai fakta-fakta ilmiah atau hukum-hukum ilmiah, ia merupakan kesimpulan yang tidak definitif melainkan kesimpulan spekulatif yang mengandung kemungkinan salah. Peluang adanya kesalahan di dalam metode ilmiah inilah salah satu prinsip fundamental yang mesti diperhatikan sebagaimana telah ditetapkan dalam penelitian ilmiah.

Jika sedemikian operasionalnya sebuah penelitian dengan metode ilmiah, ya tidak ada yang salah dengan metode ilmiah. Hanya saja, saya melihat ketidakcocokan metode ilmiah ini diterapkan pada selain ilmu-ilmu eksperimental. Karenanya, kini metode ilmiah telah menjelma menjadi asas berpikir. Ini yang saya tidak setujui.

Tapi saya bisa mengerti tanpa harus mengakuinya bahwa itu dibenarkan. Sejak terjadinya revolusi industri, Barat mengalami kemajuan dalam bidang ilmu-ilmu eksperimental. Hegemoninya yang sudah meluas sejak abad ke-19, membuat metode ilmiah ini dipropagandakan sebagai asas dalam berpikir, sehingga kaum Komunis di Rusia pun mengadopsinya dan menerapkannya bukan hanya dalam ilmu-ilmu eksperimental saja melainkan pada ilmu-ilmu noneksperimental. Akhirnya metode ilmiah meruyak meliputi seluruh dunia akibat pengaruh dan hegemoni Barat dan Uni Soviet, dan mendominasi umat manusia. Eksesnya adalah terjadinya pensakralan terhadap pemikiran-pemikiran ilmiah sebagai hasil dari penggunaan metode ilmiah. Karena bagaimana pun juga mereka telah menjadikan metode ilmiah sebagai asas berpikir. Padahal metode ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai asas dalam berpikir karena tidak mengakui adanya perkara-perkara yang sifatnya metafisik.

Begitu sembarangannya kaum Komunis yang menerapkan metode ilmiah pada kajian kemasyarakatan dan pemikiran, para pemikir Barat pun melakukannya dan mensakralkan metode ilmiah tersebut dengan hegemoninya atas dunia. Mereka akhirnya mengkaji perilaku dan keadaan manusia dengan menggunakan metode ilmiah, karena bagi mereka metode ilmiahlah asas dalam berpikir. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu seperti psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan. Dan dalam keterkaitan pengalaman saya dengan anak autistik di lapangan ini, saya melihat korelasi tentang setumpuk kesalahan yang terdapat dalam dasar psikologi.

Para ahli psikologi memandang bahwa pada manusia itu terdapat banyak sekali naluri. Mereka mengatakan bahwa semisal naluri takut, naluri seksual, dan naluri-naluri lainnya adalah sesuatu yang integral dalam diri manusia. Itu mereka simpulkan setelah mengamati manusia pada usia dan keadaan yang berbeda-beda. Mereka menyamakan manusia dengan objek-objek material yang bisa dilaboratoriumkan. Padahal kesimpulan mereka tentang naluri-naluri itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk manifestasi dari naluri yang sesungguhnya. Jika saja para pemikir Barat tidak menjadikan metode ilmiah sebagai asas dalam berpikirnya, maka kesimpulan bidang kajian tentang manusia yang tidak layak digunakan metode ilmiah atasnya ini tidak akan terjadi.

Dengan menggunakan metode rasional sebagai asas dalam berpikir, barulah kita bisa mengkaji tentang naluri-naluri manusia itu. Meski pun kesimpulannya adalah sesuatu yang spekulatif, ini tentu tidak masalah, karena yang hendak kita peroleh adalah realitas atau sifatnya. Dalam hal ini saya melihat jenis-jenis naluri yang selama ini dituturkan oleh para ahli psikologi justru hanya berupa bentuk-bentuk manifestasi dari naluri-naluri yang sesungguhnya. Naluri takut, misalnya. Saya pikir itu tidak lebih dari sebuah bentuk manifestasi dari naluri mempertahankan diri. Karena setiap orang tidak akan mungkin sama menampakkan sikap ketakutan pada objek yang sama. Selain itu, dalam menghadapi objek yang sama juga, dari naluri mempertahankan diri, orang lain mungkin akan menampakkan sikap melawan daripada memunculkan rasa takut. Jadi, perkara ketakutan itu bagi saya bukanlah sebagai sebuah naluri melainkan hanya sebentuk manifestasi dari banyak manifestasi yang bisa dimunculkan dari naluri mempertahankan diri ketika berhadapan dengan objek yang tidak disenangi.

Begitu pun naluri seksual, bagi saya itu tidak lebih dari sekadar salah satu bentuk manifestasi dari naluri melestarikan jenis. Karena kadang-kadang hasrat seksual bisa dilakukan oleh manusia terhadap binatang, dan itu adalah penyimpangan. Terlebih lagi hasrat seksual bisa diredam dengan mengalihkannya pada hal-hal yang lain. Saya kadang merasakan hasrat seksual yang menggebu ketika melihat perempuan yang berpakaian seksi, tapi seketika itu juga hasrat tersebut hilang ketika saya alihkan pada hal-hal yang lain. Jadi, hasrat seksual itu tidak layak disebut sebagai naluri, tapi hanya salah satu bentuk manifestasi dari naluri melestarikan jenis saja. Sebab, apa yang dikatakan oleh para ahli psikologi tentang naluri takut dan naluri seksual itu bukanlah sesuatu yang integral dalam diri manusia. Kedua perkara itu justru bisa diredam atau bahkan dihapus. Yang justru tidak bisa diredam atau dihapus adalah keadaan mempertahankan diri dan rasa ingin melestarikan jenis itu sendiri. Karena kedua perkara itu adalah sesuatu yang integral dalam diri setiap manusia, dan itulah naluri yang sebenarnya.

Dalam hal seksualitas anak autistik yang katanya lebih cepat muncul ketimbang anak-anak normal lainnya pun saya bahkan tidak pernah setuju. Karena menurut pandangan saya, perkara seksualitas itu adalah suatu bentuk manifestasi dari naluri melestarikan jenis manusia. Manifestasi itu muncul karena ada stimulus dari luar, bukan dari dalam. Jika saja anak autistik dijauhkan dari hal-hal yang sifatnya porno dan tidak senonoh sampai usia dewasa, saya yakin seksualitasnya akan muncul di usia dewasa tersebut. Bukankah itu artinya seksualitas anak autistik bisa diatur kemunculannya? Atau kita balikkan saja. Akrabkanlah seorang anak normal sedari kecil dengan hal-hal yang berbau pornografi dan atau pornoaksi. Maka saya yakin seksualitasnya akan lebih cepat muncul ketimbang mereka yang sedari kecil dijauhkan dari hal-hal yang sama.

Saya benar-benar berdiri di atas pandangan ini, bahwa dalam psikologi terdapat banyak sekali hal-hal yang tidak dapat diterima begitu saja. Apalagi saya sedang membimbing seorang anak autistik, di mana saya akrab dengan disiplin ilmu psikologi dalam mengusahakan pertumbuhan dan perkembangannya ke arah yang lebih baik. Karenanya saya merasa punya tugas yang sangat besar sekali dalam hal ini. Sedikit-sedikit saya tidak setuju atas sebagian saran-saran dari disiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan masalah penanganan anak untuk kemudian menciptakan metode penanganan sendiri berdasarkan pandangan ini.

Saya tahu ini rumit sekali karena ujung ulir permasalahannya menuju pada masalah sistem pendidikan yang harus diperbaiki juga. Sementara saya tahu diri bahwa saya ini bukanlah siapa-siapa, dan tak lebih dari seorang lulusan PLB belaka yang tidak mempunyai kekuatan politis untuk mengubah itu semuanya dalam sekejap mata. Tapi sungguh, sebagai lulusan PLB ala kadarnya ini, dengan ditunjukinya saya sekarang bahwa pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dari anak-anak berkebutuhan khusus adalah tanggung jawab saya, maka saya bertekad untuk tidak menyerah dan berusaha agar kelak suatu saat nanti saya mempunyai kekuatan politis untuk melancarkan semuanya. Saya amini itu sendiri seandainya tidak ada seorang pun yang mendukung dan ikut mengusahakannya. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s