#15

[#15] – E P I L O G

Teman, kita ini sama
Makhluk Tuhan
Di kelas ini, marilah kita
Belajar dan bermain bersama

Dari genangan air liurmu saat terbangun dari tidur di atas meja kala itu, Jidan, saya bisa melihat memoar saat kamu berdiri di depan kelas tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Bu Siti untuk membacakan sebuah puisi tentang inklusivitas yang saya tulis. Teman-temanmu memang sulit mengerti, tapi tenang saja, pembacaan puisi tentang perbedaan indah itu adalah usaha terindah kita untuk memahamkan mereka—meski akhirnya mereka tidak juga empati.

Jika saja kamu sadar, Jidan, sungguh pun kita tidak butuh mereka. Karena dengan sendirinya mereka memilih untuk tersisih dari orang-orang pilihan yang pantas menyanding dalam perjalanan hidupmu. Tapi tetap saja, rencana setahun kita belajar bersama ternyata diganggu orang. Dan, lewat epilog elegis sederhana ini saya berdoa mudah-mudahan mereka benar-benar pantas untuk menyanding dalam perjalanan hidupmu. Biarlah saya dicap tidak pantas menyanding denganmu. Sebab, perjalanan beberapa bulan sebelum genap setahun yang kita jalani saat itu sudahlah disaksikan oleh Tuhan. Meski pun, sungguh, semenghilangnya elusanmu pada helaian janggut saya, nyatalah saya kehilangan dan merindukanmu. []

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s