#4

[#4] PERTANYAAN YANG SAMA

(Sesuatu yang berharga, kadang berawal dari perkara yang tidak pernah kita kira akan begitu menyebalkan. Bersabar menjadi sikap yang perlu kita terapkan tanpa henti)

Lokasi sekolah tepat berada di sisi barat kampus, sedang rumah kontrakan saya di sisi selatannya. Karena itu, memasuki area kampus adalah jalan yang mesti saya tempuh. Dan jalanan kampus yang sering saya lewati semasa kuliah ini begitu menyegarkan. Tetumbuhan yang berada di sepanjang sisi-sisinya memberikan kesegaran itu. Di atas sana, langit pun tampak cerah. Warna birunya berkombinasi dengan polesan putih awan yang rupanya seperti asap dalam gerak yang lambat. Apa yang saya lihat serupa kanvas yang disepuhi warna-warna muda. Membuat semuanya begitu sedap dipandang. Hampir setiap hari mata ini dimanjakan keindahan di jalanan ini.

Untuk bisa keluar dari area kampus, saya harus melewati tanah gersang di samping stadion bola milik kampus. Di sinilah saya menjadi satu dari ratusan orang yang lalu-lalang melewati area ini. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa. Sisanya adalah para pegawai kampus dan siswa-siswi SMP yang sedang menuju tujuan yang sama dengan saya karena sekolahnya bertetanggaan dengan sekolah tempat saya bekerja.

Saya mengambil handphone dari saku celana. Jam digital yang terpasang di layarnya menunjukkan angka nol tujuh titik dua tiga belas. Sudah lewat dari ambang batas waktu untuk masuk kelas tiga belas menit sebelumnya. Tujuh menit kemudian, digitalisasi angka 07:13 berubah menjadi 07:20, tepat ketika saya melewati gerbang sekolah.

Selewat 20 menit dari jam masuk kelas seperti ini, gerbang sekolah masih terbuka. Tapi memang gerbang ini selalu terbuka. Sudah rusak. Dan tampaknya tidak ada perbaikan dari pihak sekolah. Padahal, jika saja pihak sekolah sigap untuk memperbaiki gerbangnya, itu akan sangat membantu proses pembelajaran yang ideal di sini. Tapi kenyataannya lain. Gerbang rusak yang tidak bisa melindungi area sekolah sampai bisa dimasuki siapa saja ini, dibiarkan. Tidak ada anggaran untuk itu, barangkali. Ini membuat nafas saya keluar seiring dengan kempisan dada pertanda miris. Tak aneh. Beginilah pendidikan di negeri yang sangat tidak lucu ini.

Saya kemudian membuka pintu kelas. Di dalam sana terlihat Bu Siti sedang memberikan materi. Beliau langsung melirik ke arah pintu di mana saya muncul. Saya menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyuman kepadanya sebagai tanda sapa di pagi hari. Saya lantas melihat tempat duduk Jidan di bagian belakang.

Masih kosong.

“Belum datang, Pak Mite,” jelas Bu Siti dengan ramahnya.

“Iya,” respon saya. “Saya tunggu di luar saja.”

Di dalam kelas itu, Pak Nawi memegang dua anak berkebutuhan khusus. Rifki, yang autisme, dan Zilan yang terkategori down syndrome. Sebenarnya, selama menunggu kedatangan Jidan, saya bisa saja membantu Pak Nawi dengan mengambil alih Zilan di bawah pembelajaran saya. Tapi saya takut Jidan tidak terkontrol lagi saat diturunkan ayahnya dari sepeda motor saat tiba di sekolah. Seperti lima hari ke belakang, begitu Jidan turun dari motor ayahnya, dia lebih memilih pergi ke lapik Mang Udin si penjual mainan, ketimbang masuk halaman sekolah. Ayahnya memang selalu menurunkan Jidan di luar halaman sekolah. Saya yang menunggu di halaman dalam sekolah, buru-buru mengejar untuk membujuk Jidan agar lekas masuk kelas. Jidan terlalu menyenangi mainan. Maka tidak aneh, tempat penjual mainan menjadi landasan utamanya mendarat saat tiba di sekolah. Namun bagusnya, dia tidak pernah membeli mainan yang dilihat-lihatnya tersebut. Cukup sebatas diperhatikannya saja.

Kali ini saya menunggu Jidan di dekat gerbang sekolah, tempat di mana para guru selalu menepikan sepeda motor mereka. Dari tempat ini saya bisa melihat orang-orang yang datang ke sekolah, termasuk Jidan yang diantar ayahnya dengan sepeda motor. Tak berselang lama, mereka akhirnya muncul. Saya langsung menuju luar halaman sekolah menjemput Jidan.

Seperti biasa, sejenak Jidan terdiam dengan tatapan nanar dengan kedua tangan masih melingkar pada perut ayahnya. Lantas ayahnya mengingatkan agar Jidan segera turun. Maka, turunlah Jidan dengan perhatian langsung tertuju pada lapik mainan milik Mang Udin, dan saya segera merangkul untuk mengalihkannya agar masuk kelas karena memang sudah kesiangan.

Ayahnya langsung pamitan segera setelah menyerahkan Jidan kepada saya dengan senyuman khasnya yang membuat kumis tebalnya terangkat sedikit, karena ia harus lekas mengajar di sekolah tempatnya bekerja sebagai seorang guru olahraga.

“Ayah mau ke mana?” tanya Jidan dengan nada ketakutan. Dia sering menanyakan hal itu setiap kali ditinggal ayahnya sesaat setelah tiba diantar ke sekolah.

“Ke sekolah. Nanti siang ayah jemput lagi,” jawab ayahnya.

“Ayah kan harus mengajar di SMP,” timpal saya menguatkan seraya mengarahkannya memasuki halaman sekolah. “Sekarang kan waktunya Jidan belajar di kelas. Ayo!”

“Mau lihat-lihat mainan dulu.”

Sekonyong-konyong Jidan berpaling. Tanpa tedeng aling-aling dia memutar badannya ke arah Mang Udin. Saya bergegas melakukan persuasi. “Nanti. Lihat-lihat mainannya nanti saja waktu istirahat. Sekarang kan waktunya belajar di kelas. Katanya Jidan mau jadi anak pintar? Ya?”

“Yuk!” saya menarik tangannya. Tapi rupanya dia merasa terganggu. Keinginan terdalamnya tergugat. Dia mengerang berteriak. Hampir-hampir dia melakukan serangan fisik dengan memasang wajah tak senang diganggu. Saya kembali merayunya sambil mendekap tubuhnya yang besar. Oh, beginikah anak autistik itu?

Lagi-lagi, rayuan saya tidak mempan. Saya menyerah dan membiarkannya barang sebentar menjamahi beberapa mainan yang dipajang Mang Udin. Saya mengawasinya penuh sambil sesekali merayunya agar masuk kelas.

“Nanti ya lihat-lihatnya lagi,” rayu saya lagi sambil membereskan rapian beberapa mainan yang Jidan acak. “Sekarang masuk kelas dulu. Nanti kalau sudah waktunya istirahat, Jidan boleh lihat-lihat lagi sepuasnya ke sini.”

Mang Udin sudah tersenyum kecut saja melihat kami berlaku seperti itu. Mungkin karena dia baru mendapati seorang anak seperti Jidan yang tak segan-segan melawan saat ditentang. Sementara saya terus-terusan meminta Jidan untuk masuk kelas sampai dia merasa direcoki suruhan dan akhirnya menurut.

Akhirnya kami pun bergegas menuju kelas, sedang waktu sudah menunjukkan pukul 07:38.

***

Begitu masuk kelas, saya mengarahkan Jidan agar memberi salam terlebih dulu kepada Bu Siti. Dia menuruti. Tanpa mengucapkan kata salam, Jidan menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman. Tergeli-geli saya melihatnya. Saya meminta Jidan untuk mengucapkan salam, tapi dia diam saja dengan arah mata sembarang. Bu Siti pun tersenyum menerima salam tak terucap dan menjabat tangan kakunya.

Kami lantas menduduki bangku di bagian paling belakang. Saya mulai meminta Jidan untuk melepaskan tas yang digendongnya dan mengeluarkan buku pelajaran. Tapi dia malah duduk dengan memutarkan badannya ke arah samping setelah melepas tasnya. Sesekali dia tertawa tanpa alasan. Padahal di sekelilingnya benar-benar tidak ada yang menampakkan sebuah kelucuan yang bisa membuat orang tertawa. Siswa-siswa yang lain sedang khusyuk mengikuti pelajaran yang disampaikan Bu Siti di depan kelas.

Saya penasaran.

“Jidan kenapa? Kok tertawa sendirian sih?”

“Pak Mite, si Fizi itu gimana nangisnya?”

Ya ampun, dia masih mengajukan pertanyaan yang sama sejak pertama kali kami bertemu. Pertanyaan retoris, tepatnya. Sebab pertanyaan itu selalu dia jawab sendiri. Dengan mimik wajah yang kurang ekspresif, “Hua, hua, huaaaaaaaa!”, begitu Jidan menirukan suara tangisan Fizi dalam serial Upin & Ipin yang digemarinya. Setelah itu dia akan bertanya lagi, “Itu si Fizi nangis kenapa?” Dengan matanya yang menghindari kontakan, dia mendekatkan wajahnya ke wajah saya. Sedekat itu, dia menantikan jawaban dari saya atas pertanyaannya tersebut. Karena saya tidak suka menonton serial animasi dari Negeri Jiran yang digemarinya itu, saya selalu bilang tidak tahu. Tapi sungguh seru, karena pertanyaan itu pun dia jawab dengan sendirinya. “Itu teh si Fizi tidak kuat puasa, terus lari ke rumahnya. Minum air.”

Intonasi bicaranya membuat saya tergeli-geli.

Begitulah. Kali ini pun saya menduga akan sama dengan hari-hari sebelumnya. Dia akan bertanya dengan pertanyaan yang persis sama dengan waktu itu.

“Pak Mite, si Fizi itu gimana nangisnya?” Kemudian dia akan menjawabnya sendiri, “Hua, hua, huaaaaaaaaa!” Setelah itu pertanyaannya berlanjut, “Itu si Fizi nangis kenapa?” Dan diakhiri dengan jawaban sendiri karena saya tidak mengacuhkannya, “Itu teh si Fizi tidak kuat puasa, terus lari ke rumahnya. Minum air.”

Karena keseringan saya dilontari pertanyaan-pertanyaan itu saat mengarahkan Jidan agar mau belajar dan merasa dia akan menurut jika semua pertanyaannya dijawab, maka saya mencoba untuk menanggapinya.

“Pak Mite, si Fizi itu gimana nangisnya?” Dia mengulang menanyakan itu karena dari tadi saya hanya memandanginya dengan tergeli-geli.

Emang gimana nangisnya?”

Hua, hua, huaaaaaaaa!”

Mendengarnya, rasa dongkol terpercik di dalam hati. Bagaimana tidak, ajakan saya untuk belajar malah direspon tidak nyambung seperti itu. Tapi saya harus bersabar menghadapinya.

Kemudian dia melanjutkan, “Itu si Fizi nangis kenapa?”

“Waktu puasa,” timpal saya, “si Fizi itu tidak kuat puasanya.”

Kali ini diajukannya pertanyaan baru: “Kenapa tidak kuat puasanya?”

Saya terbelalak mendengarnya karena tidak menyangka dia bakal mengeksplorasi komunikasi kami seperti itu. Tapi bagaimana pun juga, saya harus bisa mengambil hatinya dengan menanggapinya. “Ya si Fizi kan masih kecil, masih anak-anak. Jadi masih belum kuat kalau puasa.”

“Si Fizi teh masih kecil? Masih anak-anak?” tanyanya lanjut. “Berapa tahun?”

Deg!

Saya tidak tahu-menahu tentang serial Upin & Ipin. Jadi, bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan lanjutannya itu? Saya hanya bisa mengira-ngira karena saya pernah menonton serial animasi tiga dimensi yang sedang booming itu sesekali saja.

“Enam tahun,” jawab saya. Dengan berharap dia akan berhenti bertanya, saya menambah jawaban, “Upin dan Ipin juga masih kecil, masih anak-anak. Sama umurnya enam tahun. Si Mei Mei, Ehsan, Jarjit, dan yang lainnya juga masih kecil, masih anak-anak. Nah, kalau anak-anak, boleh puasa, boleh tidak. Kalau puasa, terus tidak kuat, puasanya boleh setengah hari. Puasa kan dari subuh sampai maghrib, nah, kalau setengah hari berarti dari subuh sampai zuhur. Begitu.”

“Oh begitu? Kenapa puasanya setengah hari?”

Dengan polosnya dia bertanya seperti itu. Padahal sudah saya jelaskan. Tapi tak heran juga, karena mungkin memang begitulah anak autistik seperti Jidan ini: mempertanyakan hal yang sudah dijelaskan karena kemampuan kognisinya tidak ditunjang daya akal yang sempurna.

“Nanti. Nanti kita bicarakan itu lagi. Sekarang Jidan belajar dulu ya? Nih, menyalin wacana dari LKS,” pinta saya.

Tanpa dinyana, Jidan mengangguk dengan suara yang nyaris tak terdengar. Itu membuat saya sedikit lega. Dan menulislah dia, menyalin rangkuman materi pelajaran IPA dari LKS. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s