Berbenah dalam Pertempuran

Selama hak dan batil masih berseteru –yang juga tidak mungkin berakhir kecuali langit runtuh dan gunung-gunung berhamburan– kehidupan perpolitikan di antara sesama manusia akan sangat manipulatif dan saling memengaruhi.

Seperti halnya sekarang ini, di negeri yang awalnya terlihat seperti baik-baik saja tidak ada sesuatu yang mengusik, bermula dari kalahnya boneka mereka pada perhelatan kompetisi untuk menjadi pemimpin suatu daerah kini rezim yang sedang berkuasa disetir sedemikian rupa sehingga menampakkan wajah aslinya yang memuakkan.

Meski di antara pertarungan hak dan batil ada kelompok pragmatis dan oportunis yang menyempil, sungguh mereka akan tersingkir ketika yang hak sudah berada di atas angin. Namun sebelum ketersingkiran mereka terealisasi, mungkin sedikit banyaknya mereka akan memengaruhi keakuratan posisi lawan dan posisi kawan sehingga tidak jarang kita justru melancarkan serangan pada titik yang tidak seharusnya.

Di antara hak dan batil, ada posisi yang tak mudah dilihat di mana para dalang yang culas menyetir semua kegaduhan yang terjadi. Melalui benteng yang bertuliskan “Proxy War” mereka tertawa dengan sangat puas, meski ketakutan mereka semakin menjadi-jadi sedemikian rupa tatkala sebuah kelompok atau organisasi yang bisa melihat dengan jelas peta pertarungan ini ambil posisi untuk melawan.

Dinamika Pergerakan Internal: Sebuah Dilema dalam Pertempuran

Dalam sejumlah strategi yang dirancang banyak organisasi pergerakan, akan ada satu presisi strategi yang mengantarkan organisasi pengusungnya menuju sebuah keberhasilan yang diidamkan. Di kalangan pergerakan muslim, ini tidak lain dikarenakan organisasi yang bersangkutan menyandarkan segala geraknya pada apa yang disebut sebagai teladan dari Sang Suri Teladan yang setiap langkahnya dibimbing oleh kekuatan transendental yang amat besar.

Tapi selama yang menjalankannya adalah manusia –yang mana tidak akan luput dari kebersalahan– dan ditambah oleh kenyataan bahwa setiap segala sesuatu mesti ada upgrading guna memelihara keberlangsungannya, akan selalu ada celah-celah kelemahan yang tersengaja dan bisa membesar serta memberikan pengaruh yang luar biasa jika tidak segera ditindak.

Dalam organisasi, celah-celah kelemahan seperti itu bisa ditambal dengan revitalisasi keberadaan dan tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi. Ini melingkupi dengan merevitalisasi setiap perangkat yang menggerakkannya.

Satu-satunya pihak yang bertanggungjawab adalah para motor organisasi (pada masing-masing lingkup otoritasnya). Melakukan revitalisasi dengan merujuk pada manual book yang dirancang oleh pendiri organisasi (jika ada) adalah sebuah keharusan. Tak mengapa jika di dalam manual book terdapat hal-hal strategis yang direvisi mengikuti dinamika perpolitikan yang ada. Satu hal yang pasti adalah inti dari langkah-langkah strategis tersebut tetap bisa dilakukan semata karena merupakan ruh organisasi itu sendiri.

Di antara hal yang mencolok dari sebuah organisasi yang memungkinkan dirinya tidak mudah untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan adalah tidak diperhatikannya kualifikasi para anggotanya.

Sebagian anggotanya hanya dibiarkan terdorong oleh derasan semangat yang tiada henti. Sebagai salah satu modal dalam bergerak, rasa semangat memang penting. Tapi amal yang hanya dipantik oleh semangat yang menyala-nyala tidaklah akan cukup. Pada satu kesempatan ianya justru bisa menghancurkan gerak organisasi itu sendiri.

Inilah yang kerap diperhatikan oleh sebagian anggotanya yang lain, yang secara kualitas terbilang bagus namun mereka teralienasi. Keterpinggiran mereka disebabkan banyak hal. Di antaranya adalah dikarenakan pemimpinnya tidak menempatkan mereka pada posisi yang seharusnya. Jika pun tidak begitu, setiap sasana yang mungkin mereka berikan, sama sekali tidak digubris. Entah tertolak karena kalah strategis di pikiran pemimpin, atau justru karena si pemimpin merasa sudah cukup dengan strategi dan pencapaian saat ini. Jika keadaan ini tidak dicakapi atau dimengerti oleh pemimpin yang berwenang saat ini (setidaknya akan terlihat dari caranya men-drive organisasi lewat kebijakan), tentu akan menjadi masalah yang semakin lama semakin ketinggalan untuk bisa dengan mudah diselesaikan.

Kualitas Versus Kuantitas (Loyalitas)

Barangkali di setiap organisasi pergerakan apapun akan selalu ada diskursus yang membawa kita pada pilihan: kualitas versus kuantitas. Kualitas merujuk pada berkualifikasinya para anggota organisasi sehingga organisasi akan sedemikian terjaga dalam keasliannya. Sementara kuantitas merujuk kepada banyaknya orang yang terlibat dalam organisasi tersebut, sehingga dengan begitu dianggap akan mempermudah pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Mereka yang lebih memerhatikan kuantitas anggota mungkin berpendapat lebih baik organisasi dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki loyalitas, daripada dipenuhi oleh orang-orang berkualitas yang dianggap suka membantah. Padahal selama bantahan itu bersifat ilmiah dan demi kemajuan organisasi, sebaiknya dipertimbangkan.

Di sisi lain, mereka yang lebih memerhatikan kualitas daripada kuantitas terkadang merasa geregetan dengan tidak tepatnya beberapa urusan strategis organisasi di-handle oleh para anggota yang hanya bermodalkan semangat belaka. Selama mereka loyal, tidak akan dianggap salah oleh pimpinan. Padahal urusan gerak organisasi harus ditopang keilmuan.

Kalangan yang menitikberatkan pada kualitas menginginkan adanya diskusi-diskusi atau pembinaan-pembinaan intens nan mengakar sebagai penunjang pergerakan organisasi yang tidak selalu direalisasikan oleh pimpinan. Padahal ini sangat penting. Bahwa bertambahnya jumlah anggota harus sebanding dengan ketepatan amal dalam meraih tujuan organisasi. Jika hanya mengandalkan semangat, maka regresi sebuah organisasi bukan tidak mungkin akan mudah terjadi. Fakta di sejumlah lapangan mungkin sudah terlalu terang.

Sinergi

Perbedaan pandangan dalam sebuah organisasi tentu saja merupakan hal yang lumrah. Akan tetapi dalam masalah-masalah strategis, haruslah diambil dari pendapat argumentatif yang dibangun berdasarkan kajian ilmiah.

Inilah PR besar bagi siapa saja yang sedang terlibat dalam organisasi yang memiliki tujuan besar. Segala urusannya tidak akan pernah tercapai dengan baik secara efektif dan efisien jika tidak menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas para penggerak organisasi itu sendiri.

Seperti halnya sebuah amanah yang akan hancur tersia-sia karena tidak dilaksanakan dengan baik.

Oleh siapa?

Oleh mereka yang tidak berkompeten.

Maka, sudah seharusnya kita semua senantiasa meng-upgrade diri agar setiap amanah yang sedang kita emban bisa terlaksana dengan baik. Karena, seorang ahli sekalipun tidak akan pernah berhasil dalam menunaikan kewajibannya jika sudah merasa cukup dengan segala kemampuan yang ada. Sementara hidup itu selalu tumbuh dan berkembang.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s