#5

[#5] ASESMEN

(Mencermati sesuatu dengan sedetail-detailnya sering dirasa sebagai pekerjaan yang buang-buang waktu. Tapi tidak bagi mereka yang dalam pemahamannya, rasa tanggung jawab meruyak hingga mengendalikan sikapnya. Energi yang dikeluarkannya menjadi tidak sesia-sia aktivitas mereka yang menyinisi. Berbahagialah)

Sebenarnya saya bingung tentang pembelajaran seperti apa yang tepat untuk diberikan kepada Jidan. Saya masih melakukan observasi terhadapnya dengan melakukan asesmen. Saya menggunakan pendekatan asesmen informal dengan strategi dinamis. Ruang lingkupnya meliputi aspek perkembangannya dari mulai kognitif, sosial-emosi, dan motorik; dan basis kurikulum di mana kemampuan matematika dan bahasanya, mulai dari bicara, mendengarkan, membaca dan menulis, saya maknai. Ini semua saya lakukan karena pada dasarnya, cara pembelajaran yang dihasilkan dari sejumlah penelitian tentang metode belajar untuk anak autistik, itu sesungguhnya tidak bisa digeneralisir. Dan selama ini, sesederhana pikiran saya, dengan menyuruhnya menulis atau menyalin rangkuman materi dari buku pelajaran, saya sedang membiasakannya juga untuk tetap tinggal di dalam kelas sampai bel istirahat berbunyi, dalam kondisi belajar. Setelah selesai menulis, saya terangkan kepadanya materi pelajaran tersebut. Pembahasan yang disederhanakan selalu saya lakukan. Karena saya masih memiliki asumsi bahwa anak autistik seperti Jidan tidak bisa memahami materi pelajaran sebagaimana teman-temannya yang nonautistik tampakkan. Karena itulah saya selalu menyederhanakannya.

Kadang-kadang Jidan semangat menulis. Seperti di hari-hari pertama sekolah. Sampai ibunya pernah mengatakan kepada saya bahwa setelah dibimbing oleh saya Jidan jadi rajin menulis. Itu karena pada suatu hari, saat saya menyuruh Jidan untuk menyalin rangkuman materi pelajaran PKn dari buku pelajaran, dia menerimanya dengan semangat karena suasana hatinya sedang dalam keadaan baik dan menyenangkan. Sampai-sampai kedatangan ayahnya pada siang hari untuk menjemput tidak dihiraukannya. Biasanya, ayahnya memberitahu saya lewat SMS bahwa beliau sudah ada di depan sekolah untuk mengambil Jidan. Segera setelah mendapat kabar itu, saya langsung memberitahu Jidan bahwa ayahnya sudah datang menjemput. Dan dia selalu senang bukan kepalang karena tidak sabar untuk bisa segera main game di rumahnya. Tak berselang lama, kami pun keluar kelas setelah sebelumnya berpamitan pada Bu Siti karena pulang bukan pada jam akademik. Dengan begitu, ayahnya tidak harus menunggu berlama-lama di depan sekolah. Tapi saat itu lain. Jidan sedang semangat-semangatnya menulis. Dia tidak mempedulikan ayahnya yang sudah datang untuk menjemput di depan gerbang sekolah. Yang dia perhatikan adalah salinan materi yang sedang dikerjakannya. Terpaksa ayahnya harus menunggu cukup lama sampai Jidan menyelesaikan tugas menulisnya. Itu pun ditambah dengan kemauan Jidan yang berniat akan melanjutkan tugas menulisnya tersebut di rumah. Begitulah. Dengan suasana hatinya yang sedang baik dan menyenangkan, tampak rajinlah ia.

Menyuruhnya untuk menyalin rangkuman materi pelajaran, untuk kemudian menerangkannya dengan pembahasan yang disederhanakan, selalu saya lakukan dalam pembelajaran Jidan. Itu melingkupi hampir semua mata pelajaran. Jika kebetulan Bu Siti memberikan materi yang sekiranya bisa Jidan ikuti, saya selalu mencoba untuk mengikutsertakan Jidan dulu. Selebihnya, jika saya melihat materinya tidak bisa Jidan ikuti, saya berikan dia materi-materi yang saya sederhanakan. Seperti dalam pelajaran Matematika, Jidan kurang begitu terlihat menampakkan minat. Tapi bagaimana pun juga dia harus mencobanya. Maka, saya memberikan materi-materi dasar dulu sekalian melakukan asesmen terhadapnya. Hasilnya, saya melihat bahwa dalam pelajaran Matematika Jidan hanya baru bisa melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, dan perkalian sebatas dua angka. Sementara untuk pembagian, dia belum menguasainya. Setelah itu, jarang sekali Jidan belajar Matematika dari buku paket atau pun LKS yang berisi materi-materi tingkat kelas enam yang memang belum Jidan kuasai.

Hasil asesmen yang lain, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Jidan menampakkan kemampuannya yang cukup. Dia bisa membaca dengan lancar meski terkadang tidak memperhatikan tanda baca dan dengan artikulasi yang kurang jelas. Dia sudah bisa memahami konsep persamaan dan lawan kata. Dalam menulis, terkadang Jidan kesulitan jika harus didikte, terutama jika dia mendapati suatu kata yang memiliki akhiran konsonan n, m dan diftong.

Untuk IPA, karena materi semester satu ini seputar makhluk hidup dan ciri-ciri khasnya, Jidan cepat menyerapnya. Dalam IPS yang materinya seputar kenampakan alam dan kenampakan buatan, Jidan juga tidak begitu mengalami hambatan. Dia sudah lumayan mengetahuinya begitu saya terangkan. Pengetahuan umumnya lumayan juga, ternyata. Hampir-hampir saya tidak mempercayai bahwa di dalam kepalanya tersimpan beberapa pengetahuan umum yang mungkin tidak dimiliki teman-temannya yang lain di kelas ini. Saya sudah mengobservasinya dan ini cukup mencengangkan.

Kemudian, materi PKn yang isinya serupa sejarah perjuangan bangsa, saya mengalami kesulitan dalam menceritakannya. Selain karena isi materinya bersifat politis dan kurang operasional, itu juga dikarenakan konsentrasi Jidan yang kacau. Ketika saya menerangkan materinya dengan metode bercerita, fokus Jidan beralih-alih. Bunyi bel tanda batas pembelajaran di sebuah SMP yang lokasinya tepat berada di samping kelas kami pun kerap menyita perhatian Jidan. Bunyi apa itu Pak Mite? Dari mana? Kenapa suaranya seperti itu? adalah contoh pertanyaan yang sering ditanyakannya begitu mendengar bel sekolah tetangga itu.

Seperti itulah sehari-harinya saya dan Jidan di dalam kelas. Bahayanya, kalau suasana hatinya sedang jelek, dia suka meminta keluar kelas. Saya tidak bisa membiarkannya. Maka, bersiap-siap untuk bergulatlah saya dengannya. Mula-mula, saya menahan tangannya agar dia tidak pergi meninggalkan bangkunya. Jika dia meronta dengan mengerang dan berteriak geram, saya lepaskan dulu dan bergegas menghalangi jalan keluarnya. Di sanalah, jika saya tidak berhasil membujuknya untuk tetap tinggal di dalam kelas sampai jam istirahat tiba, kami bergulat saling menahan kekuatan masing-masing.

Di hari-hari pertama, saya merasa terpaku bahwa saya harus menahan Jidan di dalam kelas, bagaimana pun keadaannya, sampai jam istirahat tiba. Saya tidak memahami konsep sekolah yang katanya inklusi ini di sini. Semuanya masih buram untuk saya. Dan selama ini, terkait operasional guru pembimbing khusus, saya selalu bertanya kepada Pak Nawi yang sudah dua tahun menjadi guru pembimbing khusus di sekolah ini. Tapi itu pun masih tidak jelas.

Tahun lalu saya memang pernah menjadi guru pembimbing khusus di sekolah ini juga, sebelum saya keluar karena harus fokus menyusun skripsi. Kala itu saya membimbing Verly, seorang murid kelas dua yang dikategorikan sebagai anak slow learner. Berbeda dengan Jidan yang sekarang saya bimbing, Verly masih bisa mengikuti pelajaran di kelas. Dia tidak pernah meronta ingin keluar kelas di saat jam pelajaran sedang berlangsung. Kendalanya hanya pada kesulitan dia menulis karena rasa malas dan akibat sedikit brain damage, saya kira. Sedang Jidan sangat lain. Dia bertindak semaunya. Jika dia tidak mau belajar, ya dia tidak mau belajar dan harus saya tahan-tahan agar tidak keluar kelas. Padahal Jidan sudah duduk di kelas enam. Seharusnya dia sudah bisa mengerti keadaan. Ada harapan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan Jidan setelah lulus dari sekolah dasar ini. Tapi semuanya masih buram untuk saya ketika membimbing Jidan di sekolah yang katanya inklusi ini. Sangat susah sekali mengusahakan Jidan tetap tinggal di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran. Kalau pun bisa, itu masih belum sempurna karena beberapa materi pelajaran terlalu tinggi untuk dikuasai Jidan yang daya akalnya kurang sempurna. Saya kebingungan. Tapi untuk sementara ini saya selalu mengambil sikap antara menahannya di kelas atau membiarkannya keluar kelas jika sudah tidak bisa ditahan lagi.

 Ditahan-tahan di dalam kelas pun terkadang membuat saya merasa tidak enak karena selalu mengganggu yang lain. Banyak teman-teman Jidan yang kena imbasnya; terganggu belajarnya karena kami. Apalagi Bu Siti. Akhirnya saya sering mengalah kalau kehendak Jidan begitu dalam dan tak mempan dibujuk. Seperti yang terjadi di hari kemarin.

Hari ini pun seperti itu lagi. Sejak beberapa menit yang lalu Bu Siti meminta anak-anak untuk tidak ribut dan fokus mengerjakan soal di LKS halaman tertentu. Beliau izin keluar karena suatu urusan administrasi ke Dinas Pendidikan. Tapi kebiasaan anak-anak SD saat ditinggal guru seperti ini, kelas suka diubah menjadi seperti pasar. Ramai dengan cicitan ritual ditinggal sebentar oleh guru. Dan di tengah riuh rendahnya suasana kelas seperti ini, Jidan menghentikan aktivitasnya menulis materi IPA. Dia beranjak dari bangkunya, berniat untuk keluar kelas. Seperti biasa pula, saya menahan dan bertanya kepadanya kenapa dia ingin pergi meninggalkan kelas. Jidan keseringan tidak bisa menjawabnya dengan baik kecuali dengan sebaris kalimat pendek yang mewakili keinginannya.

“Mau keluar, Pak Mite,” ujarnya dengan kalimat pendek sakti miliknya. Begitu dingin.

“Kenapa ingin keluar?” tanya saya sambil menahan merayunya.

Aaaaarrrgggghhhh, mau keluar!” serunya dalam nada suara yang masih rendah namun sarat ketidakpedulian atas ajakan saya untuk belajar.

Ditahan-tahan lagi dengan keadaannya yang sudah seperti itu saya rasa tidak akan berhasil. Saya lantas membiarkannya untuk menuruti kehendaknya dulu. Tapi itu pun tidak saya persilakan begitu saja. Begitu sudah melewati pintu kelas, saya palingkan Jidan ke arah lain kelas, tidak menuju gerbang sekolah yang memang arahnya lurus dan dekat sekali dengan pintu kelas kami.

Ketika Jidan mulai kambuh lagi kehendak ingin keluarnya, saya sudah berpikir untuk mengajaknya belajar di luar. Kebetulan anak-anak kelas tiga sedang belajar olahraga di lapangan sekolah. Saya mengarahkan perhatiannya pada permainan bola yang sedang mereka lakukan.

Tuh lihat, Jidan, mereka sedang main bola kecil!” seru saya.

“Itu kelas berapa?” responnya. Saya segera menjawabnya dengan tujuan mempertahankan perhatiannya pada apa yang sedang saya ambil sebagai tema belajar.

“Mereka kelas tiga,” jawab saya.

Saya tahu jika mengarahkan anak belajar di luar kelas seperti ini akan merembet pada hal-hal yang tak diduga dan tak pernah direncanakan sebelumnya. Kalau keadaannya sudah begini, sebagai guru pembimbing khusus saya dituntut untuk bisa kreatif karena jatuhnya pasti akan menjadi pembelajaran yang tematik. Dari IPA ke Penjaskes, dari Penjaskes ke Matematika, dari Matematika ke Bahasa Indonesia, dan dari Bahasa Indonesia ke pelajaran-pelajaran yang lainnya lagi. Seperti yang sedang saya lakukan ini, saya mencoba mengarahkannya pada pengetahuan tentang olahraga ketika tadi melihat anak-anak kelas tiga sedang bermain bola kecil.

“Mereka sedang main apa, Jidan?” tanya saya memulai pembelajaran tematik dadakan tanpa RPP tertulis.

“Main bola,” jawabnya singkat dengan mimik wajah lempeng.

“Ukuran bolanya bagaimana? Besar atau kecil?” lanjut saya.

Bukannya menjawab, Jidan malah memalingkan perhatiannya pada kaca jendela kelas lima. Pertanyaan saya tentang ukuran bola yang akan disandingkan dengan beberapa hal lainnya untuk mengasesmen kemampuan seriasinya terabaikan. Mau tak mau saya harus mengikutinya.

Di pinggiran kelas lima itu Jidan mulai mengintip lewat jendela. Kedua tangannya dipasang pada posisi hormat di dekat kepalanya. Saya menghampirinya dan ikut melihat ke bagian dalam kelas dari jendela yang sama. Terlihat di dalam kelas guru kelas lima sedang memberikan mata pelajaran IPA dengan bantuan sebuah torso. Tiba-tiba Jidan menuju pintu kelas lima dan mencoba membukanya. Saya tersadar lengah. Buru-buru saya menyusulnya, tapi baru bisa menahannya ketika dia sudah mau melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Cepat-cepat saya melingkarkan kedua tangan pada perutnya sambil berbisik di belakangnya, “Tidak boleh masuk. Ini kelas lima sedang belajar.”

“Belajar apa? Itu apa, Pak Mite?” tunjuknya pada torso yang dijadikan media pembelajaran tentang sistem pernafasan manusia itu.

Semua siswa kelas lima mengarahkan pandangnya pada kami sementara sang guru hanya tersenyum saja mendapati saya yang tengah menarik-narik Jidan keluar. Didapatinya seperti itu saya menganggukkan kepala tanda permintaan maaf tak formal. Saya membayangkan betapa senangnya jika sistem di sekolah ini bisa sefleksibel mungkin untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam kasus selonongnya Jidan ke kelas lima ini, saya membayangkan guru tersebut langsung menyambut dan mengikutsertakan Jidan dalam pembelajarannya, meskipun hanya sebentar saja secepat keingintahuan Jidan terhadap torso sebagai media pembelajaran IPA itu berlalu karena terpenuhi.

Setelah sedikit berjibaku dengannya, akhirnya saya berhasil menarik Jidan jauh dari kelas lima dengan lumayan kepayahan. Jidan terlihat tenang-tenang saja seperti biasanya meski sudah terjadi tarik-menarik di antara kami. Tanpa disertai kontak mata, Jidan bertanya benda apa itu tadi di kelas lima. Dengan setengah terengah-engah saya menjawabnya bahwa itu adalah patung manusia yang dijadikan sebagai media pembelajaran. Saya sebutkan bahwa nama benda itu adalah torso.

Seperti tidak memperhatikan, Jidan langsung memutar arah badannya menuju gerbang sekolah. Dada saya mengempis saat mendapatinya malah pergi dengan sekonyong-konyong lagi. Jika saja Jidan tidak langsung berlari menuju gerbang sekolah, saya pasti akan menjelaskannya juga pengetahuan IPA tentang organ pernafasan itu dengan model nyata dada saya yang sedang kembang kempis ini. Tapi mau bagaimana lagi, Jidan sudah berlari menuju warung di depan gerbang sekolah. Dengan masih menatap punggungnya, saya pun menyusulnya. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s