#13

[#13] PERPUSTAKAAN

(Katakan pada anak-anak kita dengan tegas, apakah itu dengan ucapan atau perlakuan, jangan sekali-kali mereka melakukan apa yang kita kehendaki untuk tidak dilakukannya. Jika hanya berusaha untuk mengalihkan perhatiannya, maka berhati-hatilah karena mereka akan mencari celah di perhatian kita yang bolong-bolong)

Sekarang hari Selasa. Besok menjadi hari pertama saya dan Andi akan memberikan layanan motorik. Menurut hasil penjaringan SENCO, ada sekitar sebelas anak berkebutuhan khusus di sini. Jidan, Rifki, Zilan, Fiza, Verly yang kini duduk di kelas tiga, seorang anak ADHD dan autisme di kelas lima, dan seorang anak perempuan speech delay di kelas tiga. Tiga lainnya adalah Afif dan dua teman sekelasnya, yang saya tidak tahu apa kategorinya.

Seorang anak ADHD yang duduk di kelas lima itu bernama Didi. Sementara perempuan yang autisme, teman sekelasnya, bernama Sissy. Saya heran melihat kedua anak tersebut. Didi, yang diduga ADHD, tak pernah terlihat memiliki ciri-ciri utama ADHD yang sering saya dengar atau baca dari buku. Sikap sehari-harinya tampak sangat kontras dengan labelnya tersebut. Tapi saya tidak bisa memastikan dia masuk ke dalam anak berkebutuhan khusus kategori apa. Indikator minimal tentang gejalanya saya rasa tidak mencukupi karena dia persis seperti anak-anak abilitas yang lainnya. Sedangkan Sissy, banyak orang yang mengatakan bahwa dia sudah sembuh dari autisme. Sembuh? Saya justru bertanya-tanya mendengarnya. Bagi saya, kesembuhan dari autisme itu masih debatable. Definisi setiap orang tentang kesembuhan autisme itu mungkin persepsinya beragam sehingga tidak pernah definitif dalam mendefinisikan kesembuhan tersebut. Memang level kemampuan Sissy dalam berbagai hal berada di atas Fiza, Rifki, bahkan Jidan sekali pun. Dia mampu menjalin relasi sosial dengan banyak orang. Kemampuan berbahasanya juga cukup bagus. Tapi sebagai perempuan yang sudah mencapai usia baligh, dia tidak pernah memperhatikan bagaimana posisi ketika duduk di teras sekolah, misalnya, yang membuat banyak siswa laki-laki bisa melihat bagian dari tubuhnya yang tidak pantas dilihat khalayak. Saya juga pernah melihatnya asyik bermain sendirian di tengah lapangan sekolah, seolah tidak memperhatikan sekitarnya: asyik dengan dunianya sendiri.

***

Di tangan kami, para guru pembimbing khusus, sudah ada lembaran hasil asesmen yang dilakukan SENCO. Sebagian asesmen tersebut dilakukan di kantor SENCO dan di klinik seorang kenalan sang koordinator. Sayang, saya tidak diperkenankan untuk melihat proses asesmen tersebut di kantor SENCO. Hanya lembaran hasil asesmen ini yang bisa saya lihat di akhirnya. Sebagian besar, hasil yang tertera dalam lembaran-lembaran ini tidak jauh berbeda dengan hasil pengamatan saya selama ini. Bagian-bagiannya menerangkan sejumlah kemampuan Jidan yang dideskripsikan dengan kata-kata. Itu benar-benar tidak ada bedanya dengan hasil pengasesmenan saya kecuali pada bagaimana caranya deskripsian tersebut disusun secara rapi saja. Padahal bisa lebih efisien kalau sejak awal SENCO mengajak saya untuk membicarakan perkembangan Jidan saat itu. Untuk sekadar mendapatkan maklumat awal tentang perkembangan Jidan, itu benar-benar bisa dilakukan. Karena saya sudah berbulan-bulan menjadi pembimbingnya sebelum SENCO datang. Justru dengan kurang dilibatkannya kami di awal seperti itu, kami merasa tidak dihargai.

***

Ini adalah hari pertama Pak Nawi dan Pak Sima memberikan layanan perkembangan bahasa. Kegiatannya dimulai dari jam 8 sampai 12, bertempat di ruangan SENCO. Peraturannya, setiap anak berkebutuhan khusus bergiliran mendapatkan layanan perkembangan. Setiap jamnya akan ada dua anak yang diberikan layanan di ruangan SENCO. Karena Pak Nawi dan Pak Sima memberikan layanan perkembangan bahasa dari pagi sampai siang, maka Fiza, Rifki dan Zilan, diambil alih dulu oleh staf SENCO. Begitu pun besok, saat saya memberikan layanan perkembangan motorik di ruangan SENCO, Jidan akan didampingi oleh staf SENCO di dalam kelas.

Sesuai jadwal, Jidan mendapat kesempatan untuk diberikan layanan perkembangan bahasa pada jam 11 sampai 12. Itu artinya, saya masih harus membimbing Jidan sampai jam 11.

***

[I. Mendatangi Perpustakaan]

Sejak kedatangannya tadi, Jidan tidak menampakkan suasana hatinya dengan bagus. Dia sedang mudah terusik. Diarahkan untuk belajar di dalam kelas, dia tidak mau. Mengantuk, dalihnya. Kemudian saya mencoba untuk mengatasinya dengan metode belajar yang diharapkan bisa menyenangkan hatinya. Saya meminjam beberapa mainan milik Zilan sebagai media pembelajaran untuk Jidan.

“Jidan, ayo sini belajar. Kita belajar dengan mainan ini yuk!”

Jidan hanya terdiam. Tak sedikit pun ia memalingkan wajahnya untuk sekadar melihat mainan yang saya ambil. Padahal mainan-mainan tersebut sengaja saya pinjam dari Zilan untuk pembelajarannya. Animonya sama sekali tidak ada. Hanya merebahkan kepala di atas kedua tangannya yang bersedekap di atas meja.

Saya kembali mengajaknya dan dia masih saja tidak merespon. Itu membuat saya untuk tetap lanjut saja memberikan pembelajaran dengan menggunakan mainan-mainan milik Zilan. Tapi, lagi-lagi, tidak sedikit pun dia tertarik.

Saya kehabisan akal. Tapi saya masih harus berupaya untuk mengantisipasi agar Jidan tidak berulah dan mau belajar. Terbersit dalam ingatan saya tentang perkataan ibunya waktu itu, tentang kegemaran Jidan dibacakan cerita. Saya jadi mempunyai ide untuk membawanya ke perpustakaan sekolah. Maka saya bercerita kepada Bu Siti tentang keadaan Jidan saat ini dan meminta izin untuk membawanya ke perpustakaan.

“Jidan, ayo kita ke perpustakaan.”

“Perpustakaan?” tanyanya dengan sedikit terperanjat. Kepalanya diangkat dari meja dan mencoba bertanya lagi dengan keterahan pandang yang sembarang, “Mau apa ke perpustakaan, Pak Mite?”

“Kita coba belajar di sana. Di sini kan Jidan sering mengantuk dan tidak mau belajar. Makanya kita belajar di sana saja. Di sana banyak buku cerita, lho.”

Masih dengan arah pandang yang sembarang dia terlihat seperti yang mencermati ajakan saya.

“Katanya Jidan suka kalau dibacakan cerita ya? Makanya, ayo kita ke sana! Kita belajar pakai buku cerita di sana. Yuk!”

Saya gamit tangannya untuk keluar kelas menuju perpustakaan.

Gedung perpustakaan sudah terlihat ketika kami keluar dari pintu kelas. Letaknya ada di ujung bangunan sekolah sebelah kiri. Bangunan rigid. Kaku. Seperti membeku. Saya jarang melihat ruangan itu diramaikan oleh siswa-siswi di sekolah ini. Sekadar melihat pintunya terbuka saja tidak pernah. Kecuali satu waktu, saat guru olahraga mengambil beberapa peralatan olahraga dari dalamnya. Di atasnya berdiri sebuah musala sekolah yang, lagi-lagi, jarang saya lihat siswa-siswi di sini ramai-ramai mengunjunginya di waktu matahari sepenggalahan naik.

Kami berjalan mendekati bangunan yang menyimpan banyak buku itu.

Sesampainya di depan perpustakaan, saya membuka pintu ruangan rigid tersebut. Di saat cuaca sedang mendung seperti ini, bagian dalam ruangan menjadi terkesan semakin kelam. Bangunannya yang berdiri di ujung dan diapit oleh ruang kelas satu dan kelas tiga ini membuatnya memang pantas untuk terkesan kelam. Di sampingnya, WC sekolah berada. Dan seperti kebanyakan WC sekolah yang pernah saya datangi, sengatan baunya sama persis: enek. Baunya selalu mengingatkan saya akan masa-masa SD dulu di kampung halaman. Celah ventilasi ruang perpustakaan yang posisinya menghadap ke gang menuju WC itulah yang kadang membuat semilirnya bau khas WC sekolahan masuk ke dalam ruang perpustakaan. Mencermatinya, saya mengesankan sekolah ini dibangun dengan rancangan pengelolaan pendidikan yang asal-asalan.

Kami memasukinya setelah melepaskan sepatu.

Di ruangan ini terdapat setumpuk meja kecil, rak buku, lemari, satu set pajangan angklung dan kecapi, barang-barang tak terpakai lainnya, dan… Ah! Jidan langsung menujunya: kasur!

Saya tidak tahu ada kasur di sini hingga tidak terpikirkan akan digunakan Jidan untuk tiduran. Ini justru seperti membawanya ke ruangan yang lebih nyaman untuk benar-benar tidur.

Dia langsung membaringkan diri di atas kasur tersebut. Saya mendekatinya, berusaha untuk mengalihkan usahanya untuk tidur. Saya tahu itu dia lakukan dalam kepura-puraan. Ibunya pernah memberitahu saya soal ini.

“Jidan, kita kan ke sini untuk belajar. Tuh lihat, banyak buku di sini. Pak Mite ceritakan sesuatu pakai buku cerita ya?”

Jidan tidak merespon. Dia masih menempelkan pipinya pada kasur. Mulutnya sedikit manyun. Dalam pejaman mata, kedipan kecilnya kelihatan bergerak-gerak lembut. Saya tahu itu hanya pura-pura saja. Dia mulai bisa main-main dengan saya. Tapi saya membiarkannya dulu dan terus berusaha membujuk dia dengan kata-kata. Setelah cukup lama dia tidak merespon, saya mengancam akan mengambil gelang biru baru yang melingkar pada pergelangan tangannya.

“Jidan, kita kan ke sini untuk belajar, bukan untuk tidur-tiduran seperti itu. Ayo! Kalau masih tidak mau belajar, Pak Mite ambil nih gelangnya!”

Tertawa kecil saya dibuatnya. Sebabnya, dia buru-buru bangkit dari kepura-puraan tidurnya dan melongo sejenak sesaat setelah saya ancam. Tapi bukannya mempersiapkan diri untuk menerima pembelajaran, dia malah beranjak dari kasur dan mendekati satu set pajangan angklung. Dia mengambil sebuah angklung ukuran kecil dan mencoba memainkannya, tapi salah pegang.

Tadinya, saya mengajaknya ke sini adalah untuk belajar biasa. Tapi melihatnya begitu antusias pada sesuatu yang baru dilihatnya membuat saya berpikir dua kali. Saya mesti menciptakan suasana belajar pada apa yang sedang diminatinya sekarang ini. Tapi saya tidak bisa memainkan angklung. Saya hanya bisa memberitahunya cara memegang dan membunyikan angklung dengan cara yang benar saja.

Ya! Itu yang harus saya lakukan. Sebisa mungkin saya harus bisa mengikuti alurnya. Kecuali satu hal, ketika dia keluar dari apa yang masih bisa saya tolerir.

Baru sebentar saja saya memberitahunya bagaimana cara memegang dan membunyikan angklung dengan benar, Jidan sudah pindah perhatian lagi pada kecapi. Terhadap alat musik yang satu ini saya benar-benar tidak tahu sama sekali cara memainkannya. Posisi tubuh saat memainkannya pun saya tidak tahu. Saya membiarkannya dan memperhatikan apa yang akan dilakukannya. Dia hanya melihat-lihat bentuk kecapi tersebut dan mencoba memetik senarnya yang sudah putus-putus.

“Jidan tahu alat musik apa ini namanya?”

Dia terdiam. Terdiam bukan memikirkan pertanyaan saya dan mencoba untuk menjawabnya. Tapi terdiam murni dan tak merespon apa pun.

Ah, peduli apa saya dengan itu. Yang harus saya lakukan adalah memberinya informasi bahwa benda yang sedang dilihat dan dipegangnya itu adalah suatu alat musik tradisional dari daerah Jawa Barat.

“Jidan, ini teh salah satu alat musik tradisional dari daerah Jawa Barat. Namanya kecapi. Cara memainkannya itu dengan dipetik.”

Dia tetap tidak memberi respon dan terus asyik mengamati alat musik yang namanya mirip dengan nama salah satu buah itu.

“Sini Pak Mite coba dulu,” saya mengambil bagian untuk mendemonstrasikannya. “Begini nih cara mainnya.”

Senar demi senarnya saya coba petik tanpa ilmu. Hanya berbekal pengalaman saya sewaktu SMA yang pernah memainkan gitar dalam menirukan bunyi kecapi saja. Nadanya membunyi sembarang. Sebab tidak seperti gitar yang fret-nya jelas, buat saya kecapi itu fretless sehingga saya awam sama sekali.

Demi mendengar nada-nada sumbang dari kecapi yang saya mainkan, saya tertawa dalam hati. Saya tidak bisa mendemonstrasikan cara bermain kecapi kepada Jidan.

“Nah, pokoknya begitulah cara memainkannya.”

Saya tahu Jidan buta nada. Tapi bunyi nada yang terdengar enak atau tidak, saya percaya dia masih bisa membedakannya.

“Jidan, alat-alat musik tradisional Jawa Barat kan banyak. Ada angklung, ada gendang, ada …” saya mencoba mengingat nama-nama alat musik tradisional dari daerah Jawa Barat lainnya, tapi menggapai-gapai, tak sampai-sampai, “…terus yang lainnya lagi. Pokoknya banyak.”

Memalukan sekali. Sebagai seorang guru, saya tidak bisa mencontohkan lebih banyak lagi alat musik tradisional dari daerah sendiri.

“Nah, salah satu dari alat musik tradisional Jawa Barat yang banyak itu ya ini, kecapi.”

Saya mengatakan itu di dekat telinganya, supaya sedingin apa pun dia tidak melirik memperhatikan saya, getaran bunyi informasi penjelasan dari saya tetap bisa diterima daun telinganya hingga mengirimkannya menuju otak melalui timpanum. Sebagai suatu bukti apakah dia mampu menerima informasi selagi menampakkan ketidakhirauannya, nanti saya akan menanyainya lagi.

“Mau keluar, Pak Mite,” ujarnya tiba-tiba sambil memutar tubuhnya.

“Eh, mau ke mana?”

“Istirahat.”

“Ini belum waktunya. Nanti kalau waktunya sudah istirahat, bel akan bunyi. Kalau bel sudah bunyi, baru Jidan bisa istirahat keluar.”

Saya menariknya menjauh dari pintu. Saya kemudian meminta Jidan untuk melihat mata saya. Dia berusaha keras. Setelah beberapa kali matanya mampu melihat mata saya, saya menegaskan, “Jidan harus belajar dulu di sini!”

Supaya dia sedikit lebih nyaman, saya menuntunnya untuk duduk di atas kasur lagi. Saya mengambil sebuah buku pelajaran dari rak buku. Dipilih-pilih, saya kesulitan mencari buku yang sekiranya bisa disesuaikan dengan kemampuan Jidan. Kebanyakan buku-buku di sini adalah buku-buku lama. Kurikulum 1994, tulisan itu tertera di sampul bukunya. Persis seperti sampul buku paket ketika saya masih duduk di bangku SD 14 tahun yang lalu.

Akhirnya saya memilih buku berjudul Sistem Tata Surya. Melalui buku ini saya akan memperkenalkan Jidan pada nama-nama planet yang ada di alam semesta ini.

“Jidan, lihat sini,” saya memegangi dagunya, memutar wajahnya yang melihat ke arah luar lewat jendela. “Jidan tahu tidak nama-nama planet?”

Dia mengangguk mantap.

Sebegitunya. Saya menuntut bukti dan memintanya untuk menyebutkan nama-nama planet yang dimaksud. Dia berusaha menyebutkannya satu persatu sambil menatap bukunya yang sengaja saya tutup.

Mulutnya manyun-manyun mencoba menyebutkan, “Me-ku-ius, Penus, Ma-s, Bumi, Penus, Satu-nus, U-anus, P-uto!”

Betapa saya terkejut. Ternyata dia sudah mengenali nama-nama planet yang baru saja akan saya berikan. Pengetahuan umumnya sungguh membuat saya takjub. Untuk anak seautisme Jidan, ini sangatlah mengejutkan. Memang dengan artikulasi yang belum sempurna dia menyebutkannya tidak teratur dan kurang menyebut dua nama planet lagi. Itu saja yang harus saya perbaiki dalam pembelajaran ini.

“Wah, Jidan hebat! Bisa menyebutkan nama-nama planet yang ada di alam semesta ini.”

Saya menepukkan kedua telapak tangan beberapa kali sebagai tanda penguat ganjaran. Ditepuktangani seperti itu, dia tersenyum bangga.

“Tapi Jidan, tadi Jidan kurang menyebut dua nama planet lagi. Coba, planet apa yang belum Jidan sebut. Ulangi yuk!”

Dia mengulang menyebutnya dan berhasil menambah satu nama planet yang tadi luput disebutnya. “Yupiteu…”

Sampai menyebutkan planet Pluto, dia masih meninggalkan satu nama planet lagi.

“Masih ada satu nama planet lagi yang belum disebut. Apa coba?”

Dia menggapai-gapai dengan melihat ke arah luar lewat jendela.

Setelah cukup lama dia tidak bisa mengingatnya, saya membantunya.

“Nep…”

“Nep…” dia menirukannya dengan mendekatkan wajahnya pada saya. Arah pandangnya terus saja sembarang.

Saya memancingnya lagi. “Nep…”

“Nep…” tirunya lagi.

Tampaknya dia hanya menunggu saya menyebutkannya saja.

“Nep-tu-nus.”

“Neptunus,” dia menirukannya.

“Nah, itu nama planet yang Jidan tidak sebutkan tadi.”

Saya memintanya untuk kembali menyebutkan nama-nama planet tersebut dari awal.

Dalam waktu yang lumayan singkat, akhirnya Jidan bisa menyebutkan nama-nama planet secara susun meski dengan artikulasi yang kurang jelas dalam beberapa nama planet. Saya mencoba untuk memperbaikinya. Saya memperlihatkan kepadanya bagaimana keadaan mulut saat mengucapkan sejumlah huruf yang masih belum dikuasainya.

Ketika saya mengajarkan huruf r dan menempelkan tangannya di bawah rahang saya, tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka dengan cara didobrak.

Braaakk!

Pintu langsung terbuka. Seorang anak berbadan tambun berdiri di sana. Cahaya dari luar, meski sedang mendung, membuat sosoknya kurang terlihat dan menjadi siluet. Dia kemudian memasuki ruang perpustakaan setelah melepas kedua sepatunya. Arahnya yang mendekati kami membuat saya akhirnya bisa mengenalinya. Ternyata Rifki.

“Pak Mite, Jidan, lagi apa?” tanyanya dengan ekspresi datar.

“Lagi belajar di sini. Rifki sudah beres belajarnya di ruangan SENCO?”

Suara verbalan panjang diftong eu tanda hendak menjawab terdengar dari mulutnya yang kecil seraya menggigit-gigit bibir bagian bawah. Wajahnya galau dan matanya berputar-putar. Cukup lama Rifki tidak menjawab pertanyaan saya. Seketika, dengan wajah sumringah Rifki kemudian berpaling dan meloncat-loncat ke tengah ruangan sambil membeokan kata-kata jorok. Saya terperanjat dan bergegas mendekati Rifki, mencoba untuk meredakannya. Kenapa Rifki bisa sampai ke sini? Saya tahu dia tadi masih dalam pemberian layanan perkembangan bahasa di kantor SENCO.

Dari arah luar sana seorang staf SENCO yang berperawakan hampir menyerupai Rifki menyusul masuk ke dalam perpustakaan. Rupanya Nita. Tampaknya Rifki kabur ke sini dan Nita hendak membawanya kembali ke kantor SENCO.

“Rifki, ayo belajarnya diteruskan,” pinta Nita sambil menarik tangan Rifki. “Kan belajar bahasanya sama Pak Nawi belum selesai…”

Setelah dibawa ke kantor SENCO lagi, perpustakaan kembali hening. Saya pun melanjutkan pembelajaran bersama Jidan yang sempat terhenti tadi.

Setelah saya duduk tepat di depannya secara vis a vis dan akan memulai pembelajaran, Jidan berbisik mengucapkan kata-kata jorok dengan tersenyum. Saya kembali terperanjat. Sekarang, Jidan mulai menirukan apa yang sering dan baru saja dibeokan oleh Rifki di sini.

Saya langsung menegurnya. “Eh, Jidan jangan meniru Rifki! Jidan tidak boleh mengucapkan kata-kata jorok!”

Mungkin karena merasa tidak ada hukuman, Jidan malah membandel dengan mengucapkannya lagi berulang-ulang. Saya menegurnya lagi dan dia masih tidak mengindahkan. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajaknya bermain angklung, tapi dia tetap saja begitu. Sampai saat saya mengancam akan mengambil gelang biru barunya, Jidan masih saja tetap mengucapkannya berulang-ulang. Seperti sedang mempermainkan saya, dia tersenyum.

Ini adalah sesuatu yang baru di antara kami. Saya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya berhenti.

***

[II. Aksi Dimulai: Rebut Gelangnya!]

Saya baru ingat bahwa sekarang saya sedang berada di dalam ruangan yang tidak ada seorang pun kecuali kami berdua. Saat-saat Jidan membandel seperti ini, tampaknya akan sangat tepat waktunya kalau saya memberi dia treatment lepas tanpa kompromi. Untuk memastikan sekali lagi bahwa dia sedang membandel, saya mencoba memintanya untuk berhenti. Sambil tersenyum, saya berkata kepadanya sambil mengacungkan telunjuk sebagai tanda peringatan, “Jidan, Jidan jangan mengucapkan kata-kata jorok itu. Tolong berhenti mengucapkan kata-kata jorok itu.”

Dia tertawa kecil. Seketika tidak keluar lagi kata-kata jorok dari mulutnya. Saya menunggu beberapa detik. Dan, ternyata memang benar, dia sedang membandel. Dengan perlahan-lahan, Jidan kembali mengucapkan kata-kata tak pantas tersebut dengan menyengaja.

Tak mesti menunggu lama lagi, saya langsung meraih tangannya untuk merebut gelang biru barunya. Dia mencoba untuk mempertahankannya. Tapi tangan ini tidak lagi saya gunakan untuk sekadar mengancamnya belaka melainkan sungguhan.

Saat talian gelangnya berhasil terbuka, saya mengambilnya dan langsung melemparkannya ke arah belakang. Jidan menjerit.

Aaaaaaaaaaarrrrrrrggggghhhhhh!!!

It’s show time, Dear!

Dia segera beranjak untuk mengambil gelang biru barunya yang tergeletak di atas lantai. Sebelum dia berhasil meraihnya, tangan saya sudah terlebih dulu melingkari perutnya. Saya menahannya. Saya tarik dia menjauh dari gelangnya yang tergeletak di atas lantai. Membuat jeritannya semakin menjadi-jadi.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

Wow! Jeritan yang sangat merdu sekali untuk didengar!

Jeritannya keras sekali. Tapi tidak saya hiraukan mengiba. Yang sedang ada dalam pikiran saya adalah bahwa saya sedang bereksperimen memberinya treatment secara lepas tanpa kompromi. Dengan cara seperti ini saya berharap bisa mengubah perilakunya yang maladaptif.

Dan kini, saya mulai bergelut lagi dengannya. Tubuh bongsornya mendorong-dorong pertahanan saya. Jeritannya mulai bercampur dengan tangisan. Saya yang memperhatikan ekspresi wajahnya bisa merasakan betul kegalauannya. Dijauhkan dari sesuatu yang amat dicintai adalah menyakitkan. Membuat hati gusar dan pikiran kalut. Energi yang akan dikerahkannya mungkin akan lebih besar dari biasanya, karena sekarang saya tidak main-main. Mudah-mudahan saya bisa menahannya.

Bagaimana rasanya, Sayang? Menyenangkan, bukan?

Membuatnya menjadi gusar dan kalut adalah suatu treatment yang saya pikir paling cocok untuk dirinya yang selama ini mesti diturut. Dengan perlakuan begini, saya ingin dia bisa mengidentifikasi bahwa tak selamanya dia akan dibiarkan sesuka hatinya. Biar ini menjadi satu titik awal baginya untuk merasakan bahwa akan ada sesuatu yang menahan dan melawannya ketika dia membandel.

Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhhhh!!! Gelangnya! Itu gelangnya! Tidak boleh kekerasan! Tidak boleh kekerasan! Ini harus fight!” jeritnya dalam penahanan.

“Tidak! Pak Mite tidak melakukan kekerasan! Jidan sendiri yang melakukan kekerasan!”

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhh! Itu gelangnya! Gelangnya! Ini kekerasan! Ini kekerasan! Ini harus fight!”

Buk!

Punggung saya kena pukul.

Mencoba melawanku, hm?

Saya langsung menarik dan menahan tangannya. Dikuncilah kedua tangannya kini. Tubuh ini saya lekatkan di badannya, biar dia tidak bisa bergerak. Kakinya meronta ingin menendang, tapi berhasil saya kunci juga.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!!!”

Bagaimana rasanya, Sayang? Semakin menyenangkan, bukan?

Jidan meronta-ronta dalam dekapan penahanan saya. Tubuhnya menggeliat. Sekuat tenaga yang dimilikinya ia berusaha melepaskan diri. Tenaga yang dikerahkannya saya rasakan sebanding dengan tenaga orang dewasa, tidak seukuran tenaga bocah SD kelas enam kebanyakan.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Usahanya melepaskan diri dari kekangan saya ini benar-benar dilakukannya sekuat tenaga. Tapi saya masih bisa mengimbanginya. Kami sama-sama mengerahkan tenaga yang ada.

Santai saja, Sayang. Kali ini aku tidak mau mengalah. Kita sama-sama punya kekuatan. Karena itu, kita main-main saja, oke!? Yah, sampai kamu mengalahlah…

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Kekangan tangan saya yang melingkari tubuhnya, yang mendekap kedua tangannya, mulai terasa licin. Rupanya pengap ruang perpustakaan ini sudah menarik keringat kami keluar dari pori-pori kulit masing-masing. Sudah terasa seperti ini, tapi tanda-tanda dia akan berhenti untuk mengalah sama sekali tidak ada.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Kekuatanmu itu, ternyata di luar dugaanku juga rupanya…

Hebat sekali dia. Rontaannya masih terasa sampai saya mulai kepegalan dalam menguncinya. Urat-urat tangan dan paha saya sudah mulai terasa pegal. Saya butuh rileks sebentar. Tapi saya khawatir itu akan memberinya kesempatan untuk berhasil lolos dari treatment yang sedang saya berikan ini. Jika dia sampai berhasil lepas, perlakuan ini akan sangat sia-sia. Saya harus tetap menahannya.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Dia mulai menangis kencang. Air matanya keluar.

Ow…

Pipinya basah.

Tak ada tisu untukmu, Sayang.

Warna kulitnya yang cukup putih berubah menjadi kemerah-merahan.

Uh, kasihan…

Persis seperti orang yang sedang menahan amarah.

Tapi menyenangkan, bukan?

Perasaan yang sama ketika memperlakukan Verly seperti ini menghinggapi saya lagi. Kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Saya harus melakukannya.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Kamu mau mengalah sekarang? Mengalah sajalah… Percuma berontak juga. Akan sia-sia.

Di luar dugaan, rasa pegal ini, saya tak mampu lagi menahannya. Saya ingin ganti posisi dalam menguncinya. Di tengah jerit tangis dan rontaannya, saya mencoba untuk mengubah posisi. Saya menggeser tubuhnya ke depan lemari perpustakaan. Spacenya yang lumayan luas cukup untuk membuatnya duduk dan meronta, jika dia masih, di atas lantai.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Sedikit-sedikit saya menuntun tubuhnya untuk turun. Dia mengikuti. Dengan masih menjerit dan menangis, dia berusaha untuk mengambil posisi jatuh yang bagus. Mula-mula kaki kirinya yang diselonjorkan. Kemudian pantatnya mengakhiri posisi pendaratan dengan menduduki lantai. Tentu saja posisi akhirnya dengan sikap selonjoran itu memudahkan saya untuk bisa mengganti posisi supaya rasa pegal ini jadi berkurang.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!! Ugh! Ugh! Ugh!”

Saya langsung mendekapnya dari belakang. Gerakan tangannya saja kini yang terkunci. Kakinya sudah bebas, dan saya pun terbebas dari ancaman tendangannya. Dengan mendekapnya seperti ini, saya bebas mengarahkannya ke arah mana saja. Saya tidak akan membiarkan kesempatan ini menjadi sia-sia. Saya akan memutar tubuhnya mengarah ke arah di mana gelang biru baru kesayangannya tergeletak. Jaraknya sekitar dua meter.

Siap-siaplah kamu. Sebentar lagi kita akan menikmati sensasi yang teramat menyenangkan.

Benar saja. Saat dia melihat gelangnya itu, tangisnya semakin menjadi lagi. Dia semakin berusaha untuk melepaskan diri dari kekangan saya. Sesuatu yang tak dinyana, kekuatannya masih belum berkurang juga. Malah lebih besar lagi dia kerahkan. Padahal saya sudah mulai kelelahan. Sekuatnya saya terus mendekapnya, bahkan dengan penekanan.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!! Itu gelangnya! Mau gelangnya!”

Bagaimana? Lebih menyenangkan dari yang tadi, bukan?

Jelas dia sangat menginginkan gelang biru baru kesayangannya itu kembali. Gelang tersebut teronggok tepat di depan mata kepalanya sendiri, sedang dia tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya terkunci. Saya merasakan betul kegalauan hatinya. Saya benar-benar merasakannya.

Ugh! Ugh! Ugh!” desaknya sambil sesekali terisak berusaha melepaskan diri dan mematahkan dekapan saya.

Kegalauanmu itu, aku menikmatinya. Tapi tenang, ini untuk kebaikanmu juga, Sayang.

Sedikit-sedikit, karena masih berusaha melepaskan diri, punggungnya menurun mendekati lantai kehilangan kendali. Jadilah dia telentang di atas lantai. Kali ini cuma tangannya yang terkunci di atas kepalanya. Matanya menatap mata saya yang tepat berada di atas kepalanya. Kami masih beradu kekuatan; dia ingin berlepas dan saya tidak akan melepas.

Ugh! Ugh! Ugh!”

Masih menyenangkan, bukan?

Kakinya berusaha untuk menghantam segala yang ada karena tangannya tidak bisa apa-apa. Tas dan buku-buku belajarnya yang tersimpan di atas meja kecil yang berada di dekat kakinya pun kena. Bertebaranlah buku-buku itu ke atas lantai. Tas gendongnya kena tendangannya sendiri. Keadaannya yang terbuka membuat tempat pensil di dalamnya yang juga terbuka memuntahkan segala yang tersimpan. Alat-alat tulisnya berhamburan. Untuk mencoba menghentikannya, saya memanjangkan kaki meraih kaki kanannya dan berusaha untuk menyeretnya.

Ugh! Ugh! Ugh!”

Posisi selangkangannya kini terbuka. Itu membuat kaki kirinya tidak lagi bisa dia kerahkan untuk menendang-nendang segala benda yang ada di dekatnya. Jerit tangisnya semakin menjadi lagi. Kekuatannya masih terasa tidak berbeda dengan kali pertama saya menguncinya. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia mempunyai energi yang tak akan pernah habis digunakan?

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!! Lepaskan! Lepaskan, Pak Mite!”

“Tidak! Pak Mite tidak akan melepaskan Jidan.”

Saya sudah bertekad untuk tidak melepaskannya hingga dia merasa kecapaian dan melemah.

***

Tik, tik

Peluh dari kening saya mulai berjatuhan menitiki pipinya. Saya tidak menyangka sudah melakukan ini dengan mengeluarkan keringat begitu banyak. Jaket yang tidak sempat saya buka dari tadi mendukung keadaan tubuh menjadi semakin gerah. Tapi saya harus bisa tahan.

“Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh!!!”

Masih menikmati juga rupanya, kamu ini.

Dorongan rontaannya melemah. Saya merasakan pergelangan tangannya tidak lagi mengeras. Jari-jari tangannya pun terbuka. Tampaknya dia menyerah. Kami sudah sama-sama berkeringat. Saya pun melemahkan penekanan pada kedua tangan dan kakinya, tapi tidak melepasnya. Dia tidak akan saya lepaskan dulu. Saya masih menunggu responnya.

Kita akhiri sampai di sini saja senang-senangnya, hm?

Hiks hiks hiks…”

Dia masih terisak-isak. Dadanya kembang kempis. Matanya yang merah masih melihat tak karuan ke sana kemari. Mulutnya terbuka lebar. Ekspresi menangis, masih dia tampakkan.

Hiks hiks hiks…”

Benar, mau sudahan saja main-mainnya?

Tiba-tiba pergelangan tangannya yang saya pegangi mengeras lagi. Saya pun kembali mengerahkan tenaga untuk menahannya.

Oh, rupanya kamu benar-benar suka permainan ini ya? Baiklah…

Dia kembali meronta sambil berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”

“Tidak! Pak Mite tidak akan melepaskan Jidan!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

Di luar sana sudah mulai terdengar ramai. Barangkali waktu untuk istrirahat sudah tiba. Tapi bel tanda istirahat belum saya dengar. Saya melihat ke sekeliling, tidak ada jam dinding terpasang di sini. Hanya segulir kalender dengan angka-angka tanggal yang berukuran besar. Terlihat jelas di kalender tersebut, ada bulatan spidol merah besar menandai waktu, Kamis 25 November 2010. Entah siapa dan untuk mengingatkan apa dia menandai waktu tersebut. Mungkin sebagai pengingat Hari Guru yang ke-25. Sebab di sana terdapat tulisan “Upacara HG Di Alun-alun Bandung”.

Huaaaaaa, lepaskan… Lepaskan, Pak Mite…” permintaannya menjadi tak sekeras tadi. “Ampun, ampun. Minta maaf. Minta maaf… Hiks hiks hiks…”

Meski sudah ampun-ampunan dan meminta maaf seperti itu, Jidan tetap tidak menghentikan rontaannya.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Santai saja. Bukankah kamu masih mau main-main dan senang-senang?

Saya masih bisa merasakan kegalauannya. Saya masih bisa merasakan keresahannya. Dia sangat ingin sekali terlepas dari kekangan yang saya lakukan. Tapi saya belum mau melepaskannya.

Hiks hiks hiks… Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Tangisannya masih sama, bercampur jerit. Mulutnya terus terbuka lebar. Jatuhan air mata yang membasahi pipinya telah sampai pada mulutnya. Sudah tidak bisa dibedakan lagi apakah karena saking terus terbuka mulutnya itu dia mengeluarkan cairan ludah yang tak teratur.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh!! Ampun, ampun. Minta maaf, minta maaf…”

Dia kembali ampun-ampunan dan meminta maaf. Tapi rontaannya masih belum reda. Karena itu saya masih akan terus mengekangnya seperti ini sampai dia kelelahan dan tak lagi meronta-ronta.

***

Sekira 20 menit kemudian dari setengah jam yang sudah kami lalui dalam pergulatan, tenaganya mulai melemah. Jidan ampun-ampunan dan meminta maaf lagi. Meski rontaannya berhenti tapi tangisannya masih nyaring. Saya belum mau melepaskan kekangan ini. Jika dia sudah sedikit mereda, baru saya mau membukanya.

Hiks hiks hiks…”

Sedikit-sedikit tangisnya mulai mereda. Tenaganya juga sudah melemah. Saya mengikutinya lagi, melemahkan kekangan. Tapi tetap memeganginya untuk jaga-jaga. Eskpresinya sudah lebih tenang ketimbang gusar dan kalut lagi.

Hiks hiks hiks…”

Dia tersedu-sedan…

Maafkan aku, Sayang…

…hingga berangsur-angsur menjadi lebih tenang.

…ini demi kebaikanmu juga.

Cukup lama dia terdiam. Tak lagi ditampakkannya pemberontakan. Dia masih dalam keadaan telentang di atas lantai. Pakaian seragamnya sudah tak rapi lagi. Bajunya sudah keluar dari rapian di pinggang celana, tak teratur. Posisi tangan kirinya membentuk huruf v, disejajarkan dengan pundaknya, dan masih saya pegangi bagian pergelangan tangannya. Sementara tangan kanannya meregang melewati batas kepalanya, juga masih saya pegangi bagian pergelangan tangannya. Tampak sekali dia kecapaian. Saya pun demikian. Keadaan Jidan yang sedang terbaring kecapaian ini dimanfaatkan saya untuk menasihatinya.

“Nah, sekarang tahu kan apa akibatnya kalau Jidan mengucapkan kata-kata jorok dan tidak mau belajar? Pak Mite bakal menahan-nahan Jidan. Sekarang mah sudah tidak ada ampun lagi. Kalau Jidan mulai uring-uringan lagi, Pak Mite bakal menahan Jidan seperti ini lagi. Mau?”

“Iya Pak Mite, minta maaf,” ujarnya.

Dari anak-anak autistik yang lain yang ada di sekolah ini, mungkin kemampuan Jidan jauh lebih baik dalam menerima informasi dari sebuah komunikasi. Hampir mendekati kemampuan Sissy yang sama-sama diduga autisme.

Saya belum melepaskan kekangan dan masih terus memberikan nasihat kepadanya. Saya menjelaskan bahwa sekarang di antara kami berdua ada aturan yang mesti dipatuhi. Kini saya benar-benar mempunyai kekuatan untuk mendesaknya patuh setiap saat karena telah berhasil mengalahkannya hari ini. Saya telah menaklukkannya. Meski kepatuhannya belum terbukti dan terjamin di hari-hari selanjutnya, saya mengambil janjinya hari ini.

“Pokoknya, kalau Jidan sudah tidak mau diatur lagi, Pak Mite tahan-tahan lagi seperti tadi.”

“Jangan Pak Mite. Ampun, ampun,” ujarnya pelan dan datar. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s