#14

[#14] I M P L O R A

(Sejak jiwa manusia dipenuhi oleh nafsu, kebaikan tidak akan pernah bisa ditentukan oleh kita dengan jemawa. Karena sering, jika kita mau membuka mata hati, kebaikan ada pada hal-hal yang kita tolak atasnya dan baru kita dapati di akhir kejadian. Maka, jelilah dalam mencari pelajaran yang tersembunyi, sebab ia lebih berharga daripada kebaikan yang tampak oleh mata kepala kita)

Lima bulan berlalu sejak peristiwa itu…
18 April 2011, pukul 13:09

Konnichiwaaaa…
Kooonnichiwaaaa…
Koooooooonnnnnniiiiiiichiiiiiiiwaaaaaaaaa!!!

Terdengar dari arah dalam kamar kontrakan, suara anak kecil meneriakkan salam siang dalam bahasa Jepang.

Semumet di siang hari ini, saya jadi teringat kelucuan Jidan saat menirukan bunyi nada tanda SMS masuk di HP saya itu. Mulutnya dimanyun-manyunkan meniru salam dari Negeri Sakura tersebut setiap kali saya menerima SMS di dekatnya.

Konnichiwaaa… Konnichiwaaa… Apa itu teh Pak Mite? Konnichiwa itu apa?”

Tersenyum geli saya memvisualisasikannya dalam benak. Tapi terasa masygul. Bagaimana tidak. Hari ini cukup menyebalkan karena tadi pagi saya sempat bersitegang dengan asisten SENCO dalam membicarakan sikap saya selama menjadi guru pembimbing khusus di bawah kontrolnya.

Saya yang sudah melangkah masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, memalingkan arah tujuan. Saya paling tidak bisa untuk menunda-nunda membuka pesan sedang saya tahu ada SMS masuk ke nomor saya. Bagi saya itu adalah suatu keharusan yang tidak boleh tertunda kecuali keadaan membuatnya tidak bisa. Saya tidak ingin mengabaikan seandainya isi pesan tersebut begitu urgen. Meski terkadang banyak pesan yang tidak penting juga masuk ke nomor saya seperti iklan dari provider seluler.

Saya mengambil HP yang sepulang dari sekolah tadi digeletakkan di atas sebuah buku. Saya membuka kunci tombolnya dan melihat satu pesan bergambar amplop kuning di layarnya. Tidak ada nama yang tertera untuk mewakili siapa pengirimnya. Saya tidak mempedulikan itu. Saya langsung membuka pesan dari nomor yang tak dikenal tersebut.

Pak Mite, untuk hari besok Pak Mite tidak usah ke sekolah lagi. Karena mulai besok Jidan akan dipegang oleh mahasiswa praktikan dari SENCO.

Terima kasih atas kerjasamanya selama ini.

-SENCO-

Apa ini?

Tiba-tiba saja saya dikirimi SMS begitu dari SENCO. Jelas saya tidak bisa menerimanya. Sembarangan saja memberhentikan saya. Padahal saya menjadi pembimbing Jidan dengan cara berakad kerja langsung dengan orangtuanya. Karena itu, yang berhak memberhentikan saya adalah orangtuanya sendiri, bukan SENCO.

Saya membalas SMSnya. Meminta hal itu diperjelas dulu. Kembali lagi saya meminta waktu untuk bertemu yang sejak beberapa bulan lalu tidak pernah digubris.

Ditunggu sampai bermenit-menit, tidak ada balasan dari SENCO atas permintaan saya untuk bertemu. Hati saya gusar. Rasa-rasanya ada yang tidak beres sekarang ini. Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa SENCO memberhentikan saya seenak pihaknya? Padahal tadi pagi saya menegaskan kepada asistennya untuk meminta bertemu dengan koordinatornya langsung. Apakah hanya gara-gara kekeraskepalaan saya pagi tadi saat berbicara sehingga membuatnya menangis, yang membuat pemecatan janggal ini terjadi?

Oh, kepala ini panas sekali.

Belum lagi saya sampai pada pintu kamar mandi untuk mengambil air dan mengusir rasa panas di kepala ini, HP saya berdering. Saya lihat nama pemanggil yang tertera di layarnya, Pak Rahman.

Ada apa lagi ini?

Perasaan saya mulai tidak enak. Saya mengira ini ada hubungannya dengan pemberhentian saya yang janggal tersebut.

Assalamu’alaykum?”

Wa’alaykumussalam,” suara di ujung telepon sana menjawab salam saya.

Saya lantas bertanya ada keperluan apa, karena jarang-jarang beliau menelepon saya. Di dalam hati saya menduga-duga Pak Rahman akan menjelaskan masalah pemberhentian janggal atas saya itu. Mungkin beliau akan memberitahukan sesuatu sehingga saya terbebas dari prasangka yang tak berdasar. Karena saya yakin ini ada yang tidak beres.

“Begini, Pak Mite,” Pak Rahman memulai. “Baru saja saya mendapat SMS dari SENCO. Katanya mulai besok Pak Mite tidak usah ke sekolah lagi karena Jidan akan dipegang oleh staf dari SENCO.”

Eh? Tidak salahkah pernyataannya barusan? Pak Rahman justru baru saja mendapat SMS dari SENCO yang mengabarkan tentang pemberhentian saya.

Belum sempat saya menanggapinya, beliau melanjutkan, “Ehm, kalau begitu, Pak Mite, terima kasih atas bimbingannya selama ini kepada Jidan. Saya dan ibunya meminta maaf kalau-kalau ada salah kata dan sikap selama ini kepada Pak Mite. Ya, begitu Pak Mite, mohon dimaafkan.”

“Eh, sebentar Pak. Saya jadi tidak mengerti ada apa ini. Saya meminta waktu untuk bertemu dengan Bapak dulu, membicarakan masalah ini sejelas-jelasnya. Saya benar-benar tidak mengerti ada apa ini.”

Saya berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada beliau, tentang akad yang kami lakukan sejak awal, sehingga hak memberhentikan saya sepenuhnya ada di tangannya. Bukan di tangan SENCO. Saya memintanya untuk membicarakan ini dulu.

“Oh, begitu ya? Besok saja atuh di sekolah kita bertemunya, Pak Mite.”

“Iya, Pak.”

Telepon langsung terputus setelah ayahnya bingung untuk menanggapi. Saya juga masih bingung. Ada apa ini sebenarnya?

Atas pernyataan Pak Rahman barusan, justru beliau juga baru mendapatkan SMS pemberitahuan akan pemecatan saya dari SENCO. Tak habis pikir saya memikirkannya. Saya merasa ada sesuatu yang semakin tak beres saja dirasa. Untuk mengantisipasi sesuatu yang luput saya ketahui, saya langsung menawarkan diri untuk langsung datang ke rumahnya selepas maghrib ini. Tapi Pak Rahman menolak. Saya tidak bisa apa-apa kalau sudah begitu. Padahal saya takut beliau diberitahu tentang sesuatu yang tidak benar dari pihak SENCO tentang saya.

***

Saya merebahkan diri di atas kasur. Posisi telentang dengan tangan dan kaki terbuka lebar seolah bisa melepas penat yang ada di kepala ini. Saya masih tidak habis pikir atas semua kejadian ini.

Di atas sana, di langit-langit kamar, seekor cicak tampak mengejar serangga sejenis nyamuk yang terbang mendekatinya. Cicak itu mengejar serangga tersebut ke tepian langit-langit kamar hingga mata saya yang fokus pada asbes tidak mampu lagi menangkap ruang geraknya. Langit-langit kamar seolah berubah menjadi hamparan ruang dan waktu yang hampa. Lamat-lamat saya mulai melihat depiksi dalam bentuk slide masa-masa di sekolah sesudah SENCO berada.

[Implora I: Pemberian Layanan Perkembangan]

SENCO bertindak sembarangan. Bagaimana bisa saya ditempatkan di kelompok layanan perkembangan motorik, padahal saya mempunyai latar belakang spesialisasi tunarungu. Ada juga saya ditempatkan di kelompok layanan perkembangan bahasa bersama Pak Sima yang sama-sama berlatarbelakang dari spesialisasi tunarungu, bukannya Pak Nawi yang justru berlatarbelakang spesialisasi tunagrahita yang ditempatkan di sana.

Memang menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus, saya harus bisa segala sesuatunya terkait layanan perkembangan anak, termasuk keterampilan untuk memberikan latihan motorik anak. Tapi bisakah ini disusun secara ideal terlebih dahulu sehingga tidak sembarangan menempatkan orang di kelompok pemberian layanan mana saja seenak hati. Justru dalam hal keterampilan pemberian latihan motorik, Pak Nawi sudah berpengalaman. Tapi kami malah ditempatkan tidak pada tempatnya. Ini bukti bahwa SENCO tidak pernah melibatkan kami dari awal perencanaan pendidikan kebutuhan khusus di sekolah ini.

Saya pernah mempertanyakannya dan meminta pindah dari kelompok layanan perkembangan motorik ke kelompok layanan perkembangan bahasa. Tapi sang asisten dengan mudahnya memastikan bahwa pengelompokkan itu sudah fix sehingga saya harus tetap berada di kelompok layanan perkembangan motorik.

Akhirnya, mau tidak mau, saya menjalaninya. Tidak ada pembekalan, tidak ada pelatihan, saya melakukannya. Memang setelahnya ada beberapa pelatihan dan pembekalan, tapi saya selalu berhalangan tidak bisa hadir. Namun teman saya, Eka, pernah mengikuti pelatihan dan pembekalan tersebut. Ternyata isinya tidak lebih dari sekadar membicarakan wacana pendidikan kebutuhan khusus itu sendiri ketimbang pelatihan keterampilan secara praktis. Malah Eka bercerita, bahwa pembelajaran matematika justru diserahkan sepenuhnya kepada dirinya. Latar belakangnya dari jurusan Matematika ternyata dimanfaatkan oleh Bu Tuti. Padahal Eka sama sekali belum tahu pembelajaran model apa yang sekiranya cocok untuk diberikan kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Memang dia pernah mengajar di sebuah sekolah inklusi sebelum ini. Tapi sistem yang berjalan di sekolah asalnya dan di sini tidaklah sama. Di sekolah asalnya, dia dibantu oleh shadow teacher masing-masing anak. Sekarang di sekolah ini, dia harus terjun sendiri langsung kepada anak yang bersangkutan. Tentu dia minim pengalaman. Sementara di pelatihan dan pembekalan yang diikutinya tersebut, keterampilan untuk itu sama sekali tidak diberikan.

Keadaan seperti itulah yang membuat saya mencari referensi sendiri. Saya mengakses internet. Untuk menambah dan memperkuat referensi, saya mencoba untuk mengingat-ingat lagi jejak-jejak pengalaman semasa kuliah, dalam menyusun tugas dari lapangan, studi kasus, micro teaching dan PPL di sebuah SLB.

Dalam pelaksanaannya pun saya tahu bahwa saya harus melakukannya sekreatif mungkin. Maka, selama memberikan layanan perkembangan motorik, saya melakukan improvisasi dalam pemberian layanannya. Selain menggunakan sejumlah media pembelajaran yang disediakan SENCO, saya menggunakan segala benda yang bisa dimanfaatkan di lingkungan sekolah. Seperti dalam mengajarkan berjalan zigzag, saya mengambil beberapa petak ubin tebal yang tak terpakai di belakang sekolah sebagai alat bantu. Selain itu juga saya memanfaatkan tangga masjid yang cukup tinggi untuk melatih motorik kaki anak dengan pola jalan yang berbeda dalam menaiki dan menuruni undakan. Jauh sebelum kedatangan SENCO pun, saya dan Pak Nawi selalu melatih motorik anak didik kami. Kami sering membawa Jidan, Rifki dan Zilan berjalan mengelilingi perkampungan dengan keadaan jalan menurun dan menanjak yang cukup curam. Bahkan kami pernah melakukan hiking ke sebuah bukit dan hutan di belakang perkampungan warga dengan jalanan yang cukup menantang. Saya masih ingat dalam kegiatan itu bagaimana Jidan, Rifki dan Zilan berjalan pelan-pelan dengan badan menyamping saat melewati jembatan tipis. Mereka kami arahkan untuk saling membantu satu sama lain selama perjalanan. Kemudian bagaimana mereka belajar menaiki sengkedan; bagaimana mereka bertanya tentang segala hal yang ditemuinya di jalan dan kami menjawabnya; bagaimana mereka kami ajarkan keberanian dalam menapaki jalan setapak yang di bawahnya terdapat jurang kecil; bagaimana kami memperkenalkan mereka pada apa yang belum diketahuinya. Semua itu kami lakukan dalam memberikan pembelajaran yang komprehensif. Mulai dari aspek kognitif, afektif hingga psikomotor, semuanya terjamah.

Laporan setiap kali memberikan layanan perkembangan motorik yang diminta SENCO, saya selalu menyusunnya. Saya menuruti untuk mendeskripsikan setiap perkembangan yang dicapai masing-masing anak dalam laporan tersebut dan memberikannya kepada SENCO.

Namun beberapa pekan ke depan setelah dicanangkan, kelompok-kelompok layanan perkembangan yang lainnya sering tidak berjalan lagi. Saya, Eka dan Pak Sima sering mengeluhkan keadaan tersebut. Karena setiap jadwalnya, anak-anak didik kami tidak pernah mendapatkan layanan-layanan perkembangan itu lagi. Sementara para orangtua terus membayar sejumlah uang yang tidak sedikit demi semua program layanan perkembangan tersebut tetap berjalan. Hanya saya, Eka dan Pak Sima yang sedikit-sedikit masih melakukannya. Terlebih untuk anak-anak didik kami sendiri. Kami sering melakukannya di ruangan perpustakaan, karena ruangan SENCO tidak cukup besar untuk digunakan. Kami boyong beberapa media pembelajaran yang tak pernah dipakai lagi di SENCO. Kami semua melakukan itu, bahkan tanpa bantuan dari staf SENCO lagi.

Ketidakbisaan dalam ajakan kerjasama pun pernah terjadi. Saat itu Jidan sedang mengalami tantrum dan saya butuh ruangan luas untuk memberinya treatment. Pergilah saya menuju perpustakaan. Ternyata ruang perpustakaan sedang dipakai oleh kelompok layanan remedial IPS. Sesampainya di dalam ruangan itu, saya meminta kepada staf SENCO untuk berpindah tempat karena saya membutuhkan space yang besar untuk menahan amuk Jidan. Tanpa dinyana, respon yang diberikan oleh staf SENCO itu sangat tidak pantas ditunjukkan. Dengan sinisnya dia bersikeras tidak mau pindah tempat dari ruang perpustakaan. Alasannya sangat lucu. Dia tidak mau berat-berat memindahkan whiteboard yang sedang digunakannya dalam memberikan layanan remedial. Padahal dia bisa meminta tolong pada teman prianya yang sedang luang. Akhirnya, kacaulah seisi ruangan itu karena amukan Jidan lantaran saya tidak bisa memberinya treatment secara leluasa. Akibatnya, anak-anak yang sedang remedial IPS pun menjadi terganggu.

[Implora II: Profesionalitas]

Di awal kedatangannya, SENCO mengajak kami untuk bekerja secara profesional. Karena itu, koordinatornya menyusun draft kerjasama dan kontrak kerja. Dibuatlah surat perjanjian untuk para guru pembimbing yang sudah lama bekerja di sekolah ini. Dengan di atas meterai, kami diminta sedia untuk bekerja di bawah aturannya, termasuk saluran gaji bulanan yang mesti masuk ke pihak SENCO terlebih dahulu sebelum sampai di tangan kami. Karena biasanya kami mendapat gaji dari orangtua siswa secara langsung. Katanya, pihak SENCO hanya ingin menyeragamkan secara simbolik dengan para stafnya yang digaji dari SENCO. Karena itu pihak SENCO memastikan tidak akan memotong sepeser pun dari gaji kami tersebut. Kami juga dituntut untuk mengikuti pelatihan yang rencananya akan diselenggarakan rutin seminggu sekali. Selain dari tuntutan itu, tidak ada satu pun hak yang pantas kami dapatkan dari perjanjian tersebut. Sebab itulah kami meminta waktu untuk memikirkannya. Dalam perjanjian disebutkan bahwa jika setuju kami harus tetap berada di bawah SENCO selama satu tahun. Jika dalam rentang waktu kurang dari satu tahun kami mengundurkan diri tanpa alasan yang bisa diterima menurut pandangan SENCO, sanksinya adalah membayar dua kali lipat dari gaji bulanan. Rupanya, itu yang membuat sebagian guru pembimbing khusus yang dulu memilih mengundurkan diri.

Dalam minggu-minggu setelah itu, kami selalu ditagih kesediaannya. Sepertinya saya juga tidak mempunyai pilihan lain karena orangtua Jidan sudah bersedia membayar sejumlah uang untuk program layanan perkembangan anak. Dengan masih didesaknya kami untuk segera memberikan surat perjanjian yang telah ditandatangani, akhirnya kami memberikan dengan syarat bisa didiskusikan dan direvisi lagi, mengingat guru pembimbing khusus yang lain diberikan jatah waktu pertimbangan yang lebih lama lagi. Seperti Pak Sima yang menunggu pengumuman hasil tes CPNS terlebih dulu.

Selama perjalanan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus, kami selalu memberikan yang terbaik. Kami tetap memberikan layanan perkembangan di saat kelompok yang lain mulai terhenti. Mereka selalu mengatakan bahwa tim ini mestilah profesional. Padahal mestinya, kalau begitu, kami juga diberikan insentif dari pihak SENCO. Karena selain anak didik sendiri kami juga memberikan layanan kepada anak-anak yang lain yang dikoordinir oleh SENCO. Ini yang membuat kami, terutama saya, kembali meminta agar perjanjian itu didiskusikan lagi untuk direvisi. Karena ternyata sampai saat itu juga, hanya baru saya berdua dengan Eka yang sudah menyerahkan surat perjanjian tersebut. Kami seperti sengaja dikejar-kejar untuk menjadi bagian dari SENCO. Kami tidak diberikan pilihan lain yang, ternyata diberikan kepada sebagian guru pembimbing khusus yang lain. Buktinya mereka tetap bekerja membimbing anak berkebutuhan khusus dengan tidak terikat aturan SENCO.

Di sisi lain, status para staf SENCO yang notabene masih sebagai mahasiswa aktif, menambah persoalan. Dengan mudahnya mereka sering menitipkan anak didiknya pada saya jika jadwal mereka bentrok dengan kuliah. Sementara saya yang beberapa kali pernah absen tidak masuk karena memang ada halangan dan menitipkan Jidan pada staf yang ada, selalu disikapi dengan teguran oleh asistennya. Bagi saya itu sangat tidak adil. Jika memang profesional, sebagian dari mereka seharusnya bisa menggantikan saya untuk membimbing Jidan saat saya absen tidak bisa masuk sekolah. Dan lagi, status mereka sebagai mahasiswa aktif yang masih selalu bentrok dengan jadwal kuliah dan ujian, membuat gembar-gembor profesionalitas yang disuarakan asistennya menjadi kopong.

Bahkan pernah, ketika saya jatuh sakit dan staf SENCO menggantikan untuk mendampingi Jidan, ketika Jidan tantrum di warung Mak Ai tidak ada yang mencoba meredakannya. Justru hanya Pak Sima dan Eka yang mencoba untuk menenangkannya. Staf SENCO yang bertugas mendampingi Jidan saat itu malah sedang asyik beristirahat di ruangan SENCO dan melepaskan Jidan di waktu istirahat sesuka hatinya.

Ibu-ibu di warung juga pernah mengeluhkan perihal tidak adanya pendampingan Jidan sepulang sekolah oleh pihak SENCO. Karena biasanya, Jidan menunggu jemputan ayahnya di warung Mak Ai. Tapi waktu itu, di sana, tidak ada seorang pun dari pihak SENCO yang menemani Jidan menunggui ayahnya. Itu membuat Jidan dengan mudah berkeluyuran sesuka hatinya ke mana-mana. Sehingga ketika ayahnya sudah tiba untuk membawa Jidan pulang, semua yang di warung kelimpungan mencarinya. Mungkin di mata mereka, ketika kelas sudah bubar, mereka sudah bisa berlepas diri atas anak-anak.

Puncaknya adalah ketika saya absen selama seminggu karena sakit. Sejak awal, pihak SENCO melalui surat perjanjiannya menuntut surat keterangan dokter bagi guru pembimbing khusus yang izin karena sakit. Tapi selama sakit saya tidak bisa pergi ke mana-mana. Bahkan untuk pergi ke puskesmas pun saya tidak mampu. Karena itu, saat saya masuk sekolah lagi, saya tidak bisa membawa surat keterangan sakit dari dokter. Setelah itu SENCO memandang saya sebagai pembangkang. Tidak pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan, dan tidak patuh pada aturan SENCO. Asistennya terang-terangan berkata seperti itu. Saya pun membela diri. Dari sejak rapat bersama yang pernah digelar pada waktu itu, kami sudah meminta surat perjanjian direvisi dan Bu Tuti menyanggupi. Tapi sampai saat itu, tidak pernah sekali pun pihak SENCO merealisasikannya. Bagaimana kami mau manut pada aturan kalau revisian yang kami minta tidak pernah sekali pun ditepati? Jelas kami menolak karena semua itu cenderung merugikan waktu dan tenaga kami.

Di sisi lain, bagaimana kami bisa mengikuti pelatihan setiap kali diselenggarakan, sementara tempatnya selalu jauh dari sekolah sedang kami harus bekerja di tempat lain. Jadwal pelatihannya pun tidak teratur. Masing-masing dari kami mempunyai pekerjaan lain di luar sekolah yang sama-sama kami tanggungjawabi. Kalau pelatihan tersebut diadakan di sekolah, sebubarnya kelas, mungkin kami bisa mengikutinya meski tidak akan selalu. Karena jika pelatihan tersebut bentrok dengan pekerjaan di luar sekolah, kami akan lebih memilih untuk bekerja yang jelas-jelas menghasilkan pendapatan. Penuntutan atas kami untuk bersikap profesional dan loyal penuh aktivitas di SENCO benar-benar tidak sebanding dengan usahanya untuk memenuhi hak-hak kami. Kami diminta untuk selalu patuh pada SENCO sementara hak-hak kami tidak sedikit pun pernah diperhatikan. Relasi macam apa itu kalau tidak ingin disebut menghisap darah kami?

Meski pun begitu, kami masih menghargai. Suatu waktu pelatihan diadakan di sekolah, saya dan Eka bisa mengikutinya. Sesuai pemberitahuan, pelatihan akan diadakan di perpustakaan. Maka, tepat pada jam yang dikabarkan, kami mulai menunggu di tangga masjid dekat perpustakaan. Sampai setengah jam lebih kami menunggu tidak ada seorang pun dari pihak SENCO yang datang. Kami pikir pelatihannya tidak jadi dilakukan karena suatu alasan dan tidak ada kabar sama sekali. Begitu kami hendak pulang, kami berpapasan dengan asistennya yang akan pergi ke toilet.

“Ke mana saja bapak-bapak ini? Pelatihannya sudah kami mulai dari tadi di ruang kelas lima.”

“Lho, bukannya menurut pemberitahuan lewat SMS pelatihannya akan dilakukan di ruang perpustakaan?”

“Belum dibereskan, Pak, ruangannya. Dan tidak ada waktu lagi. Jadi kami adakan di ruang kelas lima.”

Begitu mudahnya dia menyalahkan kami. Padahal, untuk sesuatu yang melenceng dari rencana dan pemberitahuan, kami tidak dikabari lagi.

Setelah itu pihak SENCO tidak pernah mengadakan pelatihan di sekolah lagi. Alasannya sama saja karena tidak pernah ada guru pembimbing khusus di luar SENCO yang menghadirinya. Maka, pelatihan seterusnya dilakukan di yayasan sang koordinator, puluhan kilometer jauhnya dari sekolah.

Pada hari-hari selanjutnya, saya selalu ditegur atas keabsenan saya dalam pelatihan yang mereka selenggarakan. Saya balik bertanya kenapa tidak diadakan di sekolah lagi. Asistennya menjawab karena meski pun dilakukan di sekolah, para guru pembimbing khusus selalu tidak hadir. Dengan mudahnya dia berdalih seperti itu. Padahal baru sekali saja sudah digeneralisir seperti itu. Kemudian saya memintanya lagi untuk dilakukan di sekolah selepas kelas bubar. Tapi tidak disetujuinya. Alasannya semua staf SENCO tidak bisa karena ada jadwal kuliah. Dia begitu memperhatikan jadwal kuliah para stafnya, tapi tidak dengan jadwal pekerjaan kami di luar.

Alasan lainnya, bahwa di yayasan sang koordinator peralatannya lebih banyak dan tak mungkin dipindahkan ke sekolah. Peralatan untuk apa, saya tanya. Dia menjelaskan bahwa itu adalah peralatan media pembelajaran. Mendengarnya, saya tak habis pikir. Di kantor SENCO yang ada di sekolah saja, masih banyak media pembelajaran yang belum bisa dimanfaatkan oleh guru pembimbing khusus karena tidak ada pelatihan untuk itu. Saya mengutarakan itu kepada asistennya, dan dia terdiam tidak berkutik. Tapi ke depannya, benar-benar tidak pernah ada lagi pelatihan yang diadakan di sekolah.

Terakhir, dalam hal pengaturan pendampingan dan pembimbingan anak berkebutuhan khusus, pihak SENCO dengan tanpa berunding, merebut Zilan dari tangan Pak Nawi. Tidak sedikit pun ada pembicaraan terlebih dahulu atas pengambilalihan tersebut. Otomatis saluran gaji dari pihak keluarga Zilan menjadi beralih ke pihak SENCO. Padahal dari pendampingan dan pembimbingan Zilan dan Rifki tersebut Pak Nawi berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari penghasilan menjadi guru pembimbing khusus kedua anak tersebutlah Pak Nawi bergantung. Setelah Zilan diambil dari tangannya, dan peraturan SENCO tidak bisa menjamin keutuhan gajinya seperti dulu, Pak Nawi berhenti dari membimbing Rifki. Pak Nawi memilih untuk mencari pekerjaan lain di luar. Meninggalkan Rifki dan Zilan beberapa hari ke depan hingga membuat kedua anak itu menjadi murung dan uring-uringan karena kehilangan seorang pembimbing yang sudah bersamanya selama dua tahun dalam suka dan duka. Betapa pun keadaan mereka autisme dan down syndrome, perasaan itu tampak nyata. Ia terlihat dan memancar dari sorot matanya yang tak pernah bisa diverbalkan dengan kata-kata.

***

18 April 2011, pukul 07:22

Saya cukup kesiangan ketika tiba di sekolah, tepat saat kepala sekolah memberikan amanat upacara di tengah ratusan siswa. Tapi saat saya perhatikan ke dalam, pada kerumunan anak-anak kelas enam, Jidan tidak terlihat. Hanya ada Rifki dan Fiza yang masing-masing didampingi oleh Pak Sima dan Igor. Sementara Zilan, dia tengah asyik memilih-milih mainan di lapik Mang Udin.

Rupanya Jidan kesiangan lagi. Keadaan ini sudah biasa sejak awal dia masuk ke sekolah ini. Dan hebatnya lagi, belum pernah saya mendengar teguran dari pihak sekolah atas keterlambatan Jidan. Mungkin semua memaklumi. Tapi di sisi lain, pembiasaan kedisiplinan tidak dicoba untuk dibiasakan.

Saya pergi ke warung Mak Ai untuk menunggu Jidan datang. Tak lama kemudian, suara motor ayahnya yang khas terdengar dari ujung jalan sana. Jidan sudah datang. Saya pun bergegas menjemputnya. Ayahnya, seperti biasa, memberikan saya senyuman khas hingga kumis tebalnya mencuat dan berkata, “Titip Jidan, ya, Pak Mite.”

Saya mengangguk kecil dan membalas senyumannya dengan senyuman pula dan sedikit kata, “Iya, Pak.”

Kami langsung masuk bergabung ke dalam barisan anak-anak kelas enam yang posisinya dekat dengan gerbang. Tidak ada kesulitan bagi kami karena gerbang sekolah terbuka setiap saat. Di dalam barisan kelas enam ini saya mengarahkan Jidan untuk mensejajarkan diri dengan teman-temannya yang berbaris di depan. Supaya terlihat rapi. Tapi Rifki mengganggu. Dia mengajak obrol Jidan. Jidan menyahutnya. Dan tidak terjadilah rapian baris yang dikehendaki.

***

Mendekati akhir upacara selesai, asisten SENCO mendatangi saya. Dengan ekspresi serupa memendam amarah, dia memulai pembicaraan.

“Pak Mite, tolong ya, untuk ke depannya Pak Mite lebih rajin lagi ke sekolah. Kami ingin semua guru pembimbing khusus di sini bekerja secara profesional.”

Eh?

“Orangtuanya Jidan sudah mengeluh pada kami. Katanya Pak Mite itu banyak izinnya.”

Mendengarnya berkata seperti itu saya kaget. “Benar orangtuanya bilang seperti itu? Kok tidak bilang langsung pada saya ya?”

Masih tergambar jelas senyuman khas dan cuatan kumis tebal dari Pak Rahman tadi. Demi sikap beliau yang masih tampak tidak bermasalah dengan saya, tidak sedikit pun saya mempercayai ucapan asisten SENCO tersebut.

Selain minggu-minggu di mana saya jatuh sakit, saya merasa tidak banyak bolos masuk sekolah mendampingi Jidan. Memang di hari-hari dua bulan terakhir ini, secara random, saya izin absen karena ada kepentingan keluarga dan halangan pekerjaan yang lain. Tapi setiap kali izin absen, saya selalu memberitahu orangtuanya bahwa staf SENCO akan menggantikan saya untuk mendampingi Jidan di kelas. Atau jangan-jangan Pak Rahman tidak pernah mendapati orang SENCO yang mendampingi Jidan setiap saya izin absen? Padahal ketika itu saya selalu menghubungi SENCO meminta pengganti dan mereka menyanggupi.

“Ok, nanti saya bicara langsung kepadanya untuk memastikan.”

Saya melihat wajah sang asisten sudah terang menampakkan pandangan geram kepada saya. Kedua matanya hampir berair.

“Kepatuhan Pak Mite terhadap aturan SENCO juga tolong diperhatikan. Selama ini Pak Mite tidak pernah mengikuti pelatihan yang kami adakan.”

Mendengarnya berkata seperti itu, giliran saya yang merasa geram.

“Bu, maaf ya. Bukankah dari dulu saya sering minta waktu untuk bertemu dengan Bu Tuti, tapi sampai sekarang tidak pernah dipertemukan? Saya juga menanti revisian dari peraturan yang banyak tuntutan itu. Waktu rapat di perpustakaan itu kan beliau menyanggupi untuk merevisinya.” Dalam hati, saya menambahkan, “Kalau untuk taat pada aturan, saya kurang apa? Pemberian layanan selalu saya berikan. Laporannya pun selalu saya susun. Memang untuk memenuhi tuntutan mengikuti pelatihan yang pengaturan jadwal dan tempatnya sangat diskriminatif tidak masuk akal itu, jelas saya menolak.”

Saya emoh untuk membela diri. Tak ada gunanya bicara ini dengan asistennya. Saya ingin berbicara langsung dengan koordinatornya. Akan saya adukan tentang tidak lagi berjalannya program layanan perkembangan dari staf SENCO itu sendiri.

Dengan mata yang sudah sembap, dia memberi kesempatan pada saya untuk bertemu dengan koordinatornya langsung.

“Baik, nanti akan saya bilang pada Bu Tuti bahwa Bapak minta bertemu.”

Apa? Jadi baru sekarang ini, sejak belasan kali saya minta dipertemukan dengan beliau, sang asistennya akan menjembatani kami?

***

19 April 2011, pukul 06:34

Mulai hari ini saya tidak diperkenankan lagi mendampingi dan membimbing Jidan oleh pihak yang tidak berhak memutuskan itu.

Sepagi jam setengah enam tadi, saya mengambil air dan mengguyurkannya ke sekujur tubuh. Saya harus sesegera mungkin untuk tiba di sekolah dan menemui Pak Rahman sebelum Jidan masuk kelas. Saya ingin membicarakan masalah pemberhentian saya yang justru dilakukan oleh pihak SENCO, tidak oleh dirinya sendiri sebagai orangtua siswa yang sudah berakad dengan saya sejak awal.

Jalanan kampus di pagi ini saya lalui lagi. Sekilas melihat ke atas langit, saya melihat performa langit yang tak lazim. Kecerahan pagi seolah akan memulai hari. Tapi di ujung sebelah sana, awan mendung mengerubungi. Dalam hegemoninya, biru langit menjadi minoritas pada celah-celah mendung yang ada. Memperhatikannya, saya percaya, ada sesuatu di balik kejadian semua ini. Apa pun itu, meski tidak menyenangkan hati, saya harus jeli menemukan hikmah yang bertebaran di akhir cerita. Saya harus menyadari, konsepsi baik dan buruk antara manusia dan Tuhan itu kerap berbeda. Kejadian yang tidak mengenakkan hati ini, boleh jadi adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Tuhan atas kehidupan saya. Bahwa saya telah mencapai level ini dan sedang melewati fase proses kenaikan kelas dalam sekolah kehidupan.

***

Pak Rahman tiba di sekolah tak lama setelah Bu Tuti turun dari motor scooternya dan bergegas menuju ruangannya dengan langkah cepat bak orang Jepang yang sangat menghargai waktu. Saya menghampirinya. Tak berbasa-basi lagi, saya langsung meminta waktunya sebentar sebelum beliau harus pergi lagi untuk mengajar. Demi melihat saya seperti kepanikan, Pak Rahman mencoba menenangkan saya dan mengajak untuk mendiskusikannya di ruangan SENCO.

Apa? Sebelum ini tidak ada kesepakatan untuk berbicara bertiga dengan pihak SENCO dalam satu meja. Permintaan saya kepada SENCO kemarin untuk bertemu meminta penjelasan saja tidak sedikit pun diindahkan. Justru atas kejanggalan yang terjadi kemarin itu, saya ingin mendengar penjelasan terlebih dulu dari Pak Rahman. Tidak bertiga seperti ini.

“Tapi Pak, saya ingin berbicara berdua dulu dengan Bapak.”

Sambil merangkul pundak saya, Pak Rahman berkata dengan santai, “Oh, tidak. Lebih baik kita bicarakan bertiga saja di sana ya…”

Tidak mempunyai pilihan lain lagi, akhirnya saya mengikuti Pak Rahman ke ruangan SENCO. Tentu Bu Tuti dan asistennya terkejut dengan kedatangan saya bersama Pak Rahman. Barangkali dipikirnya pemberhentian saya sudah fix. Tapi apa pun yang akan dipastikan, saya ingin kejelasan terlebih dahulu. Berundinglah kami bertiga dalam satu meja di ruangan ini.

Pak Rahman tidak banyak berkata. Bu Tutilah yang lebih banyak berbicara. Isinya persis seperti apa yang asistennya sampaikan hari-hari kemarin.

“Yang mestinya dievaluasi itu kelompok layanan perkembangan dari para staf SENCO sendiri, Bu,” sengit saya di tengah perundingan panjang itu. “Yang tetap berjalan itu cuma layanan perkembangan motorik, perkembangan bahasa, dan matematika saja. Yang lainnya tidak sama sekali saya lihat.”

Sambil membenarkan posisi kacamatanya, Bu Tuti jelas menampakkan kekagetan. Jangan-jangan selama ini dia benar-benar mengetahuinya? Ah, tentu saja. Memang sudah semestinya dia mengetahui itu semua.

Biar lebih jelas, saya memungkasnya dengan pernyataan yang sekiranya bisa menohok dan membuat SENCO berpikir dua kali karena sudah tidak menjalankan amanah.

“Percuma saja ayahnya Jidan membayar sekian dan sekian untuk program layanan berbagai perkembangan yang justru Jidan sendiri tidak pernah mendapatkannya.”

Dengan sedikit gagap dan berusaha untuk tetap tenang, Bu Tuti memastikan akan mengevaluasi semua itu. Tapi khusus untuk saya tidak ada evaluasi lagi. Saya pun menjadi bingung. Sejak kapan saya dievaluasi? Turunnya surat peringatan pun belum pernah. Sekarang, tiba-tiba saja pemecatan dipalukan karena hasil evaluasi sudah fix. Jika demikian, jargon profesionalitas yang disuarakan SENCO sebagai sebuah entitas lembaga nyatanya memang hanya jargon belaka.

Keputusan terakhir, Bu Tuti dengan penuh keyakinan menyerahkannya kepada Pak Rahman. Menerima kesempatan untuk memutuskan, Pak Rahman tampak kikuk. Demi melihat sikapnya seperti itu, dugaan saya bahwa beliau tidak tahu-menahu persoalan ini terkuatkan sejelas-jelasnya. Saya jadi memiliki keyakinan bahwa beliau akan memihak kepada saya. Sudah dengan terang-terangan juga saya menjelaskan bahwa iuran setiap bulan yang diberikannya pada pihak SENCO ternyata tak ada timbal balik untuk anaknya. Dan memang sudah semestinya beliau mengetahui harus berpihak kepada siapa.

Cukup lama Pak Rahman menimbang-nimbang apa yang akan diputuskannya. Raut wajahnya tetap dipenuhi senyuman khas yang membuat kumis tebalnya mencuat. Sesekali dia melihat kepada Bu Tuti yang tersenyum penuh percaya diri dan kepada saya yang berharap-harap cemas. Itu membuat perasaan saya menjadi masygul.

Akhirnya beliau berani berkata-kata juga dalam putusannya. “Ehm, maaf Pak Mite. Mulai sekarang saya akan menyerahkan Jidan kepada SENCO saja. Maaf ya?”

O, mengapa kau rampok tandas
Cawan udara yang kuhirup dalam-dalam
Setiap pagi dan petang

-Divan Semesta, NC Zine #4-

 

[Implora III: Tiga Titik Hitam]

Sejak saya memberikan treatment lepas tanpa kompromi pada Jidan di hari yang mendung itu, di ruangan perpustakaan, hari-hari selanjutnya selalu kami lewati dengan belajar di perpustakaan. Kondisi ruangannya yang cukup luas dan sepi memberikan kami kesempatan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dengan bebas. Saya menjadi memiliki kesempatan yang sangat terbuka lebar untuk melakukan improvisasi dalam membimbing Jidan. Hampir setiap hari juga saya selalu membawa Jidan keluar dari lingkungan sekolah. Sesuai dengan adagium bahwa guru terbaik adalah pengalaman, maka sikap saya yang selalu membawa Jidan keluar tersebut tidak menjadi suatu masalah. Paling tidak bagi pendirian saya pribadi. Betapa saya benar-benar menikmati cara saya mendidiknya.

Pernah suatu kali, di atas matras yang ada di ruangan perpustakaan itu, ketika Jidan mulai leha-leha saat saya mengajaknya untuk belajar, saya menakutinya dengan mengatakan akan berhenti menjadi guru pembimbing khususnya. Dengan respon yang sangat cepat, Jidan memegangi tangan saya. Entah kenapa, tapi dari genggaman tangannya itu saya merasakan desir perasaan tidak mau ditinggalkan.

“Jangan! Jidan mau sama Pak Mite! Jangan berhenti ya… Jidan minta maaf.”

Saya tahu, dia mengucapkan itu dengan tanpa kesadaran penuh. Untuk diukur sebagai pengungkapan yang serius, dengan keterarahan wajah yang sembarang diarahkan, itu tidak bermakna sama sekali. Tapi entah kenapa, saya merasakan radiasinya begitu kuat menerabas kedalaman jiwa ini. Apalagi saat mendengarnya mengucapkan sesuatu yang jarang bisa dia ucapkan: meminta maaf. Saya merasa bangga menjadi guru pembimbingnya. Betapa pun sensorinya tidak dapat terintegrasi secara sempurna, tapi kontaknya sedikit-sedikit masih bisa saya rasakan.

“Jidan, mulai besok Jidan belajar sama guru pembimbing khusus yang baru ya?”

“Kenapa, Pak Mite? Tidak mau. Jidan mau sama Pak Mite.”

Dia mengutarakan keengganannya tersebut seperti seorang liar yang kini sudah terjinakkan sejak pergulatan di hari yang mendung itu. Betapa saya merasakannya…

Di ruangan perpustakaan yang lembab itu, di dekat rak buku yang tidak pernah terpasang secara rapi, pertama kali Jidan manut pada saya untuk mempraktikkan gerakan salat yang saya ajarkan. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya berikan jika saja masih berkutat di dalam kelas dengan kerangkengnya yang tak terlihat. Betapa pun bacaan salatnya hanya masih bisa sebatas melafalkan surat al-Fatihah dengan artikulasi yang kurang jelas, tapi saya bisa berbangga diri dengan sedikit-sedikit menambah pengajaran agamanya.

Di ruangan perpustakaan yang juga selalu tampak berantakan, saya benar-benar merasa berhasil dalam mereduksi perilakunya yang maladaptif. Betapa tidak. Saat kehendak Jidan begitu kuat ingin beristirahat tidak pada waktunya, dan saya memintanya untuk tetap belajar, Jidan tidak pernah berontak lagi. Sikapnya yang destruktif kini sudah nonaktif. Tidak pernah ada lagi pukulan, tendangan, melempar barang, dan aksi-aksi liar lainnya. Dia sungguh tidak pernah menampakkannya lagi kecuali dengan sekadar menangis tertahan saja. Atas pemandangan itu, siapa yang tak akan bangga telah menjadi gurunya? Bisa menuai jerih payah setelah berkurusetra hebat dengannya.

Apakah pihak SENCO mengetahui perkembangan yang mengejutkan itu? Tidak. Bahkan sampai saat ini, ketika saya mempunyai ide eksperimental untuk meredam perilaku Jidan yang mulai sering menciumi anak-anak perempuan dari belakang, dan meminta bantuan kepada Bu Tuti untuk menyiapkan setting-an dengan wewenangnya sebagai koordinator, tidak pernah dihiraukannya. Padahal saya yakin dengan ide eksperimental saya itu bisa memberikan efek yang baik untuk perkembangan Jidan. Saya ingin sekali menghilangkan kebiasaannya menciumi anak-anak perempuan di sekolah ini. Mengingat Jidan bertindak murni dengan dorongan naluri-nalurinya, saya butuh setting-an kelas di mana sejumlah anak-anak normal ikut membantu. Saya berniat menjajarkan beberapa siswa perempuan di depan Jidan dengan membelakanginya. Saat Jidan mendekati mereka untuk menciuminya, akan saya tahan dia. Setelah dijauhkan, Jidan dibiarkan lagi untuk mendekati siswa-siswa perempuan tadi dan saya akan menahannya lagi. Dengan frekuensi yang cukup akan saya lakukan itu dalam bereksperimen untuk meredam keinginannya menciumi anak-anak perempuan sehingga dia mengidentifikasi keadaan yang membiasa tersebut. Setelah itu saya berharap dia tidak akan pernah mengulanginya lagi karena selalu tertahan setiap kali akan menciumi anak-anak perempuan. Atas setting-an yang saya butuhkan tersebut, siapa yang bisa membantu mengusahakannya selain pihak SENCO? Tapi ini sama sekali tidak pernah dihiraukannya.

Yang justru lebih membuat saya kecewa adalah, bukannya membantu merealisasikan ide eksperimental saya, sang koordinator malah mengajak siswa-siswi di sekolah ini untuk membantunya dalam melakukan eksperimen penelitian untuk disertasinya. Dengan mudahnya dia menggiring banyak siswa untuk dijadikannya sebagai objek penelitian. Para stafnya di SENCO pun diminta membantunya. Sehingga anak-anak berkebutuhan khusus yang seharusnya didampingi di kelas masing-masing lepas tanpa bimbingan. Jika semudah itu dia menggiring banyak siswa untuk suatu keperluan pribadi penelitiannya, mengapa untuk pemberian layanan demi perkembangan anak berkebutuhan khusus yang saya ajukan tidak pernah dihiraukannya? Padahal semua itu adalah tanggungjawabnya…

***

Saya kaget mendengar keputusan Pak Rahman seperti itu. Jika SENCO sudah memberitahukan ketidakpatuhan saya terhadap aturannya, saya malah sudah memukul balik mereka dengan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sesuatu yang juga sudah merugikan para orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus di sini. Tapi akhirnya seperti ini. Ini sungguh di luar perkiraan saya. Dugaan saya bahwa Pak Rahman akan memihak saya ternyata salah.

Setenang mungkin saya menerimanya. Terlihat di ujung kelopak mata ini, Bu Tuti dan asistennya tersenyum menang. Sementara di belakangnya, suara riang dari Zilan dan Jidan yang sedang bermain tidak terpengaruh oleh akhir dari suasana perundingan panas yang ironis ini. Esok hari, saya sudah tidak akan pernah mendengar suara-suara riang dan keluh mereka lagi di sekolah ini.

Pak Rahman kemudian mengajak saya keluar. Dengan mendekap pundak saya, beliau kembali meminta maaf karena tidak bisa apa-apa.

“Maaf ya, Pak Mite. Eu… Eu…” beliau terbata-bata tidak bisa melanjutkan kata-katanya untuk berbasa-basi. Tipikal orang yang tidak terbiasa bicara.

Sekali lagi Pak Rahman meminta maaf. Saya pun mengerti. Setidaknya, di masa-masa sebentar lagi Jidan akan mengikuti ujian nasional dan melanjutkan ke SMP, tentu beliau akan lebih bergantung kepada SENCO yang bisa mengurusnya sampai Jidan bisa duduk di SMP umum.

Tapi saya benar-benar berharap SENCO mengenyampingkan kepentingan pribadi koordinator dan yayasannya sendiri sehingga bisa memberikan yang terbaik untuk harapan orangtua Jidan dan untuk Jidannya sendiri. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang lainnya juga. Tidak lagi seperti sebelum ini.

***

19 April 2011, pukul 08:02

Jalanan kampus saya lalui lagi. Jika saat berangkat ke sekolah tadi awan mendung mengerubungi langit, sepulang saya dari sana mereka sudah pergi menjauh. Langit kini penuh biru. Kepulan awan putih ikut memeriahi kecerahan hari ini. Sinar matahari pun sudah cukup menghangat. Angin yang bertiup juga cukup kencang.

Saya berjalan tenang di antara riuh rendahnya suara mahasiswa yang lalu-lalang. Mendapat kejadian tidak mengenakkan seperti ini, saya bersyukur masih bisa tenang. Memang dalam pikiran ini, bayang-bayang perundingan tak adil itu masih bersisa. Apalagi suara-suara sumbang asistennya. Karena itulah inti yang paling saya pertanyakan dari semua ini. Setiap kali berbicara dengan asistennya, jargon profesionalitas yang sering meluncur manis dari mulutnya ternyata dilanggar sendiri dan terasa sangat pahit.

Atas nama perjanjian yang mengabaikan hak-hak guru pembimbing khusus; atas tenaga dan waktu kami yang terkuras; atas nama staf SENCO yang tidak kooperatif; atas nama perebutan Zilan dari tangan Pak Nawi; atas nama kepentingan pribadi koordinator dan yayasannya; atas nama ketidakadilan kepada saya ini; dan atas nama program treatment saya untuk Jidan yang terhenti di tengah jalan dan tak terperhatikan, saya mengalah dengan tersenyum.

Sebagai seorang fresh graduate yang baru saja kehilangan pekerjaan, sementara beberapa bulan ke depan berencana untuk menikahi perempuan yang sudah saya pinang, saya cukup kalut. Di saat-saat seperti inilah kepasrahan kepada Tuhan menguat dalam jiwa. Saya yakin benar bahwa semua rezeki untuk saya itu ada di tangan Tuhan. Ia sudah tersedia sampai ajal ini menjemput. Karenanya saya tidak perlu khawatir akan masalah ini. Yang mesti saya lakukan sekarang adalah ikhtiar untuk mencari gantinya.

Hikmah terbesarnya adalah bahwa, kepasrahan atas ketentuan Tuhan ini membuat saya semakin mendekatiNya. Ini mungkin sebuah teguran dariNya atas kelalaian saya selama ini. Saya bersyukur karena mulai sekarang saya bisa kembali menyembahNya di saat-saat sempit seperti ini. Atas pengaduan saya, Tuhan pasti senang mendengar keluh-kesah ini.

Saya jadi teringat sesuatu. Kepasrahan dan penyembahan kepada Tuhan seperti ini adalah suatu contoh yang belum sempat saya jelaskan kepada ibu-ibu di warung dalam membahas jenis-jenis naluri.

Ya, rasa yang sedang hinggap pada diri saya sekarang ini adalah jenis naluri yang ketiga: naluri beragama. Naluri ini juga bersifat integral dalam diri setiap manusia. Ia akan selalu ada dalam segala bentuk manifestasinya yang membuat manusia cenderung bergantung pada suatu kekuatan besar di luar dirinya. Dan tidak ada suatu kekuatan besar di luar manusia yang bisa diandalkan kecuali itu datang dari Tuhan hingga kita tunduk penuh kepadaNya, Satu, dalam beragama. [] -Akhir 2011-

S E L E S A I

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s