#11

[#11] BELAJAR DI LUAR

(Sekali lagi kita harus bertanya: jika pengalaman adalah guru terbaik, maka mengapa banyak guru di sekolah justru menjadi sipir bagi murid-muridnya?)

Bunyi dentuman benda tumpul serupa penghapus papan tulis membletak pada pintu kelas saat kami hendak memasuki kelas. Bekas peraduannya memutih karena debu kapur meruyak pada dinding pintu.

Sebelumnya, Rizal, anak yang paling nakal di kelas kami, berlari keluar. Rupanya dia menghindari lemparan penghapus papan tulis itu. Orang yang berlari mengejarnya segera bertengger di depan pintu. Desty, murid perempuan paling pintar di kelas, ternyata, yang mengejarnya. Serapah keluar dari mulutnya dengan lantang, “Kenapa sih kamu itu suka mengganggu!?”

Jidan tidak memperhatikan kejadian itu karena perhatiannya tertuju pada anak kelas satu yang sedang berolahraga di lapangan. Kekerasan semacam itu, yang ditunjukkan Desty dan Rizal, sesungguhnya tidak baik. Terlebih lagi di dalam lingkungan sekolah. Saya khawatir akan siswa-siswa yang lain. Bahkan sampai Jidan pun, jika kemudian dia melihat kejadian itu secara terus-menerus, bukan tidak mungkin akan menjadi maklumat baginya bahwa itu adalah sesuatu yang wajar dalam bergaul dengan orang lain. Kesehariannya yang dicekoki oleh unsur-unsur kekerasan dalam game tarung yang sering dimainkannya seolah menjadi pembenaran yang menguatkan bahwa hidup memang seperti apa yang dilihatnya dari sikap teman-temannya tersebut.

Saat melewati pintu kelas, saya bertanya pada Desty. “Kenapa, Desty? Ada apa?”

“Itu tuh Pak, si Rizal! Kerjaannya mengganggu terus. Dasar anak nakal!” rutuknya.

Sampai saya duduk di bangku dan mengarahkan Jidan untuk bersiap-siap belajar, Desty masih berdiri di pintu kelas. Saya memperhatikannya. Dia lantas berbalik masuk kelas lagi dengan bibir dipasang manyun, kembali pada kelompok belajarnya yang kerap diganggu Rizal.

Dalam hati ini muncul rasa belas. Saya membayangkan, betapa tidak nyamannya dia dan siswa-siswa lainnya yang sering diganggu oleh Rizal. Ini terjadi sudah lama. Sering mereka mengeluh kepada saya kalau sedang diganggu dan saya meresponnya dengan meminta Rizal untuk diam. Tapi sebagai anak nakal, Rizal tidak pernah mengindahkan teguran saya. Apakah dia pikir saya tidak pantas menegurnya karena bukan guru di sekolah ini, entahlah. Yang paling terang kelihatan darinya adalah dia sama sekali tidak pernah menghargai saya. Kemudian saya memberi saran kepada mereka yang sering diganggu Rizal untuk melaporkannya pada Bu Siti. Ternyata pelaporan itu sudah mereka lakukan sejak jauh-jauh hari sebelum saya bekerja di sekolah ini, tapi hasilnya selalu nihil. Teguran dari guru asli di sekolah ini pun tidak pernah mempan padanya. Atau tidak tegas?

Keadaan kelas yang demikian, di mana Rizal sering menjadi pengganggu bagi yang lainnya, semakin tidak mengidealkan harapan akan terciptanya lingkungan yang inklusif di sini. Kelas selalu berisik meski ada Bu Siti sekali pun. Dengan ulah Rizal dan teman-teman segengnya, Bu Siti sering tidak dihargai. Hampir setiap harinya keluhan diperdengarkan pada telinga saya dari mulut-mulut kecil siswa yang kesal akan polah Rizal dan gengnya. Bukan hanya mereka yang merasa terganggu, sebenarnya, tapi saya yang sedang membimbing Jidan juga. Hingga suatu saat, kesabaran saya tidak bisa ditolerir lagi. Murid-murid nakal yang berlarian melewati bangku kami, saya stop dengan palangan kursi yang saya dorong.

Jduk!

Si murid nakal kena palang dan saya langsung menggebrak meja.

Brak!

Bunyi kerasnya menarik jewer setiap telinga dari siswa yang berada di dalam kelas hingga membuat mereka semua berpaling pada saya. Dengan gemetaran karena jarang marah, saya lantang berbicara: “Bisa diam tidak kalian ini!? Ini di dalam kelas, bukan tempat untuk bermain! Kalau mau main-main, di luar sana! Ayo keluar!”

Semua murid tertunduk, tidak terkecuali si nakal Rizal dan gengnya. Setelah itu kelas menjadi ideal. Tidak ada suara sedenting pun. Mereka fokus pada buku belajarnya masing-masing.

Ajaib. Teguran saya yang lantang itu tidak bertahan lama. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, besoknya kelas berisik lagi seperti biasa. Saya pun mencoba menegur murid-murid nakal secara personal, tapi nihil. Mereka sudah bebal.

Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi berada di kelas ini. Saya berpikir, berada di dalam kelas ini adalah kesia-siaan. Bagaimana tidak sia-sia kalau nyatanya Jidan kerap terganggu oleh suasana kelas yang selalu riuh rendah dan semakin membuatnya susah untuk belajar. Rifki dan Zilan masih mending karena tidak seperti Jidan; mudah terganggu.

***

[I. Pacaran]

“Pak Mite, mau ke Nunia dulu,” ujar Jidan tiba-tiba membuyarkan pikiran saya. Dia hendak menyasar pada bangku Nunia. Buru-buru saya memegangi tangannya dan memintanya untuk duduk lagi.

“Kenapa sih Jidan mau ke Nunia terus?”

“Ingin pacaran, Pak Mite.”

Gelegar! Petir seperti menyambar memecah keindahan cuaca cerah di dalam kepala saya.

Ingin pacaran?Tidak salah? Kata-kata itu meluncur dari mulut seorang Jidan. Dia autisme. Tahu dari mana dia tentang konsepsi tersebut?

“Pacaran? Tahu dari mana Jidan, tentang pacaran?”

Dia senyum-senyum menunjuk Nunia dan tak kunjung menjawab pertanyaan saya.

“Jidan, dengarkan Pak Mite,” saya memegang bagian bawah kedua pipinya untuk memutar kepalanya menghadap saya. “Kenapa Jidan ingin pacaran?”

“Ingin, Pak Mite…” jawabnya sambil mengarah ke bawah.

“Kenapa harus Nunia?” Saya bertanya lagi dan menanti-nanti jawaban yang akan terlontar dari mulutnya dengan rasa cemas.

“Cantik.”

Gelegar! Petir kembali menyambar di dalam kepala ini.

Akhirnya, apa yang saya duga memang seperti adanya. Jidan mengetahui konsep keindahan. Lebih-lebih tentang sesuatu yang berkaitan dengan kecenderungan seksualnya. Dia mampu mengidentifikasi seorang wanita itu cantik sebagai objek yang kepadanya diharapkan bisa memenuhi manifestasi kecenderungan seksualnya tersebut.

“Ingin sayang-sayangan, Pak Mite. Jidan ingin sayang-sayangan sama Nunia.”

Ingin sayang-sayangan? Begitu jelasnya dia mengatakan hal itu. Ini pasti efek dari dicampurbaurkannya siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam satu ruangan kelas. Hal ini yang membuat saya khawatir karena bisa menjadi penghambat belajarnya. Mencampurbaurkan murid laki-laki dan murid perempuan dalam satu ruangan belajar memang saya khawatirkan. Itu bisa menjadi penghambat belajar siswa, di mana masing-masing jenis kelamin dari mereka berhadapan satu sama lain. Laki-laki berhadapan dengan perempuan dan juga sebaliknya. Sebagai sesuatu yang sudah menjadi potensi mutlak pada diri setiap manusia, kecenderungan seksual bisa muncul ke permukaan menampakkan bentuknya jika ada rangsangan dari luar. Bagi laki-laki, munculnya perasaan ingin menyayangi seorang perempuan adalah salah satu bentuk manifestasi dari kecenderungan seksualnya. Begitu juga buat perempuan, rasa ingin menyayangi seorang laki-laki yang akan menjadi raja di hatinya adalah manifestasi dari kecenderungan seksualnya.

Manifestasi tersebut membutuhkan pemenuhan, tapi tidak mutlak. Menyeruaknya manifestasi kecenderungan seksual itu bisa diredam atau ditahan dan tidak akan sampai mengakibatkan kematian. Ia bisa pula diganti dengan suatu cara pemenuhan yang lain. Contohnya, perasaan cinta seorang suami kepada istrinya bisa dialihkan atau terganti dengan perasaan sayang kepada ibunya. Atau perasaan cinta seorang istri kepada suaminya bisa diganti atau dialihkan pada perasaan menyayangi ayahnya.

Dan untuk manifestasi kecenderungan seksual anak-anak seusia murid di kelas ini, meredamnya adalah cara yang paling tepat. Karena di rumah pun mereka masih bisa menyalurkannya kepada seluruh anggota keluarga dengan berkasih sayang. Itu dikarenakan, meski pun kecenderungan seksual manusia ini orientasinya adalah untuk kelangsungan spesiesnya, tapi manifestasinya tidak melulu harus berupa aktivitas reproduktif atau intimitas melainkan bagaimana cara manusia menjalin relasi sosial secara emosional dengan menggunakan perasaannya.

Tidak perlulah anak-anak di kelas ini dibiarkan sesuka hatinya dalam memenuhi manifestasi kecenderungan seksual mereka tersebut. Dengan membiarkan mereka pacaran, misalnya. Karena selain dilarang agama, aktivitas pacaran sangat tidak ada gunanya. Lebih-lebih jika itu terjadi di sekolah. Akan menjadi penghambat bagi siswa untuk belajar secara baik.

Bohong dengan segala dalih dan dalil bahwa dengan aktivitas pacaran para siswa bisa menjadi semangat untuk belajar, selama ada cara lain yang lebih positif untuk memunculkan rasa semangat belajar. Dengan menciptakan lingkungan belajar di sekolah yang teramat menarik, misalnya, hal itu bisa menjadi pilihan jalan yang lebih baik. Dan itu adalah tugas semua komponen, mulai dari pihak sekolah dengan semua perangkatnya, lingkungan masyarakat yang dekat dan jauh, sampai pihak negara dengan kebijakan regulasinya yang tegas, untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang membuat anak selalu semangat tanpa harus menuruti manifestasi kecenderungan seksual spesifiknya tersebut.

“Jidan, Jidan tidak boleh pacaran. Itu tidak baik. Ya?” Saya berusaha meredam kehendak Jidan.

“Kenapa tidak boleh pacaran, Pak Mite?” tanyanya dengan mata melotot tak searah pandangan saya.

“Agama melarang pacaran. Kalau Jidan mau sayang-sayangan, nikah saja langsung.” Sebisanya saya meredam manifestasi kecenderungan seksual Jidan tersebut. Dengan menduga-duga apakah akalnya mampu untuk mencerna atau tidak, saya berusaha untuk menyederhanakannya dan berharap dia tidak akan banyak tanya lagi tentang ini.

Sengaja saya meredamnya dengan berkata-kata seperti itu sekarang ini. Sebab, kalau hanya dialihkan dengan kegiatan yang lain, sebagai sesuatu yang inheren, kecenderungan seksualnya bisa muncul lagi setiap saat. Karenanya, saya mencoba meredamnya juga dengan mengajaknya mengobrol tentang keinginannya tersebut.

“Jidan mau nikah saja!” angguknya mantap merespon penjelasan saya. Dengan bersegera dia berdiri dari bangku tempatnya duduk.

“Mau ke mana?”

“Mau ke Nunia. Mau nikah.”

Dia mengucapkan itu semantap-mantapnya.

“Jidan, Jidan,” tarik saya pada lengannya. ”Jidan boleh nikah. Tapi nanti, kalau Jidan sudah 26 tahun.”

“26 tahun?” Matanya melotot menanyakan itu. “Itu kapan, Pak Mite?”

“Sekarang Jidan umurnya berapa?”

Jidan hanya diam sambil mengulum senyum dengan memandang ke arah bangku Nunia. Saya menanyainya lagi. “Jidan, sekarang Jidan umurnya berapa?”

Tak juga Jidan memberikan jawaban, saya memutar arah pandangnya menuju saya dan menanyainya lagi, “Jidan, sekarang umur Jidan berapa tahun?”

“12 tahun!”

“Nah, sekarang hitung dari 12 sampai 26.”

Jidan memasang jemari dari kedua tangannya. Dia menghitung dari awal lagi, dari satu sampai belasan. Lewat enam belas ke sana dia sedikit awur karena tidak bisa mengoperasikan jari-jari yang sudah dipakainya berhitung. Saya tersenyum geli melihatnya.

“Begini Jidan, lihat,” saya memintanya untuk melihat saya berhitung menggunakan jari jemari. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan…”

Dia mengikuti saya mengucapkan bilangan meski dengan keterarahan wajahnya yang masih sembarang. Saya memintanya pula menyediakan jari jemari untuk memudahkan hitungan sampai tuntas.

“Dua puluh enam!” Jari-jari kami merenggang.

Saya lantas menunjukinya jari ketika bilangan dua belas berhenti di atasnya. Bertolak dari jari angka dua belas berhenti itu, saya kembali menghitung sampai dua puluh enam. Kemudian saya mengatupkan jari manis dan kelingking tangan kanan saya dan menyisakan delapan jari di tangan saya dan enam jari di tangannya.

“Sekarang coba hitung ada berapa jari-jari ini?”

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan…” dia menghitung jari-jari kami yang tersisa dengan saksama. Mulutnya komat-kamit mengucapkan setiap angka yang dimaksud.

“Empat belas!” serunya setelah menghitung habis jari-jari kami yang masih mencuat..

“Nah, jadi Jidan boleh menikah 14 tahun lagi. Ya?”

Yap!” angguknya dengan keterarahan wajah menyamping. Dia tidak beranjak lagi dari tempat duduknya. Hanya bersedekap dengan tersenyum-senyum kecil.

Ternyata saya berhasil meredamnya. Saya tersenyum memperhatikan Jidan yang sedang tersenyum-senyum sendiri.

“Kalau begitu ayo kita belajar!”

Tak berselang lama, ketika Jidan rihat dari aktivitasnya menulis, dia berdiri. Dia keluar dari bangku belajar tanpa meminta izin dengan berbicara satu patah kata pun. Saya menggaet tangannya dan bertanya, “Mau ke mana?”

“Mau nikah. Mau ke Nunia,” tunjuknya.

Dengan penuh penekanan saya memejamkan mata tanda tak habis pikir. Jidan benar-benar didominasi oleh dorongan pemenuhan kebutuhan jasmani dan manifestasi naluri-nalurinya yang cukup liar.

“Kan tadi sudah dibilang, Jidan boleh menikah kalau usianya sudah 26 tahun. Itu 14 tahun lagi.”

Saya menghela nafas sambil menahan-nahan Jidan lagi. Sampai pada akhirnya, Jidan mampu belajar juga hingga bel istirahat berbunyi meski tak lancar karena konsentrasinya kacau. Selama itu, saya kelelahan sementara dia terkekeh seolah menertawakan saya.

***

[II. Menguras Tenaga]

Saat istirahat, saat duduk-duduk di warung Mak Ai dan berbincang-bincang dengan ibu-ibu di sini, Rifki dan Zilan datang. Keduanya memasang wajah kelelahan. Bedanya, Zilan masih seperti biasa meski sedang dalam keadaan lelah, sementara Rifki berekspresi galau. Peluh bercucuran di wajahnya. Giginya menggigit bibir bawahnya. Matanya beralih dari satu arah ke arah yang lain, bergantian. Tidak ada lagi kepakkan tangannya. Tidak ada lagi beoan kata-kata kasar dan jorok. Tidak ada gempa lokal akibat Rifki melompat-lompat. Tidak ada lagi jalan model setrikaan yang dilakukannya hari ini. Dia duduk di teras depan kamar-kamar mahasiswa yang indekos di sini, tepat berseberangan dengan kami yang duduk di bangku warung.

Dari arah belakang, Pak Nawi terakhir muncul.

“Dari mana Pak Nawi? Kok dari tadi tidak ada di kelas?” Saya penasaran ke mana mereka bertiga pergi. Tidak seperti biasanya. Dari sejak pagi hingga waktu istirahat tiba, bangku Pak Nawi kosong dari dudukan Rifki dan Zilan.

“Habis jalan-jalan keliling kampung,” jawabnya santai. Sambil mengambil air minum kemasan dia berkata pada Rifki, “Iki, ayo sini minum dulu.”

Cukup lama sampai Rifki merespon ajakan Pak Nawi untuk minum. Wajahnya datar dan bibir bawahnya masih digigit giginya. Kakinya dipasang selonjoran, tapi sebelah. Dia mengeluarkan bunyi datar dengan wajah galaunya.

“A Iki, itu kata Pak Nawi, minum. Ayo ke sini!” Bu Wati mencoba mengajak Rifki. Tapi yang diajak masih datar dan tidak memberikan respon sedikit pun.

“Ayo Iki, minum ke sini,” Pak Nawi kembali menyuruh Rifki untuk minum di warung. “Kalau masih mau di sana, kaki yang satunya selonjorkan juga atuh, biar tidak kram.”

Ajakan Pak Nawi yang kedua kalinya ternyata mampu membuat dia merespon meski dengan sedatar pengiyaan: “Yaaaaaaaaaaaaaaa…”

Berjalanlah dia mendekati kami dan langsung mengambil air gelas kemasan dari tangan Pak Nawi. Sedotan ditancapkannya sendiri ke atas air gelas kemasan tersebut. Mulutnya segera menyedot dengan kembang kempis pipinya. Srupuuuuuuutttt!

“Iki, kalau minum, duduk!” sergah Pak Nawi mengingatkan.

Rifki terus saja minum tanpa menghiraukan peringatan Pak Nawi.

“Iki… Kalau minum itu harus duduk,” saya mencoba mengulang peringatan Pak Nawi sambil menarik tangan kirinya hingga membuatnya berkata iya lagi dengan datar. “Yaaaaaaaaaaaaa…”

***

“Jalan-jalan ke mana sih?” tanya saya lagi.

“Berputar. Dari sini ke bawah,” tunjuk Pak Nawi ke arah pemukiman warga di bawah jalanan utara sekolah. “Terus naik ke perumahan Hijau Asri. Dari perumahan Hijau Asri berjalan ke arah belakang kompleks yang mengarah ke sini, ke sekolah lagi.”

“Buat apa?”

“Pak Mite tahu sendirilah. Sudah beberapa hari ini Rifki tidak karuan di dalam kelas. Setiap harinya saat saya jemput di rumahnya selalu dalam keadaan uring-uringan. Pas saya tanya ibunya, ternyata malamnya dia kurang tidur karena siangnya pulas. Sepulang sekolah, kemarin-kemarin itu, dia tidak ada kegiatan. Terapi di kliniknya libur dulu.”

Pak Nawi menghabiskan air minumnya yang tinggal seperempat isi, sebelum melanjutkan pembicaraan. “Hm, sampai sebulan ke depan, kata ibunya. Makanya, mulai dari sekarang, setiap pulang sekolah saya masih harus menemani Rifki bermain sambil belajar, biar pas hari sudah gelap, dia kelelahan dan tertidur pulas untuk esok pagi yang bersemangat ke sekolah.”

Mendengar penuturan Pak Nawi, kami angguk-angguk. Saya, Bu Wati, Bu Meli, dan yang lainnya mendengarkan.

“Di kelas, biar dia tidak uring-uringan lagi, saya bawa dia jalan-jalan dulu supaya kecapaian. Sekalian olahraga pagi. Sayang kalau cuaca bagus begini dilewatkan hanya dengan belajar di dalam kelas.”

Pendar sinar matahari yang cukup menyilaukan di pagi yang cerah seperti ini memang membuat cuaca menjadi bagus belakangan ini. Menengadahkan wajah ke atas saja, warna awan putih pada biru langit sudah begitu cerahnya hingga membuat mata ini berpicing. Sapuan angin beberapa hari belakangan ini pun cocok untuk pagi-pagi yang secerah ini. Saya beranjak dari tempat duduk untuk berdiri di pelataran warung merasakan hangat mentari pagi ini. Sekalian melepas pegal. Hm… Udaranya memang lumayan segar.

Dari ujung kamar kost-kostan sana, seorang mahasiswa keluar dari pintu kamarnya. Dia menenteng sepasang sepatu kets. Dilepasnya sepatu itu di depan kamar. Dia masuk kembali ke dalam. Pintunya terbuka lebar. Di sana terlihat seperangkat komputer dan dua tingkat rak buku. Tiba-tiba pandangan saya ke arah pintu kamar itu dihalangi Jidan. Ternyata Jidan beranjak dari tempat duduknya untuk melihat apa yang sedang saya lihat: seperangkat komputer. Dia pasti menyangka dalam komputer itu ada gamenya. Dia kemudian berlari menuju kamar mahasiswa tersebut dan tanpa melepas sepatunya, dia langsung masuk ke dalam kamar.

Saya terlambat mencegahnya masuk ke sana. Jidan sudah menggeser-geserkan mouse, memeriksa apakah komputernya bisa dia pakai atau tidak ketika mahasiswa yang empunya kamar melongo. Sambil menarik-narik Jidan untuk keluar, saya meminta maaf pada mahasiswa tersebut.

“Jidan, ayo keluar! Main komputernya nanti saja di rumah.”

“Mau main di sini,” ujarnya datar.

“Ini komputer punya orang. Jidan juga kan punya di rumah? Ayo kita keluar!”

Aaaaarrggghhhhh!!” teriaknya merasa ditahan-tahan hendak memukul.

Dia kemudian berdiri. Belum sempat saya tuntaskan ajakan keluar, dia sudah melirik beberapa kaset DVD yang tersempil di antara sederetan buku pada rak. Sontak si mahasiswa cepat-cepat mencegahnya. Tangan mereka beradu. Sambil merayu dan menarik Jidan, terlihat oleh saya sampul depan kaset-kaset DVD itu. Rupanya si mahasiswa tidak ingin Jidan sampai menariknya keluar karena itu adalah kaset-kaset DVD porno. Ya ampun, mahasiswa zaman sekarang, di celah-celah buku perkuliahannya masih saja menyelipkan film-film porno. Mau jadi apa dia setelah lulus nanti?

“Jidan, ayo keluar! Kalau tidak, gelangnya benaran mau direbut lagi. Satu, dua…”

Belum sempat hitungan selesai sampai tiga, dia tampak ketakutan gelangnya diambil lagi. Padahal kemarin-kemarin dia sudah tidak merasa takut lagi kalau diancam seperti itu. Tampaknya, gelang baru warna biru yang baru dua hari dipakainya itu benar-benar berharga buat dia. Buktinya dia sampai ketakutan lagi waktu saya mengancam akan merebut gelangnya.

Akhirnya saya berhasil membawanya keluar menuju bangku warung lagi.

“Jidan sekarang mah susah diatur lagi ah,” gerutu saya padanya. “Kalau seperti itu lagi, Pak Mite ambil lagi gelangnya.”

Tampaknya dia merasa kesal. Dia mengerang kecil tapi sarat dengan kebencian dan hendak memukul saya dengan berkata, “Ini kekerasan. Tidak boleh! Harus fight!”

Secepat itu saya memutar arah tangannya hingga tidak mengenai saya. Peringatan tampaknya tidak begitu berarti saat ini. Dengan sangat menyesal karena masih belum bisa memberi dia treatment lepas kepadanya, saya mengalah. “Oke, oke, gelangnya tidak jadi diambil kan?”

Huh!” sungutnya berapi-api.

Saya benar-benar menyesal karena harus mengalah dan menenangkannya lagi. Saya masih belum sempat memberinya treatment lepas tanpa kompromi. Saya membutuhkan ruangan khusus untuk itu! Tapi ruangan khusus seperti itu tidak tersedia di sekolah ini. Padahal, harapan ibunya selalu terngiang-ngiang di telinga ini. Ibunya sangat berharap sekali sikap seenaknya Jidan saat marah bisa diredam, berganti menjadi lebih baik dengan tidak berlaku kasar lagi.

Bukan main, di rumahnya, Jidan tidak segan-segan melukai ibunya kalau dilarang-larang. Segala sesuatunya mestilah dipenuhi. Bagi saya, meski pun Jidan autisme, tetap saja itu tidak baik. Selalu memenuhi keinginan Jidan akan sangat jelek untuk perkembangannya. Sampai di sini saya sudah satu suara dengan ibunya. Tapi menurut ibunya, ayahnya selalu mengalah kalau Jidan sudah marah-marah minta pemenuhan. Maka di sekolah inilah, ibunya menggantungkan harap pada saya untuk bisa menghilangkan sikap kasar anaknya itu supaya tidak ditampakkannya lagi. Dan sebenarnya, saya sudah berpikir ke arah sana dengan rencana memberinya treatment lepas tanpa kompromi. Tapi ini benar-benar terkendala oleh nihilnya fasilitas. Tentu saya tidak bisa seenaknya melakukan itu di dalam kelas, di lapangan sekolah, atau bahkan di pelataran warung ini. Saya perlu ruangan khusus untuk memulainya, dan itu tidak ada di sekolah ini!

Saya jadi ingin melakukan apa yang Pak Nawi lakukan; mengajak jalan-jalan Jidan keliling perkampungan warga sebelum memulai belajar di dalam kelas. Tentu dengan harapan dia tidak akan mudah lekas marah melawan karena kecapaian kalau saya melarangnya sesuatu.

Ya, itu harus saya coba mulai besok. Saya harus membawa Jidan jalan-jalan terlebih dulu sebelum belajar rutin di dalam kelas. Sambil menatap dirinya yang tengah mengunyah cokelat batangan, saya memantapkan niat itu. Harus saya coba!

***

[III. Ayo Kita Belajar di Luar!]

Meja Bu Siti kami datangi di pagi ini guna meminta izin membawa anak-anak didik kami untuk diajak jalan-jalan melepas sebagian energinya. Tanpa banyak ini itu, Bu Siti langsung memberi kami izin.

“Mau ke mana, Pak Mite?” tanya Jidan tepat di depan pintu kelas ketika kami melewatinya.

Saya memberitahunya bahwa kita akan jalan-jalan mengelilingi perkampungan. Saya bertanya kepadanya apakah dia menyukainya atau tidak. Jidan hanya menganggukkan kepala tanpa bicara sedikit pun. Saya ingin membiasakan Jidan untuk mengucapkan kata meski itu sepatah ketika ditanya sesuatu. Maka saya ulangi lagi pertanyaannya, memastikan apakah dia menyukai kegiatan yang akan kami lakukan ini atau tidak.

“Jidan, Pak Mite tanya, Jidan suka tidak jalan-jalan?”

Jidan tidak menjawab. Dia hanya meneruskan apa yang sedang dilakukannya: sedikit melompat-lompat dengan tangan mengepak dan roman muka yang sumringah.

“Jidan,” kata saya lagi, “Jidan senang tidak jalan-jalan?”

Dia masih tidak menjawab. Sejenak saya memegang pundaknya meminta dia berhenti dari aktivitasnya.

“Jidan, lihat Pak Mite sini.”

Wajahnya memutar mengarah ke wajah saya. Tapi matanya tidak tahan lama untuk menatap saya dan dibuang sesukanya ke segala arah. Saya bertanya, “Jidan, Jidan itu harus menjawab kalau ditanya sama orang lain. Tadi kan Pak Mite tanya, Jidan senang tidak jalan-jalan?”

Baru, tanpa basa-basi, meski arah wajahnya diputar berpaling, Jidan mengiyakan, “Senang, Pak Mite.”

“Nah, itu kan bisa menjawab. Kenapa tadi ditanya tidak menjawab-jawab?”

Jidan tidak memperhatikan saya lagi. Dia malah menunjuk Rifki dan Zilan yang sudah berada jauh di depannya, seolah hendak memberitahu saya bahwa kami harus bersegera menyusul mereka.

“Itu si Rifki dan Zilan, Pak Mite.”

Saya tidak mau mendengarnya kalau dia tidak mau mendengar saya. Maka saya sengaja bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Jidan, Jidan senang tidak jalan-jalan?”

Kali ini tampaknya dia kesal karena ditanya itu terus.

“Aaaaaaaaaaaaarrrrrgggghhhhh! Itu si Rifki dan Zilan sudah di sana!” gerutunya.

Saya mengalah dulu dan melepaskannya untuk menyusul Rifki, Zilan, dan Pak Nawi yang sudah berada cukup jauh di depan kami. Dia berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul mereka. Langkah kakinya masih kasar. Tumpuannya seperti dijejakkan secara sembarangan. Hampir-hampir berpola letter x, membuat betisnya yang cukup besar itu seolah tidak bisa menopang badannya yang juga besar secara ajeg. Saya malah sering khawatir cara berjalan cepatnya yang seperti itu memberinya peluang untuk jatuh lebih besar. Tapi hebatnya, selama ini, meski pun berlari dengan pola langkah seperti itu dia tidak pernah jatuh.

Beberapa menit kemudian kami sampai pada jalanan menurun yang cukup curam. Sekira 50 derajat jalan tersebut menukik. Laluannya terbagi dua; dengan undakan dan tanpa undakan. Laluan sebelah kiri dengan undakan dikhususkan untuk pejalan kaki, sementara laluan sebelah kanan yang dilapisi semen disediakan untuk mereka yang menggunakan sepeda motor. Jika hujan sedang turun, laluan yang bersemen akan menjadi licin karena bidangnya terdapat pola bercak lidi yang cukup besar.

Saya mengarahkan Jidan untuk berjalan di sebelah kiri lewat undakan. Saya berpikir dalam hati, alangkah bagusnya jika kami ke sini setiap hari karena bisa melatih motorik kasar kaki Jidan. Undakan demi undakan dia turuni dengan semangat. Dia menuruninya dengan berjalan cepat. Itu membuat saya menjadi khawatir setiap saat.

Membuntutinya dari belakang, saya meminta Jidan untuk berjalan secara santai saja, pelan-pelan.

“Jidan, jalannya jangan cepat-cepat, santai saja, pelan-pelan.”

Dia tidak hirau dan tetap melanjutkan cara berjalannya.

Saya kemudian bergegas mendahuluinya untuk menghalangi laluannya. “Jidan, jalannya pelan-pelan. Di sini Jidan bisa latihan motorik kaki juga. Nih, lihat ya cara jalan Pak Mite!”

Saya memberi Jidan contoh cara berjalan menuruni undakan yang benar. Saya memberinya contoh juga dengan mempraktikkan pola berjalan menuruni anak tangga untuk melatih motorik kaki. Kedua kaki dijejakkan pada setiap undakan. Mula-mula kaki kanan dilangkahkan untuk menginjak satu undakan di bawahnya. Kemudian kaki kiri menyusul dilangkahkan untuk menginjak undakan yang tengah diinjak kaki kanan. Langkah selanjutnya tidak diambil kecuali setelah kaki kiri berdampingan dengan kaki kanan di undakan yang sama. Begitu seterusnya sampai undakan terakhir.

“Nah, begini. Cara berjalan seperti ini bisa melatih motorik kaki Jidan juga. Makanya, jalannya pelan-pelan saja. Sekarang Jidan coba ya…”

Tanpa menjawab dengan sepatah kata Jidan langsung menuruti pola langkah yang saya contohkan dengan pelan-pelan. Setelah melewati saya, Jidan masih berjalan pelan. Tapi undakan masih banyak dan, benar saja, itu membuat Jidan tidak sabar untuk kemudian berjalan secara cepat lagi. Saya pun mengejarnya.

Setelah jalanan menukik itu kami sampai pada suatu jembatan pendek. Di bawahnya mengalir sungai kecil yang banyak disepuhi sampah. Alirannya cukup deras. Sampah-sampah tersangkut di sebagian sisi sungai. Bahkan di laluan depannya, sampah menyempitkan aliran air.

Jidan berhenti sejenak melihat-lihat sungai tersebut. Saya mendekatinya dan berkata kepadanya, “Tuh lihat, banyak sampahnya ya? Sungainya jadi mampet. Kalau mampet jadi banjir.”

Wajahnya masih tidak beranjak dari sungai. Saya memastikan dia mendengar apa yang saya katakan. “Makanya, kalau tidak ingin banjir, kita tidak boleh buang sampah sembarangan. Membuang sampah ya ke tempat sampah, jangan ke sungai. Jidan juga kalau membuang sampah suka ke tempat sampah kan?”

Dia mengangguk pasti dan berpaling untuk meneruskan perjalanan.

Setelah melewati beberapa rumah warga akhirnya kami menemui jalan menanjak yang sama derajatnya dengan jalan menurun tadi. Kali ini jalannya tidak menyediakan undakan.

Kami menepi dulu sebentar karena dari atas sana ada seorang warga turun dengan mengendarai sepeda motor. Kolam pemancingan yang cukup besar yang berada di sisi kanan laluan ini tidak dipisah dengan pagar jalan. Saya membayangkan apa jadinya kalau sepeda motor hilang kendali dan terjun menuju kolam itu. Apakah warga di sini tidak memperhatikan keselamatan mereka sendiri? Ah, mana saya tahu.

Sepeda motor warga sudah berlalu dan menyisakan asap knalpot yang mencemari udara segar yang kami hirup. Sambil menutup hidung saya menuntun Jidan menaiki jalan. Saya membiarkannya untuk berjalan di depan, biar saya mengawasinya dari belakang. Kami tidak bisa jalan beriringan karena space jalan tidak cukup luas. Tapi saya mengarahkan Jidan untuk berjalan di sebelah kiri yang lebih dekat dengan bukit biar aman.

Terdengar suara hembusan nafas Rifki yang terengah-engah. Dia ada di belakang saya, berjalan dengan pelan karena menahan berat bobot tubuhnya yang tambun. Pak Nawi dan Zilan yang dituntun berada di belakangnya. Tampaknya Rifki kecapaian karena jalanan yang menanjak ini. Peluhnya bercucuran. Mulutnya menganga. Saya jadi ingin tahu kondisi Jidan. Tapi dari arah depan tidak terdengar engahan nafasnya. Saya mempercepat langkah mendahului Jidan untuk melihat kondisinya.

“Jidan, capai tidak?” Saya takjub. Dia tidak menampakkan ekspresi kelelahan.

“Tidak, Pak Mite,” jawabnya datar.

“Masih semangat?”

“Iya!” angguknya pasti.

“Kalau capai, berhenti dulu ya!?” Saya menawarkannya untuk beristirahat jika dia kecapaian dalam menempuh tanjakan ini. Tapi tampaknya dia masih kuat untuk bisa sampai di puncak sana.

Benar saja. Beberapa menit kemudian, tanpa dinyana Jidan berhasil sampai puncak jalan tanpa capai yang berarti. Dia seperti saya yang juga tidak terlalu lelah menempuh tanjakan ini. Saya jadi bertanya-tanya, energi apa yang tersimpan dalam tubuh besarnya itu. Sementara di bawah sana, Rifki masih berusaha untuk terus menempuh tanjakan ini. Sesekali dia berhenti sebentar dengan memegangi kedua lututnya. Itu membuat Pak Nawi dan Zilan yang sedang dituntun berhenti juga. Sampai akhirnya kurang dari dua menit ke depan mereka berhasil menyusul kami di atas.

Perjalanan kembali diteruskan tanpa istirahat karena jalanan selanjutnya datar. Di ujung jalan perbatasan antara perkampungan warga dengan perumahan elit, pada sebuah warung, kami beristirahat. Di bangku warung, saya meminta Jidan untuk tidak menekukkan kakinya. Saya menyuruhnya untuk menyelonjorkan kakinya.

“Kenapa, Pak Mite?” tanyanya saat saya menarik kakinya untuk diselonjorkan.

“Jidan kan tadi habis jalan jauh. Turun naik jalan. Sekarang istirahat dulu, kakinya harus dilempengkan. Kalau tidak urat-uratnya berbelit dan kejang-kejang; bisa kram,” jelas saya sambil memegang betis dan pahanya menunjukkan tempat urat sering kram.

“Kram itu apa, Pak Mite?”

“Kram itu otot-ototnya berbelit. Kejang-kejang. Jadi mengeras. Itu teh sakit.”

Dari jendela warung, saya mengambil segelas air kemasan untuk Jidan. Saya memberikannya lengkap dengan sedotan. Dia menerimanya dan segera menyedotnya. Satu gelas tidak habis. Setengah pun tidak. Dia berpaling ke arah belakang warung, di mana pohon-pohon rindang masih tinggi menjulang. Di sebelah kirinya terlihat bangunan biru gedung kolam renang kampus saya. Dia menunjuk ke arah sana dan bertanya kepada saya.

“Itu apa Pak Mite?”

“Mana?”

“Itu,” tunjuknya. Penunjukannya mengarah ke pohon-pohon rindang yang tinggi menjulang.

“Oh, itu. Itu hutan. Sebelah sananya sawah.”

“Bukan, bukan itu. Tapi itu,” penunjukannya masih tak bergerak searah dengan objek yang dimaksud. Saya mengira dia menunjuk gedung biru kolam renang kampus saya itu.

“Oh itu. Yang biru bukan?” Saya ingin memastikannya.

“Iya.”

“Itu gedung kolam renang kampus Pak Mite waktu kuliah.”

“Kolam renang?” Dia melafalkan kalimat tanya yang saya pikir dengan intonasinya yang aneh itu tidak membutuhkan jawaban.

“Iya, kolam renang. Tempat berenang,” jelas saya tanpa diminta.

Dia terus menatap ke arah bangunan biru yang jauhnya sekira satu setengah kilometer itu.

“Oh iya,” sergah saya teringat sesuatu. “Kata guru olahraga kan besok kelas enam berenang di sana ya? Nanti kita renang di sana, Jidan.”

Saya berbalik pada Pak Nawi yang sedang membukakan bungkus makanan ringan untuk Rifki dan Zilan, untuk memastikan. “Pak Nawi, besok itu renang kan?”

“Iya. Kasih tahu saja orangtuanya kalau besok itu olahraganya renang. Minta untuk dibawakan baju renang, kalau ada.”

Tuh Jidan, besok olahraganya renang di sana. Nanti bilang sama ayah bawa baju renang ya?”

“Iya,” angguknya pasti dengan mulut dikatup.

***

Hampir setengah jam kami di sana beristirahat. Selanjutnya kami akan menempuh jalan sekitar dua kilometer lebih sedikit untuk sampai di sekolah lagi. Tapi rutenya memutar menyusuri jalanan perumahan elit yang kosong karena tanahnya menjadi persengketaan. Gerbang depannya ditutup warga dengan blokade tembok tinggi yang menjulang. Perumahan Hijau Asri, namanya. Kaveling-kaveling tanah kosong yang berumput hijau masih banyak tersedia, membuat udara di sini lumayan bebas dari polutan. Tapi tidak sesegar dulu, waktu saya melakukan suatu kegiatan di sini pada semester awal kuliah. Banyak pohon yang sudah ditebang untuk kaveling perumahan. Sekarang ada juga kaveling yang rumputnya sudah menguning karena di sekelilingnya fondasi-fondasi bangunan yang hendak di bangun, menjalar.

Menuju gerbang belakang di arah barat daya kompleks ini kami berjalan. Terpaan sinar matahari kami rasakan hangat menyapa tubuh di pagi ini. Melewati kaveling-kaveling hijau yang cukup menyegarkan, kami beriringan seperti pawai. Tidak ada nyanyian kecil karena mereka tidak seperti anak TK yang bisa diarahkan untuk bernyanyi lagu-lagu pendidikan. Kami hanya melakukan pembelajaran seadanya. Seperti tadi, sebelum menuju warung tempat kami beristirahat sejenak, kami melewati sebuah rumah pembudidayaan pupuk organik. Bau menyengat dari rumah budidaya itu memancing rasa penasaran Jidan hingga dia bertanya. Saya kemudian meresponnya dengan menjelaskan sepengetahuan tentang pupuk dari materi pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup.

Pun seperti tadi ketika di sungai, tentang sampah yang bisa menimbulkan banjir saat hujan turun. Dan juga saat di tanjakan tadi, Zilan menemukan serangga daun berwarna merah berpolkadot hitam yang menarik perhatiannya. Semuanya kami kaitkan dengan pembelajaran tematik di luar, di alam bebas, dan tanpa perancangan dalam sebentuk rencana pelaksanaan pembelajaran. Cara seperti ini, kami pikir akan lebih berkesan dalam memberikan pembelajaran bagi anak. Tidak seperti ketika berada dalam kungkungan ruang kelas. Masih mending kalau di dalam ruang kelas itu tersedia banyak media pembelajaran yang bisa digunakan. Tapi di sekolah kami itu tidak ada media pembelajaran yang memadai yang bisa digunakan. Semuanya, dari kelas satu sampai enam, pembelajaran dijalankan secara klasikal dengan metode yang itu-itu saja dari dulu: ceramah.

Sekitar jam 10-an, kami sudah tiba lagi di lingkungan sekolah, dari arah selatan. Mereka bertiga tidak masuk ke dalam kelas melainkan menuju warung Mak Ai. Jidan langsung meminta dibuatkan sirup kesukaannya. Zilan kembali lagi keluar dari warung menuju lapik Mang Udin. Sementara Rifki tidur-tiduran di atas teras depan kamar kost-kostan mahasiswa.

Saya langsung menghampiri Jidan yang sedang memesan sirup untuk membayarkannya. Pak Nawi menghampiri Rifki dan menawarinya hendak minum apa. Selesai dibuatkan sirup, Jidan duduk di bangku warung dengan menghadap ke arah sekolah dan membelakangi Bu Wati. Saya mengambil bagian untuk duduk di depan Jidan.

“Habis dari mana kalian ini?” Bu Wati terheran-heran mendapati Jidan dan Rifki yang bercucuran keringat.

“Jalan-jalan berkeliling. Ke kompleks Hijau Asri, terus memutar ke gerbang belakang, dan sampai ke sini lagi.”

“Ada acara apa? Kok yang lainnya tidak kelihatan?” Disangkanya kami melakukan itu sekelas bersama Bu Siti.

“Tidak, kami hanya berlima pergi jalan-jalannya. Saya, Jidan, Pak Nawi, Rifki, dan Zilan.”

Bu Wati membunyikan huruf o cukup panjang tanda mengerti.

“Dari kemarin kan Rifki uring-uringan terus di kelas. Kata Pak Nawi harus dibawa capai dulu sebelum masuk kelas. Supaya tidak mudah uring-uringan lagi karena tenaganya terkuras dipakai jalan-jalan.”

Bu Wati angguk-angguk. Bu Meli yang baru datang, mengambil posisi duduk di samping Bu Wati untuk mendengarkan.

“Sekarang juga Jidan jadi mudah marah-marah. Makanya saya manut dulu sama cara Pak Nawi untuk menguras tenaga berlebih mereka, biar nantinya di kelas tidak mudah uring-uringan.”

Mereka memperhatikan dengan penuh saksama. Kemudian bertanya ini itu seputar autisme. Dan saya menjawabnya panjang lebar. Sampai waktu istirahat habis, obrolan belum juga selesai, dan saya meminta izin untuk melanjutkannya lagi besok.

***

[IV. Kecenderungan Seksual]

Waktu hampir menunjukkan pukul delapan ketika di depan gerbang sekolah, ayahnya menyerahkan Jidan dan berkata kepada saya, “Pak Mite, baju ganti sehabis renangnya ada di dalam tas. Tolong ya.”

Setelah itu beliau memutar motornya dan berlalu. Kemudian kami masuk ke dalam kelas untuk belajar sebentar bersama Bu Siti.

Ternyata Bu Siti absen tidak masuk sekolah karena ada penataran selama tiga hari. Kata Desty, saat saya tanya, guru pengganti Bu Siti-nya tadi masuk sebentar hanya untuk menyuruh mereka untuk menyalin materi dari buku pelajaran untuk kemudian mengerjakan soal yang ditunjuknya pada halaman tertentu. Karena itulah, ketika kami masuk kelas, keadaan kelas sudah seperti pasar saja. Berisik di sana sini. Sedikit sekali yang justru belajar menuruti perintah guru menyalin materi dari buku paket.

Di ujung kelas sana, Rifki dan Zilan sedang menulis pelajaran mereka sendiri yang ditugaskan oleh Pak Nawi. Kami mendekatinya dan duduk di bangku kami sendiri. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kelas ini ketika hampir semua murid bermain seenaknya di dalam kelas. Ada yang saling kejar-kejaran, ada yang main lempar bola, dan aktivitas bermain lainnya.

Mengingat hari ini olahraganya adalah renang, dan itu akan dilakukan sekitar satu jaman lagi, saya harus memastikan Jidan belajar di dalam kelas dulu. Karena nanti akan menghabiskan banyak waktu di kolam renang. Kemungkinan sampai tiba waktunya untuk pulang kami akan berada di sana. Jadi, bagaimana pun juga saya harus bisa mengarahkan Jidan untuk belajar di sini terlebih dahulu.

Ketika saya memintanya untuk mengeluarkan buku dari dalam tas, Jidan tidak manut. Ekspresinya datar melihat ke depan kelas.

“Jidan, Jidan…” Saya berusaha untuk membuatnya melihat ke arah saya. Tapi tidak berhasil. Dia masih menatap ke depan. Padahal di depan kelas tidak ada apa-apa kecuali tiga orang murid yang sedang bermain. Tapi saya yakin dia tidak sedang melihat mereka. Tatapan matanya kosong. Ketika saya hendak berkata-kata di dekat telinganya supaya dia mendengarkan, saya melihat tangannya. Saya baru tersadar. Kedua tangan Jidan tidak bersedekap di atas meja melainkan memegangi kemaluannya di bawah. Dia memain-mainkan kemaluannya meski resletingnya tidak terbuka. Buru-buru saya menarik tangannya, dan astaga, kemaluannya sedang ereksi!

Saya tahu Jidan selalu memakai celana dalam. Dengan postur tubuhnya yang bongsor, saya perkirakan celana dalamnya selalu ketat. Dan ketika kemaluannya sedang ereksi seperti itu, sudah bisa dipastikan dia merasakan posisi anunya yang tidak pas. Karena itulah, saya menduga, dia memegangi bagian kemaluannya untuk membetulkan posisinya supaya nyaman. Segera saya membetulkan kemaluannya pada posisi yang sekiranya nyaman. Sebagai lelaki, saya tahu betul bagaimana rasa tidak nyamannya ketika itu terjadi sementara posisi penis tidak tepat. Tapi yang membuat saya heran, kenapa kemaluannya menegang di saat-saat seperti ini, ketika sedang berada di dalam kelas. Memang secara umum, penis bisa ereksi di pagi hari karena meningkatnya kadar testosteron yang puncaknya adalah pada rentang waktu antara pukul 5 hingga 8 pagi. Tapi ini sudah lebih dari waktu tersebut. Mengingat ekspresi yang ditampakkan Jidan dari tadi datar-datar saja, saya jadi menduga-duga lagi. Jangan-jangan dia membayangkan sesuatu yang bisa merangsang timbulnya kecenderungan seksual?

“Jidan, kenapa titit Jidan bisa bangun begitu?”

“Tidak tahu, Pak Mite.”

“Tadi Jidan membayangkan apa? Di rumah tadi Jidan melihat apa?” Saya mencoba menginterogasinya. Tapi nihil. Dia sulit memberikan keterangan.

Meski baru terjadi sekarang, kejadian ini benar-benar menyita besar perhatian saya. Setelah bisa diarahkan belajar, kini Jidan mencuri-curi kesempatan untuk memegangi kemaluannya lagi. Selama mengawasinya saya terus-terusan memikirkannya. Hingga seorang murid berlari ke dalam kelas dan mengumumkan bahwa guru olahraga sudah memperbolehkan anak-anak kelas enam untuk pergi ke kolam renang kampus, pikiran saya buyar. Jidan pun semangat untuk pergi dengan segera.

“Jidan, ini bereskan dulu bukunya. Masukkan lagi ke dalam tas, ayo!”

Dengan terburu-buru dia memasukkan buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas dan segera menggendongnya. Dia kemudian berlari menyusul sebagian teman-temannya yang sudah keluar kelas menuju kolam renang di kampus.

***

[V. Berenang!]

Ruangan besar dan luas kami masuki. Sejuk, tapi angkuh. Sebabnya gedung ini kopong. Tidak sampai membutuhkan banyak langkah dari pintu masuk utama bagi kami untuk bisa melihat kolam renang di bawah sana dari lantai atas sini.

Kami melewati petugas yang sedang menghitung berapa banyak murid SD yang masuk ke sini dengan alat penghitung dzikir dari Mekah. Itu dia perlukan untuk menentukan berapa besar biaya tiket yang harus guru olahraga bayarkan karena membawa banyak siswa berenang di sini.

Ruang gedung ini benar-benar luas. Tapi, seperti yang saya bilang tadi, kopong. Dari lantai atas yang kami sedang berjejak di atasnya ini, pemandangan luas perkampungan di bukit sebelah barat laut kolam renang terlihat. Kami kemudian melewati ruangan berdinding cermin sehingga bisa melihat refleksi diri. Setelah ruangan itu, kami menuju ke bawah lewat tangga yang polanya memutar, mengulir, untuk kemudian sampai di pelataran kolam renang setengah meter.

Teman-temannya sudah lebih dulu bermain di dalam kolam. Jidan melepas pakaiannya di bawah tangga. Saya mendampinginya. Dalam hal melepas pakaian berkancing, Jidan tidak mengalami hambatan berarti. Dia mampu melakukannya sendiri. Suatu bentuk ADL dasar yang sudah dia kuasai. Untuk makan pun, kata ibunya, Jidan bisa melakukannya sendiri. Yang bermasalah adalah sikap seenak hatinya ketika kehendaknya ditahan-tahan saat minta pemenuhan. Ini yang harus diberi treatment lepas sehingga perilakunya yang jelek tersebut redam.

Dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet, dia berlari menuju kolam, hendak menceburkan diri. Bukan lompatan yang dia lakukan ketika sudah sampai di pinggir kolam, tapi memasukkan kaki kirinya terlebih dulu sebelum badannya menyusul. Saya tersenyum geli melihatnya. Postur tubuhnya yang begitu besar tidak match dengan caranya masuk ke dalam kolam renang yang dalamnya sepaha itu.

Di dalam kolam, Jidan tidak memposisikan tubuhnya berenang. Saya tidak tahu apakah sebelum bersama saya Jidan pernah diikutkan terapi berenang atau tidak. Dari gerakannya saya menduga dia tidak pernah mengikuti terapi berenang. Padahal aktivitas renang sangat bagus untuk perkembangan saraf sensoriknya. Juga bisa dijadikan sebagai sarana melatih motoriknya, karena di dalam air anggota tubuh akan lebih mudah digerakkan dan dilatih kelenturannya untuk menguatkan otot-otot dan sendi-sendi tubuh karena hilangnya gravitasi tubuh. Tapi sayang, saya sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa ikut membimbingnya di dalam kolam.

Priiiiiiiiiiiiitttttttt!!!

Bunyi peluit memekik. Suaranya berasal dari benda yang sedang diapit oleh mulut guru olahraga. Rupanya beliau memanggil seluruh siswa untuk berkumpul di dekatnya. Saya mendekati kolam, memanggil-manggil Jidan dari tepi kolam kepadanya yang tengah bermain air sendirian.

Jidan tidak menghiraukan panggilan saya. Selain karena tabiatnya yang susah merespon panggilan, mungkin suasana riuh rendah di area kolam ini semakin menutup daun telinganya. Tapi saya tidak kehabisan akal. Saya menyuruh Reski untuk membawanya berkumpul di dekat guru olahraga. Akhirnya, Jidan pun ikut berkumpul. Kepada Reski, saya meminta tolong untuk mendampinginya juga. Dia mengangguk.

Saya berbalik ke tempat di mana tas dan pakaian Jidan disimpan, di bawah tangga pada sebuah bangku dari bata. Lemari pakaian di sini hanya boleh digunakan untuk keperluan mahasiswa dan orang dewasa, tidak untuk anak-anak. Karena itu saya harus menjaganya di sini. Sekalian menjaga belasan pasang sepatu dan pakaian teman-teman sekelas Jidan juga.

Di ujung kolam sana, guru olahraga terlihat sedang memberikan arahan. Di depannya, semua murid duduk. Rifki, Zilan, dan Jidan juga ada di sana. Tak lama setelah itu murid-murid mulai berlarian ke tepi kolam. Mereka berjajar di tepian kolam dengan ongkang-ongkang kaki ke dalam air. Jidan dan Rifki pun mengikuti murid-murid yang lainnya. Tapi Zilan, dia kabur berlari dari tempat itu menuju perosotan kembar yang ada di seberang. Pak Nawi mengejarnya, dan Zilan malah tertawa dikejar-kejar seperti itu.

Tak bisa berlama-lama Rifki dan Jidan mengikuti pelajaran renang secara klasikal bersama guru olahraga. Mereka malah berlari ke sana kemari semaunya, hingga akhirnya Pak Nawi berhasil menangkapnya. Akhirnya mereka belajar renang bersama Pak Nawi. Zilan pun mendekati, ikut belajar renang bersama Rifki dan Jidan.

Sementara Jidan berada di bawah pengajaran Pak Nawi, saya menyisir pandang sekitar melihat-lihat setiap sudut gedung area kolam renang almamater sendiri. Selama kuliah, saya belum pernah memasuki area kolam renang ini. Saya sudah bisa memastikan. Di sini pasti banyak mahasiswa dan mahasiswi yang hendak berenang. Mereka bercampur baur di sini. Saya tidak suka pemandangan semacam itu. Para mahasiswi dengan terbuka memamerkan lekuk tubuhnya dalam balutan pakaian renang, yang meski bukan bikini, membuat tubuh mereka menjadi tercetak. Keputusan guru olahraga untuk mengajar renang di sini pada anak-anak pun sebenarnya tidak pernah saya sukai. Karena di area kolam renang umum seperti ini, di mana banyak perempuan berbuka-bukaan, kesempatan untuk memunculkan kecenderungan seksual anak laki-laki bukanlah hal yang kemungkinannya kecil untuk terjadi. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, maka bagaimana ketika mereka sudah besar nanti? Untuk mengendalikan kemunculan kecenderungan seksualnya mungkin menjadi sesuatu yang sangat sulit dan itu berbahaya. Untuk anak seperti Jidan yang autisme saja, menampakkan perilaku memegangi kemaluannya sudah menjadi suatu permasalahan. Bayangkan jika itu terjadi pada siswa-siswa yang bukan autisme. Bukan tidak menutup kemungkinan lagi mereka bisa melakukan lebih dari itu.

Pandangan kemudian saya alihkan kembali pada Pak Nawi yang sedang mengajari Jidan berenang. Tapi astaga, ke mana Jidan? Di sana hanya ada Pak Nawi yang sedang menuntun Rifki dalam mempraktikkan gerak kaki saat renang.

Saya beranjak meninggalkan bangku tempat duduk menuju kolam untuk mencari Jidan. Pandangan saya sebar ke segala penjuru arah. Saya tidak menemukannya. Ke mana perginya dia?

Saya berlari kecil untuk pindah tempat dan berharap dari sana saya bisa menemukan Jidan. Pandangan kembali saya sebar ke setiap penjuru arah dan akhirnya berhasil menemukan Jidan ketika dia memunculkan diri dari belakang perosotan kembar. Di sana dia rupanya. Saya segera berlari menujunya.

“Jidan, kenapa malah ke sini? Itu, belajar renang lagi sama Pak Nawi di sana.”

Dia tidak merespon. Dia sedang mengamati perosotan kembar yang berwarna-warni.

Dalam kepala ini membersit pikiran untuk membebaskannya bermain di kolam renang ini. Toh Pak Nawi sendiri lebih fokus mengajari Rifki, bahkan sampai sedikit mengabaikan Zilan yang memang tidak mau belajar renang dan malah berlari-lari di sekitaran area kolam renang ini. Ya, saya ingin membebaskan Jidan di sini. Selain karena saya belum bisa turun ke kolam untuk mengajarinya, saya tidak ingin terlalu mengekang kuriositas Jidan di sini.

Seperti sekarang ini, dia terlihat penasaran dengan perosotan yang ada di depannya. Saya duga dia ingin menaikinya. Dari tadi dia memperhatikan temannya yang menggunakan fasilitas licin itu. Mungkin dalam pikirannya, enak juga meluncur dari atas ke bawah dan tercebur ke dalam air. Maka, saya mendorong Jidan untuk naik mencobanya ke atas sana.

“Jidan, mau main perosotan? Ayo naik sana!”

Dia pergi menuju tangga naik perosotan. Saya berdiri di ujung bawah perosotan dekat tepian kolam untuk memantaunya ketika meluncur.

Di atas sana Jidan tampak ragu-ragu untuk meluncur di perosotan. Berkali-kali dia mengambil posisi duduk di ujung atas perosotan dan berpegangan pada kedua sisinya. Dia hendak meluncur. Tapi begitu ada temannya yang akan memberinya dorongan pada punggungnya, dia menjerit. Saya tertawa melihatnya. Ternyata dia yang sangar ketika marah-marah, untuk sekadar meluncur dari atas perosotan saja, tidak memiliki nyali. Tapi saya tetap memberinya dukungan.

“Ayo, Jidan! Coba meluncur! Jangan takut, nanti jauhnya di air kok! Tidak sakit!”

Jidan kembali mencoba mengambil posisi duduk di ujung perosotan dan berpegangan pada kedua sisinya. Dia masih ragu-ragu untuk maju. Saya terus berteriak memberinya semangat. Temannya yang tadi berniat untuk membantu mendorongnya, hendak membantu mendorongnya lagi, tapi saya larang. Saya ingin membiarkan Jidan berusaha sendiri. Saya ingin melihatnya.

Jidan sedikit-sedikit menggeserkan badannya ke arah depan. Pandangannya fokus ke arah bawah di mana tiga orang temannya menanti dia tercebur ke dalam air. Gerak-geriknya masih meragukan untuk meluncur. Sekonyong-konyong temannya dari belakang menyiramkan air di atas punggungnya hingga membuat dia menjerit dan mundur lagi. Saya menepuk jidat melihatnya. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s