#9

[#9] MENGENALI ANAK

(Antara kita dan mereka, anak-anak berkebutuhan khusus itu, ada wadah komplementaritas. Makanya, Tuhan tidak akan pernah dapat kita pertanyakan atas ciptaanNya tersebut. Justru kitalah yang akan ditanya olehNya atas sikap kita terhadap ciptaanNya itu)

Ramadhan sudah lewat dan kami merayakan hari raya Idul Fitri sebagai selebrasi untuk melepasnya. Berharap sekarang kami benar-benar kembali fitrah. Bersih dari segala dosa. Seperti bayi lagi. Ya, seperti bayi. Karena memang setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tak berdosa. Berbeda dengan konsepsi salah satu ajaran yang sejalan dengan teori psikologi perkembangan Preformasionis, yang menganggap bahwa ketika dilahirkan, anak sudah membawa sesuatu yang sifatnya inheren: dosa. Tapi bukan berarti juga selaras dengan teori Tabula Rasa yang menganggap bahwa setiap bayi yang terlahir itu bak kertas putih kosong yang seenaknya bisa sembarang dicoreti. Tidak seperti itu. Karena pada faktanya setiap bayi yang terlahir itu sudah fitrah. Dia membawa apa yang sudah ditulis Tuhan untuk kesesuaian hidupnya. Dan kita, orang dewasa, sebagai orangtua terutamanya, bertugas untuk mengarahkannya agar sesuai dengan fitrahnya tersebut.

Seperti kebiasaan pada umumnya, setiap orang saling meminta maaf atas kesalahannya pada yang lain. Begitu pun dengan saya. Saya yang terkadang merasa sudah bertindak cukup kasar selama menjadi pembimbing Jidan di sekolah, meminta maaf kepada kedua orangtuanya yang sangat berharap saya bisa mengubah perilaku Jidan yang maladaptif.

Ada kalanya demi menahan Jidan yang sedang tantrum, dengan sedikit rasa kesal saya memberikan treatment dengan gregetan. Tapi bukan berarti saya bertindak seenaknya sehingga bisa menimbulkan rasa semacam traumatik pada Jidan. Karena memang menurut saya daya akal Jidan kurang optimal sehingga kemungkinan besar dia tidak akan mengalami perasaan trauma. Ada pun jika Jidan menampakkan ketakutan terhadap sesuatu yang asalnya biasa-biasa saja karena saya memberinya treatment dengan gregetan, itu hanya manifestasi pengidentifikasiannya saja terhadap sesuatu yang tidak diinginkannya.

Begitulah. Orangtuanya memaafkan saya atas nama pembelajaran untuk anaknya itu. Setelah Ramadhan ini saya bertekad tidak akan kompromi lagi dalam memberi treatment demi Jidan. Demi perilakunya mengarah ke arah yang lebih baik sesuai permintaan orangtuanya. Tapi sayang, sehabis lebaran ini saya jatuh sakit. Tampaknya karena saya terlalu banyak makan makanan khas lebaran yang menumpuk.

Hampir dua minggu saya titipkan Jidan kepada Pak Nawi. Selama sakit saya berusaha untuk tidak diam, tetapi tetap memikirkan treatment apa yang kali ini cocok untuk Jidan bisa patuh.

Sebelum ini Jidan bisa patuh untuk belajar jika gelang yang melingkar di pergelangan tangannya saya ancam akan diambil secara paksa. Mulanya dia ketakutan karena pernah mengalami kejadian yang bagi dirinya sangat tidak menyenangkan saat dulu gelangnya putus ketika bergulat dengan saya. Tapi lama kelamaan Jidan mulai bisa mengidentifikasi bahwa itu tidak akan pernah terjadi karena memang saya hanya sekadar menggertak saja. Karena setiap kali saya ancam begitu ujung-ujungnya selalu tidak jadi lantaran Jidan manut.

Sesekali Jidan seperti mempermainkan saya: segera setelah diancam, dia manut, saya melunak, dan ternyata dia berperilaku yang membuat saya harus mengancamnya lagi. Itu terjadi berulang kali. Dan ternyata pada akhirnya dia berhasil mengidentifikasi bahwa ancaman saya nyatanya tidak membahayakan bagi dirinya karena tidak pernah terjadi.

Kali ini saya tidak ingin lagi kompromi dalam memberinya treatment. Jika dikatakan sampai dia menangis pun harus saya teruskan. Karena pada hakikatnya, melayani kebutuhan anak seperti Jidan ini sifatnya eksperimental. Mungkin pernah ada orang yang memberi treatment pada anak autistik dan dia berhasil. Tapi itu tidak bisa langsung digeneralisir bahwa metodenya bisa dipakai untuk diterapkan pada anak autistik lainnya. Setiap anak, apalagi anak berkebutuhan khusus, kebutuhan layanannya sangat unik dan khas. Sifat layanannya one man one child. Maka untuk saat ini sayalah yang menentukan seperti apa layanan yang akan diberikan kepada Jidan.

Sayangnya, saya hanya mempunyai waktu satu tahun untuk memberinya layanan. Mengingat Jidan adalah siswa pindahan, tentunya saya melewatkan banyak hal dalam masalah perkembangannya. Padahal itu akan sangat berguna untuk sekarang. Karena layanan yang terbaik itu adalah layanan yang sifatnya kontinuitas oleh seorang saja. Atau, kalau memang guru pembimbingnya harus berganti, maka segala hal yang berkaitan dengan anak harus mutlak ditransfer tak bersisa kepada guru pembimbingnya yang baru. Barulah kemudian guru pembimbing yang baru menerapkan apa yang sudah dilakukan oleh guru pembimbing sebelumnya yang sekiranya masih cocok, karena perkembangan anak pastilah dinamis adanya.

Informasi bisa didapatkan juga dari orangtuanya, selama mereka ikut andil dalam program mengembangkan anak di rumahnya. Dan, dalam kasus Jidan ini, ibunyalah, yang sempat beberapa kali menjemput Jidan ke sekolah, memberi tahu saya tentang perkembangan Jidan dari masa ke masa. Pembelajaran yang selalu dilakukannya di rumah pun, ibunya menjelaskan. Tapi dari sebagian besar ceritanya, seluruh anggota keluarganya sering tidak bisa melakukan apa-apa lagi jika Jidan sudah mulai tantrum. Setelah itu, mereka selalu menuruti kehendak Jidan untuk ini itu. Tentu saja kemenyerahan dalam hal memberikan pembelajaran pada Jidan yang seperti itu di rumahnya, akan memberikan ekses yang tak diharapkan ketika dia ada di lingkungan sekolah. Bagaimana pun hebatnya Jidan bisa belajar di rumah pada suatu ketika, tidak akan sama halnya dengan saat dia berada di sekolah. Karena itulah saya lebih banyak bergantung pada guru pembimbingnya sebelum ini dan mengharapkan informasinya.

Tapi, barangkali hanya waktu penyerahan Jidan kepada saya dari guru pembimbing lamanya saja saya mengetahui sedikit tentang karakter Jidan saat ini. Secara garis besar, Jidan mudah tantrum kalau kehendaknya ditahan-tahan. Guru pembimbingnya sebelum saya sering kewalahan jika sedang menghadapi Jidan dalam keadaan tantrum. Sebabnya, dia yang perempuan bertubuh mungil, harus menghadapi anak laki-laki sebongsor dan sekuat Jidan. Sampai dia berhasil menemukan suatu cara untuk meredamnya saat sedang tantrum dengan menakutinya ada gempa, dia cukup berhasil. Ini pun sempat saya terapkan beberapa kali. Tapi kenyataannya, apa yang kemudian tidak membahayakan dirinya karena tidak terjadi, Jidan pastilah bisa mengidentifikasinya untuk kemudian mengabaikannya.

Seperti sekarang ini, Jidan sudah tidak mempan lagi dengan ancaman terhadap gelangnya yang akan diambil secara paksa. Secara insting, dia sudah bisa membedakan mana yang kemudian tidak menyenangkannya dan mana yang biasa-biasa saja.

Saya ingat betul sebelum ini, ketika saya meminta Jidan untuk menulis.

***

“Ayo Jidan, menulis yuk! Mana, keluarkan pensilnya!?”

“Pak Mite, si Fizi teh nangisnya gimana?”

“Jidan, jangan tanya itu dulu. Ayo kita menulis! Ini kan Jidan lagi di sekolah, lagi di dalam kelas. Kalau di sekolah ya harus belajar. Yuk kita nulis!”

“Mau keluar, Pak Mite.”

“Duh, mau apa? Diajak menulis kok malah mau keluar sih? Ini kan belum istirahat. Boleh keluar itu kalau sudah istirahat. Ayo, mendingan kita nulis!”

Tiba-tiba Jidan berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya untuk keluar. Saya buru-buru menarik tangannya. “Duduk, Jidan! Ini kan lagi belajar.”

“Mau keluar, Pak Mite.”

“Tidak boleh. Ini kan belum istirahat. Kalau mau keluar, sinikan gelangnya!” ancam saya sambil hendak mengambil gelangnya.

Seketika dia manut dan melakukan kegiatan yang diminta: menulis.

***

Sekarang, itu sudah tidak berlaku lagi baginya. Bukan saja tidak manut, bahkan kini dia tak segan lagi untuk berbalik menyerang jika diancam gelangnya akan diambil.

Aaaaaarrrrggghhhhh!! Tidak boleh! Tidak boleh! Ini kekerasan! Harus fight! Rambo! Fight!” serunya ketika saya berpura-pura hendak merebut gelangnya.

Buk! Buk! Buk!

Punggung saya menjadi landasan pukulannya untuk mendarat. Tak hanya itu, di kolong meja, kakinya ikut digerakkan. Walhasil betis saya kena bagian dari serangannya tersebut.

Mengingat itu terjadi di kelas dan saya tidak mau mengganggu kegiatan belajar siswa-siswa yang lainnya, saya menyerah. Saya meredam Jidan dengan apologia.

***

Sebenarnya saya pernah mencoba menahan kehendak Jidan sedemikian rupa tanpa kompromi. Tapi karena lingkungan terlihat kurang mendukung, saya tidak menyelesaikannya. Selalu saja ada kata-kata yang terlontar meminta untuk dihentikan.

“Kasihan Pak, biarkan saja dulu Jidan maunya seperti apa…” pinta seorang guru ketika melihat saya menahan Jidan untuk tidak keluar gerbang sekolah saat itu.

Mungkin tangisan dan sikap destruktif Jidan saat itu yang membuat guru itu iba sehingga meminta saya untuk melepasnya.

Sebagai orang baru di sekolah, tentu saya merasa tidak enak karena seperti mengganggu aktivitas lain yang ada di sekolah. Akhirnya saya pun mengikuti saran guru tersebut. Benar Jidan mereda setelah dilepas begitu. Tapi saya sangat khawatir akan pembiaran tersebut. Tidak akan ada kebaikan nantinya. Dengan sikap guru tersebut yang meminta saya melepas Jidan, lingkungan sekolah seolah mengumumkan bahwa mereka tidak mendukung cara pengajaran saya.

Kemenurutan saya akan saran guru itu pun sebenarnya mental seorang guru pembimbing khusus yang salah. Seolah-olah saya tidak bisa bertanggungjawab atas pengajaran yang saya lakukan. Padahal latar belakang pendidikan yang bisa diandalkan tidak disandang guru itu. Kalau saja… Ya, kalau saja. Saya akui bahwa saya sudah mengalah tak pantas waktu itu karena lingkungan. Padahal dulu saya pernah mencobanya pada Verly.

Saat itu hujan turun ketika kelas bubar dan Verly keluar kelas dengan wajah sumringah. Jiwa kanak-kanaknya mendorong dia untuk hujan-hujanan sebelum kakaknya datang menjemput. Tapi sebagai orang yang bertanggungjawab untuknya selama di sekolah saya tidak bisa membiarkannya. Maka saat itu saya pegangi dia supaya tidak bisa pergi ke mana-mana. Meski pun dia beralasan ingin buang air ke belakang, saya tidak mengizinkannya. Beberapa kali dia berdalih dengan alasan itu tapi hanya menipu.

Ketika dia benar-benar merasa tidak mendapatkan ampunan dari saya, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Dia meronta-ronta minta dilepaskan. Gerak badannya tak teratur. Kakinya ke sana kemari digerakkan dengan mengganas dan sesuka hati. Saya sama sekali tidak percaya lagi pada melasannya. Hingga akhirnya, selayaknya bocah kelas dua SD yang cengeng, dia menangis sejadi-jadinya. Keras sekali. Di lorong pelataran kelas yang kini menjadi kelas Jidan itu, dia meraung-raung minta dilepaskan. Jerit tangisnya hampir saja menyaingi gelegar petir pada derasnya hujan saat itu.

Tak kuat sebenarnya hati ini saat melihat dia meronta-ronta sambil menangis dengan gerak badan tak teratur. Tapi mau bagaimana lagi, saya harus mencoba metode itu. Saya tidak melepasnya sampai dia kelelahan karena tangis dan rontaannya sendiri. Dari menjerit-jerit menjadi tersedu-sedan.

Verly termasuk anak yang susah untuk dikasih tahu. Semua sasana yang saya berikan, meski awalnya dia mendengarkan, ujung-ujungnya selalu tidak membekas. Padahal teman-temannya bisa menerima hingga berubah sikap. Mungkin karena label slow learner yang diberikan ahli saat mendiagnosisnya itu, saya jadi bisa mewajarkannya. Karena menurut teori, untuk anak slow learner yang termasuk kategori learning disability, ada semacam disfungsi pada sistem saraf pusat di otak sehingga dalam mengolah arus informasi yang masuk si anak menjadi kesulitan dalam memaknainya. Karena itulah, dalam memberinya treatment agar sikapnya yang tidak bisa dikasih tahu berubah menjadi lebih baik, bukan pemahaman yang saya gencarkan melainkan pembiasaan seperti menahan kehendaknya tanpa kompromi. Mumpung dia masih dalam masa perkembangan juga, saya berharap bisa membentuknya menjadi pribadi yang selaras dengan lingkungan sedari dini lewat pembiasaan.

Pun sekarang terhadap Jidan, saya harus melakukan metode yang sama seperti ketika waktu itu saya melakukannya pada Verly. Sebuah metode yang oleh Edward Thorndike sebut sebagai modifikasi perilaku, dengan cara saya sendiri.

***

Serupa montir mobil yang mengetahui seluk-beluk tentang mesin hingga bisa memperbaiki kerusakannya, sebagai guru pembimbing khusus untuk Jidan, saya pun harus demikian. Saya harus mengetahui realitas Jidan sebagai anak autistik sehingga saya bisa memperbaiki perilakunya yang maladaptif.

Sebagai makhluk hidup, meski autisme, Jidan masih termasuk ke dalam kategori manusia. Tuhan sudah menciptakan sedemikian rupa tentang pembentukan Jidan. Sama seperti yang lainnya, Jidan berasal dari cairan semen ayahnya yang bertemu dengan sel telur ibunya. Kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging yang sempurna atau tak sempurna kejadiannya, sampai kemudian dikeluarkan dari rahim sebagai seorang bayi.

Katakanlah Jidan tak sempurna kejadiannya karena kenyataan menunjukkan dia sebagai individu dengan autisme. Tapi sungguh kita tidak bisa mengadili Tuhan untuk itu. Justru kitalah yang akan diadiliNya dalam kaitan mendidik Jidan. Apakah kita bisa mengantarkan Jidan menjadi pribadi yang sesuai dengan fitrahnya atau tidak, itulah yang menjadi fokus kita dalam menerima Jidan sebagai anak autistik.

Selama ini, gangguan autisme sering dikaitkan dengan kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan pada otak yang bersifat biokimia. Oll korrect, saya ikut dulu teori itu karena yang terobervasi dari Jidan memang seperti itu. Dia tidak menunjukkan kemampuan daya akalnya untuk mengaitkan fakta dengan informasi awal sebagai syarat untuk berpikir. Kemudian, berdirinya Jidan sebagai manusia, ini yang menurut saya sangat penting. Tuhan telah menciptakan manusia lengkap dengan segala potensinya, mulai dari naluri-naluri, kebutuhan jasmani, hingga akal.

Yang terlihat selama ini, Jidan tidak memiliki masalah dengan naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya. Bahkan dalam keseharian di sekolah tampak sekali manifestasi-manifestasi dari naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya itu. Yang justru menjadi perhatian besar saya adalah akalnya. Mungkin memang benar, karena ada kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan yang bersifat biokimia pada otaknya, Jidan menjadi lebih sering untuk berperilaku maladaptif. Padahal daya akal yang sempurna sangat dibutuhkan sekali dalam mengontrol manifestasi yang muncul dari setiap jenis naluri dan kebutuhan jasmani.

Entah sudah berapa kali saya mengajari Jidan soal moral ini itu, tapi selalu tidak membekas. Bukan cara pengajarannya yang salah karena memang pengajarannya hanya berupa kegiatan memahamkan lewat lisan belaka. Sementara, untuk mengajarinya dengan contoh aplikasi nyata akan sangat tidak nyambung, kecuali Jidan bukan anak dengan daya akal yang rendah. Karena untuk bisa paham, dia harus mengerti terlebih dulu apa yang diindranya. Kemengertian terhadap fakta yang diindra pun tidak akan sempurna jika tidak ada informasi awal dan usaha untuk mengaitkannya dengan fakta yang sedang diindra tersebut. Inilah bagian terpenting dari suatu proses berpikir yang justru kurang dimiliki Jidan.

Seperti itulah Jidan. Dia bergerak tidak didominasi oleh pemahaman akal melainkan oleh dorongan naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya belaka. Tanpa sedikit pun pertimbangan karena memang tidak bisa menimbang. Dengan begitu, teknik memahamkan pada Jidan akan sangat tidak efektif. Hanya dengan modifikasi perilakulah, kemungkinan Jidan untuk bisa berlaku adaptif dapat dicapai. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s