Anotasi

Terus terang, saya tidak ingin nanti Risa, anak saya, tertarik akan suatu hal dan berujar, “Ayah, suatu saat nanti aku ingin menjadi peneliti keajaiban-keajaiban yang muncul dari setiap perintah ajaran agama kita!”, karenanya.

***

Sudah seperti langit di siang bolong saja produk-produk ilmu pengetahuan sekarang. Begitu terang benderang. Dan, hampir saja seluruh umat manusia mengetahuinya. Apalagi di era informatika seperti sekarang ini. Melalui jaringan internet, apa yang ditemukan di sana bisa kita ketahui –dengan cepat– di sini. Termasuk sejumlah hasil riset tentang diketemukannya sederet “keajaiban” dari selarik ajaran yang diseru Islam.

Kita wajar begitu amazed dengan penemuan-penemuan itu. Termasuk anak saya nanti, mungkin. Tapi, sekali lagi, terus terang, saya sama sekali tidak berharap Risa akan mengungkapkan ketertarikannya untuk kemudian menjadi salah seorang peneliti yang akan membuang keringatnya dengan percuma. Mengkusutkan diri pada apa yang tidak akan pernah mengubah nilai-nilai kebenaran dalam setiap ajaran yang dianutnya, tentu saja saya tidak bisa membiarkannya. Padahal ada, bahkan banyak, hal yang patut untuk kita sumbangkan keringat ini demi pencapaiannya kalau kita memang ingin tahu. Syukur-syukur bisa mengaplikasikan hasil risetnya demi kebaikan umat manusia.

Di titik inilah kita harus mengajari anak-anak kita agar jangan sampai menjadi bagian dari mereka yang lebih senang terkagum-kagum pada hal-hal saintifik di balik ajaran Islam daripada menikmati setiap kerendahan diri kala meyakini atau mengamalkannya. Akan lebih hebat lagi kalau kita bisa mengarahkan anak-anak kita agar termotivasi untuk mengungkap sains Islam jika mereka masih ingin memasuki dunia ilmiah.

Apa yang saya tidak ingin Risa lakukan tentu saja bukan sains Islam. Itu hanya saintifikasi Islam. Cuma mencari dasar sains pada apa yang taken for granted dalam setiap seruan Islam untuk meyakini atau mengamalkannya. Bukankah apa yang taken for granted tidak akan pernah terganggu gugat? Apalagi di dalam khazanah Islam. Ada-ada saja kalau memang bisa.

Kalau pun memang bisa mendeteksi keberadaan jin, malaikat, atau bahkan setan di sekitaran kita dengan Infrared, radiasi Gamma atau Neutrino, lantas kita mesti koprol sambil bilang “Wow!”, begitu? Sementara sebelum kita berkeringat untuk melakukan itu Kalamullah sudah lebih dulu memastikannya dan menuntut kita untuk percaya. Dan, sekali pun jin, malaikat, atau makhluk gaib lainnya tidak dapat terdeteksi dengan perkakas sains tersebut, al-Quran dan Hadits tetaplah tegak dengan gagah.

Jika memang di dalam tubuh babi ditemukan adanya cacing pita yang membahayakan manusia andai memakannya, kita masih juga harus jungkir balik sambil bilang “Wow!” lagi, begitu? Setelah itu kita tenggelam dalam euforia di hadapan orang-orang kafir lantaran bangga karena perintah agama kita sudah duluan mengingatkan hal tersebut. Padahal, orang kafir yang selalu mengkonsumsi babi saja nyatanya terlihat baik-baik saja, dan di saat yang sama larangan agama untuk tidak memakan babi tetap berdikari.

Memang, hal-hal tersebut bisa membuat iman kita semakin memancang. Kita pun bisa lalai dengan melaung bahwa sains sangatlah mendukung dalil-dalil Islam. Tapi akan ada hal yang begitu memalukan, persis ketika hasil penelitian diametral dengan apa yang kita kehendaki, misalnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara mereka yang memakan babi dan kita yang tidak memakan babi, kita malah cenderung untuk menjauhi konklusi semacam itu. Padahal sama-sama merupakan produk sains. Fahmi Amhar menyebutnya sebagai “kepengecutan ilmiah”. Karena semestinya memang dibiarkan saja oleh sebab riset yang kemudian biasanya akan memverifikasi dan merelatifkannya.

Dari sini, mudah-mudahan kita bisa menakar bahwa aktivitas tersebut nyatanya sangatlah tidak berarti meski pun menyenangkan. Memalukan sekali rasanya bila sudah setua ini kita masih senang berkutat dengan hal-hal atau aktivitas demikian –mencari dasar sains pada dalil-dalil Islam. Karena sekali lagi, yang demikian itu tidak akan sedikit pun memengaruhi nilai kebenaran dari dalil-dalil taken for granted yang harus kita yakini atau amalkan.

Biarkanlah hal-hal yang harus kita yakini seperti keberadaan makhluk-makhlukNya yang gaib berseliweran di sekitaran kita, qarun yang setia mendampingi kita, setan yang digendong orang yang memakai terompah sebelah, setan yang muntah saat kita berdoa di tengah-tengah aktivitas makan, atau bahkan setan yang nongkrong di antara dua insan nonmahram yang sedang indehoy. Biarkan juga hal-hal yang harus kita amalkan seperti qiyamullail di sepertiga akhir malam, wudu yang harus membasuh bagian ini bagian itu, tidak memakan babi dan tidak minum khamr, meludah ke samping kiri saat terjaga dari mimpi buruk, salat sunah yang afdal ditegakkan di rumah, atau bahkan menapaki jalan yang berlainan saat pergi dan pulang dari salat id. Biarkanlah semua itu. Jangan pernah habiskan waktu kita yang, akan lebih bisa produktif lagi, dengan membuang waktu meneliti apa yang ada di balik perkara-perkara itu. Bisa-bisa kita menciptakan illat sendiri pada amalan yang seharusnya tidak ada.[1] Kita hanya diperintah untuk percaya dan melakukannya saja. Di luar apa yang diperintahkan pada kita itu benar-benar seizing the day for an unworthy result!

Jika kita berharap anak-anak kita yang berkehendak untuk menjadi seorang saintis, maka arahkanlah pada sains Islam, bukan sekadar saintifikasi Islam atau pun islamisasi sains[2]. Bukan sekadar mencari-cari dasar sains di balik ajaran Islam atau menimpali hasil riset di luaran sana dengan argumentasi kebenaran al-Quran atau hadits yang mendahuluinya. Karena di dalam al-Quran dan Hadits juga terdapat beberapa pernyataan yang tidak termasuk sesuatu yang pasti karena kemultiinterpretasian penunjukannya (dalalah) sedang objeknya adalah realitas empirik. Bukankah kita sering membaca dalam al-Quran,

  • “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (an-Nahl [16]: 66)

  • “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (Maryam [19]: 25)

  • “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (al-Mulk [67]: 19)

 

Dari contoh ayat yang pertama, kita bisa meneliti sebersih dan semanfaat apa, atau studi komparasi mencari susu mana yang paling bersih dan paling bermanfaat dari setiap binatang ternak yang bisa mengeluarkan susu bagi kesehatan manusia. Atas contoh ayat yang kedua, kita bisa meneliti sejauh mana manfaat kurma bagi perkembangan janin yang dikandung perempuan-perempuan yang sedang hamil. Dan atas contoh ayat yang ketiga, kita bisa mencari tahu seperti apa teori penerbangan suatu benda di angkasa sehingga manusia bisa “terbang” dengan “tangannya” sendiri.

Hal-hal tersebut tentu saja sangat produktif jika dibanding dengan saintifikasi Islam atau islamisasi sains. Memang dari sisi dapat menambah keimanan-nya sama. Akan tetapi revelasi sains Islam begitu kentara produktifnya di sisi pembangunan; bukan bangunan keimanan saja tapi juga bangunan ilmu pengetahuan dan aplikasinya untuk kehidupan umat manusia. Allahu ’alam.

***

Kita mesti berharap anak-anak kita kelak akan lebih pantas menghabiskan keringatnya, jika mereka mau, pada apa yang disebut sebagai sains Islam. Seberharap saya pada Risa dengan mengantarkannya berimajinasi lantas berujar, “Ayah, engkau memberiku nama Risalah Langit, agar aku tidak mudah tersanjung atau terbanting oleh pujian dan cacian oleh sebab langit itu sangat luas. Aku juga pernah baca di dalam al-Quran bahwa langit itu memang luas. Aku jadi tertarik untuk menghitung luas langit dengan matematika, Yah!” sebagai permulaan dia untuk menciptakan teknologi langitan.[3]

——————————————-

[1] Bayangkan jika kita sampai berkesimpulan bahwa dilarangnya kita memakan daging babi itu karena terdapat organisme yang berbahaya, sehingga andai tidak ditemukan organisme yang berbahaya itu kita jadi merasa boleh-boleh saja melahap daging babi. Atau pada perintah meludah ke samping kiri saat terjaga dari mimpi buruk, kita menemukan bahwa memang (ini misal lho ya) tubuh kita membutuhkan suatu ekskresi setelah saraf-saraf kita tegang lantaran mimpi buruk yang biasanya menegangkan. Tapi ternyata kita merasa saraf-saraf kita biasa-biasa saja meski pun sudah mimpi buruk dikejar-kejar rudal Israel (menegangkan tidak? Hehe) dan tidak mau meludah karenanya. Yah, meski pun itu sunah sih 🙂

[2] Contoh: proses pembentukan janin dalam perut yang bisa diketahui dengan ultrasonografi. Hasil riset tersebut kemudian kita timpali dengan dalil-dalil dari al-Quran, yang memang sudah mendahului, tentang proses pembentukan janin. Tetapi, jika ada riset lagi tentang proses pembentukan janin dan ternyata berbeda dengan hasil riset pertama yang seolah-olah mendukung dalil dari al-Quran, kita teriak-teriak: “Hasil riset yang salah!” Padahal sebelumnya hasil riset sebelumnya dielu-elukan. Thus, Aktivitas islamisasi sains jadi tidak produktif kan?

[3] Teknologi langitan itu apa ya? Hehe. Jangan nagih penjelasan ya! Saya hanya seorang guru SLB. Mengertilah! 😀

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s