#8

[#8] RAMADHAN DAN OLI

(Seiring dengan putaran roda hidup yang terus berputar, kehidupan yang berjengit memastikan kita bahwa kesabaran itu sungguh tak berbatas. Maka kalahlah jika kemudian kita berkata, “Kesabaranku sudah habis!”)

Seminggu sebelumnya, nuansa yang begitu saya rindukan setiap tahunnya mulai berkecambah lagi. Ia hadir, tumbuh dalam setiap jiwa insan yang merindukan pahala amalan ibadahnya dilipatgandakan oleh Tuhan. Ia juga hadir secara artifisial dalam pelbagai medium iklan di sana sini, yang oleh para pemodal disetir sebagai mesin pencari keuntungan belaka di bulan agung ini. Hampir semua produk, bahkan yang tidak ada sangkut pautnya dengan tema bulan ini, dikait-kaitkan dalam alur iklan yang dipaksakan.

Ya, Ramadhan tiba lagi di tahun ini. Dan ini adalah Ramadhan kedua saya bekerja di sekolah ini membimbing anak berkebutuhan khusus.

Sempat ada kekhawatiran saya di Ramadhan kali ini. Jika pada Ramadhan tahun lalu saya hanya membimbing seorang siswa yang terkategori slow learner yang tidak akan pernah mengalami tantrum, kali ini sebaliknya. Saya dihadapkan pada seorang anak autistik yang, tentu saja, sesekali dia akan mengalami tantrum jika saatnya sudah tiba. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan akan seperti apa kejadiannya kalau dia mengalami tantrum di bulan puasa, sementara saya yang akan menghadapinya sedang tidak full energy karena berpuasa. Jika sedang tidak berpuasa saja lelahnya sudah luar biasa terasa, apalagi sekarang saat saya berpuasa? Saya benar-benar tidak bisa membayangkannya.

Memang sejak dua minggu yang lalu, Jidan mulai sering tantrum. Sebabnya adalah telat dijemput ayahnya. Ayahnya yang bekerja sebagai guru di sebuah SMP sekira lima kilometer dari sekolah ini tentu tidak bisa keluar dari jam kerjanya begitu saja untuk menyesuaikan dengan jam kepulangan Jidan yang tak biasa karena bukan pada jam akademik.

Menuruti jam pulang Rifki dan Zilan pada sekitar jam 11:30, Jidan mengikutinya. Sekelumit pengetahuan tentang daya belajar anak berkebutuhan khusus pada siang hari yang sudah mulai memudar, masih bercokol di kepala saya. Karena itu, saya pun menurutinya. Itu juga saya lakukan karena saya masih dan sedang melakukan asesmen terhadapnya secara terus-menerus.

Sebenarnya saya malu karena harus meminta izin pada Bu Siti setiap kali Jidan mulai uring-uringan meminta keluar kelas untuk pulang. Itu pun hanya jika saya tidak bisa menahannya. Dan keseringan saya memang tidak mempunyai banyak cara untuk menahannya. Di sekolah yang katanya inklusif ini, sarana dan prasarana bagi kelangsungan sebuah sekolah inklusi tidaklah ada. Andai saja ada ruang khusus yang memuat berbagai macam media pembelajaran dan benda-benda edukatif lainnya yang bisa saya pakai, saya yakin bisa menahan Jidan sampai jam akademik di sini habis dan dia bisa pulang tidak mendahului teman-temannya yang lain.

Memang, saya mestinya bisa kreatif dalam menahan Jidan untuk tidak buru-buru pulang. Apalagi kalau ayahnya belum datang menjemput. Tapi bisa kreatif apa saya ini kalau sarana dan prasarana saja sudah tidak cukup mendukung. Padahal untuk membuat siswa di sekolah ini menjadi senang hati dan betah adalah tugas sekolah dalam memfasilitasinya. Kalau begini, saya menjadi seperti bekerja sendiri saja di lingkungan ini. Padahal sinergisitas antar komponen di lingkungan sekolah ini amat dibutuhkan. Jika sudah ingat keadaan memilukan ini, helaan nafas pertanda tak habis pikir seolah sudah biasa keluar dan tak ada seorang pun yang peduli.

***

Tantrumnya berlanjut sampai sekarang, ketika sekolah mulai menyelenggarakan kegiatan pesantren kilat untuk dua minggu ke depan. Dan pagi pertama dimulai dengan terheran-herannya Jidan karena sekarang belajarnya bukan di kelas yang biasa lagi, tapi di kelas lain; di kelas lima. Apalagi begitu masuk, Jidan tampak semakin keheranan karena papan tulis pembatas antara kelas lima dengan kelas tiga ditanggalkan demi tersatupadukannya kedua ruangan ini agar menjadi luas dan bisa menampung banyak siswa untuk mendengarkan satu ceramah terpusat dari guru yang mengisi.

Kelas yang diwajibkan untuk mengikuti kegiatan sanlat selama Ramadhan ini adalah kelas empat, kelas lima dan kelas enam saja. Masing-masing tingkatan ada dua kelas: A dan B. Dan dua ruangan kelas tiga dan lima inilah yang menjadi tempat penampungan mereka selama mengikuti kegiatan sanlat dua minggu ke depan. Bayangkan saja, sejumlah siswa dari enam kelas itu berkumpul di ruangan tersebut. Maka, sudah benar-benar bisa dibayangkan betapa riuh rendahnya seisi kelas karena kegaduhan mereka bercuap-cuap. Ruangan pun menjadi pengap ditambah bau aroma tubuh mereka yang amat khas. Keadaan tidak ideal seperti inilah yang semakin membuat saya khawatir terhadap pembelajaran Jidan dan teman-temannya yang berkebutuhan khusus. Keadaan ini akan sangat sulit sekali terkontrol dengan arahan guru yang sifatnya sentralisasi untuk siswa enam kelas.

Saya mengkhawatirkan konsentrasi Jidan yang akan tambah kacau dalam campur baur seperti ini. Pak Nawi dan Pak Sima pun mengkhawatirkan hal yang sama terjadi pada anak didiknya masing-masing.

“Lihat saja,” ujar Pak Sima mengajak saya untuk memperhatikan polah Fiza di dalam ruangan yang padat oleh siswa ini. Fiza menampakkan ekspresi kegirangan dengan loncat-loncat. Tubuhnya yang besar menyuplai tenaga yang besar pula pada tumpuan kakinya saat mendarat di atas ubin kelas. Anak-anak kelas lain bersorak memperhatikannya. Fiza pun ikut-ikutan bersorak dengan lengkingannya yang lumayan memekakkan telinga kalau saja tidak dialihkan oleh Pak Sima.

Kekhawatiran hinggap juga pada Pak Nawi terhadap Rifki. Karena sama-sama autisme, polahnya tidak jauh berbeda dengan Fiza dalam merespon kegaduhan ruangan ini. Rifki berteriak sangat kencang dan hampir meneriakkan kata-kata jorok hasil imitasinya dari lingkungan. Beginilah performa anak-anak dengan autisme ini adanya: tidak jauh beda.

Tapi Jidan sedikit berbeda dari Fiza atau pun Rifki. Jidan jarang bertingkah loncat-loncat kegirangan dengan sendirinya seperti mereka. Paling hanya ikut menirukan polah kedua anak autistik itu kecil-kecilan setelah sebelumnya bertanya kepada saya tentang apa yang mereka lakukan.

Ah, saya lupa sesuatu!

Tiba-tiba saya sadar telah dilalaikan oleh keluhan bersama ini. Saya lupa mengontrol Jidan yang kini sering pergi ke sana kemari tak karuan. Dan benar saja, saya kehilangan Jidan.

Saya mulai menyisir sekitaran kelas untuk mencarinya. Dan, astaga! Dia sudah berada di tempat siswa perempuan di ruangan ruang kelas tiga yang posisi lantainya lebih landai. Tergopoh-gopoh saya menuju ke sana untuk membawanya kembali ke tempat siswa laki-laki.

Saat saya pisahkan, Jidan sedang mendekati Nunia, teman perempuan sekelasnya yang dia sukai. Nunia memasang wajah cemberut dan lagi-lagi mengeluh pada saya.

“Pak, Jidannya ih,” kesah Nunia yang entah sudah keberapa kali sejak Jidan mulai suka mendekatinya.

***

Untuk anak seukuran Nunia yang belum mengerti harus bagaimana hidup berdampingan dengan seorang anak berkebutuhan khusus seperti Jidan dalam setting inklusi di sekolah ini, itu bisa dimengerti. Saya bisa memakluminya. Ia mungkin sangat ketakutan terhadap Jidan yang lumayan sulit terkontrol. Tapi ada faktor lain juga yang mempengaruhi keadaan ini. Ia dan teman-temannya hidup di lingkungan yang kurang akrab dengan isu pentingnya lingkungan yang inklusif. Meski pun mereka sudah bersekolah di sini selama hampir enam tahun dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang lainnya sebelum Jidan, mereka masih belum cukup paham tentang kehidupan ideal dengan latar belakang inklusif. Bukan juga saya tidak pernah mensosialisasikan betapa pentingnya semua siswa yang ada di kelas kami, termasuk Nunia, untuk bisa bersikap wajar adanya bergaul dengan anak berkebutuhan khusus. Tapi memang ada kesulitan tersendiri. Sebagian besar dari mereka, ketika saya mengajaknya untuk bersikap wajar bergaul dengan Jidan, kurang begitu bisa menerima. Saya jadi berpikir, apakah selama hampir enam tahun mereka bersekolah di sini pihak sekolah tidak gencar dalam memahamkan para peserta didiknya untuk ikut bekerjasama dalam menciptakan suatu lingkungan yang ideal demi pendidikan untuk semua dan ramah anak?

Pernah suatu kali saat Jidan, Rifki dan Zilan duduk dalam satu meja di bawah asistensi saya, sementara suasana kelas gaduh karena ditinggal sebentar oleh Bu Siti, Zilan mencoba menenangkan suasana dengan gayanya yang khas. Dengan artikulasi yang blepotan, dia mencoba menyeru teman-temannya yang berisik untuk duduk diam dan tenang. Tapi rupanya ada seorang anak yang dikenal sangat nakal di kelas kami merasa sok terganggu aktivitas belajarnya dan melempar kotak pensil ke arah muka Zilan. Sungguh berani sekali anak itu. Padahal saya duduk tepat di depannya. Tentang hal ini, bagaimana itu bisa terjadi kalau saja pihak sekolah sejak dulu benar-benar memahamkan semua siswa di sini tentang pentingnya lingkungan yang inklusif dan ramah anak?

Rasa-rasanya keluhan seperti yang Nunia kesahkan tadi tidak akan pernah hilang dari sekolah ini selama tidak ada kesadaran dari pihak sekolah untuk memperbaikinya. Atau jangan-jangan selama ini mereka mengandalkan kami, para guru pembimbing khusus? Terorganisir secara struktural saja tidak. Kami benar-benar hanya sekadar menumpang mengajar saja di sini. Lebih tepatnya: menjadi pembantu anak berkebutuhan khusus kami masing-masing.

***

“Pak Mite, mau ke sana!” ujar Jidan dengan berpaling mengarah ke tempat siswa perempuan lagi.

Saya yang sedang membujuk dengan sedikit menyeretnya ke tempat siswa laki-laki otomatis lebih mengeluarkan tenaga lagi. Ini sedang puasa, batin saya. Pagi-pagi sudah harus keluar energi banyak hanya untuk menariknya kembali.

Saya langsung mengalihkan perhatiannya dengan mengeluarkan buku catatan agama dan buku iqra kecil.

“Ini ya, salin! Jidan harus bisa menulis huruf Arab juga,” bujuk saya. “Tuh lihat Fiza juga menulis!” saya menunjuk ke arah Fiza yang sudah ditenangkan dan sedang tekun mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Sima.

“Rifki sama Zilan juga menulis, Pak Mite?” tanya Jidan dengan mimik wajahnya yang khas.

“Iya. Rifki sama Zilan juga menulis. Makanya Jidan juga harus menulis ya!”

Dia tidak merespon, tapi menuruti. Menulislah dia dengan semangat pagi. Dan, saya pun akhirnya bisa sedikit lebih tenang mengawasinya.

***

Jam 11:00, kegiatan sanlat sudah selesai. Anak-anak mulai berlarian keluar ruangan seolah bersaing untuk menjadi yang pertama keluar kelas. Saya masih menahan Jidan agar tidak ikut berlari tak karuan seperti mereka. Baru setelah kelas mulai kosong saya mempersilakan Jidan untuk segera mengambil sepatunya di depan pintu.

Melihatnya sedang bersepatu saya merasakan kekhawatiran. Sudah siang begini belum ada tanda-tanda ayahnya sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Dalam benak saya sudah terbayang kejadian yang akan terjadi di mana kami akan bergulat lagi saling mengerahkan kekuatan. Dia mengerahkan tenaga untuk lepas dari kekangan saya yang mengerahkan tenaga untuk menahannya agar tidak kabur dari area sekolah.

Dan benar saja, ketika saya dan Jidan melewati gerbang sekolah, ayahnya belum ada di sana. Demi meminimalisir gejala tantrumnya, saya lantas membujuk Jidan untuk sebentar menunggu dijemput di warung Mak Ai.

“Ayahnya belum ke sini, Pak Mite?” tanya Jidan memastikan.

“Iya, lagi di jalan. Tunggu sebentar yuk di warung.”

Masuk ke halaman warung, kami melewati seorang bapak yang tengah memperbaiki mobilnya dengan posisi memasukkan setengah badannya ke bagian bawah mobil.

“Itu lagi apa, Pak Mite?” tanya Jidan ingin tahu.

“Itu sedang memperbaiki mobil. Mesin mobil kan ada di bawah, jadi bapak itu memperbaikinya di kolong mobil.”

Setelah mendapat jawaban itu Jidan langsung duduk di bangku warung. Saya mengikutinya dengan mengambil bagian untuk duduk di belakang Jidan. Tampak Mak Ai dari dalam warung keluar dan bertanya, “Jidannya belum dijemput, Pak Guru?”

“Belum, Mak.”

“Bulan puasa mah warung Emak tutup. Jadi Jidan tidak bisa jajan,” lanjut Mak Ai.

“Eh,” sergah Mak Ai seolah hendak mengoreksi perkataannya barusan. “Jidannya puasa tidak?” tanyanya penasaran ingin memastikan apakah Jidan ikut berpuasa atau tidak.

“Puasa, Mak. Jidan dibiasakan untuk belajar puasa oleh orangtuanya. Tapi kata ayahnya sering bolong juga. Maklumlah Mak, Jidan kan autisme. Daya akalnya kurang. Jadi kurang bisa memahami apa itu puasa,” jelas saya.

Mendengar penjelasan saya, bunyi huruf o terdengar panjang dari celah bibirnya yang sudah ikut keriput seperti kulitnya.

***

Sebenarnya tadi saat Jidan bertanya tentang ayahnya yang belum datang menjemput, saya menjawab asal dengan mengatakan bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Dengan begitu saya berharap dia akan sabar menunggu. Tapi ada kekhawatiran tersendiri juga setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Jidan bisa memberontak untuk tidak bisa lagi kompromi menunggu di warung. Dengan segala kekuatannya dia melawan saya yang sengaja menghalang-halangi agar tidak keluar dari halaman warung dan kabur menuju jalanan besar untuk naik angkot.

Saya yang belum sempat sarapan pagi hari itu cukup kewalahan menahannya. Posisi saya yang berada di depan guna menghalanginya terpaksa harus berputar ke bagian belakang untuk ganti menariknya. Tapi sungguh di luar dugaan, saya tidak sanggup menahannya. Kekuatannya terlalu besar. Sedikit-sedikit saya pun terseret. Saya balik menyeretnya ke tepi tembok di sepanjang jalan untuk menguncinya. Di antara hujanan kepalan dan tendangannya, sesekali saya harus mengalah karena kelelahan dan kembali menahannya.

Tanpa dinyana, sudah belasan meter saya diseretnya sampai jalanan ramai. Sontak keadaan kami yang saling tarik-menarik menyita perhatian warga di sepanjang jalan. Puluhan pasang mata melirik ke arah kami. Jidan yang merasa ditahan-tahan kehendaknya, menyeret sambil berteriak-teriak. Saya sudah seperti seorang penculik anak saja. Sampai-sampai ada seorang pemuda mendekati dan menanyakan keadaan kami.

“Ada apa, Kang?”

“Ah ini, biasa, anak autistik sedang tantrum. Sedang marah ingin kabur.”

Sepanjang jarak belasan meter itu, perhatian Jidan sejenak tersita oleh sebuah warnet yang memasang berak-rak kaset game. Seketika Jidan melunak dan membelot menuju ke dalam warnet. Saya merasa beruntung karena dengan begitu saya jadi mempunyai waktu sebentar untuk mengumpulkan tenaga. Tapi saya terus membujuknya selagi dia melihat-lihat kaset game. Pemilik warnet keheranan mendapati kami. Saya menjelaskan keadaan. Dia mengerti. Saya pun meminta izin kepada pemilik warnet untuk diacak-acak sebentar jajaan kasetnya oleh Jidan.

Jidan kemudian asyik membuka-buka kaset dari wadahnya. Saya memberitahunya supaya dia tidak lantas mengambil keluar kaset dari tempatnya. Itu sudah dirapi-rapikan oleh pemiliknya. Rayuan demi rayuan supaya Jidan menyudahi sikapnya yang mengganggu itu terus saya lakukan.

Setelah melihat-lihat kaset game dan mengacak-acaknya, dia beranjak mendekati beberapa pengguna warnet yang sedang main. Selonong Jidan merebut kendali unit komputer yang sedang dipakai pengguna itu. Saya perkirakan dia mencari game. Dengan dihampiri Jidan seperti itu, mereka menjadi risi. Saya pun malu.

“Sudah yuk. Nanti pemilik warnet ini marah. Ayo kita keluar!”

Jidan tetap bergeming. Kedua telinganya memang terbuka, tapi otaknya tidak merespon arus listrik dari saraf-saraf organ pendengarannya untuk dimaknai sebagai kegiatan mendengar. Sementara itu berbagai bujuk tetap saya lakukan, sampai harus berbohong mengatakan bahwa ayahnya sudah menunggunya di depan.

Tuh, itu sudah ada ayah di depan. Yuk kita pulang!” alih saya.

Dia kemudian bergegas, sementara saya membereskan dulu tempat kaset yang diacak Jidan sebelum mengejarnya.

Di luar, Jidan mulai bertanya lagi. Dengan nada kesal, dia mengesah lengkap dengan gerak tubuh tak suka yang penuh tenaga. “Mana si ayah, Pak Mite? Belum ada!”

Saya tahu itu bakal terjadi lagi. Tapi saya tidak bisa membiarkannya untuk terus berada di dalam warnet dan mengganggu pengunjung warnet.

“Iya, ayahnya masih di perjalanan, sedang menuju ke sini. Tunggu sebentar lagi ya…”

Dia terlihat dongkol dan melanjutkan lagi pelariannya. Sebisanya saya kembali memeluknya erat-erat untuk menahannya. Tapi saya masih kalah karena pukulan dan tendangan masih dihujankannya atas kekangan ini. Sampai sekitar 200 meter dari gerbang sekolah saya berhasil diseretnya. Beruntung kemudian, ketika dia berontak ingin memasuki sebuah toko kerudung dan sesisa tenaga saya mati-matian menahannya, ayahnya membunyikan klakson menemukan kami. Akhirnya, di sisi jalan itu Jidan mereda karena ayahnya sudah datang menjemput. Dia langsung menaiki motor ayahnya, sementara ayahnya meminta saya bercerita dulu tentang apa yang terjadi. Akhirnya beliau meminta maaf dengan wajah kebingungan karena tidak tahu lagi harus bagaimana memberitahu Jidan untuk sekadar bisa beradab. Mendengar ayahnya meminta maaf seperti itu, saya jadi merasa tidak enak juga. Sebenarnya saya sudah memaklumi semua itu karena Jidan benar-benar anak autistik yang daya akalnya kurang. Karenanya, cara mengubah perilaku Jidan bukanlah dengan pemahaman tapi dengan pembiasaan. Untuk mencapai tujuan itu saya juga mesti mengesampingkan rasa belas kasihan ketika memberikan treatment pada Jidan. Tapi berhubung saya belum bisa berbincang dengan ayah atau ibunya mengenai hal ini, saya masih urung melakukannya. Saya pun belum bisa sowan ke rumahnya untuk membahas ini. Sementara ayahnya tidak bisa berlama-lama juga untuk diajak berdiskusi saat menjemput Jidan ke sekolah.

***

“Pak Mite, si ayahnya mana? Lama!” keluh Jidan dengan sedikit menggerutu.

Akhirnya, permulaan ini bermula lagi di depan mata kepala saya sendiri. Permulaan di mana Jidan mulai menggerutu hendak melakukan tantrum dengan kekuatannya. Dengan segala tenaganya yang terpendam, dia bisa melakukan apa saja yang sifatnya destruktif. Bukan hanya bagi lingkungan sekitarnya saja, tapi juga bagi dirinya sendiri. Sementara pengalihan perhatian dari saya tak mempan barang sebentar jua.

“Iya, sebentar lagi. Ayahnya masih di jalan. Sebentar lagi, ok?”

“Lamaaaaaaaaaa!!! Aaarrrgggghhhhh!!!” kekesalannya semakin mencuat dengan gerutuan berat.

Dia segera meninggalkan tempat duduk untuk kabur ke jalan. Saya buru-buru menyusul dan berhasil menahannya untuk tidak keluar dari halaman warung. Merasa dihalangi seperti itu, dia berbalik mencari sesuatu yang bisa dia jadikan sebagai samsak.

Dia menemukan wadah peralatan reparasi mobil yang didudukkan di bangku warung. Dia memukulinya dan hampir saja melemparkannya kalau saya tidak cekatan menahannya. Sebagai ganti karena usahanya tertahan, kakinya menendangi saya beberapa kali. Tak lupa juga tangannya ikut mengambil bagian untuk melayangkan kepalan tangan melengkapi pemberontakannya kepada saya.

Saya menyeretnya menepi ke dinding warung. Merasa ditahan-tahan, dia terusa-terusan memukul dan menendang saya. Selantang jeritannya ingin bebas, dia berusaha keras untuk melawan saya. Akhirnya, demi menghindari pukulan dan tendangannya, saya tidak sengaja memberinya celah untuk bisa lepas. Sia-sialah usaha saya untuk menahannya tersebut. Tenaga pertahanannya besar sekali dan menunjang untuk berontak. Saya pun terpukul mundur satu meter.

Ketika di dekat posisi bapak yang sedang mereparasi mobilnya, Jidan menemukan kaleng kue bekas. Merasa menemukan sesuatu yang bisa dia jadikan pelampiasan, dia memasang kuda-kuda untuk menendangnya. Saya pun reflek hendak menahan kaleng kue bekas tersebut dengan kaki. Saya tidak mau merepotkan jika onderdil mobil yang ada di dalam kaleng kue bekas itu berhamburan ditendang oleh Jidan. Tapi sayang, saya kalah cepat. Jidan berhasil menendang kaleng kue bekas itu, dan…

Splash!

Viskositas cairan hitam menciprat di sebagian besar celana jeans abu-abu dan di sebagian kecil kemeja hitam casual favorit saya. Dunia serasa menjadi bergerak lambat dalam alurnya. Saya menunduk melihat cipratan cairan hitam kental yang sisi-sisinya sudah menjelaga dan meruyak. Tepat di depan saya, Jidan masih berontak dengan gerak tak karuan. Tak ada sedikit pun pedulian darinya, seolah dia tak mengetahui suatu kejadian apa pun akibat ulahnya itu. Bapak pemilik mobil dan beberapa orang yang kebetulan melihat kejadian ini tercengang dan tak banyak bergerak.

Ternyata kaleng kue bekas itu berisi oli. Saya tertegun mengalami kejadian mengejutkan ini. Tapi Jidan terus memberontak dengan hampir hendak menendang barang lain yang ada di sekelilingnya lagi. Dengan sedikit kesal saya kembali menyeretnya ke tepi dinding untuk membuatnya tak bisa bergerak lagi. Saya sudah tidak peduli lagi dengan pukulan dan tendangannya yang sembarangan. Yang ada di dalam pikiran saya adalah dia harus terkunci dan tidak boleh berulah lagi lebih dari ini.

Setelah sedikit bergumul dengannya, tiba-tiba Mak Ai memberi tahu bahwa ayahnya sudah datang menjemput. Saya berbalik untuk melihat ayahnya yang ternyata sudah memarkirkan motornya di depan gerbang warung. Sedikit lega saya akhirnya dan membiarkan Jidan untuk menemui ayahnya.

“Ada apa ini Jidan?” tanya ayahnya pada Jidan yang berlari mendekatinya.

Saya berusaha untuk menjelaskannya. Dengan wajah tersenyum saya menceritakan kronologis kejadiannya dari awal hingga terjadi peristiwa seperti ini. Setelah itu saya berlari menuju WC sekolah untuk sekadar membersihkan diri, sementara ayahnya berbicara dengan bapak pemilik mobil yang olinya telah ditumpahkan oleh Jidan.

Sekembalinya dari WC, ayahnya sedang membersihkan tumpahan oli di pelataran warung dengan cara menaburkan tanah kering di atasnya.

“Aduh Pak Mite, maaf ya. Jidan sudah kasar sama Pak Mite,” pinta ayahnya.

Saya berusaha untuk tidak mempermasalahkannya. “Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah maklum.”

Tampak raut wajah ayahnya kebingungan dalam menghadapi situasi seperti ini. Mungkin beliau merasa kikuk untuk menyelesaikan masalah ini. Saya bisa mengerti. Uang gaji saya bulan lalu belum bisa dibayarkannya, dan barangkali beliau merasa harus mengganti pakaian saya yang tersimbah oli akibat ulah anaknya ini juga.

Tapi sungguh, penempaan kesabaran di Ramadhan kali ini sangat terasa. Saya sedang diuji untuk meningkatkan kesabaran pada level yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Di tengah ujian-ujian yang memberi beban pada hati, saya belajar tersenyum. Sudah beberapa hari uang gaji saya belum dibayarkan. Sementara itu setiap harinya, dalam kondisi berpuasa, saya harus menahan-nahan Jidan di dalam kelas. Sampai suatu siang di hari ini, saya harus mengalami kejadian yang sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak akan terjadi pada saya, dan uang gaji hak saya masih belum dibayarkan.

Ayahnya berpamitan dengan mimik kikuk karena Jidan mengerang dari tadi minta pulang. Saya mempersilakannya. Senyuman saya belum berubah sejak dari tadi, bahkan saat mereka melaju dan saya hanya bisa melihat punggungnya yang semakin menjauh kemudian menghilang tepat di belokan depan.

Saya tidak mungkin pulang dengan jalan kaki dalam keadaan kotor seperti ini. Pak Nawi yang sudah terlebih dulu pulang sejak tadi akhirnya saya hubungi. Kepadanya, saya menceritakan semua yang telah terjadi di sambungan telepon dan minta tolong untuk menjemput saya di sekolah.

Senyuman yang terukir di bibir saya ini masih belum reda. Atas ujian-ujian kesabaran ini saya berusaha untuk mewajarkannya bahwa ini adalah fase yang harus saya lalui. Karenanya saya pun menjadi tidak terlalu ambil pusing seolah tidak pernah terjadi sesuatu apa pun. Bahkan ketika dalam perjalanan pulang, saat Pak Nawi menghibur saya dengan mengatakan bahwa ayahnya Jidan pasti akan memberikan saya THR lebih untuk mengganti semua ini, saya sungguh tidak mempedulikannya. Saya tidak menginginkan apa-apa dari kejadian yang baru saja terjadi kecuali pahala kesabaran saja. Semuanya karena saya mencoba untuk mewajarkan kejadian yang terjadi di luar kehendak diri dan mencoba untuk bersabar atasnya. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s