#10

[#10] BAUR

(Sebuah adagium berbunyi: perbedaan adalah rahmat. Tapi rahmat dari perbedaan bisa kita kecapi hanya jika kita berusaha untuk saling mengisi dan memberi makna atasnya)

Seperti biasa, jalanan kampus yang saya lalui pagi ini dinaungi oleh cuaca yang cerah. Langit masih berwarna biru dengan sapuan awan putih bak kelebat asap yang tampak melambat. Hijau tetumbuhan pun masih melengkapi keindahan alam di pagi ini. Tapi tidak seperti biasanya, pagi ini angin bertiup kencang sekali. Sekelebat angin membuat debu di lapangan yang saya lalui menjadi bergulung-gulung, membentuk pusaran topan kecil. Juga merusak tatanan rambut saya. Berkali-kali saya harus melihat refleksi wajah seadanya dari layar HP untuk sekadar memastikan rambut sudah rapi lagi begitu tiba di sekolah.

Saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jidan lagi. Selama saya jatuh sakit, Pak Nawi selalu memberi kabar tentang keseharian Jidan di sekolah. Sayang, kabar yang diberikannya kebanyakan adalah hal-hal yang tidak pernah saya harapkan dari seorang Jidan. Jidan dikabarkan sering mengamuk dan akibatnya mengganggu kegiatan belajar di dalam kelas. Pak Nawi pun kewalahan karena memegang tiga anak berkebutuhan khusus sekaligus. Beberapa kali Pak Nawi mengaku kena pukul saat Jidan tantrum. Sementara Pak Nawi harus mengontrol dua anak didiknya, Jidan sering dibiarkan untuk tidak mengganggu dengan melepasnya keluar kelas.

***

Jidan belum tiba. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07:38. Saya duduk-duduk dulu di warung sambil menunggu kedatangan Jidan. Di warung ini saya kembali bertemu dengan ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sekolah. Tak lama Mak Ai pun keluar dari dari dalam warung untuk ikut mengobrol di bangku warung.

Mereka, ibu-ibu muda itu bertanya tentang kabar saya selama ini. Saya jawab bahwa dua minggu kemarin saya jatuh sakit di kampung halaman, sehabis lebaran. Setelah itu obrolan melebar ke sana kemari.

Ternyata, di luar pun bukannya tidak ada cerita tentang Jidan yang mengalami tantrum. Di warung Mak Ai ini, cerita Bu Wati, Jidan mengamuk tanpa kawalan siapa-siapa. Dia menendang-nendang bagian warung Mak Ai. Entah apa alasannya, yang pasti ibu-ibu di sini bercerita tentang datangnya Jidan yang secara tiba-tiba dengan muka kusut masai.

Hm, saya jadi mengira, sehabis ditahan-tahan di dalam kelas oleh Pak Nawi, mungkin Jidan melepas kesal di sini, di warung Mak Ai.

Ibu-ibu di sini sangat khawatir karena tidak ada yang bisa mengimbangi Jidan saat sedang tantrum.

“Pak Mite, kemarin Jidan tantrum di sini. Menendang-nendang segala macam. Tidak ada yang mendampingi sih,” ujar Bu Wati.

“Iya, Pak Mite,” timpal Bu Meli menambahkan cerita. “Tidak ada yang mendampingi. Kalau Pak Nawi kan sedang kewalahan juga katanya mendampingi Rifki dan Zilan di dalam kelas.”

Merasa bersalah saya mendengarnya. Tapi mau bagaimana lagi, saya benar-benar jatuh sakit dan belum bisa masuk ke sekolah ketika peristiwa itu terjadi.

“Untung saja, Pak Guru, Bu Ina langsung berlari ke kelas enam, meminta bantuan Pak Nawi untuk membujuk Jidan,” cerita Mak Ai.

“Iya Pak, saya langsung pergi ke kelas enam minta bantuan pada Pak Nawi buat meredam Jidan. Habisnya kami di sini ketakutan. Jidan menendang-nendang di sini sambil menangis marah-marah,” tambah Bu Ina membenarkan.

“Kalau ada Pak Mite mah kan kami bisa tenang. Waktu itu juga Jidan tenang lagi kan?” tanya Bu Meli.

Atas kejadian yang serupa beberapa waktu lalu, saya mengingatnya. “Iya Bu,” senyum saya. “Ehm, saya juga minta maaf atas tindakan Jidan mengamuk di sini kemarin-kemarin.”

Ibu-ibu itu kikuk untuk merespon permintaan maaf saya. Karena bagaimana pun juga mereka tahu tabiat Jidan ketika sedang tantrum susah untuk diredam, dan mereka sudah memakluminya.

“Tapi itu terjadi setiap hari tidak, Bu?” tanya saya pada Bu Meli.

“Oh, tidak, tidak. Besokannya itu ada seorang mahasiswi yang mendampinginya kok. Tapi kurang tahu siapa.”

Eh? Saya keheranan. Mahasiswi mendampingi Jidan? Pak Nawi tidak cerita apa-apa soal itu.

Tuh Pak Mite, Jidannya sudah datang!” Penunjukkan Bu Wati akan Jidan yang sudah tiba diantar ayahnya membuyarkan rasa penasaran saya.

Saya langsung mendatanginya setelah sebelumnya berpamitan kepada ibu-ibu di warung untuk masuk kelas.

***

Saya mendatangi Jidan yang masih bertengger di atas motor dan berpegangan pada perut ayahnya yang sedang membuka helm.

“Ayo Jidan, turun. Sudah sampai,” pinta ayahnya.

“Ayo Jidan, turun, kita masuk ke kelas,” ujar saya dari belakang. Jidan langsung menoleh. Tapi tak ada reaksi apa-apa meski sudah lama tidak jumpa. Ayahnya yang justru terkejut mendapati saya. Kami langsung bersalaman.

“Sudah sehat, Pak?” tanya ayahnya.

Alhamdulillah, sudah sehat. Maaf ya Pak Rahman, hampir dua minggu kemarin saya absen. Sakit parah.”

Tentu orangtuanya sudah saya beri kabar ketika pertama kali saya jatuh sakit, dan mereka pun memakluminya.

“Oh iya Pak, kemarin katanya Jidan didampingi sama mahasiswa ya, Pak? Siapa itu?”

“Oh, itu… Katanya mahasiswa yang sedang magang di sini.”

“Oh…” anggut saya.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu semasa masih sebagai seorang mahasiswa. Hampir di setiap mata kuliah, dosen selalu memberikan setumpuk tugas untuk terjun ke lapangan untuk melakukan observasi terhadap berbagai anak berkebutuhan khusus. Saya menduga mahasiswi yang dimaksud ibu-ibu di warung dan Pak Rahman, mendampingi Jidan saat saya tidak ada adalah seorang mahasiswi yang sedang melakukan observasi. Di saat saya sebagai pembimbing anak yang diobservasinya tidak ada, dia mungkin melakukan pendampingan sekaligus untuk mendapatkan data-data yang dicarinya.

***

Kami, saya dan Jidan, masuk kelas di waktu jam dinding kelas sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Senyum saya merespon lirikan Bu Siti seolah melagukan apologia. Tapi hal ini biasa. Mungkin karena Bu Siti juga memaklumi keadaan Jidan dan tidak mempermasalahkannya. Sekilas memang terkesan fleksibel. Tapi saya yakin di benak guru muda itu tersimpan rasa kebingungan terkait pendidikan tiga anak berkebutuhan khusus di kelas akhir yang diwalikan kepadanya ini. Apalagi ujian nasional akan dilaksanakan tak lama lagi.

“Jidan, salam dulu sama Bu Siti!” pinta saya.

Dia menuruti tapi dengan keterarahan wajah yang diametral. Bu Siti hanya tersenyum saja menerimanya. Kemudian saya mengangguk tanda meminta izin untuk menuju dan menduduki bangku kami di bagian kelas paling belakang.

Di bangkunya, Rifki memandangi saya dengan seulas senyum yang seperti dipaksakan. Tersenyum saya melihatnya. Dia memang begitu. Senyumnya kaku.

“Pak Nawi, Pak Nawi, itu Pak Mite, Pak Mite. Pak Mite sekolah lagi sama Jidan,” ujar Rifki pada Pak Nawi karena melihat saya yang baru masuk sekolah lagi.

“Iya, iya. Nanti ngobrol sama Pak Mite-nya. Sekarang Iki teruskan dulu menulisnya,” respon Pak Nawi.

Jidan mengambil posisi duduk setelah sebelumnya melepaskan tasnya secara sembarang di atas meja. Duduknya pun dimulai dengan keterarahan yang tidak semestinya: menyamping.

“Eh, tidak seperti itu. Jangan menyimpan tas sembarangan. Biasanya tas ditaruh di mana?” sergah saya setelah Jidan duduk dengan seenaknya. Arah pandangnya yang ke samping dengan kaki yang digerak-gerakkan semakin membuatnya tidak mengacuhkan saya.

“Jidan, Jidan, itu tasnya simpan di tempat biasa. Di mana ayo simpannya?”

“Pak Mite, itu si Reski lagi apa?” tanyanya menunjuk ke arah Reski yang sedang dikerumuni teman-temannya yang lain.

Dia sama sekali tidak menghiraukan saya yang sedang memintanya untuk menyimpan tas pada tempatnya. Fokusnya malah tertuju pada temannya yang sedang memainkan rubik panjang.

Ya ampun, sedang dalam kegiatan belajar mengajar seperti ini ada saja siswa yang malah bermain-main. Perhatian Jidan menjadi tersita. Tapi tidak heran juga. Di kelas ini, sebagian besar siswanya memang susah diatur. Saya pun jadi bertanya-tanya kenapa Jidan tidak ditempatkan di kelas sebelah saja yang tidak pernah terdengar ribut dan sudah saya ketahui juga siswa-siswinya bisa berbaur dengan anak berkebutuhan khusus? Apa karena kelas itu sudah penuh seperti kami yang sering kehilangan tempat duduk di sini sebab saking banyaknya siswa? Kenapa tidak diatur saja untuk menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus di kelas yang siswa-siswinya tidak pernah ribut dan ramah itu?

Ah, tidak akan pernah habis pikir ini untuk memikirkan itu. Lebih baik saya fokus lagi pada Jidan.

“Ayo Jidan, ini waktunya untuk belajar. Baru juga masuk kelas sudah mau main lagi. Yuk sini, belajar!”

Tidak banyak bicara lagi dia meresponnya. Jidan memutar badannya ke arah papan tulis tapi tanpa mau mengambil buku pelajaran dari tasnya yang masih tergeletak di atas meja. Matanya berkeliling ke sana kemari. Mulai dari melirik Nunia yang duduk tepat di bangku ketiga dari depan sampai melirik Rifki yang sedang menulis dan Zilan yang tengah asyik sendiri dengan mainannya.

“Ayo Jidan, ambil buku tulisnya dari dalam tas. Masa harus Pak Mite lagi yang mengambilkan?”

Sebenarnya untuk mengefisienkan waktu saya bisa saja mengambilkan buku dari tasnya. Tapi saya mau Jidan mandiri. Sebelum itu pun dia harus bisa menuruti perintah dulu untuk pembiasaan.

Jidan tetap bergeming sambil sedikit-sedikit tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. Sebagai anak autistik dia benar-benar menciptakan dunianya sendiri. Dengan setengah berdiri seperti hendak keluar bangku, dia mengepak-ngepakkan tangannya hampir berloncatan. Tapi karena sempitnya ruang bangku, dia hanya bisa sekadar berdiri dari tempat duduknya saja.

“Jidan, ayo menulis dulu.” Saya hanya bisa membujuknya terus seperti itu. Tidak lebih. Kalau saya ancam lagi gelangnya akan diambil, dia akan tantrum. Bukannya saya tidak pernah mencari cara agar ada kegiatan lain selain tulis-menulis ini. Sebenarnya saya ingin sekali melatih motorik halusnya. Agar tulisannya menjadi rapi kembali. Seperti kata ibunya, sebelum Jidan pergi ke dokter dan melihat tulisan dokter yang main gores saja. Tapi di kelas ini sama sekali tidak ada fasilitas yang bisa digunakan. Akhirnya, saya hanya mencoba lagi dengan latihan seadanya.

“Jidan, kalau Jidan tidak mau menulis, kita senam jari saja dulu yuk!”

“Senam jari?” celinguk mukanya yang terekspresi dengan lucu. “Apa itu Pak Mite?”

“Senam jari. Sini coba tangannya,” saya meraih kedua tangannya dengan memegangi pergelangan tangannya.

“Regangkan!” Saya memintanya untuk meregangkan jemarinya. Tapi dia bersikap dingin saja sambil melihat tangannya. Saya kemudian melepas tangannya dan mencoba untuk memberi contoh bagaimana caranya meregangkan jemari tangan.

Nih, seperti ini jari-jari diregangkan.”

Dia memperhatikan jari-jari saya yang dibuka lebar setiap celahnya.

“Ayo coba!”

Dia mencobanya. Tapi kaku. Sangat kaku. Saya lantas memberinya contoh menggerakkan jemari seperti seorang penari Bali. “Ayo coba gerakkan begini!”

Saya menggetarkan tangan sebatas pergelangan. Kemudian membuat gelombang teratur dengan jari-jari seperti gerak barongsai. Dia menirunya. Tapi lagi-lagi kaku. Sangat kaku. Tertawa kecil saya melihatnya.

“Hahaha. Bukan begitu. Tapi jari-jarinya dilemaskan,” saya beri penjelasan sambil mencoba menggerakkan jemarinya. “Jangan pakai tenaga. Ayo coba lagi.”

Ngantuk Pak Mite,” selonongnya sambil menjatuhkan wajahnya ke atas meja.

“Eh, tidak boleh tidur di dalam kelas. Ini kan waktunya untuk belajar.” Saya mengangkat badannya yang besar agar bisa duduk dengan sempurna lagi. “Nah, sekarang menulis dulu ya!”

Dia menyenderkan lagi kepalanya di atas meja dengan tangan melingkup.

Saya menghela nafas. Baiklah, saya ambilkan lagi bukunya dari dalam tas. Sambil mengambil peralatan tulisnya, saya mengecek apakah ada tabungan yang dititip ibunya untuk diberikan kepada Bu Siti hari ini. Ternyata ada. Saya langsung beranjak ke depan kelas, menghampiri Bu Siti yang sedang melakukan rekapitulasi uang tabungan anak-anak didiknya di kelas ini. Setelah itu saya kembali lagi menuju bangku. Tanpa memperhatikan Jidan, saya membuka-buka lembaran kerja siswa, memeriksa sudah sampai bab mana Jidan belajar dan menyalin wacana.

Dari samping bangku, Pak Nawi cekikikan memberitahu saya sesuatu sambil menunjuk ke arah Jidan. Saya menoleh. Ya ampun, ternyata Jidan sudah tertidur.

“Baru sekarang ada yang tidur di kelas. Hahaha.” Pak Nawi tertawa kecil dari tempat duduknya yang diapit oleh Rifki dan Zilan.

“Tidurnya kemalaman mungkin,” ucap saya tak habis pikir.

Saya menimbang-nimbang apakah akan membangunkan Jidan atau tidak. Tapi membersit dalam pikiran, bagaimana kalau dibangunkan lantas uring-uringan? Tentu saya pikir itu akan lebih menganggu suasana hatinya untuk tetap tenang di dalam kelas. Tampaknya saya harus membiarkannya dulu sampai dia terbangun lagi.

Sementara dia tertidur, saya membuka-buka LKS miliknya, melihat-lihat dan memperhatikan sederetan materi, dari bab ke bab, yang tidak akan pernah bisa dikuasai Jidan. Mencermatinya, saya terdiam. Saya teringat pada harapan yang diungkapkan kedua orangtuanya agar Jidan bisa melanjutkan jenjang ke tingkat SMP. Tapi untuk bisa sampai ke tingkat itu, lewat bersekolahnya Jidan di sini, dia harus melewati ujian nasional dulu. Ketika soal-soal dalam lembar ujian nasional itu tidak ada yang adaptif untuk anak berkebutuhan khusus secara umum, hasil observasian saya terhadap Jidan berbenturan dengan sejumlah materi yang tegap menantang di atas kertas buram setiap lembaran LKS yang sedang saya pegangi ini.

***

Untuk mengisi waktu sampai Jidan bangun dari tidurnya itu saya mengajak obrol Pak Nawi yang sedang memonitoring Rifki dan Zilan mengerjakan tugas hariannya. Saya mengajaknya berbincang tentang peristiwa yang terjadi selama saya absen membimbing Jidan di kelas.

“Wah, saya kena pukulan Jidan hampir setiap hari!” sahut Pak Nawi memulai. “Saya kewalahan. Jidan tantrum, Rifki sama Zilan juga sedang dalam kondisi harus diatur. Daripada mengganggu yang lain juga di dalam kelas, mending saya lepas semaunya dia dulu di luar,” serunya lanjut.

Seolah menebak apa yang mau saya ketahui selanjutnya, Pak Nawi meneruskan ceritanya. “Tapi saya tidak tahu kalau di luar pun Jidan masih marah-marah. Sampai Bu Ina datang ke sini minta bantuan saya buat meredakan Jidan yang uring-uringan di warung.”

“Terus bagaimana?”

Pak Nawi melanjutkan cerita sampai akhirnya dia berhasil membawa Jidan ke dalam kelas lagi untuk belajar. Dalam hati, saya merasa tidak enak juga sudah menambah beban pada Pak Nawi yang sebenarnya sudah kewalahan mendampingi Rifki dan Zilan. Tapi untunglah, tiga hari setelah berkutat dengan tantrumnya Jidan, cerita Pak Nawi, beban dirinya kembali normal dengan kedatangan salah seorang mahasiswi yang magang.

“Ah, iya,” mendengar pernyataan Pak Nawi barusan saya teringat pada apa yang dikatakan ibu-ibu di warung. “Kata ibu-ibu di warung juga ada mahasiswi yang mendampingi Jidan setelah kejadian itu. Siapa dia?”

“Kurang tahu juga. Saya pernah bertanya kepadanya. Katanya dia sedang magang di sekolah ini di bawah seorang psikolog.”

Psikolog? Dugaan saya salah. Perkiraan saya tentang mahasiswi yang sempat mendampingi Jidan itu ternyata bukan mahasiswa yang sedang melakukan observasi dari tugas perkuliahan. Saya penasaran. Dua tahun di sini, baru kali ini saya mendengar ada seorang psikolog datang ke sekolah ini. Apalagi dikatakan dia bekerja di sekolah ini. Sebagai apa dia di sini? Mungkinkah dia membidani SENCO di sekolah inklusi ini? Tapi, yang mana orangnya saya belum pernah lihat.

“Psikolognya dari mana? Dari kampus kita?”

“Saya juga kurang tahu.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Apalagi itu, saya belum pernah bertemu,” tutup Pak Nawi menggantung rasa penasaran saya.

Tiba-tiba dari sudut kelas sana, dari arah pintu, datang seseorang. Seorang perempuan muda. Hm, mahasiswi yang dari kemarin mendampingi Jidan, saya kira. Setelah izin dari meja Bu Siti, dia mendekati bangku kami sambil tersenyum.

“Pak Mite ya?”

Ditanya seperti itu saya tidak terlalu kaget. Dia mungkin diberitahu sebelum ini oleh seseorang bahwa guru pembimbing Jidan itu sebunyi nama saya. Jangan jauh-jauh, mungkin dia tahu nama saya dari Pak Nawi.

“Iya. Siapa ya?” tanya balik saya basa-basi.

Dia menjelaskan siapa dirinya dan kenapa dia berada di sekolah ini. Label mahasiswa tingkat tiga melekat padanya. Jurusan Psikologi adalah disiplin ilmu yang dia ambil. Di almamater yang sama dengan saya dia menuntut ilmu itu. Dia berada di sini sedang magang di bawah seorang psikolog.

Dengan latar belakang suara riuh rendah yang selalu terjadi di kelas ini, saya tidak menangkap apa yang dia utarakan semuanya. Saya hanya tersenyum saja selama perbincangan itu terjadi. Yang sedikit tertangkap, dia seperti meminta izin untuk melakukan observasi terhadap Jidan untuk tugas kuliahnya, dan dia sama sekali tidak menjelaskan bahwa keberadaan seorang psikolog yang membawahinya adalah sebagai SENCO atau bukan.

***

Sawangan saya tentang SENCO atau bukannya psikolog yang membawahi mahasiswi tadi buyar seiring dengan terusiknya lengan yang saya tangkupkan di atas meja oleh gerak kecil tangan Jidan. Dia terbangun. Matanya terlihat memerah. Posisi wajahnya masih belum beranjak dari atas meja. Di sekeliling wajahnya mendarat, saya melihat royakan liur yang, tentu saja, meleleh dari celah bibirnya yang sedang termonyong-monyong selama tertidur.

Demi melihat pipinya yang ikut bersimbah liur saya tertawa.

“Jidan, Jidan meliur ih…

Dia masih terbengong-bengong dari sadaran tidurnya sedang saya masih tertawa memperhatikannya.

“Jidan, enak ya tidurnya? Pulas benar…”

“Pak Mite,” ujarnya pelan.

“Ya, ada apa Jidan?”

Dia terdiam.

“Jidan, kenapa? Ada apa?”

“Kepingin ee…”

Saya tersentak. Sekelebat bayangan cerita seorang teman kuliah sewaktu menghadapi seorang anak autistik yang sedang buang hajat terproyeksi. Betapa joroknya waktu itu kisah yang diceritakannya, saat anak didiknya yang autisme mendadak ingin buang hajat. Peristiwa itu terjadi cepat di dalam kelas, di mana teman saya itu, sebagai guru pendampingnya, harus berhadapan dengan seonggok kotoran yang keluar dari perut anak didiknya yang tidak terampil dalam manajemen ekskresi.

Hah, Jidan kepingin ee?”

Saya kelimpungan. Benak saya sudah terserang efek plasebo dari kenyataan yang dihadapi oleh teman saya itu, dulu. Dalam sangkaan saya, Jidan sama seperti anak didik teman saya itu: tidak terampil dalam manajemen ekskresi. Padahal asumsi saya itu muncul karena tegang menghadapi apa yang sebelumnya tidak pernah terpikir bakal terjadi.

Duh! Pikiran saya berseru kalut.

Saya tidak mungkin mengajaknya pulang. Ini baru saja tiba di sekolah. Istirahat saja belum waktunya.

“Jidan, kita ke WC saja yuk!” ajak saya ke belakang.

Dia beranjak dari rebahannya di atas meja. Kami langsung menuju toilet sekolah setelah sebelumnya meminta izin dari Bu Siti yang tengah mengajar.

Sesampainya di depan toilet, saya bertanya. “Jidan, Jidan bisa sendiri tidak eenya?”

Dia tidak menjawab. Saya jadi menduga-duga. Mungkin dia belum bisa memanajemeni urusan dalam kasus seperti ini.

Dia melepas celananya, lengkap dengan dalamannya.

“Tolong…” pintanya seraya menyerahkan celananya.

Betapa pun saya sedang dilanda cemas, saya senang dia bisa meminta bantuan saya untuk memegangi celananya dengan mengucapkan tolong terlebih dahulu.

“Jidan bisa sendiri?”

Dia masih tidak menjawab sampai menjongkokkan diri pada kloset.

Brust!

Brusutan ampas perutnya membuat saya menyingkir dari sana, keluar dari dalam ruangan WC. Seiring dengan datangnya dua siswa perempuan ke toilet ini, saya menutup pintu ruangan yang sedang dipakai Jidan.

“Jidan, jangan lupa guyur itunya ya!”

Saya benar-benar malu. Seharusnya, dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus yang diduga belum terampil manajemen ekskresinya, seorang guru seperti saya tidak seharusnya menyingkir. Tapi tadi saya melihat Jidan bisa menggunakan kloset secara tepat dengan dijongkokinya. Suruhan saya untuk mengguyur kotoran pun seketika dilakukannya.

Saya membuka pintunya sedikit demi menengoknya di dalam.

“Jidan, sudah belum?”

Jidan masih jongkok dan memegangi gayung.

“Kalau sudah selesai, kasih tahu Pak Mite ya!”

Saya menunggu lagi di depan pintu ruangan WCnya.

Setelah cukup lama, saya menengok ke dalam lagi hendak bertanya. Tapi Jidan sudah berdiri.

“Eh, itu Jidan sudah cebok belum?”

Dia tidak menjawab dan malah meminta celana yang dititipkannya kepada saya. Saya melihat-lihat ke arah kloset. Di sana masih tersisa ampas dari kotorannya yang tergenang dalam lubang kloset.

Sebelum menyerahkan celananya, saya menyuruhnya untuk mengguyur kloset lagi. “Itu, kotorannya belum bersih benar. Guyur lagi dulu!”

Dia menuruti sekali pun dengan gerakan yang terkesan enggan.

Byur!

Diguyurnya kloset secara sembarang.

“Eh, yang benar atuh kalau mengguyur teh!”

“Celananya!” pinta Jidan tak sabar.

Saya menjauhkan celananya dari rebutan tangannya.

“Itu Jidan sudah cebok belum?”

“Sudah!”

“Kalau begitu, guyur lagi itu bekasnya!”

“Aaaahh, celananya!”

Dia mulai mengerang geram tanda tak suka sambil merebut celananya dari tangan saya. Lekas-lekas dia memakai kembali celananya.

“Ceboknya bersih tidak?”

“Iya!”

Setelah selesai memakai celana, dengan tanpa hirau dia bergegas keluar meninggalkan saya yang masih harus menyiram kloset bekasnya sendirian di ruangan WC yang berbau enek. Sekarang ditambah dengan bau kotoran Jidan yang masih tersisa: semakin enek!

Oh, betapa menyebalkan sekali kamu itu, Jidan. Meninggalkan gurumu ini di tempat yang sungguh tidak seru! Awas saja kalau sampai terdengar kata pengantar dari mulutmu untukku, “Rasakan!”, sambil tertawa-tawa.

***

[I. Rahmat]

Hari-hari ke depannya berjalan seperti biasa lagi. Di sekolah ini selalu ada suka dan duka di sekeliling anak-anak berkebutuhan khusus. Baik suka mau pun duka, mereka sama-sama membuat kami menjadi dekat satu sama lain. Saya yang sebelum ini jarang berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus menjadi kecanduan untuk terus berada di dekat mereka. Dari yang asalnya kikuk menjadi lumer ketika terus-menerus bergaul dengan mereka. Tak ada rasa jijik lagi, sekali pun di sekitaran lubang hidung Zilan berkerak-kerak bekas ingusnya menjelaga. Wajah menggemaskannya mengalahkan itu semua. Sorot matanya yang innocent dari wajah bulatnya mampu meneduhkan hari-hari di sekolah meski panas matahari di musim kemarau ini terasa menyengat. Artikulasinya yang tidak jelas memberikan bunyi-bunyi nada indah tersendiri pada telinga kami. Apalagi polahnya yang lucu, selalu membuat kami merasa senang berada di dekatnya.

Rifki yang berbadan tambun pun demikian adanya, memberi kami makna hidup tersendiri di sekolah ini. Betapa kami yang berada di sini sebagai pembimbingnya mempunyai tanggung jawab yang tidak kecil atasnya. Dia yang hobinya membeokan kata-kata jorok yang didengarnya dari lingkungan, biasa kami ingatkan dengan tegas. Sesekali kami memberinya hukuman atas sikap negatifnya tersebut demi memodifikasi perilaku maladaptifnya menjadi layak untuk diterima lingkungan masyarakat. Tapi di samping itu, Rifki juga tidak kalah lucu dan menggemaskan dari Zilan. Sama-sama membuat kami selalu ingin dekat dengan mereka.

Jidan dan Fiza? Jangan ditanya. Mereka juga sama-sama menggemaskan. Di balik daya destruktif mereka tersembunyi pancaran kelembutan seorang anak yang tak tertandingi. Di balik kemarahannya yang menggelegar, mereka bisa membuat kami terpingkal-pingkal lewat tingkah polahnya. Mereka berempat sering kami biarkan untuk melakukan komunikasi satu sama lain ketika sedang istirahat di warung Mak Ai. Dengan caranya masing-masing, mereka berusaha untuk melakukan interaksi. Tapi yang terjadi selalulah hal-hal yang membuat kami tertawa bersama. Semua menjadi berwarna. Semua memberikan kami sebuah makna.

Mengingat itu semua, saya jadi teringat sesuatu semasa kuliah. Terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, saya pernah mendedikasikan sesuatu. Saya pernah membuat empat buah lagu dalam sebuah proyek album musik jurusan. Semuanya menceritakan tentang kehidupan mereka yang penuh makna. Sejak saat itulah, saya benar-benar mengerti akan sesuatu yang teramat berharga. Bahwa Tuhan tidaklah pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia dalam hidup ini. Termasuk keadaan mereka yang berkebutuhan khusus seperti itu. Bagi kita semua, dengannya kita bisa memperoleh apa yang saya sebut sebagai hidden symbiosis: sebuah makna hidup yang tak mudah kita dapatkan dalam berhidup. Bahwa sesungguhnya, mereka, anak-anak berkebutuhan khusus itu adalah bagai sebuah bintang yang bersembunyi. Saat mereka keluar dari persembunyiannya, karena ‘keistimewaan’ mereka, niscaya bumi ini akan lebih berwarna. Mereka layaknya sebuah filosofi kehidupan; memberi arti kepada orang di sekitarnya tentang kerendahan diri di hadapan Tuhan Yang Mahaagung. Maka, tak salah jika kita menyebut mereka sebagai permata yang tidak akan pernah hilang, yang senantiasa menempel padanya sebuah nilai yang teramat berharga (pelajaran) bagi seluruh umat manusia yang mau berpikir. Hidup mereka sungguh tidak berbeda dengan yang lainnya. Bahkan hidupnya begitu penuh makna andai kita mau menelusup ke dalamnya. Metafora bagi kehidupan mereka adalah laksana bintang yang mendapat pantulan cahaya dari jutaan bintang lainnya. Seperti sebuah pohon yang terus menerus tumbuh sampai ia bisa meraih dinding langit; maka dengan matanya, dengan telinganya, dengan akalnya, dengan fisiknya, dan dengan emosinya yang sekalipun serba terbatas, sesungguhnya mereka bisa melakukan sesuatu yang sama baiknya dengan orang lain pada umumnya, bahkan lebih.

Mengingat-ingat odenya, bayangan saya ketika bergitar di atas meja dosen, di dalam kelas, saat mengiringi seorang teman yang menyanyikannya dengan merdu sebelum kuliah dimulai, terbentang…

[II. Ode: Pentagonal]

You are a hidden star

Surrounded by a natural light

When you come out from your hideout

This earth will be colored, precious

You are a philosophy

More than anything in this world

Gives a meaning of humility

You’re a diamond that never gone

Your life isn’t different from the other

Your life is meaningful for us to find

A metaphor of your life

In your realm there’s a million stars enlighten you

As a tree that grows up

Constantly till it truly can reach for the sky

That’s your eyes, that’s your ears

That’s your brain, your phisycal, and your emotion

That’s enough to show to the world

That you can do something well like other people can do

Verily, we’ve been created

From drops a mixed semen

In order to try us

So He made us hearer and seer, pentagonal

You are a hidden star

Surrounded by a natural light

Gives a meaning of humility

You’re a diamond that never gone

***

Hari-hari di sekolah ini, sekali pun terkadang mumet karena berhadapan dengan kesulitan mereka dalam belajar, selalu memberikan cerita indah tersendiri yang bisa kami maknai. Begitulah mereka adanya. Menjadi pelengkap kehidupan kita dengan perbedaannya. Dan, seharusnya, perbedaan dari mereka ini dipandang masyarakat luas sebagai rahmat. Selama kita bisa menghargai mereka dengan cara tidak menarik diri dan siap berbaur bersamanya, semua akan terasa indah dan menyenangkan.

Ya, betapa hari-hari kami di sini juga terasa sangat indah dan menyenangkan. Seperti Kamis pagi ini, ketika Zilan memasang wajah cemberut sejak saya masuk kelas bersama Jidan. Begitu sudah duduk di dekat bangkunya, Jidan bertanya.

“Zilan kenapa, Pak Mite?” tanyanya mendapati ekspresi Zilan yang tak biasa.

“Lagi kesal.”

Saya melihatnya kasihan. Tapi lucu juga dengan mimik cemberutnya itu sehingga dia tampak begitu menggemaskan.

“Itu si Rifki kenapa, Pak Mite?” Perhatiannya beralih kepada Rifki yang sedang tak karuan dalam bujuk Pak Nawi.

“Itu Rifki sedang uring-uringan.”

“Uring-uringan?” Mata Jidan berputar dengan intonasi nada pertanyaan bak orang yang tak habis pikir. Ini yang lucu dari seorang Jidan kalau sedang biasa-biasa. Pun sebaliknya, kalau dia yang sedang tidak karuan, kelucuannya ini sama sekali tidak ada. Saya selalu dibuat masygul.

“Apa itu uring-uringan, Pak Mite?”

“Uring-uringan itu marah-marah,” saya mencoba untuk menyederhanakannya. “Kalau ayah Jidan telat menjemput, Jidan kan suka marah-marah. Nah, itu yang namanya uring-uringan.” Terlintas di kepala ini slide Jidan yang sedang tantrum di siang hari bulan puasa sampai membubuhkan oli kental ke hampir seluruh pakaian saya. Saya memberinya contoh dengan kembali menceritakan kejadian itu kepada Jidan.

“Oh, itu teh uring-uringan?” responnya sambil tertawa kecil.

Tertawanya renyah sekali. Sedikit pun tidak tampak rasa empati darinya. Padahal sebagai pelaku seharusnya dia meminta maaf pada saya. Tapi informasi-informasi tentang relasi sosial tak terkonsepsi dalam akalnya yang tidak bisa mengaitkan antara informasi-informasi awal sebuah fakta dengan fakta yang tengah dihadapi. Eksesnya, Jidan menjadi pribadi yang lempeng-lempeng saja.

“Ayo duduk!” Saya memutus obrolan itu dan mencoba membimbing Jidan supaya duduk dengan benar menghadap ke depan, tidak lagi menyamping.

Sambil merapikan tempat duduk, saya bertanya pada Pak Nawi perihal Zilan yang sedang cemberut.

“Kenapa dengan Zilan, Pak Nawi?”

Selagi mengurusi Rifki, Pak Nawi mencoba memberitahu saya kalau Zilan sedang merajuk karena dia sedikit terabaikan. Sebabnya, Rifki sedang membutuhkan perhatian lebih karena sedang tidak karuan. Rifki sedang enggan untuk belajar dan malah membuat gaduh kelas dengan tangisannya yang sama sekali tanpa air mata secucur pun.

Saya menyisihkan waktu barang sebentar untuk mengajak Zilan belajar selagi Jidan membuka tas untuk mengambil buku tulis dan LKS-nya.

“Zilan, kenapa? Kok cemberut sih? Ayo buka bukunya.”

Zilan memalingkan wajahnya seraya fokus pada mainan miniatur kura-kura yang digenggam tangan kirinya dan miniatur gajah yang digenggam tangan kanannya. Mulutnya terpasang monyong. Dia kemudian memainkan kedua mainan miniatur binatang tersebut secara beradu. Saya mendekati wajahnya tapi dia memalingkan wajahnya kembali ke arah belakang.

“Rifki kan sedang uring-uringan, Zilan. Sedang marah-marah. Makanya Pak Nawi lebih memperhatikan Rifki untuk menenangkannya. Zilan sama Pak Mite dulu yuk belajarnya!”

Entah dia paham atau tidak, hanya penjelasan dan penawaran itu yang bisa saya berikan kepadanya yang sedang merajuk.

Lama Zilan bersikap tidak hirau pada saya. Itu membuat saya untuk kembali pada Jidan untuk memulai pembelajaran. Begitu saya berpaling ke arahnya, Jidan sudah berada di bangku Reski untuk meminta pinjam majalah game yang pernah dibawanya hari-hari kemarin. Saya langsung mengambil Jidan dan membawanya kembali duduk di bangku. Tak ada perlawanan berarti darinya. Tangan ini mudah memeluk dan menggiringnya menuju bangku. Suasana hati Jidan sedang dalam keadaan baik, jadinya tidak melawan dan uring-uringan. Ekspresi sumringah jelas terpasang di wajahnya sejak turun dari motor ayahnya beberapa menit tadi. Entah apa yang sedang disenyuminya itu. Saya tidak pernah mengerti. Saya hanya berasumsi menuruti teori bahwa anak autistik itu mempunyai dunianya sendiri yang mungkin tidak dimengerti orang lain. Objek yang disenyuminya tak sama dengan apa yang kebanyakan orang senyumi.

Setelah berhasil mengarahkan Jidan untuk belajar, meski tersendat di sana-sini karena konsentrasinya tidak pernah fokus, saya mengambil bagian pula untuk mengarahkan Zilan agar belajar. Keseharian seperti ini sudah biasa saya lewati bersama Pak Nawi di kelas ini. Melelahkan, memang. Tapi jika diselami hal tersebut sangat menyenangkan.

Mungkin karena merasa direcoki dengan terus dibujuknya untuk belajar tanpa Pak Nawi, Zilan kabur berlari keluar kelas. Seperti biasa, kalau sudah seperti itu, dia akan mendatangi Mang Udin, penjual mainan yang ternyata sangat dekat dengan Zilan karena sering disambanginya.

Saya ingin sekali mengejarnya, karena keadaan seperti ini sebenarnya tidak baik. Membiarkannya untuk bersikap seenak hatinya sendiri sangatlah tidak baik. Mending kalau sedang merajuk dan kabur keluar kelas seperti itu masih didampingi guru pembimbing dan diarahkan pada pembelajaran tematik di luar, pasti akan menyenangkan. Tapi lagi-lagi realisasi ide yang sudah lama bercokol di kepala saya ini terhambat oleh keadaan. Saya masih harus mendampingi Jidan di dalam kelas, sementara Pak Nawi masih sibuk menenangkan Rifki yang belum berhenti uring-uringan.

Saya harus melakukan sesuatu. Saya melihat ke arah Jidan yang masih saja tersenyum belum berhenti. Terlintas di kepala untuk sejenak meninggalkan Jidan karena ekspresi sumringah masih berpendar dari wajahnya.

“Jidan, Pak Mite keluar dulu ya, mau ke toilet. Jidan tunggu di sini, lanjutkan menulisnya. Jangan keluar bangku. Kalau keluar bangku nanti gelangnya Pak Mite ambil. Ya?”

Sebelum Jidan memberikan respon, saya berharap dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan, nada frasa “Ya, Pak Mite!” yang keluar dari mulut Jidan yang masih menyungging senyum itu sungguh indah ditangkap organ pendengaran ini. Dia tidak merasa terganggu meski saya mengancam akan mengambil gelangnya jika tidak patuh. Segera setelahnya saya berujar pada Pak Nawi akan mengejar Zilan.

Benar saja, di luar, Zilan sudah bercokol di lapik Mang Udin. Saya segera mendekati untuk membujuknya agar masuk kelas lagi.

Tuh Zilan, Pak Guru datang menjemput Zilan. Ke kelas lagi ya! Boleh ke sini lagi kalau sudah istirahat,” bantu Mang Udin meringankan bujukan saya.

Tapi tetap saja, Zilan enggan untuk beranjak dari lapik Mang Udin. Dia tertunduk mencermati beragam mainan yang dijajakan di atas terpal berwarna biru.

Kejadian seperti ini, di mana Zilan tetap bergeming di lapik mainan Mang Udin, sudah sering kali terjadi. Selama itu tak ada cara lain yang ampuh selain dengan benar-benar menyeretnya beranjak dari sana. Tapi terkadang, jika diperlakukan seperti itu, dia malah memberontak dengan cara memukul dan sesekali menendang. Tak lupa dimeriahi dengan jeritannya yang khas dalam balutan ketidakjelasan artikulasi. Saya sama sekali tidak bisa mengerti apa yang dijeritkannya. Bahkan untuk menuliskannya menjadi barisan huruf saja saya tidak mampu. Ketidakjelasan artikulasinya memang sudah lazim mengingat lidahnya sangat pendek sebagai ciri khas anak dengan down syndrome.

Lumayan lama saya sudah berada di luar kelas dengan hampir melupakan Jidan yang saya tinggalkan sendirian di bangku. Tampaknya harus saya biarkan dulu Zilan berada di luar karena dia susah dan tidak mau dibujuk. Saya mesti mengontrol Jidan di kelas, takut kalau-kalau dia sudah keluyuran di dalam kelas mengganggu yang lain, atau bahkan tidak menutup kemungkinan membuat Bu Siti kewalahan. Itu bisa saja terjadi karena besar kemungkinan Pak Nawi pun tidak bisa apa-apa karena sedang fokus menenangkan Rifki.

Saya meninggalkan Zilan di luar dan bergegas untuk masuk ke dalam kelas. Tapi syukurlah, begitu saya membuka pintu kelas dan menajamkan pandang ke arah bangku kami, Jidan masih duduk dengan manis. Hanya saja Jidan sudah tidak menulis lagi. Dia sedang asyik masyuk dengan dunianya sendiri. Badannya menghadap ke arah samping. Sesekali dia menunduk sampai membungkukkan punggungnya untuk kemudian berdiri lagi dengan setengah melompat. Tak lupa tertawaannya yang terpasang tanpa alasan kecuali berdasar imajinasi dunianya sendiri, menghiasi polahnya.

Jidan kali ini tidak mengganggu teman-teman sekelasnya meski saya tinggalkan dia untuk sementara. Tapi tak heran juga. Itu karena suasana hatinya sedang bagus. Coba kalau sejak dari rumah dia sudah menampakkan ekspresi tak karuan, sebentar saya beranjak ke bangku Pak Nawi saja dia sudah menghampiri Nunia atau yang lainnya. Setelah itu, mengeluhlah mereka yang didekati Jidan dan saya harus berusaha keras untuk mengajaknya supaya duduk kembali.

Hari ini lain. Rifki juga masih belum mereda uring-uringannya. Pak Nawi terlihat sudah kelelahan membujuknya. Diajak main keluar kelas pun Rifki enggan. Dia sama sekali tidak menampakkan antusiasnya. Yang dia mau hanya tinggal di dalam kelas dengan sikap tak karuannya tersebut yang sedikit banyak sudah cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Saya masih beruntung hari ini Jidan tidak uring-uringan. Kesempatan ini pun, ketika suasana hati Jidan sedang bagus-bagusnya, saya mengambil kesempatan keluar kelas lagi untuk membawa Zilan masuk.

***

Zilan masih asyik di lapik Mang Udin.

Raut wajah Mang Udin kembali kebingungan, saat saya hadir kembali di depan lapiknya. Ekspresinya seolah-olah memelas, “Jangan salahkan saya, Pak. Saya memang jualan di sini. Tapi kemauan Zilan ini benar-benar tak terbendung. Tolong jangan gugat saya yang jualan di sini karena hari ini Zilan tidak mau belajar di dalam kelas dan malah main di lapik saya.”

Hm, saya mengerti Mang Udin. Mang Udin tidak bisa disalahkan dalam kejadian ini. Saya justru mempertanyakan gerbang sekolah yang setiap saat selalu terbuka sehingga banyak dari siswa-siswi di sini keluar halaman sekolah pada saat jam pelajaran. Jidan pun termasuk di antara sejumlah mereka, dan juga kali ini Zilan. Sekolah ini benar-benar tidak bisa melindungi peserta didiknya untuk belajar tanpa ada gangguan dengan terinterupsi kesempatan yang terbuka luas karena gerbang sekolah terbuka lebar. Guru-guru di sini pun seolah tidak bisa melihat para peserta didik yang sudah seperti makhluk gaib saja karena dengan mudah dan bebasnya mereka berseliweran ke sana kemari di depan mata kepalanya sendiri. Benar, saya pribadi sesungguhnya tidak merasa masalah kalau pada saat jam pelajaran seperti ini para siswa banyak yang berada di luar kelas. Tapi dengan satu catatan: mereka belajar bersama guru yang bertindak sebagai mentor.

Ini lain. Semua siswa bermain seenak jidatnya. Bola sepak terbang melayang ke arah mana saja sesuka hati si penendang. Sementara itu tidak ada penghalangan dalam bentuk apa pun sebagai perlindungan terhadap kaca-kaca jendela kelas. Sekali tercium bola, kaca-kaca jendela itu pasti bergetar. Pecah pun bukan tidak mungkin lagi, karena tendangan anak-anak di sini benar-benar tak terkendali. Bisa dipastikan guru akan menegurnya kalau itu sudah kejadian. Seperti waktu itu, lampu penerang gapura sekolah pecah karena hantaman bola oleh salah seorang siswa. Seorang guru yang kebetulan lewat di lapangan, buru-buru merespon dengan memberikan teguran. Lucunya, teguran tersebut dilontarkan dengan seadanya saja. Pelarangan bermain bola di luar jam olahraga pun hanya sekadar saran yang, tentu saja, anak-anak bisa memilihnya untuk tidak mematuhinya. Buktinya, setiap hari bola sepak masih melesat dari satu tendangan ke tendangan yang lainnya dan tak jarang berujung pada rusaknya bangunan atau perangkat sekolah lain yang semestinya terlindungi dengan baik.

Yang lebih menggelikan lagi, tukang sayur pun setiap hari masuk pelataran sekolah! Para orangtua kelas satu yang sedang menunggui anaknya sekolah cepat-cepat mengerubungi gerobak sayurnya. Belum cukup sampai di situ karena kepala saya masih harus geleng-geleng melihat si tukang sayur membersihkan daging di selokan kecil tepat di samping kantor. Alamak, sungguh tak habis pikir semua itu!

***

Mang Udin kikuk tepat di depan saya. Tangan saya terulur untuk Zilan sebagai tanda ajakan kepadanya untuk masuk ke kelas lagi. Tapi dia masih tidak acuh. Mainan sudah merebut perhatiannya berlebihan. Tiba-tiba kepalanya terangkat dari setumpuk mainan dalam keranjang hijau. Tangannya mengambil sebuah mainan yang saya tak mengerti itu apa. Zilan mengajak Mang Udin bicara, tapi tak saya pahami. Artikulasinya tidak jelas. Saya perhatikan konteksnya seperti bertanya bagaimana cara memainkannya. Benar saja, Mang Udin menjelaskan bagaimana mainan itu bisa dioperasikan. Saya lirik Mang Udin. Raut wajahnya memasang senyum kikuk sekilas memandang saya. Buru-buru Mang Udin menyudahi penjelasannya dan menyuruh Zilan untuk mendengarkan bujukan saya. Tapi Zilan tetap datar. Dia malah meneruskan pertanyaannya seputar mainan tersebut dengan menggeser posisi duduknya mendekati tempat duduk Mang Udin. Lengketlah mereka di sana. Memperhatikannya, saya hampir menyerah.

Tiba-tiba saya ingat sesuatu bahwa saya harus bisa mengusahakan para pedagang di sekolah ini untuk ikut membantu kelancaran proses pendidikan di sini, termasuk Mang Udin. Karena itu saya langsung meminta Mang Udin untuk membawa dan mendampingi Zilan sampai masuk kelas. Dan…

Itu berhasil! Dengan cara dirangkul Mang Udin, Zilan mau beranjak dari lapik mainan untuk masuk kelas. Sependek perjalanan ke kelas Zilan ternyata sudah mau bicara pada saya juga. Dengan memperlihatkan mainannya dia berusaha untuk berkomunikasi dengan saya. Sayangnya saya tidak begitu mengerti. Tapi saya harus tetap menjaga suasana hatinya yang sudah membaik. Saya meresponnya dengan tersenyum dan berkata, “Iya, nanti di dalam kelas kita main-mainnya ya!?”

Tentu maksud saya main-main di dalam kelas adalah bukan main sembarangan. Lari ke sana kemari di dalam kelas, lempar bola, memukul-mukul meja, bermain gundu, menaiki enggrang, petak umpet, atau permainan serupa lainnya. Tentu bukan itu yang saya maksud. Saya akan mengarahkan dia untuk belajar dengan menggunakan mainannya tersebut. Dengan begitu saya berharap itu akan membuat dia merasa cukup betah di dalam kelas.

Selepas dilepas Mang Udin di pintu kelas, kini Zilan akrab lagi dengan saya. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seperti tidak pernah ada ekspresi cemberut di muka bulatnya yang menggemaskan dan saya tanya kenapa karena tidak mau belajar. Semua baik-baik saja. Sebelum masuk kelas juga tadi saya sempat mencandainya. Dan dia, seperti biasanya, merespon dengan gaya khasnya yang semakin menggemaskan untuk dicandai.

Berhasil juga saya mengambil Zilan dari luar untuk belajar di dalam kelas. Jidan pun masih tidak beranjak dari tempat duduknya untuk berulah. Tapi ternyata jam dinding yang terpasang setengah meter di atas papan tulis sudah hampir menunjukkan waktu istirahat. Dan benar saja, belum lama kami duduk di bangku, bel sudah berbunyi. Saya melirik Zilan yang melirik saya. Dia tertawa menang. Sambil menunjuk-nunjuk seperti orangtua yang sedang menasihati anaknya, dia berujar dalam kekurangjelasan lafal, “Hehehe. Istirahat, istirahat, istirahat.” Selonong kemudian dia keluar kelas untuk memasuki dunia luar di waktu istirahat yang sangat dinanti-nanti oleh semua siswa untuk dinikmati. Pantatnya berlenggak-lenggok seperti bencong yang ganjen di remangnya jalanan malam. Meninggalkan saya yang kalah terdiam di bangku. Jidan pun beranjak dari tempat duduknya untuk istirahat di luar.

“Istirahat, Pak Mite!” ujarnya singkat seraya berlari keluar kelas.

Saya tertunduk senyum geli. Sudah susah-susah berusaha membawa Zilan dari luar untuk masuk kelas, begitu duduk di bangku, bel istirahat sudah berbunyi dari arah ruang guru sana. Seperti tidak berarti saja usaha saya itu. Apalagi melihat senyum dan lenggokan pantat Zilan saat keluar kelas untuk istirahat itu. Saya kalah.

***

Istirahat, kami duduk-duduk lagi di warung Mak Ai. Seperti biasa, saya harus terus mendampingi Jidan. Dari bangku warung Mak Ai, dia pergi ke arah jalan sebelah barat mendatangi penjual sosis goreng. Dari penjual sosis goreng, dia pergi menuju penjual arumanis. Dari penjual arumanis, dia pergi lagi ke sebuah warung yang menggantung chiki berjuntai-juntai. Setelah lama mengamati apa yang hendak dibeli, Jidan mengambil satu bungkus. Setelah itu, dia mampir ke sebuah rumah yang pintunya terbuka. Dia masuk tanpa permisi karena di dalamnya ada anak kecil yang sedang bermain playstation. Di sanalah, di depan perangkat game, Jidan susah dibujuk untuk meninggalkan tempat. Kemarahan sudah biasa ditampakkan jika dia dibawa pergi dari sana secara paksa. Akhirnya, saya harus menungguinya dan memastikannya tidak berulah di rumah orang. Beberapa menit kemudian, setelah dia tidak tertarik lagi, kami bisa beranjak dari sana menuju warung Mak Ai lagi.

Begitulah. Saya belum bisa melepasnya bebas sekali pun biar belajar. Rasa lelah memang saya rasakan. Tapi ini kewajiban saya untuk bertanggungjawab atasnya selama berada di lingkungan sekolah.

Di sekolah ini, saya, Pak Nawi, dan Pak Sima harus saling membantu. Jika seseorang dari kami ada keperluan sebentar, maka anak didik kami harus bisa didampingi oleh satu sama lain. Seperti misalnya ketika Pak Sima ada keperluan administratif untuk pergi ke Dinas Pendidikan kota, Fiza yang badannya hampir dua kali lipat dari Jidan dan Rifki itu harus bisa dikontrol oleh saya atau Pak Nawi. Fiza yang sangat sulit untuk berkomunikasi dan sikapnya yang sering mengambil jajanan tanpa tedeng aling-aling, harus kami awasi. Kadang, kalau Rifki sedang bagus moodnya dan Zilan tidak rewel, yang suka mengontrol Fiza adalah Pak Nawi. Sementara saya tetap mendampingi Jidan. Tapi sesekali juga saya suka mengawasi Fiza kalau Pak Nawi lengah karena repot harus mengurus Rifki dan Zilan. Atau seperti di dalam kelas juga, ketika Pak Nawi hendak pergi ke toilet, maka sebisanya saya harus mengontrol Rifki dan Zilan, tentunya bersama Jidan juga.

Membaurkan mereka bertiga atau berempat nyatanya menyenangkan juga. Semua saling mengisi. Saya bisa berbangga diri karena ketika semua berkumpul seperti itu, Jidanlah yang paling menonjol dalam memberikan andil relasi sosial yang cukup lumayan. Sering Rifki yang suka membeokan kata-kata kasar dan jorok diingatkan Jidan. Eits, tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh bicara kasar dan jorok. Disentil nih! Pak Mite, Rifki bicara kasar dan jorok!” Begitu sikap Jidan saat mendapati Rifki sedang membeokan kata-kata kasar dan jorok. Dia melaporkannya kepada saya. Pembiasaan dari kami, para guru pembimbing khusus, baik ketika di dalam kelas atau sedang berkumpul di warung Mak Ai, kepada Rifki yang sering membeokan kata-kata kasar dan jorok, tampaknya membekas juga pada mereka.

Pak Nawi dan saya yang selalu melarang Rifki untuk tidak membeokan kata-kata kasar dan jorok, ditiru Jidan. “Iki, tidak boleh bicara kasar dan jorok!”

Kalau sedang membandel, biasanya Rifki akan terus-menerus menyengaja membeokan kata-kata kasar dan jorok tersebut. Itu jika suasana hatinya sedang dalam keadaan euforia. Keadaan tersebut membuat kami selalu mengancamnya dengan hukuman, “Disentil nih mulutnya!”

Akan ampun-ampunan dia kalau diancam seperti itu. Tapi jika sedang dalam keadaan biasa-biasa, ketika dia membeokan kata-kata kasar dan jorok dan kami mengingatkannya, dia akan segera diam dan malah membeokan larangan kami. “Tidak boleh bicara kasar dan jorok, tidak boleh bicara kasar dan jorok!” Begitu dia menirunya.

Jidan kemudian meniru kebiasaan kami, mengingatkan Rifki dengan posisi tangan memasang sentilan. Begitulah Jidan saat mengingatkan Rifki meski arah pandang matanya tak selalu tertuju pada Rifki yang menjadi target.

Bagaimana dengan Zilan? Bukannya Zilan tidak punya andil. Sebagai sama-sama anak didik yang sudah didampingi Pak Nawi sejak dua tahun ke belakang, dia selalu membantu usaha Pak Nawi dalam mengontrol Rifki. Jika Rifki pergi dari kelas seenak hatinya mendatangi kelas lain sehingga menganggu anak-anak kelas itu, Zilan yang kerap menuntunnya kembali. Bahkan pernah suatu kali saya lihat dia sedang menarik Rifki dari kelas lain untuk kembali ke kelas kami. Dengan badannya yang kecil, dia bersusah payah mendorong tubuh Rifki yang tambun. Atau dengan sebelah tangannya yang selalu memegang mainan, dia berusaha semaksimal mungkin menarik Rifki dengan tangan yang satunya lagi sambil manyun-manyun.

“Kelihatannya capai, Pak Guru?” Pertanyaan Mak Ai menjatuhkan layangan pikiran saya.

“Eh, oh, ya begitulah Mak. Mendampingi Jidan mah harus ekstra.” Saya tersenyum menjawabnya. Lantas saya bertanya balik tentang gorengan yang selalu tersedia di warungnya yang kebetulan hari ini tidak ada. “Ke mana gorengannya, Mak? Habis?”

Sambil menyeduh teh hangat Mak Ai menjawab, “Tidak sempat menggoreng tadi pagi. Emaknya kesiangan.”

Diaduknya teh manis itu dengan sendok gula yang kecil dan pendek. Sesekali terdengar dentingan gelas yang diadu sendok.

“Ini tehnya, Pak Guru. Silakan.”

“Aduh Mak, suka merepotkan nih.”

Hampir setiap hari saya selalu ditawari teh manis dan selalu saya tolak karena merepotkan. Tapi keseringan Mak Ai suka membuatkan tanpa persetujuan saya terlebih dulu.

“Tidak apa-apa, Pak Guru. Emak mah suka senang begini teh. Dulu, anak-anak mahasiswa yang indekos di sini juga biasa disuguhi sama Emak kok,” Mak Ai menenangkan saya. Dan berceritalah Mak Ai tentang masa-masa itu.

Di tengah Mak Ai bercerita, tiba-tiba Zilan muncul dari gerbang halaman warung dengan gaya berjalannya yang khas. Pantatnya berlenggok ria sementara kedua tangannya memutar-mutar mainan baru, yang tampaknya baru dibelinya. Mulutnya dibuat semanyun mungkin.

Dari gapura sekolah Rifki menyusulnya dengan cara berlari dan tangannya dikepak-kepakkan. Zilan segera mengambil bagian tempat duduk di samping Bu Wati, sementara Rifki masih melompat-lompat di pelataran warung. Pak Nawi pun mengambil bagian tempat duduk di samping saya. Sebelum duduk, Pak Nawi mengelus-elus kepala Zilan yang kegirangan karena membeli mainan baru.

“Sekarang mah tidak cemberut lagi kan?” Pak Nawi memastikan bahwa sekarang Zilan tidak cemberut karena merajuk lagi. Mainan baru sanggup mereduksi itu semua.

Rifki masih menjerit-jerit sambil melompat-lompat di depan kami ketika Jidan dengan wajah polosnya mendekati tangan Zilan yang sedang memegang mainan untuk melihatnya. Tiba-tiba, ibu-ibu yang sedang berbincang santai dibuat kaget oleh polah Rifki ketika dia berhenti dari kegiatan menjerit dan melompat dan berganti membeokan kata-kata kasar dan jorok.

“Eeeeeeeeehhhh! Pak Nawi, itu Rifki bicara jorok!” Bu Wati dan Bu Meli serempak melapor pada Pak Nawi.

Jidan pun langsung berpaling ke arah Rifki dan mencoba untuk menghentikannya dengan berkata, “Eits, tidak boleh bicara kasar dan jorok, tidak boleh bicara kasar dan jorok!” Arah pandangnya terbuang ke mana saja. Bahkan ketika dia mencoba memberitahu saya.

“Pak Mite, Pak Nawi, itu si Rifki bicara kata kasar dan jorok!” Arah pandang matanya masih sembarang melakukan gerak saccade yang lambat. “Disentil nih!” ancamnya kepada Rifki.

Pak Nawi pun mengacungkan jari sentilannya. Seketika Rifki langsung mereda. Terus berkata, “Ampun, ampun!”

Padahal sentilan tidak pernah mengenainya, tapi dia ketakutan.

“Tidak boleh bicara kasar dan jorok, tidak boleh bicara kasar dan jorok!” Rifki mendatangi kami dan membeo, “Pak Nawi, tidak boleh bicara kasar dan jorok, tidak boleh bicara kasar dan jorok!”

Pak Nawi mengangguk pasti. Kemudian Rifki berpaling ke arah saya.

“Pak Mite, tidak boleh bicara kasar dan jorok, tidak boleh bicara kasar dan jorok!”

Saya pun mengangguk pasti dan berkata kepadanya, “Iya, Rifki tidak boleh bicara kata-kata kasar dan jorok. Itu jelek. Jangan diulangi lagi ya!”

Rifki terdiam mendengar larangan saya. Wajahnya penuh peluh bercucuran. Saya memastikannya, “Jangan bicara kata-kata kasar dan jorok lagi ya!”

Rifki masih terdiam. Entah mencoba meresapi atau bukan. Bibirnya sedikit-sedikit digigitnya. Saya terus memastikannya, “Rifki, jangan diulangi lagi ya!”

Dia masih berdiam diri. Dia mengambil bagian untuk duduk di samping Zilan dan mencoba untuk merebut mainan Zilan. Saya langsung menginterupsinya.

“Rifki, dengar kata Pak Mite. Jangan lagi ngomong kata-kata kasar dan jorok ya! Ya?”

Dia melirik saya datar. Masih diam. Tapi tak lama.

“Yaaaaaa…” ujarnya kemudian masih dengan mimik dan intonasi yang, tentu saja, datar.

***

“Pak Nawi, kenapa sih tadi si Rifki itu?” Sambil menikmati makanan ringan saya memulai pembicaraan. Anak-anak didik kami masih bertengger di bangku warung dan bercengkerama bersama ibu-ibu di sini.

“Biasa,” sambil mengisap rokok Pak Nawi mulai menjawab. “Tadi pagi pas saya jemput di rumah dia sudah uring-uringan. Ibunya pun kewalahan. Malah adiknya juga jadi korban amukan dia.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Malamnya tidur terlambat. Soalnya, siangnya dia tidur pulas karena tidak ada kegiatan.” Pak Nawi melanjutkan ceritanya sampai menjelaskan bahwa untuk esok pagi yang bersemangat, anak autistik butuh tidur yang cukup di malam harinya. Itu bisa dicapai dengan cara membuat capai anak autisme seharian. Tentunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang edukatif. Supaya tidak cepat membuat anak bosan juga, kegiatannya harus dimodifikasi sedemikian rupa dalam balutan bermain.

Dalam obrolan di warung yang sekelilingnya riuh rendah, saya memikirkan sesuatu. Tampaknya penjelasan Pak Nawi berkorelasi dengan observasian saya selama ini. Baik Jidan, Rifki mau pun Fiza, jika sedang tidak karuan maka energi yang keluar adalah besar sekali. Saya, Pak Nawi, dan juga Pak Sima terkadang cukup kewalahan dalam usaha menenangkannya. Kami harus ekstra hati-hati, karena dalam keadaan demikian mereka selalu bersikap destruktif. Yang paling menonjol adalah Jidan. Kalau sedang dalam keadaan tantrum dan coba untuk ditenangkan, layangan kepal dan ayunan tendangannya berseliweran. Fiza masih mending karena dia tidak pernah memukul kepada orang yang coba menenangkannya. Tapi bukan berarti aman, sebab dia melakukan perlawanan dengan cara mencubit. Cubitannya pun bukan main sakitnya. Jidan juga pernah menjadi korbannya.

Suatu hari, saat Jidan hendak main ke kelasnya Fiza, dia masuk dengan wajah ceria. Tak tahunya Fiza sedang dalam keadaan suasana hati yang tidak bagus di dalam sana. Keluar-keluar Jidan sudah menjerit dalam tangisan dan meraung kesakitan dan memaksa minta diobati ke dokter untuk luka cubitnya. Kecil memang lukanya, tapi pedihnya minta ampun. Sering tangan Pak Sima juga mengelupas kecil-kecil karena menjadi langganan cubitan Fiza.

Yang justru lebih baik adalah Rifki. Dia tidak pernah menyerang siapa dan bagaimana kepada orang yang menenangkannya saat tantrum. Yang dia lakukan hanyalah meraung-raung dan selonjoran dengan gerak tangan dan kaki tak teratur saja.

Begitulah. Tampak luar, mereka begitu polos. Tapi sekalinya tantrum, sangat mengerikan sekali dengan tenaga simpanannya itu. Orang yang menjadi guru pembimbing khusus mereka haruslah orang yang bisa menandingi kekuatan mereka dan siap untuk berkurusetra dengannya. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s