Bintang-Bintang Tersembunyi

Ini adalah naskah lama yang saya ikutkan pada suatu lomba dan, alhamdulillah, terpilih. Tapi sayang, pengiriman hadiah berbentuk buku cetak antologi yang memuat naskah saya ini tak pernah kunjung saya terima. Pihak penerbit -sebagai salah satu penyelenggara- tidak pernah mengkonfirmasi pengiriman hadiah, sampai sekira berminggu-minggu setelah masa editing kemudian saya bertanya.

Jawaban yang kemudian saya dapat begitu rigid, bahwa hadiah sudah lama dipaketkan dan sampai detik ini tidak pernah saya terima.

Jika Aku Mereka

Lima belas anak berkebutuhan khusus beragam kelainan itu duduk menunggu di dalam kelas. Dua hari yang lalu, mereka diberi tahu bahwa hari ini akan ada seorang guru baru. Seorang guru yang diharapkan total mengajar mereka selama enam hari dalam seminggu. Tidak seperti guru sebelumnya yang hanya bisa menyisihkan waktu cuma dua hari dalam seminggu.

***

“Baik, nanti saya beri tahu anak-anak kalau mulai dari sekarang ada guru baru untuk mereka,” ujar kepala sekolah ketika menerima lamaranku di hari Sabtu kemarin.

“Iya, mudah-mudahan saya bisa menjadi pengajar yang baik untuk mereka di sini,” sahutku.

Kupacu motor meninggalkan kantor di mana tadi kepala sekolah dan aku berjabat tangan memulai akad kerja bagiku menjadi seorang guru baru di SLB ini. Sekolah ini tadinya tidak pernah terlintas di pikiranku, saat aku memutuskan untuk mencari kerja di kota kelahiranku. Sebagai kota besar, Bandung sudah terlalu penuh oleh guru sepertiku untuk memberikan pendidikan buat anak-anak berkebutuhan khusus. Memang sehabis lulus kuliah dua tahun yang lalu, pikiranku selalu dikecamuk dengan bayangan tentang nasib anak-anak berkebutuhan khusus di kota sendiri, Cianjur. Jika dibanding dengan di kota besar yang notabene banyak tersebar guru-guru untuk mereka, bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di kota kecil yang, kupikir guru-guru yang tersedia tidaklah sebanyak di kota-kota besar? Rekan-rekan kuliahku saja, yang sengaja menuntut ilmu dari pulau seberang, selepas lulus mereka lebih memilih untuk tinggal di Bandung daripada harus pulang mengabdi ke tempat asalnya. Tapi harus kuakui, di bawah regulasi yang semrawut, pilihan untuk mengabdi di daerah asal pada akhirnya menjadi opsi yang hanya dipilih hati.

Begitu pun denganku. Siapa yang tak mengetahui bahwa gaji seorang guru honorer tidak begitu menyenangkan? Bukan masalah bersyukur atau tidak. Yang justru tidak habis kupikir adalah para elit politik yang menganggap perkara ini sebagai sesuatu yang teramat remeh. Tak akan kusodorkan bukti selain kenyataan di lapangan yang sedikit sekali mereka ketahui. Tapi, di awal kuartal akhir tahun lalu benar-benar kuberanikan diri mengambil opsi mengabdi di kota kelahiran, semata-mata demi tersentuhnya anak-anak berkebutuhan khusus di daerah sendiri.

***

“Selamat pagi, anak-anak!” salam pertamaku di pagi yang cerah membuka aktivitas di kelas itu. Sebagian dari mereka sontak berpaling ke arah pintu kelas di mana aku masuk. Demi mendapati seorang asing di depan, sebagian dari mereka berbisik-bisik. Kudengar sebagian obrolannya. Siapa itu, siapa itu, bisikan tanya seorang bocah low vision kepada teman sebangkunya yang berdaksa tuna, tertangkap kupingku bersilir-silir.

“Wah, ternyata banyak juga ya murid di kelas ini!” seruku demi melihat mereka untuk pertama kalinya. Kuperhatikan mereka yang serentak menghadap ke arahku. Dari satu bangku ke bangku yang lainnya. Lamat-lamat kuidentifikasi mereka satu persatu. Dari mulai gambaran wajah khas seorang bocah pendek, sepasang mata yang mengerjap-ngerjap tak biasa, mimik dua orang remaja yang tak lazim, siku tangan dan mata kaki yang mengelok, sampai pada seraut wajah tua yang sebagian rambut putihnya menyela pada kerudung dan pipinya.

Ai! Rupanya kelas ini benar-benar diisi oleh anak-anak yang istimewa. Bahkan keistimewaan mereka tidak homogen. Semua itu terangkum oleh kelimabelas anak yang mulai hari ini menjadi muridku.

Pikiranku mengawang. Dulu, saat pertama kali mengajar, aku dihadapkan paling banyak hanya pada sekitar enam atau tujuh anak dalam satu kelas. Ya, sebabnya anak-anak didik saya adalah mereka yang mempunyai kebutuhan khusus. Sehingga merupakan suatu keharusan bahwa kebutuhan dari masing-masing mereka benar-benar kuperhatikan. Dan itu hanya bisa terjadi dengan jumlah anak di bawah sepuluh dalam satu kelas.

Sekarang, di sini? O Tuhan, benarkah apa yang terhampar di depanku kini? Aku harus menjadi satu-satunya guru untuk lima belas anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas. Mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, down syndrome, sampai tunadaksa, semuanya ada di sini.

***

Kepala sekolah kemarin bercerita bahwa sekolah yang dipimpinnya ini adalah sebuah rintisan. Dulu, ada beberapa orang guru yang mengajar di sini. Tapi sekarang, tidak ada satu pun yang tersisa, karena guru-guru tersebut merupakan guru bantu dari sekolah yang lain. Mereka tentu saja lebih terikat di sekolah induknya. Sampai ketika mereka harus meninggalkan anak-anak yang hanya beberapa bulan saja sempat diajarnya.

Apa yang diharapkan dari hasil pembelajaran yang hanya baru beberapa bulan saja? Anak-anak yang kini pada duduk manis di depanku sama sekali belum bisa apa-apa kecuali sedikit saja. Huruf-huruf dan angka-angka yang baru diketahuinya hanya satu dua saja. Itu pun sembarang! Di usia mereka yang rata-rata sudah masuk usia remaja, tak ada satu pun anak yang mampu menyebutkan huruf-huruf yang menyusun namanya sendiri. Apatah lagi untuk menuliskannya?

Satu persatu kutanyai nama mereka setelah aku terlebih dahulu memperkenalkan diri. Dimulai dari ujung sebelah kiriku. Seorang murid menyambutku dengan tersenyum. Tubuhnya kurus kering. Roman mukanya tampak seperti seorang tua. Alis tebal, jumputan kumis di kedua sisi mulutnya, dan secuil janggut nan lebat menandakan itu. Organ bicara bagian atasnya menempel pada hidung. Itu membuatnya kurang bisa berbicara dengan sempurna, saat kutanya siapa namanya. Kecil sekali suaranya.

Bocah tunanetra yang duduk tepat di sampingnya lantas membantu menjawab, “Namanya Asep, Pak!”

Yang dibantu hanya tersenyum-senyum. Senyumannya tersungging begitu tulus.

“Oke, selanjutnya. Seorang lelaki yang berpenampilan ganteng yang duduk di sebelahnya, siapa namanya?”

Demi mendengar apa yang kukatakan, anak-anak pada tertawa. Seisi kelas menjadi riuh rendah. Yang ditanya menjadi kikuk sambil mesem. Aku hanya mencoba mencairkan suasana. Biar tidak kaku.

“Candra, Pak!” jawabnya.

Anak yang kehilangan fungsi penglihatannya ini berpenampilan biasa. Tidak ada bentuk fisik yang terlihat lain, kecuali dua buah bola matanya saja yang hanya berwarna putih. Dengan keadaannya yang seperti itu, dengan mudah dia dapat dikenali sebagai seorang tunanetra.

Berlanjut pada banjar sebelahnya, aku bertanya kepada seorang gadis mungil yang mulutnya berlepotan cokelat dan liur, “Siapa ini namanya?”

Yang ditanya tersenyum lebar. Mulutnya menganga dan mencoba untuk berkata-kata. Sikap tubuhnya kelihatan kaku dan tak seimbang. Lengannya mengayun sembarang tak teratur. Pijakan kakinya seperti menapak tak kuat. Mengesankan dia mudah terjatuh sekali dorong. Motoriknya masih belum mantap.

Dia berkata-kata, tapi tak ada ejaan yang bisa dimaknai dari suaranya. Dengan sigap, murid yang daksanya tuna, yang duduk tepat di belakangnya, membantunya menjawab,”Lia. Namanya Lia, Pak.”

Aku melanjutkan dengan menoleh pada gadis manis yang duduk di sebelahnya. “Siapa namanya?”

Dia menjawab dengan bersuara. Nyaring terdengar. Tapi tak jelas. Anggapanku benar. Dia seorang tunarungu. Tidak sulit menentukannya di perjumpaan pertama ini. Karena sebagian besar, kaum tunarungu itu penampilan fisiknya terlihat seperti kebanyakan orang pada umumnya. Tidak ada kelainan secara fisik pada mereka. Mereka baru bisa dipastikan sebagai tunarungu ketika kita memanggilnya dan tidak ada respon darinya atas panggilan itu. Apalagi kalau sudah mendengarnya berkata-kata. Suara yang dihasilkan oleh setiap insan tunarungu hampir terdengar khas. Serupa. Senada.

Aku kembali mencoba bertanya dengan menggunakan bahasa isyarat. Kutempelkan jempol tangan dan mencuatkannya melengkung ke arah depan, sebagai lambang isyarat untuk kata tanya siapa. Kemudian kupukulkan masing-masing telunjuk yang menempel dengan jari tengah sebanyak dua kali, sebagai lambang isyarat untuk kata nama. Secara kontekstual, dengan berisyarat begitu aku bertanya kepadanya: siapa namanya?

Gadis itu merespon hanya dengan berkata-kata tak jelas lagi. Rupanya dia belum bisa berbahasa isyarat. Untung saja teman-temannya yang lain membantu menjawab pertanyaanku. Dengan bersahutan, teman-temannya berujar satu per satu, “Namanya Siti, Pak!”

Setelah itu, kutanyai murid sisanya. Yang berdaksa tuna itu namanya Rani. Dia tidak mengalami hambatan komunikasi. Sehingga untuk urusan bertanya kepada murid-murid yang tidak bisa menjawab, dia cukup membantuku dengan menyebutkan nama-nama rekannya itu.

Yang kedua matanya mengalami low vision, namanya Meida. Sementara itu, ada tiga orang anak yang bermuka sama. Namanya Sri, Nenden, dan Deven. Sebutan yang lazim buat mereka adalah Si Muka Seribu. Mereka adalah anak-anak yang mengalami down syndrome. Suatu sindrom yang ditemukan oleh seorang Down, yang menampakkan himpunan gejala yang sama pada mereka yang mengalaminya: muka mongoloid, lidah tebal dan pendek, dan rerata intelligent quotient di bawah 70.

Di samping mereka, ada dua orang remaja usia belasan (Aceng dan Rizal) dan sepasang kakak beradik (Febriani dan Sovie) yang mengalami mental retarded. Tak lupa juga seorang perempuan tua beruban berusia 44 tahun ikut belajar di kelas ini (Siti Aisyah). Terakhir, duduk paling belakang, tampak seorang anak bertubuh sintal yang sedari tadi melempar-lempar gulungan kertas ke arah temannya yang berada di depan. Sesekali tertawa lebar dan berkata-kata tak jelas dilakoninya. Dia mengalami ketunarunguan juga.

“Itu mah namanya Aa, Pak! Dia mah jail orangnya,” ujar salah seorang dari kelimabelas murid baruku ini.

***

Beberapa bulan ke depan, ternyata memang benar dugaanku. Menjadi satu-satunya guru untuk kelimabelas anak berkebutuhan khusus bukanlah perkara biasa. Sangat tidak biasa. Bermacam-macam perasaan kudapati di sini. Dari senang, gembira, sedih, kesal, bahkan sampai merasa depresi ingin berhenti! Bagaimana tidak, sudah satu semester aku menjadi guru mereka tapi hasilnya belum terlihat sama sekali biar sedikit.

Namun seiring berjalannya waktu, aku berbalik pikir. Apa jadinya jika hanya karena keadaan yang sangat tidak biasa ini, di mana aku harus mengajar sendirian lima belas rupa anak berkebutuhan khusus, lantas aku mengundurkan diri? Sekilas memang terasa nikmat, lepas dari beban yang selama ini menghinggapi kepalaku. Tapi aku harus adil. Aku harus merasakan bagaimana seandainya aku berada di posisi mereka?

Pada akhirnya, aku mulai menikmatinya. Pikiran kubebaskan begitu rupa tanpa harus ada beban apa-apa. Memang aku memikul tanggung jawab buat mereka. Tapi kita harus mafhum. Kondisi per individu dari mereka sangatlah tidak biasa. Terlebih lagi mereka terlambat menerima pendidikan. Tempat tinggal mereka yang terbilang dusun, jauh dari kota, dan infrastruktur yang belum memadai, membuat mereka menjadi seperti teralienasi. Mereka tergerus pembangunan yang tak merata. Terlebih karena keadaan mereka sebagai kaum yang marjinal.

Biar demikian, mereka masihlah tetap anak-anak yang penuh semangat. Sekolah yang lumayan jauh tak masalah mereka datangi. Tak pernah sedikit pun saya mendengar dari orangtuanya, anak-anak yang mengeluh. Bersyukur pula mereka terbantu dengan adanya mobil jemputan abonemen, sehingga jarak yang jauh semakin tidak memberangus semangat mereka. Aku harus bersyukur, bisa menjadi satu-satunya guru yang pernah mereka temui yang mengajar dengan penuh candaan. Setiap harinya kelas mereka rasakan penuh tawa. Terbahak-bahaknya mereka menandakan penerimaan hatinya buatku. Aku harus menyambutnya dengan senang hati. Meski terkadang, pada satu titik, perasaan tidak puas selalu datang menghampiri. Di tengah keterbatasan yang benar-benar membatasi ini aku tidak pernah bisa memberikan pendidikan kepada mereka secara layak dan baik. Setiap kelas bubar, aku kerap bertanya balik, adakah kelimabelas muridku ini sudah terberi pengajaran yang layak dariku?

Pembelajaran yang kulakukan selama ini adalah dengan cara memberikan tugas menulis secara serempak kepada mereka dari awal. Cara tersebut cukup ampuh untuk menghentikan kegaduhan mereka menjadi anteng. Setelah itu, selagi mengerjakan tugas tersebut, kudatangi mereka untuk memberikan asistensi secara personal dan memberikan pengajaran menurut kebutuhannya. Satu persatu kudatangi mereka di bangkunya masing-masing. Pengajaran untuk setiap anaknya bertahap. Meski dalam satu hari aku hanya bisa mengajarkan satu huruf, dan keesokan harinya sebagian dari mereka ada yang lupa, tak boleh jadi soal buatku. Memang rasa kesal dan geregetan karena sudah capai-capai mengajari tapi mereka sulit untuk bisa mengerti, kerap muncul di ubun-ubun ini. Akan tetapi dari keadaan mereka, aku belajar paham. Aku memafhumi interaksi yang tak biasa ini. Ribuan hari yang pernah kulalui bersama anak-anak berkebutuhan khusus sebelum ini mestinya membuatku semakin terlatih. Senyuman tak boleh sekali pun sirna dari raut muka kita, betapa pun sikap mereka kerap membuat kita gigit jari. Bukankah kita sendiri yang telah memilih jalan ini? Jalan di mana sepanjang haluannya ada anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan kita? Jika kita mengharap mereka mampu seideal kita, bukankah kita juga harus bisa menjadi guru pembimbing seideal yang mereka harapkan? Kita dipertemukan Tuhan untuk menjadi sesuatu yang komplementer. Seperti cahaya yang tidak akan dikatakan terang jika tidak ada gelap. Siapa pun kita harus mengerti itu.

Citaku sederhana. Aku ingin mengantar mereka, sebagai anak-anak berkebutuhan khusus dari daerah terpencil, pada prestasi-prestasi yang mungkin mereka raih. Akan kubuat mereka sebagai bintang yang terbit keluar dari persembunyian setelah bisa berprestasi. Tolok ukur prestasinya pun tidak muluk-muluk kutentukan. Asal bisa tampil berpuisi di depan orang-orang sekolah, misalnya. Itu akan menjadi sesuatu yang wah sekali buatku.

Aku tidak mau membandingkan dengan sekolah-sekolah unggulan yang mampu mengangkat anak-anak berkebutuhan khusus pada puncak prestasi. Kita berdiri dan bermain di tanah lapang yang sama sekali berbeda. Biarlah kami berdiri dan bermain dengan cara kami, sesuai dengan keadaan kami sendiri. Tak usah menjadi suatu kompetisi, karena kita bukan sedang bertanding. Kita hidup di dunia tentu dengan paket kehidupan yang berbeda.

Aku sungguh tidak berharap banyak dan memaksakan kehendak pada mereka. Selangkah demi selangkah, kami harus mencoba maju ke depan. Tidak perlu melihat ke samping, sebab perjalanan ini menuju ke depan.

***

“Meida, ternyata suara kamu bagus juga ya?” kataku pada Meida saat secara tidak sengaja mendapatinya sedang iseng-iseng menyanyi.

Memang selama ini kuperhatikan dan kuharapkan dia untuk bisa bermusikalisasi puisi. Dan pendamping yang bermain gitarnya adalah Candra. Asumsiku adalah karena rata-rata, yang mempunyai bakat di bidang ini adalah mereka yang mempunyai masalah dalam penglihatan. Organ pendengarannya pasti terasah dengan tajam sejak mereka mengetahui bahwa dunia ini tidak bisa mereka rasakan secara visual.

Setelah tahu bahwa suara Meida cukup bagus, maka tinggal kulatih mereka berdua. Aku harus mengajarkan gitar pada Candra, dan olah vokal pada Meida.

Syahdan, suatu hari kepala sekolah datang ke kelas saat aku sedang mengajar. “Pak, dua minggu lagi SMK mau ada acara perpisahan. Tolong ada kreasi seni dari SLB ya?”

“Wah, kok mendadak begini, Pak?”

“Ya tidak apa-apa. Biasa saja penampilannya. Nyanyi-nyanyi bersama saja.”

Kepala sekolah tiba-tiba meminta SLB untuk bisa tampil di acara perpisahan SMK yang berdiri di bawah yayasan yang sama. Waktu dua yang tersisa sampai hari H mau tidak mau kupakai buat latihan. Mungkin ini juga saatnya untuk bisa kurealisasikan citaku terhadap mereka.

Maka langsung kudaulat Meida untuk menyanyi dan Candra untuk berpuisi. Sementara sisa murid yang lainnya unjuk bernyanyi secara bersama-sama. Mula-mula kedua anak itu menolak. Tapi terus kuyakinkan bahwa mereka harus bisa berprestasi agar tak dicibir orang.

Di dua minggu itu terus kulatih mereka seadanya dan sebisanya. Meskipun suaranya bagus, Meida belum bisa mengikuti ketukan. Jadinya suaranya sering jatuh bukan pada titik nada dimulai. Pun dengan Candra, untuk bisa sekadar membacakan puisi dengan pelan-pelan saja belum bisa. Selebihnya, seluruh murid yang kebagian menyanyi bersama pun pada lari suaranya. Itu semua menjadikan hari-hari di dua minggu itu penuh cemas.

Tapi alhamdulillah, saat waktunya tiba, dua minggu penuh kecemasan itu terbayar lunas ketika melihat aksi panggung mereka. Anak-anak bernyanyi penuh semangat, tidak seperti ketika latihan yang penuh aura kejenuhan. Meida berani tampil menyanyi meski pada beberapa bagian suaranya masih lari karena gugup. Aku memaklumi, karena bagaimana pun juga itu adalah pengalaman pertamanya berkreasi seni di depan khalayak ramai. Begitu pun dengan Candra. Dadanya berdebar saat membacakan sajak:

Berburu ke padang datar, dapat rusa berbelang kaki

Berguru kepala ajar, ibarat bunga kembang tak jadi

Dialah pemberi paling setia, tiap akar ilmu miliknya

Pelita dan lampu segala, untuk manusia sebelum jadi dewasa

Dialah ibu dialah bapak, juga sahabat

Alur kesetiaan mengalirkan nasihat

Pemimpin yang ditauliahkan segala umat

Seribu tahun katanya menjadi hikmat

Jika hari ini seorang perdana menteri berkuasa

Jika hari ini seorang raja menaiki tahta

Jika hari ini seorang presiden sebuah negara

Jika hari ini seorang ulama yang mulia

Jika hari ini seorang peguam menang bicara

Jika hari ini seorang penulis terkemuka

Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa, sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa, dengan lembut sabarnya mengajar tulis baca

Di mana-mana dia berdiri, di muka muridnya

Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota

Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu

Dia adalah guru mewakili seribu buku

Semakin terpencil duduknya di ceruk desa, semakin berarti tugasnya kepada negara

Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, Guruku

Budi yang diapungkan, didulangi ilmu

Panggilan keramat “Cikgu”, kekal terpahat

Menjadi kenangan ke akhir hayat[*]

 

yang membuat hati saya bergetar.

Ya Allah, jadikanlah ini sebagai langkah pertama mereka sebagai bintang yang keluar dari tempat persembunyiannya.

Cianjur, Agustus 2013

[*] Sajak “Guru Oh Guru” – Usman Awang, 1979.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s