Fitrah dan Dakwah

Fitrah dan Dakwah[1]

Banyak orang menganggap bahwa fitrah adalah sama dengan suci. Sering dikatakan setelah berpuasa Ramadan sebulan penuh dan memasuki Idul Fitri, bahwa mereka kembali fitrah; kembali suci sebagaimana seorang anak yang baru saja terlahir ke dunia –tanpa dosa.[2] Pemahaman ini sudah sedemikian melekat pada sebagian kaum Muslim.

Yang menjadi persoalan, benarkah yang demikian itu? Bahwa fitrah itu artinya suci, tampaknya tidak lebih dari sekadar mengikuti apa yang telah diambil sebagai pemahaman oleh orang-orang sebelum kita tanpa hujjah yang jelas. Seandainya dikaji secara ilmiah, tentu pemaknaan fitrah yang berarti suci tidak akan menjadi suatu persoalan.

Fitrah Menurut Bahasa, Istilah, dan Syariat

Secara bahasa, fitrah (fithrah) berasal dari kata fathara–yafthuru–fathr[an] wa futhr[an] wa fithrat[an] yang berarti pecah, belah, berbuka, mencipta. Al-fathr artinya pecah atau belah. Dari makna ini, diambil pengertian Fithru as-Shâ’im (berbukanya orang berpuasa), karena ia membuka mulutnya. Tanggal 1 Syawal disebut Idul Fitri, yakni Hari Raya Berbuka. Fathara an-Nâqah, mashdar-nya, al-fathr berarti memerah susu onta dengan ibu jari dan telunjuk kedua tangan; sedangkan al-futhr artinya susunya sedikit ketika diperah.[3]

Sedangkan kata fathara Allâh artinya Allah mencipta. Jadi, al-fithr artinya ciptaan. Menurut orang-orang Arab asli, fathara artinya memulai atau mencipta dan mengkreasi. Hal ini seperti yang dituturkan ar-Razi (Mukhtâr as-Shihâh, 1/212) dari Ibn ‘Abbas ra. yang berkata, “Aku tidak tahu apa arti Fâthir as-Samawât hingga datang kepadaku dua orang Arab Baduwi yang sedang berselisih mengenai sumur. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Fathartuhâ,’ yakni ibtadâ’tuhâ (aku yang memulai/ membuatnya).”

Kata fitrah diungkapkan Allah hanya dalam satu ayat.

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rûm [30]: 30)

Ayat ini oleh para ulama dikaitkan dengan firman Allah:

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami melakukan yang demikian itu) agar pada Hari Kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”(QS al-A’râf [7]: 172)

Kedua ayat tersebut selanjutnya sering dikaitkan tafsirnya dengan hadis yang dituturkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasul SAW bersabda:

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu-bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.[HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik]

Baca juga: Fitrah dan Teori-Teori Psikologi

At-Thabari dan Ibn al-Mundzir menjelaskan, dengan mengutip pendapat Mujahid, bahwa fitrah yang dimaksud adalah agama (dîn) Islam. Ini juga makna yang dipegang oleh Abu Hurairah dan Ibn Syihab. Maknanya bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan selamat dari kekufuran. Itulah janji setiap jiwa kepada Allah tatkala manusia belum datang ke dunia, sebagaimana diisyaratkan dalam surat al-A’râf ayat 172.

Menurut Abu ‘Amr dalam at-Tamhîd dan Imam Malik dalam al-Muwatha’, makna fitrah tersebut adalah permulaan. Maksudnya, permulaan atau ketetapan Allah tatkala menciptakan makhluk. Allah telah mengawali mereka dengan ketetapan bagi kehidupan dan kematiannya serta kebahagiaan dan kesengsaraannya. Pendapat yang senada menyatakan, sejak di dalam kandungan setiap manusia telah ditetapkan kesudahannya apakah di surga ataukah di neraka.

Pendapat demikian berlawanan dengan ketetapan Allah yang memberikan pilihan kepada manusia antara iman atau kufur, jalan selamat atau sebaliknya.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.(QS al-Kahfi [18]: 29)

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.(QS asy-Syams [91]: 8)

Atas pilihannya itulah manusia dimintai pertanggungjawaban dan diberi pembalasan berupa pahala atau siksa. Nasib manusia di akhirat tergadai (ditentukan) oleh amal perbuatannya.

Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.(QS ath-Thur [52]: 21)

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.(QS al-Muddatstsir [74]: 38)

Ada juga yang berpendapat, makna fitrah tersebut adalah iman, yakni setiap bayi dilahirkan di atas keimanan. Sebagian lain memaknai fitrah sebagai ciptaan; Allah menciptakan setiap bayi dalam makrifat (mengetahui) Tuhannya.

Dengan disertai pendalaman atas makna nas-nas tersebut, pada faktanya, bayi yang baru lahir menunjukkan bahwa ia belum beriman ataupun kufur. Ia juga belum memiliki pengetahuan, ilmu pengakuan atau pengingkaran atas sesuatu. Pengetahuan dan ilmu mengharuskan adanya aktivitas berpikir. Aktivitas ini tidak terjadi pada bayi yang baru lahir dan baru terwujud setelah jangka waktu tertentu yang setidaknya ia telah tumbuh sampai mumayyiz (bisa membedakan).

Allah SWT berfirman:

Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apapun.(QS an-Nahl [16]: 78)

Di samping itu, iman dan kufur atau pengakuan dan pengingkaran bisa berubah-ubah dan berganti satu sama lain. Tentu yang demikian itu menyalahi karakter fitrah karena tidak ada perubahan pada fitrah Allah (Qs. ar-Rum [30]: 30).

Makna fitrah yang lebih tepat adalah seperti yang disampaikan oleh Ibn Abd al-Bar dan Ibn ‘Athiyah, yaitu karakter ciptaan dan kesiapan yang ada pada diri anak ketika dilahirkan, yang menyediakan atau menyiapkannya untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah dan menjadikannya dalil pengakuan terhadap Rabb-nya, mengetahui syariat-Nya, dan mengimani-Nya.

Abu al-‘Abbas menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan hati anak Adam siap untuk menerima kebenaran seperti menciptakan mata siap untuk melihat dan telinga siap untuk mendengar. Hanya saja, faktor-faktor berupa bisikan setan dari kalangan jin maupun setan dari kalangan manusia serta hawa nafsu bisa meggelincirkannya dari kebenaran. Jadi, ibu-bapaknya –dalam hadis yang dimaksud– merupakan permisalan dari bisikan setan yang menjadikannya seorang kafir atau musyrik.[4]

Terhadap hadis tersebut, Ibn al-Atsir mengomentarinya dan mengatakan bahwa fitrah adalah ciptaan atau kreasi. Fitrah di antaranya adalah kondisi seperti berdiri atau duduk. Hadis tersebut bermakna bahwa setiap insan dilahirkan di atas suatu jenis dari jibillah (ciptaan) dan tabiat yang siap-sedia untuk menerima agama. Hal senada diungkapkan oleh Zamakhsyari.[5]

Berdasarkan nas-nas yang telah disebut, maka makna fitrah adalah karakteristik ciptaan, yaitu karakteristik bawaan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak dilahirkan. Fitrah itu merupakan tabiat bawaan yang bersifat jibiliyyah. Karakter bawaan ini tidak akan pernah berubah atau berganti.

Jika kita analisis, karakteristik bawaan itu tidak lain adalah potensi kehidupan manusia berupa hajât al-‘udhâwiyah (kebutuhan untuk tetap hidup) dan gharâ’iz –jamak dari gharîzah– (naluri/ insting). Tabiat yang berupa kesiapan menerima agama dan kelurusan itu tidak lain adalah gharîzah at-tadayyun (naluri beragama). Jadi, kesaksian dalam surat al-A’râf [7] tersebut adalah kesaksian naluriah/ instingtif (syahâdah ghâriziyyah atau syahâdah fithriyyah) dan bukan kesaksian imani (syahâdah îmâniyyah). Kesaksian itu tidak akan bisa dilupakan oleh manusia karena melekat dalam dirinya dan tidak akan hilang sampai kematiannya dan sampai generasi manusia yang terakhir. Itulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-A’râf [7]: 172-173.[6]

Implikasi Fitrah dalam Dakwah

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS an-Nahl [16]: 125)

Allah, Dzat Yang Mahatinggi, berfirman dengan memerintahkan rasulNya, Nabi Muhammad SAW, untuk menyeru segenap manusia kepada jalan (agama) Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik (mau’izhah al-hasanah). Seruan kepada Nabi Muhammad SAW ini berlaku juga untuk umat Nabi Muhammad SAW, karena tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya. Pun dalam ayat tersebut, penunjukannya bersifat umum untuk siapa saja sebagai sasaran dakwah –muslim atau kafir.

Bisa kita mengerti bahwa kita yang hendak menyeru manusia dituntut untuk melakukannya dengan hikmah dan pelajaran yang baik (mau’izhah al-hasanah). Sebab pada dasarnya seluruh manusia itu mempunyai kefitrahan yang sama, di mana sebelum ditiupkan ruhnya ke alam dunia kita sama-sama menyaksikan secara instingtif bahwa muara pencarian sesuatu yang wajib dikultuskan itu hanyalah Allah SWT saja. Dari sini, dalam berdakwah seyogyanya kita harus membimbing setiap orang untuk kembali pada fitrahnya. Karena itulah Allah menyeru kita untuk melakukannya dengan hikmah dan pelajaran yang baik (mau’izhah al-hasanah).

Jumhur mufasir menafsirkan kata hikmah dengan hujjah atau dalil. Hujjah yang dimaksud adalah hujjah yang bersifat rasional (‘aqliyyah/ fikriyyah), yakni hujjah yang tertuju pada akal. Sebab, para mufasir seperti al-Baidlawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi mengaitkan seruan dengan hikmah ini kepada sasaran yang spesifik, yakni golongan yang mempunyai kemampuan berpikir sempurna.

Hujjah yang rasional disebut pula sebagai argumentasi yang masuk akal, yang tidak dapat dibantah, dan yang memuaskan. Ia dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan siapa saja. Sebab, manusia tidak dapat menutupi akalnya di hadapan argumentasi-argumentasi logis yang pasti serta pemikiran yang kuat.

Sedangkan pelajaran yang baik (mau’izhah al-hasanah), mufasir menjelaskan sifatnya sebagai suatu nasihat yang tertuju pada hati (perasaan), tanpa meninggalkan karakter nasihat itu yang tertuju pada akal. Sayyid Quthub menafsirkan mau’izhah al-hasanah sebagai nasihat yang masuk ke dalam hati dengan lembut.[7] An-Nisaburi menafsirkan mau’izhah al-hasanah sebagai dalil-dalil yang memuaskan, yang tersusun untuk mewujudkan pembenaran (tashdîq) berdasarkan premis-premis yang telah diterima.[8] Al-Baidlawi dan Al-Alusi menafsirkan mau’izhah al-hasanah sebagai seruan-seruan yang memuaskan/ meyakinkan (al-khithâbât al-muqni‘ah) dan ungkapan-ungkapan yang bermanfaat (al-‘ibâr al-nâafi‘ah).[9] An-Nawawi al-Jawi menafsirkannya sebagai tanda-tanda yang bersifat zhanni (al-amârât azh-zhanniyah) dan dalil-dalil yang memuaskan.[10] Al-Khazin menafsirkan mau’izhah al-hasanah dengan targhîb (memberi dorongan untuk menjalankan ketaatan) dan tarhîb (memberikan ancaman/ peringatan agar meninggalkan kemaksiatan).[11]

Seruan dengan mau‘izhah al-hasanah ini ditujukan pada orang-orang yang kemampuan berpikirnya tidak secanggih golongan yang diseru dengan hikmah, tetapi masih mempunyai fitrah yang lurus. Demikian menurut al-Baidlawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi.

Wallâhu a’lam bi as-shawâb.

————————————————————-

[1] Disampaikan dalam Halaqah Syahriyyah, awal Juli 2014.

[2] Hal ini seiring dengan mengendapnya teori Tabula Rasa –dalam pendidikan– pada pemikiran sebagian kaum Muslim. Setiap anak dianggap sebagai kertas putih yang kosong sehingga bisa disepuhi dengan nilai apa saja dalam perjalanan kehidupannya. Padahal sejatinya setiap anak hanya akan kompatibel dengan kalimat yang baik (kalimah thayyibah) saja. Kalimat tersebut adalah seperti yang ditafsirkan oleh Ibn Abbas, yakni kalimat tauhid: Laa ilaaha illa Allaah.

[3] Al-Firuz Abadi, Lisân al-‘Arab, 5/55-59

[4] Dalam Sahih Muslim disebutkan suatu riwayat dari Iyad Ibn Himar, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif –cenderung kepada agama yang hak. Kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka,’”

[5]Al-Fâ’iq, 3/128

[6] Majalah al-Wa’ie, Edisi 51.

[7] Sayyid Quthub, Tafsir Fi Zilalil Qur’an, XIII/ 292.

[8] An-Nisaburi,Tafsir AnNisabury, V.

[9] Al-Baidlawi, Mawaqi’u AtTafasir, III/ 394. Lihat juga: Al-Alusi, Ruhul Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, V/ 487.

[10] An- Nawawi Al-jawi, Marah Labid Tafsir AnNawawi, I/ 517.

[11] Al-Khazin, Lubab AtTa’wil Fi Ma’ani At-Tanjil, IV/ 223.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s