Ditukar Surga

Candra adalah seorang anak yang kehilangan fungsi penglihatannya. Ya, dia adalah seorang tunanetra sejak lahir. Karenanya Candra tidak pernah tahu seperti apa warna merah, kuning, hijau, dan warna-warna yang lainnya. Ia juga tidak pernah tahu secantik apa ibunya dan seganteng apa pula ayahnya. Yang ia tahu hanyalah suara mereka, bahwa suara ayah dan ibunya semerdu kicau burung di setiap pagi hari yang cerah. Namun kasih sayang ayah dan ibunya telah memberikan motivasi yang sangat berarti untuk Candra, meski pun ia hidup dalam keadaan tidak bisa melihat seisi dunia.

Usia Candra baru 11 tahun. Selama ini Candra bersekolah di SLB Bagian A (khusus untuk anak tunanetra) di dekat rumahnya. Tapi kini, karena ayahnya mendapat tugas di daerah untuk jangka waktu yang sangat lama, mau tidak mau Candra harus ikut pindah ke daerah dan masuk ke sekolah yang baru. Sayangnya, di tempat tinggal yang baru ini tidak ada SLB. Karena itu ayah dan ibunya mendaftarkan Candra ke sekolah umum. Beruntunglah sekolah umum tersebut bersifat inklusif sehingga terbuka menerima siswa yang tidak bisa melihat seperti Candra.

Tapi karena tahu akan bersekolah di sekolah umum, Candra mulai gelisah. Pada malam hari sebelum besoknya masuk sekolah, Candra mencurahkan isi hatinya kepada ayah dan ibunya.

“Ayah, Ibu, aku malu sekali karena besok mulai masuk sekolah di sekolah umum,” ucapnya dengan lirih.

“Lho, kenapa memangnya?” tanya ibunya dengan lembut sambil mengusap kepalanya.

“Aku malu karena murid-murid yang lain di sekolah itu pasti mempunyai mata yang sempurna. Mereka bisa melihat dunia, sedangkan aku tidak. Aku kan buta, Bu.”

Mendengar keluh minder anak semata wayangnya tersebut, ibunya langsung memeluknya dengan erat. Sang ayah pun langsung mendekap keduanya yang sedang berpelukan. Ayah dan ibunya tahu, anak satu-satunya itu akan menghadapi pengalaman baru yang tidak biasa. Jika di sekolah asalnya (SLB) ia berkumpul dan bermain dengan sesama tunanetra, lain halnya dengan sekarang. Kini, di sekolah umum, ia yang tak sempurna penglihatannya akan berada di tengah-tengah mereka yang penglihatannya sempurna.

“Nak,” ujar ayahnya mulai memberi nasihat, “jangan pernah merasa minder dengan keadaanmu yang tidak bisa melihat. Itu sudah ketentuanNya yang tidak bisa kita ubah. Yang penting adalah kita harus menerimanya dengan lapang hati. Belum tentu juga Tuhan membuatmu tidak bisa melihat seperti ini adalah suatu keburukan. Ingatlah, Nak, Tuhan itu tidak memandang bagus atau buruknya seseorang dari tampilan fisiknya, tetapi dari hatinya.”

Candra mulai terisak-isak mendengar nasihat ayahnya. Ia mulai menyadari semua. Perasaan minder yang hinggap pada dirinya dirasa sebagai sikap tak menerima ketentuanNya. Segera ia buang jauh-jauh perasaan minder tersebut. Ia harus melangkah dengan tenang dengan tidak mempedulikan keadaannya yang tidak bisa melihat. Ia hanya harus meyakini bahwa Tuhan tidaklah membutakan matanya dengan sia-sia. Meski pun tidak bisa melihat, toh prestasi belajarnya cukup bagus. Tidak kalah dengan mereka yang bisa melihat.

Ibunya pun mulai memberi Candra sebuah wejangan. “Nak, apakah kamu tahu dosa orang-orang yang bisa melihat?”

“Tidak, Bu,” jawab Candra sambil geleng-geleng.

“Orang yang bisa melihat akan sangat berdosa sekali jika kedua matanya dipakai untuk melihat sesuatu yang haram. Bukankah Tuhan tidak suka kalau manusia menikmati hal-hal yang haram?”
Candra terdiam mendengarkan wejangan ibunya dengan saksama.

“Di balik kebutaanmu itu, bersyukurlah kamu, Nak. Kamu terjaga dari gambar-gambar pornografi. Betapa banyak orang yang terjerumus pada tindakan asusila akibat menonton film porno. Kamu terjaga dengan matamu yang tidak bisa melihat, Anakku. Sungguh itu menandakan bahwa Tuhan sangat sayang sekali kepadamu,” jelas ibunya dengan penuh kasih sayang.

Setelah dinasihati oleh ayah dan ibunya, Candra menjadi sadar. Tidak seharusnya ia malu berada di tengah-tengah orang yang bisa melihat.

Keesokan harinya, Candra pergi sekolah dengan diantar ayah dan ibunya dengan penuh semangat dan keceriaan. Dan ketika dijemput pulang sekolah pun, keceriaannya tidak berkurang, malah bertambah.

Ayah dan ibunya bertanya, “Bagaimana tadi di sekolah barumu, Nak?”

Dengan penuh semangat Candra menjawab, “Luar biasa, Yah, Bu. Semua teman-teman di sekolah yang baru sangat hangat menerima kehadiran Candra.”

“Baguslah kalau begitu!” kata kedua orangtuanya.

“Ada yang lebih penting lagi, Yah, Bu. Tadi pas pelajaran agama, Pak Guru bilang kalau Nabi Muhammad pernah bersabda, bahwa kedua mata orang yang buta itu katanya akan ditukar dengan surga oleh Allah; asalkan aku bisa menerima dan sabar atas kebutaanku ini!” tambah Candra dengan tersenyum mantap.

Mendengar buah hatinya berucap dengan perasaan senang seperti itu, ayah dan ibunya terharu. Anaknya kini telah mampu untuk beradaptasi dengan baik di lingkungan umum.

Hari-hari ke depannya, Candra menjalani hidup dengan riang gembira, semangat, dan penuh percaya diri. Ia kini seperti mereka yang bisa melihat dunia dengan matanya. Bedanya, Candra melihat dunia dengan hatinya.

08/04/2013

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s