#12

[#12] SPECIAL NEEDS COORDINATOR

(Altruisme menjadi sikap yang paling baik jika kita mau memaknai hidup. Sebab hidup ini berkelompok, dan bukan hanya kelompok kita saja yang hidup)

Saat hendak beranjak dari bangku untuk istirahat, dua orang perempuan muda menghampiri saya. Satu berkerudung dan yang satunya lagi tidak. Saya jadi terhalang untuk mendampingi Jidan istirahat di luar. Kedua mahasiswi ini meminta waktu luang pada saya untuk berbicara. Saya menyanggupinya.

Di dekat pintu kelas, Pak Nawi hendak keluar. Saya menyeru dan memintanya untuk mengawasi Jidan di luar sana, di warung Mak Ai. Pak Nawi mengangguk.

Arah kepala saya kembali pada kedua mahasiswi tadi.

“Maaf, Pak. Ini dengan Pak Mite ya?” Salah seorang dari mereka, yang tidak mengenakan kerudung, bertanya. Saya mengiyakan. Kemudian saya tanya balik siapa mereka.

“Sebenarnya kami masih kuliah, Pak,” mereka memulai.

Saya jadi teringat pada seorang mahasiswi praktikan yang saat itu sempat mendampingi Jidan selama saya sakit dan meminta izin untuk melakukan observasi yang tak kunjung dilakukannya sampai saat ini.

“Perkenalkan, nama saya Susi dan ini rekan saya, Desi,” tunjuknya pada rekannya yang berkerudung, memperkenalkannya.

“Kami di sini bekerja di bawah SENCO, Pak.”

Apa? Mendengar pengakuannya, saya terkejut. SENCO adalah koordinator bagi pendidikan kebutuhan khusus di sekolah reguler. Ia menaungi segala sesuatunya berkenaan dengan pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus. Selama bertahun-tahun menyandang label inklusi, baru sekarang sekolah ini mempunyai SENCO. Ada pun yang dulu, ketika pertama kali saya masuk ke sini dibawa oleh seseorang dan dia adalah koordinator guru pembimbing khusus, tidak pernah bekerja secara profesional melibatkan guru-guru pembimbing khusus yang ada. Sekarang, di sekolah ini ada koordinator baru. Yang membuat saya terkejut adalah kedua mahasiswi yang tengah berdiri di depan saya ini mengatakan sebuah kata yang saya pertanyakan sejak dulu di sekolah yang katanya inklusif ini: SENCO. Siapakah yang menjadi koordinatornya untuk ini?

“Kami sebagai asisten, mulai hari ini dan ke depannya meminta Bapak untuk menandatangani form kehadiran. Diisi setiap pagi dan siang, waktu pulang. Ini.”

Disodorkannya form kehadiran kepada saya untuk diisi. Kemudian mereka mengatakan bahwa SENCO akan meminta waktu untuk melakukan asesmen terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di sini untuk kemudian diidentifikasi dan dibuatkan program pembelajaran individualnya.

“Maaf, kalian ini dari PLB bukan?”

“Oh bukan, Pak. Kami dari jurusan Psikologi.”

Mendengarnya, saya tercenung. Mahasiswa Psikologi, ternyata. Bagaimana bisa?

Mereka mengatakan tak bisa berlama-lama mengobrol dengan saya. Karena itu mereka meminta saya untuk segera menandatangani form kehadiran terlebih dahulu. Setelah itu mereka izin berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Tapi sebelum mereka pergi saya bertanya kepada mereka sekali lagi.

Ehm, maaf. Yang menjadi koordinator di SENCO itu dari Psikologi juga?”

“Oh, iya. Beliau adalah seorang magister Psikologi.”

Hm, mungkinkah ini orang yang sama dengan yang dikatakan mahasiswi yang dulu itu?

Kedua mahasiswi itu kembali berpamitan. Saya pun langsung pergi keluar kelas menuju warung Mak Ai.

***

Di warung, Pak Nawi bertanya kepada saya tentang siapa mereka. Saya menjelaskannya. Dengan dikelilingi Jidan, Rifki, dan Zilan yang kadang menginterupsi, saya mengobrol dengan Pak Nawi membahas ini.

Sebagai guru pembimbing khusus di sekolah ini sejak medio 2009, dan Pak Nawi dan Pak Sima yang sudah lebih lama lagi berada di sini, jelas kami kebingungan akan kehadiran SENCO. Siapa yang menjadi koordinatornya? Tiba-tiba saja asistennya mendatangi saya memberitahukan bahwa mulai saat ini kami diminta tertib administrasi dengan mengisi form kehadiran setiap harinya. Kami sudah seperti menjadi pegawai di bawah SENCO saja kalau begitu. Padahal, awal mula beradanya SENCO di sini saja kami tidak tahu. Kami tidak dilibatkan. Kami tidak dipanggil menghadap ke koordinator langsung terkait keberadaannya. Kalau begini caranya, sebagai koordinator, bagaimana dia akan bekerjasama dengan kami?

***

[I. Itu Lagi!]

Ini hari kedua di mana saya baru menyadari ada SENCO di sekolah ini, ketika salah seorang mahasiswi yang kemarin mendatangi saya datang sambil menenteng map hijau yang saya duga itu form kehadiran. Benar, dia kembali menyodorkan form kehadiran ke meja saya. Sementara saya mengisinya, dia berusaha untuk berkomunikasi dengan Jidan. Mungkin karena yang menyapanya perempuan, Jidan cepat meresponnya. Malahan Jidan jadi bersikap aktif dengan bertanya. Siapa ibu ini? Dari mana? Tapi tetap, ketika diarahkannya untuk menulis, Jidan emoh.

Setelah mahasiswi itu pergi, kami menjalani aktivitas di dalam kelas seperti biasa. Saya masih membujuk Jidan untuk belajar, sementara dia hanya melongo ke depan. Tangannya lagi-lagi hendak memegang kemaluannya. Saya mencegahnya. Tampak dari bagian resletingnya, ada sesuatu yang menonjol dan mencuat ke atas. Lagi, kemaluannya mengalami ereksi. Ada apa ini sebenarnya?

Belakangan Jidan sering memainkan kemaluannya sampai ereksi. Saya menduga manifestasi kecenderungan seksualnya sedang muncul dan menuntut pemenuhan. Saya tahu, dalam kondisi biasa-biasa saja, ketika penis sedang ereksi, itu adalah hal yang ingin terus dinikmati. Saya menyangka dengan memain-mainkannya, Jidan mengalami suatu kenikmatan. Apalagi sebelumnya Jidan sering ingin mendekati Nunia. Selain cantik, tentunya sebagai perempuan, Nunia adalah objek yang dapat dijadikan sebagai pemuas kecenderungan seksual Jidan. Hanya dengan dekat-dekat saja dengannya, di mana Jidan mempunyai ketertarikan kepadanya, tentu hal tersebut menjadi salah satu bentuk pemenuhan kecenderungan seksualnya. Karena kecenderungan seksual tidak mesti melulu dengan melakukan hubungan seksual dengan cara bersetubuh. Kalau Jidan belum pernah melihat bagaimana cara berhubungan badan dengan perempuan, saya pastikan dia masih akan sangat terjaga dari melakukan hal sedemikian. Ini menjadi tanggung jawab saya di sekolah untuk mengarahkannya pada kegiatan lain yang positif supaya Jidan tidak fokus pada aktivitas pemenuhan kecenderungan seksualnya yang sedang muncul, mengingat memahamkannya dalam kasus seperti ini tidaklah mudah.

Sampai saat istirahat di warung Mak Ai pun Jidan terus memegangi kemaluannya. Sikapnya tersebut kontan membuat ibu-ibu di sini terkejut. Sedikit saja lepas dari pengawasan saya, dia akan melakukannya. Karena keseringan dia berbuat seperti itu maka saya menyentil tangannya.

“Jidan, kan sudah dikasih tahu, jangan pegang-pegang itu lagi!”

Dia hanya terdiam datar.

“Kalau pegang-pegang itu lagi, tangannya disentil ya!?”

Dia memegangi tangannya yang saya sentil masih dengan ekspresi datar.

“Pak Mite, kenapa bisa begitu?” tanya Bu Meli penasaran dengan keadaan Jidan yang memegangi kemaluannya. “Sampai anunya kelihatan berdiri tadi itu.”

“Ya dia juga kan manusia, Bu,” jawab saya sambil tersenyum. “Meski pun dia autisme, tapi tetap saja. Potensi-potensi yang sifatnya fitrah dan terintegrasi dalam genusnya sebagai manusia tetaplah ada.”

Bu Meli dan yang lainnya melongo mendengar penjelasan saya.

“Begini Bu,” lanjut saya. “Kita kan sebagai manusia memiliki apa-apa yang sudah Tuhan berikan saat menciptakan kita. Di antaranya yaitu akal, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani.”

Semuanya menyimak penjelasan saya dengan saksama, meski suasana sekitar cukup bising dengan jeritan anak-anak yang sedang istirahat. Ramai.

“Nah, naluri-naluri dan kebutuhan jasmani Jidan tidak mengalami masalah. Yang bermasalah justru pada akalnya.”

Bu Meli keheranan mendengar saya menyebut akal Jidan bermasalah. “Tapi Jidan kan tidak gila, Pak Mite?”

“Iya, dikatakan gila seperti orang-orang gila yang sering ditemui di jalanan ya bukan.” Saya cekikikan. “Begini maksud saya, Bu. Akal itu kan daya untuk menghukumi suatu fakta. Misalnya nih, kita disodorkan sekerat emas di hadapan kita. Kita tahu bahwa benda itu adalah emas dari mana? Tentu dari informasi sebelumnya yang mengatakan bahwa itu adalah emas kan? Setelah diberitahu kepada kita bahwa itu emas, maka saat kita dihadapkan lagi pada suatu benda yang jenisnya sama dengan yang pernah ditunjukkan pertama kalinya, kita bisa menghukumi benda tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah emas. Sebaliknya, kalau misalnya sekarang saya memberi Bu Meli sebuah tulisan berbahasa Cina, Bu Meli tidak akan pernah mengetahui apa isi dan arti dari tulisan Cina itu kan? Kenapa? Karena Bu Meli tidak mempunyai informasi awal sedikit pun tentang bahasa dan tulisan Cina. Kalau Bu Meli tidak bisa membaca tulisan Cina itu, bagaimana mau disebut berpikir? Iya kan?”

Jidan menyelonong pergi menuju penjual telur goreng. Saya memotong pembicaraan ini barang sebentar untuk mengejar Jidan. Kemudian kami kembali lagi duduk-duduk di warung. Saya bisa tenang dan melanjutkan obrolan lagi dengan ibu-ibu. Jidan akan lama menghabiskan beberapa telur goreng kecil-kecil sebentuk kepal tangan bayi yang baru dibelinya. Itu akan menyediakan waktu yang cukup lama buat saya.

“Lanjut Pak Mite, obrolan yang tadi,” pinta Bu Meli.

“Oh, iya. Sampai mana tadi itu ya?” Saya mengingat-ingat sebentar. “Oh iya, sampai akal. Yang tadi saya jelaskan mengerti tidak, Bu?”

Mereka angguk-angguk kecil.

“Ya, Jidan itu kurang lebih seperti itulah, daya akalnya kurang. Setiap kali dikasih tahu ini itu kadang dia tidak bisa mencerna. Informasi-informasi seputar fakta yang dicerap otaknya kurang bisa dia kaitkan dengan apa-apa yang sedang dihadapi untuk dihukuminya secara tepat.”

Bu Wati mengernyitkan dahi.

“Ya begitu. Setiap informasi yang diberikan kepada Jidan, tidak bisa ia gunakan dengan baik.”

Bu Meli dan yang lainnya serempak membahasatubuhkan ungkapan oh dengan anggukan mantap.

“Nah, sekarang kebutuhan jasmani. Kebutuhan jasmani itu apa? Kita kan sering merasakan lapar dan haus pada saat-saat tertentu, nah itu yang namanya kebutuhan jasmani. Tambah lagi, rasa kantuk dan ee.”

Mereka tertawa geli mendengar saya mengatakan ee.

“Jangan mengatakan ee atuh Pak Mite, jorok.”

Saya tertawa. Mungkin sedikit keterlaluan juga saya ini. Bersama ibu-ibu di sini saya sering bercanda dan tertawa bersama. Karena itulah candaan saya pun mungkin sekata-katanya.

“Iya, iya. Saya ganti dengan istilah buang hajat saja ya!?” Saya masih cekikikan. “Kita lanjut ah.”

Ibu-ibu memperhatikan lagi.

“Nah, rasa lapar, haus, ingin buang hajat dan kantuk itu adalah suatu hal yang muncul dari dalam diri manusia akibat faktor internal. Kita merasakan lapar, karena saat itu tubuh kita memerlukan asupan. Setelah tubuh kita terpenuhi dengan makanan dan merasa kenyang, mau setumpuk apa pun makanan enak diberikan kepada kita lagi, kita tidak akan memiliki hasrat untuk memakannya kan? Itulah kenapa faktor yang mendorong munculnya kebutuhan-kebutuhan jasmani adalah dari dalam diri kita sendiri, dari dalam tubuh ini. Sama halnya dengan haus, kantuk, dan rasa ingin buang hajat. Kita melakukan aktivitas minum, tidur, dan buang hajat juga karena ada desakan dari dalam tubuh kita yang menuntut semua itu dilakukan, kan? Kalau tuntutan-tuntutan itu tidak dipenuhi, tubuh kita akan rusak.”

Saya berpaling pada Bu Wati dan bertanya kepadanya, “Bu Wati percaya kan kalau tubuh kita akan rusak kalau tuntutan-tuntutan tadi tidak dipenuhi? Bahkan sampai bisa mengakibatkan kematian! Apa Bu Wati perlu bukti? Silakan coba saja jangan makan, minum, buang hajat dan tidur.” Saya mencandai Bu Wati. Ibu-ibu yang lain tertawa sementara Bu Wati cemberut.

“Beda dengan naluri-naluri. Kemunculannya bukan karena faktor internal. Jika munculnya kebutuhan jasmani adalah desakan dari dalam tubuh kita, maka munculnya naluri-naluri adalah karena ada rangsangan dari luar.”

“Contohnya apa, Pak Mite?”

“Para ilmuwan itu sering mengatakan bahwa naluri-naluri yang ada pada manusia itu banyak. Mereka menyebutkan seperti rasa takut, cinta kekuasaan, keberanian, keibuan, kebapakan, perasaan lemah, dan yang lain-lainnya lagi, adalah contoh naluri-naluri. Padahal kalau mau kita cermati, hal-hal yang tadi saya sebutkan itu hanyalah manifestasi-manifestasi dari naluri-naluri yang sesungguhnya.

Menurut saya sih jenis naluri itu ada tiga. Begini. Ketakutan, misalnya. Itu hanyalah manifestasi dari naluri mempertahankan diri. Ini jenis naluri yang pertama. Contohnya, Bu Meli menghadapi kecoa. Karena menurut Bu Meli kecoa itu jijik dan bau, maka Bu Meli ketakutan kalau menghadapi kecoa. Kalau sudah takut, Bu Meli pasti menghindari kecoa itu kan? Karena kalau Bu Meli terus-terusan berada di depan kecoa, Bu Meli tidak mampu karena merasa jijik dan bau. Atau sebaliknya, Bu Meli bisa membunuh kecoa itu. Nah, sikap Bu Meli yang ketakutan dan menghindar dari kecoa atau justru berani menghadapi kecoa dan membunuhnya itu kan sikap mempertahankan diri dari Bu Meli? Benar tidak? Kalau orang yang tidak takut sama kecoa mah ya bakal biasa-biasa saja kan? Karena itulah, perasaan takut atau pun berani, itu hanya manifestasi dari naluri mempertahankan diri, bukan bentuk naluri itu sendiri. Karena aktivitasnya kan mengantarkan kita pada bagaimana caranya kita mempertahankan diri secara individu. Ya?”

“Hahaha. Pak Mite mah bisa saja ah mencontohkannya. Saya orangnya memang takut sama kecoa,” ujar Bu Meli.

“Sekarang, rasa keibuan, kebapakan, kecenderungan seksual, cinta anak-cucu, dan kasih sayang kepada sesama manusia, itu juga sama; bukan bentuk naluri itu sendiri. Semuanya itu merupakan manifestasi dari naluri melestarikan jenis, atau lebih kita kenal dengan naluri seksual. Karena semua aktivitasnya ditunjukkan untuk mempertahankan keberlangsungan spesies manusia secara umum, bukan lagi secara individu seperti halnya aktivitas dari naluri mempertahankan diri. Ini yang saya sebut jenis naluri yang kedua.”

“Nah, naluri-naluri ini,” saya melanjutkan, “bisa menampakkan diri, hanya ketika ada stimulus atau rangsangan dari luar. Perasaan takut muncul karena kita menghadapi suatu objek yang menurut kita menakutkan, kan? Adanya rasa keberanian juga muncul karena kita menghadapi sesuatu yang mesti kita kalahkan. Begitu pun, misalnya, suami ibu-ibu di sini ingin melakukan hubungan intim, itu karena faktor dari luar, yaitu melihat istri-istrinya yang mungkin sedang kelihatan seksi. Hahaha.” Tertawa lebar saya memberi contoh tersebut. Di warung ini, saya tidak bisa untuk tidak bercanda jika sedang mengobrol dengan ibu-ibu di sini. Ibu-ibu pun ikut tertawa.

“Jidan juga yang saya lihat ya seperti itu. Dia memegangi kemaluannya pasti karena terangsang dari luar. Tapi saya tidak tahu karena apa. Bisa saja dia pernah melihat sesuatu yang sifatnya porno di televisi di rumahnya. Bisa juga karena proses alamiah yang kemudian mendapatkan rangsang dari sentuhannya sendiri pada tititnya. Atau bahkan karena dia sekarang ini lagi suka-sukanya sama Nunia. Entahlah, mesti dicermati lebih lanjut lagi…”

Hah, suka sama Nunia? Jidan bisa jatuh cinta juga, Pak Mite? Masa sih?” tanya Bu Wati. Hampir-hampir tawanya menggelegak.

“Iya. Jidan juga kan manusia atuh, Bu. Apalagi dia didominasi oleh dorongan pemenuhan manifestasi naluri-nalurinya.”

“Yang mana sih Nunia itu?”

“Oh, Ibu tidak kenal ya? Kalau tidak salah dia orang sini juga.”

Secara kebetulan Nunia mendekati tukang sirup yang posisinya dekat dengan gerbang halaman warung. Saya jadi mempunyai kesempatan untuk menunjukkan yang mana orangnya kepada ibu-ibu di sini.

Tuh, Bu. Yang itu anaknya,” tunjuk saya tepat mengarah pada Nunia yang tengah menunggu sekantong sirup pesanannya.

“Wah, benar itu anaknya, Pak Mite?” tanya Bu Wati sedikit kaget. “Cantik sekali orangnya. Begitu-begitu Jidan pintar juga ya memilih orang.”

Tiba-tiba Jidan memanggil Nunia. “Nun! Nunia!”

Nunia menengok. Seketika senyum lebar tergambar jelas di wajah Jidan. Ibu-ibu serentak tertawa tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Seorang anak autistik yang disangkanya tidak mempunyai rasa cinta sedang menyapa perempuan yang disukainya.

Di sebelah sana, Nunia tampak merajuk. Setelah menerima pesanan dan uang receh kembaliannya, dia kemudian bergegas meninggalkan tempat jajanan menuju kelas.

Ibu-ibu masih belum berhenti dari tertawaan atas ketidakpercayaannya. Jidan pun demikian. Ditinggalkan begitu rupa oleh Nunia yang justru tidak menyukainya tidak lantas membuat senyumannya menjadi luntur.

“Kok bisa ya, Pak Mite?”

***

Obrolan terus berlangsung saat Jidan berdiri dari duduknya. Dia hendak menghampiri seorang pak tua yang sedang menyirami burung peliharaan dalam sangkar, untuk melihat-lihat, di sebelah timur pelataran warung. Saya tetap melanjutkan obrolan dengan ibu-ibu dan membiarkan Jidan pergi melihat-lihat burung dalam sangkar tersebut.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika Bu Wati yang posisinya mengarah ke arah Jidan berada menyeru saya dengan keras.

Astagfirullahal’adzim! Pak Mite, itu Jidan sedang apa? Lihat itu!”

Sontak saya langsung berpaling untuk melihatnya. Betapa terkejutnya saya ketika mata ini memperhatikan Jidan. Di ujung kamar kost-kostan itu, Jidan sedang menghadap pada dinding pembatas dan pantatnya terlihat berlenggak-lenggok. Ah, dia melakukannya lagi! Kali ini dia menggesek-gesekkan kemaluannya pada dinding itu!

Saya bergegas menghampirinya dan menarik tubuhnya dari dinding itu. Tanpa melihat pada celananya, saya menegur Jidan.

“Kenapa Jidan menggesek-gesekkan titit ke dinding!?” tunjuk saya pada kemaluannya dengan mata terpasang tajam ke arah wajahnya.

Dengan geram saya sedikit membentaknya. Tapi saat saya melihat ke arah kemaluannya, saya tersenyum geli. Di celana bagian selangkangannya ada bercak noda. Rupanya saos dan kecap dari bungkus telur goreng yang sedang dilahapnya tumpah dan mengenai selangkangannya. Keadaan toilet kost-kostan yang sedang dipakai membuat Jidan bersikap pragmatis dalam membersihkan bercak saos dan kecap tersebut dengan cara menggosokkan celananya pada dinding.

Ibu-ibu langsung tertawa mengetahui kekonyolan itu. Saya pun tidak habis pikir. Kenapa Jidan tidak lari menuju toilet sekolah saja? Akibatnya, bercak noda itu bukannya menjadi bersih, tapi malah meluas karena digosok-gosok. Dengan ditambah debu apu dari dinding itu, lengkap sudahlah nodanya itu.

***

[II. Anak Baru]

Hari demi hari sudah kami lewati. Dan sejak lima hari ke belakang, teman saya satu kontrakan, Eka, mulai bekerja di sini membimbing anak kelas satu yang baru pindah dari sekolahnya yang dulu. Eka tidak berlatarbelakang PLB, tapi pengalamannya selama bertahun-tahun di salah satu sekolah inklusi swasta yang cukup terkenal di Kota Bandung menjadi modal utamanya dalam menerima tawaran di sini. Dalam bidang matematika, keahliannya.

Selama lima hari mendampingi anak didiknya, dia kesulitan untuk menentukan termasuk ke dalam kategori apa anak yang dibimbingnya tersebut. Berkali-kali dia bercerita kepada saya tentang kesulitan yang ada pada anak didiknya itu.

“Si Afif itu benar-benar seperti anak pra-TK!” tegasnya suatu malam kepada saya. Dia melanjutkan, “Masa dia belum bisa berhitung sama sekali, coba?”

Ternyata tak hanya sampai di situ. Kemauan Afif untuk menulis juga tidak ada. Sehari-harinya, di dalam kelas, dia hanya bisa berdiam diri. Diminta untuk sekadar membuka buku saja susahnya sudah minta ampun. Yang lebih tidak pantas lagi, sebagai siswa baru di kelasnya, dia tidak segan-segan untuk meludahi teman-temannya yang mau mendekatinya. Ditegur oleh teman saya itu dia malah meludahinya juga. Bahkan saking tidak mau belajarnya, bukunya disobek-sobek dan diludahi. Eka lantas bertanya kepada saya ingin tahu anak didiknya itu terkategori anak berkebutuhan khusus jenis apa.

“Wah, baru kali ini saya menemukan anak seperti itu. Saya tidak tahu pasti, mesti diasesmen lebih dulu. Apa kata ayahnya? Dia mungkin sudah memeriksakan anaknya itu ke seorang ahli.”

“Sama saja, tidak jelas.”

Pengetahuan saya seputar anak berkebutuhan khusus belum luas. Saya hanya baru tahu tentang anak berkebutuhan khusus yang lima, dan tidak lagi di luar itu kecuali anak tunaganda, gifted, learing disability, dan autisme.

“Apa dia sudah diasesmen oleh SENCO?” Hampir saja saya lupa kalau sekarang ada SENCO yang kemarin melakukan asesmen terhadap anak-anak di sekolah.

“Belum. Mungkin besok atau lusa,” jawab Eka menyesuaikan dengan perkataan dari pihak SENCO yang mendatanginya siang tadi.

***

[III. Dibagi Kelompok]

Sudah beberapa hari SENCO beroperasi di sekolah ini meski dengan kinerja yang belum tampak. Anehnya lagi, guru-guru pembimbing khusus yang mendampingi sejumlah anak berkebutuhan khusus yang tersebar di kelas lain sudah tidak bekerja lagi di sini. Mereka berhenti. Tiga di antaranya adalah rekan saya sekelas semasa kuliah. Saya belum sempat bertanya kepada mereka perihal alasan berhentinya mereka dari sekolah ini. Tapi kepada salah seorang dari mereka, Sari, yang menjadi guru pembimbing khusus Verly, saya sempat berbincang-bincang dengannya tentang keberadaan SENCO.

Beberapa hari yang lalu, asisten SENCO memberitahukan kepada kami semua bahwa pihaknya akan mengadakan peraturan. Karenanya, sebelum itu dilaksanakan, kami semua diminta untuk bersedia menandatangani perjanjian yang diadakannya. Sari keberatan. Katanya dia mending berdikari saja dalam masalah membimbing Verly kalau ternyata pihak SENCO meminta perjanjian tersebut dijalankan. Sayang waktu itu dia tidak sempat menjelaskan semua perihal ketidaksetujuannya. Saya heran, dia begitu kuat dalam pendiriannya itu sementara saya merasa tidak ada masalah dengan permintaan dari pihak SENCO tersebut. Mungkin karena asisten SENCO yang memberitahukan perihal perjanjian itu melakukannya secara personal, tidak mengumpulkan kami dalam satu ruangan untuk membahasnya, sehingga memungkinkan ada beberapa bagian yang kepada orang lain terceritakan sedang kepada saya tidak.

Dan hari ini, ketika saya kembali mempertanyakan dalam hati tentang peran SENCO di sini, karena sudah berhari-hari tidak ada tindakan dari pihaknya, para guru pembimbing dipanggil ke kantornya yang berada di sudut sebelah kanan bangunan sekolah. Sependek pengetahuan saya, SENCO itu ada sebagai koordinator untuk mengakomodasi semua rencana dan pelaksanaan terkait pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus yang ada di sekolah di mana dia berada. Untuk tahap awal, SENCO bekerja menjaring dan updating anak berkebutuhan khusus yang ada di sekolah. Setelah itu SENCO mulai mengembangkan ranah kerjanya, seperti bekerjasama dengan para kolega terkait yang concern atau ambil bagian dalam masalah anak berkebutuhan khusus; melakukan asesmen untuk mengidentifikasi anak; menyusun program pembelajaran individual; meeting bersama seluruh komponen yang tergabung dalam lingkaran sinergisitas unsur pendidikan semisal kepala sekolah, guru kelas, orangtua siswa, masyarakat sekitar sekolah, dan para ahli; dan sederet tugas dan kewajiban yang lainnya. Dalam kaitannya dengan tahap awal keberadaan SENCO di sini, kami merasa kaget karena tidak dilibatkan. Tiba-tiba saja kami seperti sudah menjadi stafnya karena harus mengisi daftar kehadiran setiap hari. Siapa yang menjadi SENCO itu sendiri pun kami tidak tahu. Apakah dia mempunyai latar belakang ke-PLB-an atau tidak, kami juga tidak tahu. Dan hari ini, itu semua tampaknya akan menjadi jelas karena kami semua dipanggil ke kantor SENCO.

Di dalam ruangan berukuran 5×2 meter yang sesak oleh perabot itu, kami berempat; saya, Pak Nawi, Pak Sima, dan Eka, dipersilakan duduk oleh seorang perempuan tak berkerudung dan berkacamata. Dia memperkenalkan diri sebagai asisten SENCO yang baru, Linda, menggantikan dua orang mahasiswi yang pernah mendatangi saya di kelas. Dengan perkenalan yang singkat, dia melanjutkan pada rencana strategis yang sudah dipersiapkan. Dia menguraikan secara verbal bahwa sekarang, SENCO akan mengakomodir para guru pembimbing khusus dalam melayani anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah ini dalam beberapa kelompok layanan.

Ah, tampaknya dia terlupa sesuatu: memperkenalkan siapa yang menjadi koordinator di SENCO itu sendiri. Dengan senyum dikulum, dia memperkenalkan seorang perempuan berumur yang tengah membereskan administrasi yang entah itu apa, di meja belakang. Perempuan berumur itu memdongak saat asistennya berkata lupa dan hendak memperkenalkannya. Dia memasang bibirnya menjadi sebentuk perahu kecil pertanda tersenyum, bahkan sampai asistennya selesai memperkenalkan dirinya. Ternyata yang menjadi koordinator di SENCO ini adalah seorang magister Psikologi: Bu Tuti Suriatmadja.

Sang asisten kemudian melanjutkan tugasnya yang sempat terinterupsi untuk memberitahukan setiap masing-masing dari kami akan ditempatkan di kelompok layanan mana. Tapi sebelum itu, dia memperkenalkan terlebih dahulu para mahasiswa praktikan sebagai staf SENCO, yang ikut mengambil bagian dalam pemberian layanan di setiap kelompok layanannya.

Ada Dini, seorang mahasiswi modis, yang ditempatkan di bagian layanan remedial IPS untuk hari Kamis bersama rekannya, Igor, seorang mahasiswa berpostur badan tinggi besar. Kemudian ada Nita, perempuan bertubuh agak besar, yang ditempatkan di layanan remedial Matematika untuk hari Senin bersama teman saya, Eka. Lina, perempuan tinggi semampai, bersama rekannya, Devi, perempuan berkacamata frame tebal, mendapat bagian di layanan remedial IPA untuk hari Jum’at. Di bagian layanan remedial Bahasa Indonesia untuk hari Sabtu, Siska, seorang perempuan mungil, disandingkan dengan rekannya, Rini, perempuan berkerudung panjang dan baju longgar tertutup. Di bagian layanan perkembangan bahasa untuk hari Selasa, Pak Nawi dan Pak Sima ditempatkan. Saya sendiri ditempatkan di bagian layanan perkembangan motorik untuk hari Rabu bersama seorang mahasiswa praktikan bernama Andi. Selain mereka, masih ada lagi mahasiswa praktikan lainnya yang tidak mendapat bagian dalam kelompok layanan: Selly, Tami, dan Gina. Kesemuanya adalah mahasiswa jurusan Psikologi tingkat tiga.

Yang membuat saya terheran-heran adalah, SENCO, sebagai koordinator dalam konteks pemberian pendidikan khusus di sekolah ini, tidak membawa orang-orang yang beralatarbelakang PLB. Padahal secara akademik, mahasiswa dari jurusan PLB-lah yang lebih memiliki teori tentang anak-anak berkebutuhan khusus dalam pelayanan dan pembelajarannya.

Saya sama sekali tidak memiliki sentimen untuk mendiskreditkan mereka, mahasiswa-mahasiswa psikologi itu. Karena dalam konsepsi praksis saya, tidak masalah siapa pun yang memberikan layanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi dengan catatan: ia mempunyai kompetensi untuk itu. Tapi tentu saja ini semua sudah diatur, entah itu secara implisit atau bahkan ekspilit, bahwa jurusan PLB itu ada untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Di PLB juga disiplin ilmu psikologi diberikan, meski mungkin tidak sedalam di jurusan Psikologi itu sendiri. Sebaliknya, di jurusan Psikologi pun ada materi tentang anak berkebutuhan khusus dan itu tidak sedalam yang diberikan di jurusan PLB. Karena itulah, kedua disiplin ilmu itu mestinya menjadi komplementer.

Ini juga menjadi catatan penting bagi para pemangku jabatan di atas sana yang mengendalikan kebijakan tentang ranah kerja tenaga PLB di lapangan. Dengan dicanangkannya pendidikan inklusi, tentu penempatan tenaga PLB sudah harus dideskripsikan sedemikian rupa secara tertulis dalam lembaran perundang-undangan, karena tampaknya ada perubahan paradigma. Jika dulu tenaga PLB itu selalu ada di SLB, maka ketika pendidikan inklusi dicanangkan menjadi sebuah keniscayaan bahwa tenaga PLB itu menjadi pihak pertama dan diunggulkan dalam mengakomodir pendidikan khusus di sekolah reguler. Tentu itu dilakukan secara normatif karena di perguruan tinggi diselenggarakan program studi PLB dan Psikologi.

Pada faktanya di lapangan, memang orang-orang Psikologi yang memiliki wewenang dalam menyelenggarakan berbagai tes psikologis yang digunakan untuk mengasesmen sisi perkembangan anak berkebutuhan khusus. Tetapi tenaga PLB pun mengambil bagian; melakukan asesmen secara akademik untuk kemudian menyusun program pembelajaran individual. Bukankah itu artinya antara disiplin ilmu PLB dan Psikologi itu harus komplementer?

Kaitannya dengan praktik di sekolah, mungkin bisa kita katakan bahwa tenaga PLB-lah yang mesti lebih banyak berada daripada orang-orang yang berlatarbelakang psikologi. Psikolog mungkin melakukan asesmen terhadap anak secara insidental, tapi tenaga PLB melakukan asesmen perkembangan anak setiap hari.

Ini, sekarang, di depan mata kepala saya sendiri, di sekolah inklusi ini, tiba-tiba SENCO hadir dengan membawa mahasiswa-mahasiswa praktikan dari jurusan Psikologi. Secara normatif, tentu saya melihat ini sebagai sesuatu yang janggal. Apalagi ditambah kenyataan bahwa, setelah saya berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa praktikan itu, ternyata mereka adalah pekerja di yayasan orang yang menjadi koordinator SENCO tersebut. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s