#6

[#6] WARUNG MAK AI DAN IBU-IBU

(Konon katanya, pengalaman adalah guru terbaik. Tapi mengapa di banyak sekolah sangat jarang sekali peserta didik diberikan sejumlah pengalaman penuh makna, justru yang ada adalah kekangan kurikulum yang begitu kaku?)

Pada benteng pendek berkeramik di depan jendela warung, Jidan mulai duduk bersama ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sekolah. Kepada seorang anak, putra dari salah satu ibu-ibu yang sedang berkumpul di sana, Jidan terlihat sedang melakukan suatu interaksi. Demi pemandangan yang saya lihat dari kejauhan tersebut, saya yakin sekali Jidan begitu memiliki cukup potensi untuk bisa bersosialisasi dengan baik. Tinggal dilatih, diarahkan dan dibina saja.

Berbeda dengan awal-awal dia masuk ke sini. Setiap harinya, jika dia sudah tidak betah belajar di dalam kelas, dia pasti lari mendatangi lapik mainan Mang Udin. Saya yang mengejarnya selalu mendapatinya sudah duduk di samping Mang Udin. Bagusnya dia tidak pernah mengambil suatu jenis mainan apa pun yang dijajakan. Hanya sekadar melihat-lihat saja. Apalagi kalau di lapik mainan tersebut tersedia banyak cheat permainan PS. Dia bisa berlama-lama di sana untuk sekadar melihat-lihat dan membuka lembaran demi lembaran kertas berwarna-warni tersebut. Tak lupa juga aksi terpentingnya: mengamati rumus-rumus jurus yang ditulis berdempetan. Seolah-olah dia sedang menghafal pola-pola tombol joystick yang harus ditekan saat bermain game. Maka susah dibujuklah dia untuk meninggalkan lapik mainan itu. Sebabnya dia begitu maniak game. Pernah juga suatu kali dia meminta untuk dibelikan rumus-rumus jurus permainan PS yang sudah disusun itu. Tapi saya selalu menolak dan mengarahkannya untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan saja daripada membeli lembaran-lembaran tak berguna itu.

Setelah capai, Jidan beranjak pergi sesuka hatinya. Saya pun selalu membuntutinya. Dari satu tempat penjual, entah itu makanan atau mainan, ke tempat penjual yang lainnya lagi. Setelah cukup bosan dengan mobilitasnya yang tak tentu itu, dia suka mendekati anak-anak kelas lain yang sedang bermain di lapangan. Sayangnya, anak-anak kelas lain itu sering ketakutan begitu didatangi Jidan. Jadinya, Jidan pun tertolak untuk bermain bersama. Padahal di sekolah yang katanya inklusif ini, seharusnya semua siswa bisa menerima anak berkebutuhan khusus tidak hanya di dalam kelas saja tapi juga untuk bermain bersama di luar kelas. Kadang saya pun merasa capai. Sudah di kelas membimbing Jidan, selama istirahat pun saya masih harus membuntutinya. Di masa-masa transisinya di sini, ditambah lagi dengan kurang inklusifnya sekolah ini, Jidan masih belum bisa dilepas begitu saja tanpa pengawasan khusus dari saya.

Tapi, beruntunglah saya mengenal beberapa orangtua murid yang sering duduk-duduk di warung depan gerbang sekolah ini. Bersama mereka, saya selalu berbincang tentang banyak hal. Tidak lupa pula mereka selalu bertanya tentang ini itu seputar anak berkebutuhan khusus yang sedang saya bimbing.

Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mengarahkan Jidan agar selalu berada di warung ini. Saya pun tidak merasa khawatir akan daya jajan Jidan mengingat tempat yang didiaminya selama istirahat ini menjajakan berbagai macam jajanan. Jidan bisa dengan mudah dihentikan jajanannya hanya dengan mengatakan bahwa uang bekalnya sudah habis. Kadang tanpa diberitahu seperti itu juga dia tidak pernah jajan berlebihan. Hanya membeli makanan-makanan ringan saja. Uang bekal sebesar Rp. 5000,- yang diberikan ayahnya pada saya setiap pagi saat menyerahkan Jidan pun keseringan bersisa, dan saya selipkan di saku Jidan saat pulang sekolah untuk bisa digunakan lagi keesokan harinya.

***

Dari gerbang halaman warung, saya melihat Jidan sedang mengambil sebatang wafer rasa keju kesukaannya dari toples yang terpajang di muka warung. Mak Ai, pemilik warung yang sudah manula, mempersilakannya.

Ketika saya datang, dia masih mencoba menyobek bungkusnya yang kadang memang susah disobek. Saya kemudian duduk tepat di depannya, di bangku kayu warung. Tersenyum saya mengamatinya. Betapa kesulitannya dia untuk menikmati dengan segera wafer rasa keju itu. Ibu-ibu yang duduk di sebelah Jidan juga tersenyum geli memperhatikannya. Tiba-tiba Bu Meli berkata pada saya.

“Bantuin buka atuh, Pak Mite, kasihan ih!”

“Iya, Pak Guru, bantu Jidan buka wafer itu,” dukung Mak Ai.

Saya meresponnya dengan tersenyum. Ada kalanya sebagai anak dengan autisme, Jidan harus bisa belajar mandiri. Ada sejumlah kegiatan yang paling minimal harus bisa dikuasainya secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah kegiatan makan. Dari mulai bagaimana dia mencari makanan tersebut sampai bisa melahapnya, dia harus bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Activities of daily living, begitu para ahli mengistilahkannya. Selain makan, tentu masih banyak lagi yang harus bisa dikerjakan sendiri oleh anak berkebutuhan khusus agar mereka mampu mandiri meski dalam level minimal. Di antaranya adalah perawatan diri, mengenakan dan melepaskan pakaian, ambulasi, peralihan fungsional, dan manajemen ekskresi.

Keadaan Jidan yang sedang berusaha untuk membuka sendiri snack yang akan dimakannya ini saya masukkan dalam konteks melatih ADL yang sangat mudah. Selama plastik yang membungkus makanan ringan tersebut tidak basah oleh keringat dari telapak tangannya, Jidan bisa dengan mudah menyobeknya. Gerak jemari yang representatif bagi motorik halusnya sudah lumayan rapi meski kadang kala masih begitu kasar pada kegiatan lain. Dalam menulis, contohnya. Ia memegang alat tulis tidak seperti anak yang lainnya. Akibatnya, tulisannya cukup hancur serupa tulisan seorang anak disgrafia.

Ibu-ibu yang sedari tadi begitu gemas melihat Jidan yang kesusahan menyobek plastik snack akhirnya bernafas lega setelah akhirnya saya turun tangan membantu Jidan. Rasa gregetan dari mereka pun begitu nyata dengan diselingi canda tawa.

Ih, bukannya dari tadi. Kasihan kan tuh Jidannya. Sudah lapar,” cekikik Bu Wati.

“Biar saja, Bu. Biar Jidan sekalian belajar merasakan betapa kerasnya bertahan hidup itu,” canda saya menimpali dengan tawa renyah.

Awalnya ibu-ibu itu merasa tidak tega melihat saya membiarkan Jidan seperti itu. Tapi lama kelamaan, karena di warung ini kami sering berdiskusi, mereka akhirnya mengerti. Betapa harus sangat pengertiannya jika mereka menjadi seorang ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus seperti Jidan. Bukan apa-apa. Semua perlakuan yang terkesan seperti rasa tega mesti berjalan demi perkembangan anak berkebutuhan khusus itu sendiri.

***

Selain Jidan, anak berkebutuhan khusus yang sering ikut bergumul di warung ini juga adalah Rifki dan Zilan, anak didik Pak Nawi, serta Fiza yang dibimbing oleh Pak Sima. Zilan yang terkategori sebagai anak dengan down syndrome dengan wajah seribunya yang khas dan lucu, sering membuat ibu-ibu di warung ini gemas kepadanya. Karenanya, Zilan sering menjadi bulan-bulanan. Tentu menjadi bulan-bulanan di sini tidak seperti seorang yang dihujani cacian dan makian karena stigma. Hanya, ibu-ibu yang sedang menunggui anak-anaknya itu sering mencandai Zilan sampai ia merajuk manja dan balik mencandai mereka dan berakhir dengan riuh rendah tawa bersama.

Fiza, seperti halnya Jidan dan Rifki, adalah anak dengan autisme. Tapi kadar autisme Fiza lebih berat dibanding Jidan dan Rifki. Jika dalam konteks perilaku repetitif Jidan sering mengepakkan tangan, sedang Rifki sering memutar badannya berjalan-jalan ke sana kemari dan berloncat ria beberapa kali, maka Fiza lebih parah lagi dibanding dengan perilaku-perilaku repetitif Jidan dan Rifki tersebut. Perilaku repetitif Fiza selain menjentikkan jari sehingga berbunyi dan meloncat-loncat dengan suara yang sangat keras, adalah memukul-mukul pipinya sampai lebam. Pipinya selalu berwarna merah-ungu akibat self-hitting setiap saatnya. Anehnya, dia tidak merasakan sakit. Mimiknya begitu lempeng mendapatkan luka separah itu. Sampai-sampai, usaha Pak Sima dalam menekan self-hitting tersebut dengan memakaikan helm padanya tidak begitu berarti. Justru helm yang dipasangkan padanya itu yang rusak. Luar biasa parah tipikal autismenya.

Dalam hal berbicara, Fiza juga masih kalah kembang dibanding Jidan dan Rifki. Berbalik dengan keadaannya ketika sedang meloncat-loncat dengan suara yang keras, Fiza hanya bisa berujar dengan kata-kata singkat yang sangat pelan dan kecil sekali terdengar. Otomatis komunikasi yang resiprokal sama sekali tidak mampu ditampilkannya. Ibu-ibu di warung pun hanya bisa sebatas memperhatikan perilaku repetitif Fiza yang parah saja. Tidak seperti pada Jidan di mana mereka masih bisa terlayani dengan kemampuan komunikasinya yang bisa dua arah.

Sementara Rifki, cukup kesulitan dalam melakukan komunikasi dua arah. Keseringan dia hanya bisa membeokan apa yang didengarnya dari teman-teman sekelasnya. Sayangnya, apa yang selalu dibeokan Rifki adalah suatu kata yang sangat jorok. Kata jorok tersebut dia dapatkan dari teman-temannya, di sekolah ini, sejak beberapa tahun yang lalu.

Meskipun kondisi dari tiap anak berkebutuhan khusus yang selalu ikut bergumul di warung ini begitu beragam didapati oleh ibu-ibu di sini, hal tersebut tidak membuat mereka sampai menolak untuk berbaur dengan anak-anak didik kami. Begitu pula sikap penerimaan Mak Ai di warungnya ini. Begitu ramah. Mereka malah merasa kesepian kalau salah seorang dari anak didik kami kebetulan tidak masuk sekolah. Tidak menyenangkan, kata mereka.

Mereka, Mak Ai dan ibu-ibu yang selalu menunggui anaknya di warung ini, sudah menerima anak didik kami apa adanya. Terkena simbahan bersin Fiza, atau melihat kerakan ingus Zilan di bawah kedua lubang hidungnya adalah hal yang biasa untuk mereka di sini. Mereka tidak merasa jijik atas keadaan tersebut. Bukan keluhan yang mereka tampilkan di sini melainkan tawa renyah dan kasih sayang terhadap anak-anak didik kami.

Seperti ketika Jidan membuang sampah plastik bekas snack sembarangan, mereka mengingatkannya. Padahal, asalnya mereka membiarkannya. Tapi saya memberi tahu mereka bahwa itu adalah suatu kesalahan karena sudah membiarkan anak berlaku semaunya. Saya pun bisa mengerti. Mereka merasa iba pada kondisi Jidan dan yang lainnya. Tapi perlakuan asertif tetap harus dijalankan demi kematangan potensi mereka. Menyuruh mereka untuk membuang sampah pada tempatnya bukan lagi sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Mereka harus bisa melakukannya. Tidak peduli bahwa mereka autistik atau bukan. Sebab ini termasuk ke dalam salah satu jenis ADL, di mana mereka bisa merawat diri dalam kebersihan lingkungannya.

Pada akhirnya, saya merasa lingkungan di warung Mak Ai inilah yang cukup kondusif dan inklusif. Berbeda 180 derajat dengan lingkungan di dalam sekolah itu sendiri. Siswa-siswinya pun kebanyakan susah untuk dikasih tahu. Memang, menciptakan sekolah yang inklusif dan ramah anak itu susah sekali untuk saat ini. Diperlukan berbagai dukungan dari semua pihak. Mengusahakannya sekarang adalah seperti mengambil air dalam ember yang bocor. Luar biasa sulit. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s